Kisah NyataSejarah

Mekah al-Mukaramah dan Kedudukannya dalam Islam (Bagian 8)

Penaklukkan Mekah

Saat perjanjian Hudaibiyah selesai, Khuza’ah berada di pihak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Bani Bakr berada di pihak Quraisy. Namun seorang laki-laki Bani Bakr membunuh seorang laki-laki dari Khuza’ah yang menyebabkan peperangan terjadi antara dua pihak.

Quraisy memasok senjata buat Bani Bakr, dan beberapa orang dari Quraisy bahkan ikut berperang bersama Bani Bakr saat malam hari. Dengan perilaku ini mereka menyalahi perjanjian mereka dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa orang dari Khuza’ah datang meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliau memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap-siap dan menginformasikan kepada mereka bahwa beliau berencana ke Mekah. Beliau bersabda: “Ya Allah, janganlah Engkau biarkan Quraisy mengetahui rencana kami sampai kami mengejutkan mereka di tanah mereka sendiri.” Kemudian para sahabat mulai bersiap-siap.

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar menuju Mekah, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat kepada Quraisy menginformasikan kepada mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memutuskan dan memerintahkan kaum muslimin untuk keluar menuju Mekah. Kemudian ia memberikan surat tersebut kepada seorang wanita bayaran untuk mengirimnya kepada Quraisy.

Wanita tersebut meletakkan surat di kepalanya dan menutupnya dengan kepangan rambutnya, lalu ia pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat wahyu dari langit mengenai tindakan Hatib tersebut, sehingga beliau mengutus Ali bin Thalib radhiallahu ‘anhu dan az-Zubair bin Al Awwam radhiallahu ‘anhu, seraya bersabda, “Susul wanita utusan Hatib yang akan mengantarkan surat kepada Quraisy, memperingatkan mereka tentang keputusan kita terhadap mereka.”

Lalu keduanya pergi sampai menemukan wanita tersebut di Rawdah Khakh, tempat Bani Abu Ahmad. Keduanya menyuruhnya turun dari binatang tunggangannya dan keduanya memeriksa tasnya tetap tidak menemukan apa-apa.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Aku bersumpah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan berdusta dan kami tidak dibohongi. Jikalau engkau tidak memberikan surat tersebut kepada kami, maka kami akan menelanjangimu.”

Saat wanita itu melihat bahwa mereka bersungguh-sungguh melakukannya, ia berkata, “Berpalinglah kalian dariku.” Kemudian ia berbalik dan wanita tersebut melepas kepangnya dan mengambil surat tersebut serta memberikannya kepada Ali.

Keduanya membawa surat tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memanggil Hatib seraya bersabda, “Ya Hatib, apa yang membuatmu melakukan hal ini?” ia berkata, “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala aku beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dan aku tidak akan berubah. Tetapi aku adalah seorang laki-laki yang tidak mempunyai keluarga atau pun sanak saudara, dan aku mempunyai seorang anak dari istri di antara mereka (Quraisy) sehingga aku bermaksud agar mereka memberi perlindungan untuk keluargaku.”

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku menebas lehernya, karena ia adalah seorang munafik!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Bagaimana kamu tahu ya Umar, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menatap ahli Badr pada hari terjadinya peperangan Badr seraya berfirman, “Lakukanlah apa yang kamu suka, karena Aku telah mengampunimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya berangkat pada tanggal 10 Ramadhan dan Quraisy tidak mengetahui sama sekali tentang hal ini. Tidak ada berita yang sampai kepada mereka mengenai Rasulullah dan tentaranya. Abu Sufyan bin Harb keluar bersama Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa untuk berusaha mencari tahu apa yang tengah terjadi.

Al-Abbas radhiallahu ‘anhu, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke al-Arak menunggang keledai putih milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan harapan dapat bertemu dengan orang yang hendak ke Mekah untuk memberitahukan kepada mereka posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu. Sehingga mereka datang kepada beliau dan meminta perlindungan kepadanya.

Al-Abbas radhiallahu ‘anhu bertemu dengan Abu Sufyan dan menyarankannya untuk pergi bersamanya dan meminta perlindungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mereka pergi bersama dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya untuk memeluk Islam dan ia setuju. Setelah ia menjadi muslim, al-Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah, Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang suka kedudukan, berilah ia sesuatu.” Rasulullah bersabda, “Ya, setiap orang yang berada di rumah Abu Sufyan akan selamat. Barangsiapa yang menutup pintu rumahnya akan selamat. Barangsiapa yang berada di dalam Masjid yang mulia akan selamat.”

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Dzu Tuwa, beliau menundukkan kepalanya, tawadhu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, saat beliau melihat betapa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberkahinya sehingga beliau dapat menaklukan kota Mekah. Dan juga beliau menundukkan kepalanya sedemikian dalam sehingga belaian janggutnya hampir menyentuh bagian tengah pelananya.

Pasukan Memasuki Mekah

Semua brigade pasukan bergerak melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu dan pasukannya tidak terlihat pertempuran kecuali sedikit perlawanan dari Bani Bakr dan Ahabis (suku yang ada di pedalaman) di pinggiran Mekah. Ia memerangi mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan baginya.

Shafwan bin Umaiyah, Ikrimah bin Abi Jahl, dan Suhail bin Amr telah mengumpulkan manusia untuk berperang di al-Khandamah. Saat pasukan kaum muslimin, yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, terjadilah pertempuran kecil, kurang lebih 12 atau 13 orang dari kaum musyrikin terbunuh dan lantas mereka menyerah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para pemimpin kaum muslimin saat beliau memasuki Mekah, “Janganlah kalian membunuh seorangpun terkecuali jika ia memerangimu.” Khusus beberapa orang yang beliau sebutkan naamnya, boleh dibunuh walaupun mereka berada di bawah kelambu Ka’bah.

Di antaranya adalah: Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarh, Abdullah bin Khathal, dua orang penyanyi wanita Abdullah Khathal, al-Huwairits bin Nuqaidh bin Wahb, Miqyas bin Subabah, Ikrimah bin Abu Jahl, dan Sarah, budak wanita dari Bani Abdul Muthalib.

Sebagian mereka, seperti; Abdullah bin Khathal, Miqyas bin Subabah dan salah seorang penyanyi wainta Ibnu Khathal terbunuh. Sisanya meminta perlindungan dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perlindungan kepada mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Mekah dengan orang-orang yang bersama beliau dari suku Adzakhir. Pada hari Jum’at 19 Ramadhan pada tahun yang telah disebutkan. Ini dituliskan oleh al-Ulaimi dalam Tarikh alQuds.

Dalam Tuhfatul Kiram min Akhbar Baladillahil Haram karya al-Fasi, diriwayatkan dari al-Waqidi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada hari Jumat, ketika Ramadhan tinggal 10 malam lagi.

Dan didirikan tenda untuk beliau di al-Abtah, dan beliau menuju tempat tersebut menunggang onta betinanya yang bernama; al-Qashwa, di tengah-tengah antara Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan Usaid bin Hudair radhiallahu ‘anhu.

Beliau tinggal di dalam tendanya di al-Abtah. Ibnu Umar berkata “Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Mekah pada hari penaklukan kota tersebut, beliau melihat para wanita mengibas debu dari muka-muka kudanya dengan selendang mereka. Abu Bakar tersenyum dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu Bakar, apa yang dikatakan Hasan?” Abu Bakar membacakan syair Hasan bin Tsabit radhiallahu ‘anhu.

Aku kehilangan anak wanitaku jika dia tidak melihatnya

Para wanita yang menyapu debu dari dua sisi bukit (kada)

Yang menarik tali kuda yang berpelana

Para wanita itu mengibaskannya dengan selendangnya

Lalu beliau bersabda, “Masuklah dari tempat yang disebutkan Hasan.”

Saat orang-orang sudah mulai tenang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, mengendarai onta betinanya sampai di Ka’bah. Beliau melakukan tujuh putaran thawaf dengan mengendarai ontanya dan selalu menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat yang melengkung bagian atasnya bila berada di sudut tersebut.

Di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala yang tegak di atas tanah. Berhala-berhala tersebut jatuh tersungkur saat beliau menyodok mereka, lalu beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81)

Disebutkan dalam hadis Jabir radhiallahu ‘anhu: “Kami memasuki Mekah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di dalam atau di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kami, agar berhala-berhala tersebut dihancurkan, kemudian beliau membaca ayat,

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Imam Bukhari meriwayatkan, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Mekah, beliau menolak untuk memasuki Ka’bah karena di sana terdapat banyak berhala. Beliau memerintahkan agar berhala tersebut dikeluarkan dan mereka mengeluarkan patung Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan Azlam (panah utuk menentukan keberuntungan atau untuk memutuskan sesuatu) di tangannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknati mereka (Quraisy), Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka mengetahui bahwa keduanya (Ibrahim dan Ismail) tidak pernah melakukan undian dengan menggunakan panah-panah ini.”

Kemudian beliau memasuki Ka’bah, dengan memuji kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala di setiap sudutnya, tetapi beliau tidak shalat di dalamnya. Menurut pendapat yang benar adalah, beliau shalat di dalam Ka’bah sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di dalam Ka’bah, beliau berjalan-jalan di dalam Ka’bah, mengagungkan kebesaran dan keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian beliau membuka pintu. Suku Quraisy memenuhi masjid dan berdiri berbaris menunggu apa yang akan beliau lakukan. Beliau berdiri di sebelah pintu masuk, sehingga mereka berdiri di bawah beliau, lalu beliau bersabda,

“Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ia tidak memiliki sekutu. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-hamba-Nya dan menghancurkan seluruh pasukan koalisi (sekutu) dengan sendiri-Nya. Ketahuilah setiap hak atau darah atau harta yang dituntut, maka ia berada di dua telapak kakiku ini (dihapuskan) kecuali para abdi Baitullah dan pemberi minum jema’ah haji. Ketahuilah, pembunuhan yang keliaru atau yang mirip dengan sengaja, yaitu membunuh dengan cambuk atau tongkat, maka wajib membayar diyat yang berat, yaitu 100 ekor onta, 40 di antaranya onta yang hamil. Wahai bangsa Quraisy, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghapuskan dari kalian kebanggaan jahiliyah dan mengagungkan para leluhur, manusia berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Kemudian beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13)

Kemudian beliau bersabda “Wahai kaum Quraisy, apa dugaan kalian tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian.” Mereka menajwab: “Kebaikan, engkau adalah seorang saudara yang mulia dan anak dari saudara yang mulia.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku akan mengatakan kepada kalian seperti yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya.”

Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu.” (QS. Yusuf: 92)

“Pergilah kalian! Sesungguhnya kalain telah terbebas.” Kemudian Rasulullahs aw mengembalikan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah radhiallahu ‘anhu yang sebelumnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Thalhah membawa kunci tersebut kepada beliau.

Manusia Berbai’at Kepada Rasulullah

Setelah penaklukan kota Mekah ini, manusia berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermukim di sebuah daerah yang bernama Qarn Masqalah.

Manusia tua dan muda, laki-laki dan perempuan mendatangi beliau, lalu berbai’at kepada beliau untuk beriman dan mengucapkan syahadat. Laa ilaaha ilallah (tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).

Tatkala nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menerima bai’at kaum laki-laki, beliau menerima bai’at kaum wanita. Saat itu beliau berada di bukit Shafa, dan Umar radhiallahu ‘anhu duduk di tempat yang lebih rendah, maka Umar radhiallahu ‘anhu meenrima bai’at kaum wanita mewakili Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka berbai’at untuk tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatupun juga, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka sendiri, tidak berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka (menuduh berzina) dan tidak mendurhakai beliau dalam urusan yang baik.

Lamanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Mekah dan Beberapa Hal Penting yang Beliau Lakukan Dalam Masa Tersebut

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Mekah selama 19 hari dan selama amsa ini, beliau mengqashar shalatnya. Tempat kemah beliau ditegakkan dan bermukim di areal perumahan Abi Talib. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak melakukan hal-hal penting selama masa penaklukan Mekah.

Sebagiannya telah kita sebutkan, seperti: menghancurkan berhala yang berada di sekitar Ka’bah, shalat di dalam Baitullah, menghancurkan gambar-gambar yang berada di dalamnya, mengukuhkan abdi Ka’bah kepada Bani Syaibah dan pemberi minum jema’ah haji kepada Bani Abdul Muthalib.

Termasuk di anaranya, beliau memerintahkan Bilal radhiallahu ‘anhu mengumandangkan adzan di atas Ka’bah. Mengumumkan bolehnya menumpahkan darah bagi para durjana yang zalim, menerima bai’at kaum laki-laki dan wanita. Beliau memerintahkan Abu Usaid al-Khuza’i untuk memperbaharui tapal batas tanah haram. Mengirim pasukan untuk dakwah Islam, karena beliau memahami bahwa penaklukan kota Mekah, membuat banyak jiwa terbuka untuk menerima Islam yang dahulunya mereka memusuhinya.

Beliau nuga mengirim pasukan untuk menghancurkan berhala-berhala. Beliau mengutus Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu untuk menghancurkan patung al-Uzza yang berada di Nakhlah. Pasukan ini berangkat pada 25 Ramadhan tahun 8 H. Patung al-Uzza ini milik Quraisy dan Bani Kinanah. Patung ini adalah berhala yang terbesar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus Amru bin Ash radhiallahu ‘anhu untuk menghancurkan Sawa, berhala kaum Huzail. Dan beliau juga mengutus Sa’ad bin Zaid al-Asyhali radhiallahu ‘anhu untuk menghancurkan patung Manata pada bulan Ramadhan tahun ke-8, setelah hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber: Sejarah Kota Mekah oleh Syaikh Syafiyurrahman Mubarakfury

Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Mekah al-Mukaramah dan Kedudukannya dalam Islam (Bagian 7)

Next post

Kisah Islam: Akhirnya Hidayah Itu Datang Kepadaku

No Comment

Leave a reply