Kisah Kaum DurhakaKisah Nyata

Kisah Kaum Durhaka: Al-Walid bin Al-Mughirah (Bagian 4 – Selesai)

Kapan Terjadi Kejadian Ini Pada Kalian

Utsman Ibnu Mazh’un radhiyallahu ‘anhu memakai pakaian keperkasaan dengan agama Allah, kemudian dia pergi ke majlis Quraisy lantas duduk bersama mereka. Labid bin Rabi’ah adalah seorang penyair ternama, dia membacakan sebagian syair-syairnya untuk mereka. Labid berkata:

“Ketahuilah, bahwa segala sesuatu selain Allah bathil adanya.”

Utsman berkata, “Engkau benar wahai Abu Aqil –Kunyah Labid-.”

Labid berkata,

“Dan setiap kenikmatan itu pasti akan sirna keberadaannya.”

Utsman berkata, “Engkau dusta, kenikmatan surga tidak akan berakhir.”

Labid berkata, “Wahai kaum Quraisy demi Allah, teman kalian ini tidak pernah diganggu, sejak kapan hal ini terjadi pada kalian?”

Berkatalah salah seorang dari kaum tersebut, Sesungguhnya ia seorang dari orang bodoh yang bersamanya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), mareka telah meninggalkan agama kita, janganlah engkau hiraukan perkataannya.”

Maka Utsman bin Madz’un radhiyallahu ‘anhu membantah dan menjelaskan kepadanya, bahwa orang bodoh itu adalah yang menyembah patung. Lantas berdirilah lelaki itu menampar matanya hingga lebam berbekas hitam.

Saat itu Al-Walid Ibnul Mughirah dekat dari keduanya, dia melihat apa yang menimpa Utsman dan berkata, “Ketahuilah demi Allah, wahai putra saudaraku, sesungguhnya matamu amat berharga untuk dianiaya seperti itu! Engkau tadinya dalam tanggungan yang aman.”

Al-Walid mengira bahwa Utsman akan kembali ke pangkuannya, akan tetapi dia mendapati jawaban yang membakar api dalam hatinya, menambah kepedihan di atas kepedihannya. Utsman menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang sehat (sebelah mata yang satunya) membutuhkan apa yang menimpa saudaranya yang seagama (mata yang terkena hantaman pukulan.”

Maka berkatalah Al-Walid dengan kelicikan yang dibuat-buat, “Kemarilah wahai putra saudaraku, kembalilah ke jaminanmu jika engkau mau.”

Utsman berkata, “Tidak, demi Penguasa Baitul Haram (Allah), aku di sisi Dzat yang lebih berwibawa darimu dan lebih kuasa wahai Abu Abdi Syams.”

Dengan perlakuan ini, semakin kerdillah kesombongan Al-Walid dan runtuhlah pagar kesombongan fana yang dibangun untuk dirinya, agar dikatakan dalam berbagai majlis dan dipuji-puji di kalangan pembesar, bahwa dialah seorang yang mulia dari Quraisy.

Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan dengan baik, kepribadian Al-Walid dalam Hija (sindiran pedas) syairnya:

Abdu Syams menyerupai orang-orang mulia. Padahal dia jahat dari keturunan yang jahat pula. Saat engkau mengkritik orang yang tinggi derajatnya perkataannya hanyalah ungkapan usang…

Di kesempatan lain dia berkata, kapan Quraisy menisbatkannya atau mendapatkannya. Kamu sama sekali tidak dianggap penting olehnya. Engkau ibnul Mughirah seorang hamba yang ringan. Telah membebani pundakmu dengan memikl wadah susu. Apabila dihitung orang-orang baik dari Quraisy. Banyak terkumpul tanpa memasukkan kalian para anjing.

Sesungguhnya Kami Memelihara Kamu dari (Kejahatan) Orang-orang yang Memperolok-olok

Al-Walid Ibnul Mughirah mencari-cari jlan, guna mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengganggu Beliau dan para sahabatnya. Dia membantah wahyu, mendustakannya dan mengganggu dakwahnya. Dia mengumpulkan delegasi Arab untuk menentang Beliau. Masalahnya semakin runyam, dia menempuh jalan orang zindiq. Dia belajar bersama salah seorang kaum musyrikin dari Nashara yang kebingungan.

Demikianlah dia, membawa bendera dusta dan ejekan serta cibiran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menjadi salah seorang pengejek yang mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah telah mencukpkan perkara mereka dan melenyapkan mereka sampai ke akar-akarnya.

Referensi meriwayatkan dengan sanad yang terpercaya mengenai kabar mereka dan cerita kesudahannya.

Para pembesar yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada lima orang: Al-Walid Ibnul Mughirah, Abu Zama’ah Ibnul Aswad Ibnul Muththalib bin Asad, Al-Usud bin Abdi Yaghuts az-Zuhri, Al-Ash bin Wa’il dan Al-Harits bin ath-Thulathulah as-Sahmi. Mereka mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencibir dan mengganggu Beliau, maka Jibril mendatangi Beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengadukan mereka kepadanya. Ketika mereka sedang thawaf di Ka’bah, Muththalib bin Asad, AI-Usud bin ‘Abdi Yaghuts az-Zuhri, Al­’Ash bin Wa’il dan AI-Harits bin ath-Thulathulah as-Sahmi. Mer-eka mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencibir dan mengganggu Beliau, maka Jibril mendatangi Beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengadukan mereka kepadanya. Ketika mereka sedang thawaf di Ka’bah, Dia berdiri dan Beliau pun berdiri di sekitar orang-orang yang mengejek, kemudian lewatlah Al-Aswad bin ‘Abdi Yaghuts, Jibril  memberi isyarat pada perutnya lantas perutnya haus minta air, matilah dia karena perutnya kembung dengan nanah.

Lewatlah Al-Walid bin Mughirah, lalu Jibril menunjuk ke talapak kakinya yang menderita penyakit menahun akan tetapi ia menutupinya dengan menjulurkan kain sampai menyapu ta-nab (isbal). Ceritanya, suatu ketika ia melewati seorang dari Bani Khuza’ah yang sedang mengasah anak panah, lalu ada bagian dari sayatan tadi yang hinggap di sarungnya kemudian tersapu oleh bagian bawah dari sarungnya, lalu diinjaknya dengan tidak sengaja, hingga masuk menancap di bawah mata kakinya. Kemudian kakinya tadi membengkak dan ia mati karenanya.

Lewatlah Al-‘Ash bin Wa’il, dia mengisyaratkan kepada Dagian bawah kakinya, dia keluar menunggang keledai mefiuju Tha’if. Bagian kakinya terkena pohon berduri, duri itu masuk telapak kakinya yang bawah hingga membunuhnya.

Lewatlah Al-Harits bin Thulathulah, dia mengisyaratkan kepalanya, maka keluarlah cairan nanah dari kepalanya hingga dia mati.

Lewatlah AI-Aswad Ibnul Muththalib, kertas hijau dilemparkan ke wajahnya, lantas dia menjadi buta dan matanya sakit, dia pun membenturkan kepalanya ke tembok.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengenai mereka:

Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. AI-Hijr: 95)

Demikianlah Allah menjaga RasuI-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dad orang-orang yang mengejeknya, mereka mati sebelum perang Badar ditimpa penyakit yang ganas. Lima orang yang terkenal itulah yang dimaksud Allah dalam firmannya:

“Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS. AI-Hijr: 95)

AI-Bushiri Rahimahullah mengisyaratkan hal itu dengan balk dalam syairnya:

Cukuplah bagi orang-orang yang mengejek dan berapa banyak kaum yang menyakiti Nabinya dengan pelecehan. Mereka menuduhnya dengan tuduhan dari halaman rumah yang di dalamnya terdapat kelapangan bagi orang-orang zhalim. Ada lima orang yang mereka semua ditimpa penyakit. Dan kematian dengan salah satu bala tentaranya adalah penyakit. Al-Aswad bin Mutthalib terkena musibah berupa kebutaan yang mematikan. Dan Al-Aswad bin Yaghuts tertimpa gelas yang diminumnya telah menghantarkan pada kematiannya. Al walid terkoyak-koyak panah. Suatu hal yang tidak sanggup dilakukan oleh ular yang berbintik-bintik. Duri di atas jantung telah menghabisi Al-Ash. Maka bagi Allah kekuasaan menyiksa dengan pernatara itu. Dan Al-Harits yang jelek telah meleleh kepalanya, dan itulah wadah yang paling buruk. Dengan terbunuhnya mereka, bumi menjadi suci. Maka hilanglah penderitaan dengan tersingkirnya penghalang.

Yang patut disebutkan bahwa Al-Walid Ibnul Mughirah meninggal dalam usia 95 tahun, dan kematiannya sekitar tiga bulan setelah hijrah, ia dimakamkan di Al-Hujun Mekah.

AI-Walid adalah seorang dermawan yang menyimpan sifat sombong, atau sombong dalam kedermawan, dia mencegah seseorang menyalakan api di Mina untuk masak melainkan dengan apinya, makanan untuk diberikan kepada jama’ah haji, dia memberi infaq kepada setiap jama’ah haji dalam jumlah banyak karena ingin disebut-sebut:

Ketahuilah, jangan sampai ada orang menyalakan apl dibawah pintalan.

Ketahuilah, jangan ada orang yang yang menghisap asap dengan kuda.

Ketahuilah, bagi siapa yang menginginkan makanan Hais (dari kurma dan tepung) hendaklah mendatangi Al-Walid Ibnul Mughirah.”

Dia menginfakkan untuk sekali haji, dua puluh ribu lebih, dia tidak hanya memberi orang miskin satu dirham. Dan orang-orang Arab badui mengistimewakan kebaikannya yang dibuat-buat untuk disebut-sebut.

Al-Walid memiliki kebun-kebun yang banyak di Mekah dan Tha’if, diantara sekian banyak kebunnya terdapat kebun yang tidak terputus buahnya di musim hujan juga di musim kemarau.

Tentang banyak hartanya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu, hartanya melimpah sepanjang Mekah dan Tha’if, unta, kuda dan kambing serta kebun yang banyak di Tha’if dan sungai-sungai, juga uang yang menggunung.”

Kecongkakan Al-Walid bertambah -khususnya- tatkala Quraisy membuatkan untuknya mahkota kemuliaan, dia mengira bahwa dirinya adalah pemimpin Quraisy, dia berangan akan menjadi salah satu pemimpin Arab’dan penentu kalimat dalam perjalanan kaumnya, dan memenuhi kebutuhan mereka dalam banyak perkara.

Tatkala Islam datang berkuranglah wibawanya, beterbanganlah sisi-sisi kesombongan dalam dirinya, maka tumbuhlah, kedengkian dalam hatinya terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ia termasuk orang-orang yang mengejek Beliau, maka gugurlah amalnya dan jadilah dia bagian dari orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Anak-anak yang Selalu Bersama Al-Walid

Allah Ta’ala berfirman menggambarkan Al-Walid dan kenikmatan yang dianugrahkan-Nya:

“Dan Aku iadikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia.(QS. AI-Muddatsir: 12-13)

Para pembaca yang budiman, saya ingin menunjukkan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam menyimak dua ayat yang mulia diatas. Al-Walid Ibnul Mughirah tokoh thaghut sang pelaku dosa dalam , kekafiran. Sikap thaghut, kufur dan berbuat dosa tidak hanya tampak dalam kehidupannya yang nyata. Akan tetapi perbuatan dosa, dan sikap thaghutnya juga lahir dari fithrah buruknya yang dibawa sejak lahir, mengingkari nikmat dan kebaikan.

Al-Walid -sebagaimana kita amati dalam dua ayat tadi telah Allah Subhanahu wa Ta’ala gambarkan dengan gambaran yang baik, Allah telah mengaruniakan nikmat yang melimpah, Allah menjadikan bermacam-macam harta yang melimpah bagi Al-Walid, Allah mengaruniakan anak yang banyak, lagi mengelilinginya, dia menyayangi mereka, dia gembira dengan keberadaan mereka yang selalu di dekatnya, dia selalu tenang dengan melihat mereka. Mereka pun menjadi kaya dengan kekayaan ayahnya, mereka tidak butuh merantau untuk mendapatkan mata pencaharian.

Diriwayatkan bahwa jumlah anaknya sepuluh orang, ada juga yang meriwayatkan lebih banyak darinya.

Muqatil bin Sulaiman Rahimahullah berkata, “Jumlah mereka tujuh orang, semuanya laki-laki yaitu: AI-Walid Ibnul Walid, Khalid pejuang Islam yang dijuluki Saifullah-, ‘Ammarah, Hisyam, Al­’Ash, Qais dan ‘Abdu Syams.

Yang terpenting, bahwa tiga orang dari mereka masuk Islam, yaitu: Khalid, Hisyam dan AI-Walid.’”

Pengkhususan nikmat atas AI-Walid dengan banyak anak merupakan hujjah yang menyangkalnya. Kaumnya benci melahirkan anak wanita sebagaimana hal itu dikenal di antara mereka, mereka sangat suka melahirkan pria, maka seyogyanya dia menjadi orang yang bersyukur atas nikmat Allah padanya, berupa karunia harta dan anak. Karena -sebagaimana disebutkan oleh para Mufassir- tidak terkenal di suku Quraisy seorang pun yang memiliki harta dan anak yang banyak melebihi ketenaran Al-Walid, akan tetapi jeleknya batin AI-Walid merubah nikmat Allah menjadi kekufuran, dia menghalalkan dirinya menem-pati rumah kebinasaan, neraka jahannam yang menyala-nyala dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal, la berbuat congkak dan sombong, melampaui batas atas nikmat Allah dan berbuat dosa, memerangi kebenaran, menghalang-halangi dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal dia mengetahui kebenaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya saja dia mengingkarinya karena sombong. Hatinya membatu, kepribadiannya menjadi keras, lancang dengan melakukan se­tiap maksiat, maka dia berhak mendapat kehinaan di dunia dan adzab yang hina pula di akhirat.

Ancaman Neraka Saqar, Untuk Al-Walid

AI-Walid diungkapkan dalam Alquran secara berulang-ulang, lebih dari seratus kali, juga penjelasan tentang ancaman yang akan didapatkannya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah menurunkan 104 ayat mengenai AI-Walid Ibnul Mughirah.”

Al-Walid –semoga dilaknat Allah– dalam banyak Alquran merupakan contoh yang jelek di masa kenabian, tabiatnya merupakan contoh kejelekan dan dosa paling buruk dalam kepribadian manusia, yaitu menentang kebenaran, melampaui batas dalam kekufuran, dan perbuatan dosa yang sewenang-wenang. Maka, Neraka Saqar menunggunya sebagai balasan yang adil, dan taukah engkau apakah Saqar itu?

Para Mufassir sepakat, banyak ayat turun yang memberitakan AI-Walid akan masuk Neraka, menyifatinya dengan sifat paling buruk, perkataan dusta dan berbohong terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ayat-ayat yang disepakati para Mufassir mengenai Al-Walid, yang menyoroti si Thaghut keras kepala ini, dengan sifat yang menandakan lambang kejelekan yang bergelimang dosa dalam kepribadian orang zhalim, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Muddattsir. Marilah kita baca bersama ayat-ayat yang penuh hikmah sekaligus menjadi hukum yang adil:

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku ]adikan baginya harta benda yang banyak, Dan anak-anak yang selalu bersama Dia, Dan Ku lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, Kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), Karena Sesungguhnya dia menentang ayat-ayat kami (Alquran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, Lalu dia berkata, ‘(Alquran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (Neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan [maksudnya: Apa yang dilemparkan ke dalam Neraka itu diadzabnya sampai binasa Kemudian dikembalikannya seperti semula untuk diadzab kembali]. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).” (QS. Al-Muddatsir: 11-30)

Telaah serius ayat-ayat lalu, akan menggambarkan kepada kita metode yang memukau, pertempuran yang dahsyat dalam jiwa AI-Walid. Saat dia melihat, kemudian bermuka masam dan merengut, dan setelah merasa sakit lagi sempit, dia mencela dirinya sendiri dengan berkata:

“Lalu dia berkata, (Alquran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu).” (QS. AI-Muddatsir: 14)

Dengan demikian, dia berhak mendapat murka Allah Subhanahu wa Ta’ala pedih siksa-Nya, bahkan Allah menyifatinya dengan sifat yang tercela di banyak tempat dalam Alquran.

AI-Qurthubi Rahimahullah berkata tentang ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan AI-Walid, “Semua ini diturunkan berkenaan, dengan AI-Walid Ibnul Mughirah, kami tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan aib seseorang sedetail yang disebutkan bagi AI-Walid, Allah menampakkan aib yang menempel tak terpisahkan darinya di dunia dan akhirat. Demikianlah, apakah harta dan anak AI-Walid memberi manfaat baginya?

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Al-Muddatstsir: 88-89)

Al-Walid berhak menerima imbalan yang setimpal lagi adil dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni Neraka:

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Maha benar Allah lagi Maha agung.

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Kisah Kaum Durhaka: Al-Walid bin Al-Mughirah (Bagian 3)

Next post

Kisah Hikmah: Jangan Dekati Zina, Zina adalah Hutang

No Comment

Leave a reply