Kisah PilihanKisah Sahabat NabiSejarah

Syahidnya Husein Radhiallahu ‘anhu di Padang Karbala

-Tulisan berikut ini diterjemahkan dari tulisan dan sebagian ceramah Syaikh Utsman al-Khomis, seorang ulama yang terkenal sebagai pakar dalam pembahasan Syiah-.

Pembahasan tentang terbunuhnya cucu Rasulullalllah, asy-syahid Husein bin Ali ‘alaihissalam telah banyak ditulis, namun beberapa orang ikhwan meminta saya agar menulis sebuah kisah shahih yang benar-benar bersumber dari para ahli sejarah. Maka saya pun menulis ringkasan kisah tersebut sebagai berikut –sebelumnya Syaikh telah menulis secara rinci tentang kisah terbunuhnya Husein di buku beliau Huqbah min at-Tarikh-.

Pada tahun 60 H, ketika Muawiyah bin Abu Sufyan wafat, penduduk Irak mendengar kabar bahwa Husein bin Ali belum berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah, maka orang-orang Irak mengirimkan utusan kepada Husein yang membawakan baiat mereka secara tertulis kepadanya. Penduduk Irak tidak ingin kalau Yazid bin Muawiyah yang menjadi khalifah, bahkan mereka tidak menginginkan Muawiyah, Utsman, Umar, dan Abu Bakar menjadi khalifah, yang mereka inginkan adalah Ali dan anak keturunannya menjadi pemimpin umat Islam. Melalui utusan tersebut sampailah 500 pucuk surat lebih yang menyatakan akan membaiat Husein sebagai khalifah.

Setelah surat itu sampai di Mekah, Husein tidak terburu-buru membenarkan isi surat itu. Ia mengirimkan sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk meneliti kebenaran kabar baiat ini. Sesampainya Muslim di Kufah, ia menyaksikan banyak orang yang sangat menginginkan Husein menjadi khalifah. Lalu mereka membaiat Husein melalui perantara Muslim bin Aqil. Baiat itu terjadi di kediaman Hani’ bin Urwah.

Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota kekhalifahan, Syam, lalu ia mengutus Ubaidullah bin Ziyad menuju Kufah untuk mencegah Husein masuk ke Irak dan meredam pemberontakan penduduk Kufah terhadap otoritas kekhalifahan. Saat Ubaidullah bin Ziyad tiba di Kufah, masalah ini sudah sangat memanas. Ia terus menanyakan perihal ini hingga akhirnya ia mengetahui bahwa kediaman Hani’ bin Urwah adalah sebagai tempat berlangsungnya pembaiatan dan di situ juga Muslim bin Aqil tinggal.

Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah walaupun sebenarnya ia sudah tahu tentang segala kabar yang beredar. Dengan berani dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga Nabi (Muslim bin Aqil adalah keponakan Nabi), Hani’ bin Urwah mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin Aqil) bersembunyi di kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!” Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkan agar ia ditahan.

Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil bersama 4000 orang yang membaiatnya mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Pengepungan itu terjadi di siang hari.

Ubaidullah bin Ziayd merespon ancaman Muslim dengan mengatakan akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut Syiah (pembela) Husein ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang bersama Muslim bin Aqil, dan belumlah matahari terbenam hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri.

Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar ia dibunuh. Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husein, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki pandangan (untuk mempertimbangkan masalah)”. Muslim bin Aqil pun dibunuh, padahal saat itu adalah hari Arafah.

Husein berangkat dari Mekah menuju Kufah di hari tarwiyah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Di antara yang menasihatinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Amr, saudara tiri Husein, Muhammad al-Hanafiyah dll.

Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka, janganlah engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun. Niat dan kesungguhan mereka tidak ada dalam suatu permasalahan (mudah berubah pen.). Mereka juga bukan orang-orang yang sabar ketika menghadapi pedang (penakut pen.)’.

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beluai antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”. Husein tetap enggan membatalkan keberangkatannya. Abdullah bin Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah dari pembunuhan”.

Setelah meneruskan keberangkatannya, datanglah kabar kepada Husein tentang tewasnya Muslim bin Aqil. Husein pun sadar bahwa keputusannya ke Irak keliru, dan ia hendak pulang menuju Mekah atau Madinah, namun anak-anak Muslim mengatakan, “Janganlah engkau pulang, sampai kita menuntut hukum atas terbunuhnya ayah kami”. Karena menghormati Muslim dan berempati terhadap anak-anaknya, Husein akhirnya tetap berangkat menuju Kufah dengan tujuan menuntut hukuman bagi pembunuh Muslim.

Bersamaan dengan itu Ubaidullah bin Ziyad telah mengutus al-Hurru bin Yazid at-Tamimi dengan membawa 1000 pasukan untuk menghadang Husein agar tidak memasuki Kufah. Bertemulah al-Hurru dengan Husein di Qadisiyah, ia mencoba menghalangi Husein agar tidak masuk ke Kufah. Husein mengatakan, “Celakalah ibumu, menjauhlah dariku”. Al-Hurru menjawab, “Demi Allah, kalau saja yang mengatakan itu adalah orang selainmu akan aku balas dengan menghinanya dan menghina ibunya, tapi apa yang akan aku katakan kepadamu, ibumu adalah wanita yang paling mulia, radhiallahu ‘anha”.

Saat Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala, tibalah 4000 pasukan lainnya yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad dengan pimpinan pasukan Umar bin Saad. Husein mengatakan, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbun (musibah) dan balaa’ (bencana).”

Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu ia mengatakan, “Aku ada dua alternatif pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam.

Engkau pergi menghadap Yazid, tapi sebelumnya aku akan menghadap Ubaidullah bin Ziyad terlebih dahulu kata Umar bin Saad. Ternyata Ubadiullah menolak jika Husein pergi menghadap Yazid, ia menginginkan agar Husein ditawan menghadapnya. Mendengar hal itu Husein menolak untuk menjadi tawanan.

Terjadilah peperangan yang sangat tidak imbang antara 73 orang di pihak Husein berhadapan dengan 5000 pasukan Irak. Kemudian 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husein. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husein, hingga tersisa Husein seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya, masih tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ada seorang laki-laki yang bernama Amr bin Dzi al-Jausyan –semoga Allah menghinakannya- melemparkan panah lalu mengenai Husein, Husein pun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Husein akhirnya syahid, semoga Allah meridhainya. Ada yang mengatakan Amr bin Dzi al-Jausyan-lah yang memotong kepala Husein sedangkan dalam riwayat lain, orang yang menggorok kepala Husein adalah Sinan bin Anas, Allahu a’lam. Yang perlu pembaca ketauhi Ubaidullah bin Ziyad, Amr bin Dzi al-Jausyan, dan Sinan bin Anas adalah pembela Ali (Syiah nya Ali) di Perang Shiffin.

Ini adalah sebuah kisah pilu yang sangat menyedihkan, celaka dan terhinalah orang-orang yang turut serta dalam pembunuhan Husein dan ahlul bait yang bersamanya. Bagi mereka kemurkaan dari Allah. Semoga Allah merahmati dan meridhai Husein dan orang-orang yang tewas bersamanya. Di antara ahlul bait yang terbunuh bersama Husein adalah:

–          Anak-anak Ali bin Abi Thalib: Abu Bakar, Muhammad, Utsman, Ja’far, dan Abbas.

–          Anak-anak Husein bin Ali: Ali al-Akbar dan Abdullah.

–          Anak-anak Hasan bin Ali: Abu Bakar, Abdullah, Qosim.

–          Anak-anak Aqil bin Abi Thalib: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim bin Aqil.

–          Anak-anak dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib: ‘Aun dan Muhammad.

Dari Ummu Salamah bawasanya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “…Jibril mengatakan, “Apakah engkau mencintai Husein wahai Muhammad?” Nabi menjawab, “Tentu” Jibril melanjutkan, “Sesungguhnya umatmu akan membunuhnya. Kalau engkau mau, akan aku tunjukkan tempat dimana ia akan terbunuh.” Kemudian Nabi diperlihatkan tempat tersebut, sebuah tempat yang dinamakan Karbala. (HR. Ahmad dalam Fadhailu ash-Shahabah, ia mengatakan hadis ini hasan). Adapun berita-berita bahwa langit menurunkan hujan darah, dinding-dinding berdarah, batu yang diangkat lalu di bawahnya terdapat darah, dll. karena sedih dengan tewasnya Husein, berita-berita ini tidak bersumber dari rujukan yang shahih.

Benarkah Sikap Husein ‘alaihissalam Pergi ke Irak?

Tidak ada kemaslahatan dalam hal dunia maupun akhirat dari sikap Husein ‘alaihissalam yang keluar menuju Irak. Oleh karena itu, banyak sahabat Nabi yang berusaha mencegahnya dan melarangnya berangkat ke Irak. Husein pun menyadari hal itu dan ia sempat hendak pulang, namun anak-anak Muslim bin Aqil memintanya mengambil sikap atas terbunuhnya ayah mereka. Husein dengan penuh tanggung jawab tidak lari dari permasalahan ini. Dari peristiwa ini tampaklah kezaliman dan kesombongan orang-orang Kufah (Syiah-nya Husein) terhadap ahlul bait Nabi ‘alaihumu ash-shalatu wa salam.

Sekiranya Husein ‘alaihissalam menuruti nasihat para sahabat tentu tidak terjadi peristiwa ini, akan tetapi Allah telah menetapkan takdirnya. Terbunuhnya Husein ini tentu saja tidak sebesar peristiwa terbunuhnya para Nabi, semisal dipenggalnya kepala Nabi Yahya oleh seorang raja, karena calon istri raja tersebut meminta kepala Nabi Yahya bin Zakariya sebagai mahar pernikahan. Demikian juga dibunuhnya Nabi Zakariya oleh Bani Israil, dan nabi-nabi lainnya. Demikian juga dengan dibunuhnya Umar dan Utsman. Semua kejadian itu lebih besar dibanding dengan peristiwa dibunuhnya Husein ‘alaihissalam.

 Bagaimana Sikap Kita Terhadap Peristiwa Karbala?

Tidak diperbolehkan bagi umat Islam, apabila disebutkan tentang kematian Husein, maka ia meratap dengan memukul-mukul pipi atau merobek-robek pakaian, atau bentuk ratapan yang semisalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang-orang yang menampar-nampar pipi dan merobek saku bajunya.” (HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik, apabila mendengar musibah ini hendaknya ia mengatakan sebuah kalimat yang Allah tuntunkan dalam firman-Nya,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

“Orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengtakan sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Tidak pernah diriwayatkan bahwa Ali bin Husein atau putranya Muhammad, atau Ja’far ash-Shadiq atau Musa bin Ja’far radhiallahu ‘anhum, para imam dari kalangan ahlul bait maupun selain mereka pernah memukul-mukul pipi mereka, atau merobek-robek pakaian atau berteriak-teriak, dalam rangka meratapi kematian Husein. Tirulah mereka kalau engkau tidak bisa serupa dengan mereka, karena meniru orang-orang yang mulia itu adalah kemuliaan.

Tidak seperti orang-orang yang mengaku Syiah (pembela) Husein, Syiahnya ahlul bait Nabi pada hari ini, mereka merusak anggota tubuh, memukul kepala dan tubuh dengan pedang dan rantai, mereka katakan kami bangga menyucurkan darah bersama Husein. Demi Allah, sekiranya mereka berada pada hari dimana Husein terbunuh mereka akan turut serta dalam kelompok pembunuh Husein karena mereka adalah orang-orang yang selalu berhianat.

Posisi Yazid Dalam Peristiwa Ini

Dalm permasalahan ini, Yazid sama sekali tidak turut campur. Aku mengakatakan hal ini bukan untuk membela Yazid tetapi hanya untuk mendudukan permasalahan yang sebenarnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Ini adalah kesepatakan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan Ubaidullah bin Ziyad agar mencegah Husein untuk memasuki wilayah Irak. Ketika Yazid mendengar tewasnya Husein, Yazid pun terkejut dan menangis. Setelah itu Yazid memuliakan keluarga Husein dan mengamankan anggota keluarga yang tersisa sampai ke daerah mereka. Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Yazid merendahkan perempuan-perempuan ahlul bait lalu membawa mereka ke Syam, ini adalah riwayat yang batil. Bani Umayyah (keluarga Yazid) selalu memuliakan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah).

Sebelumnya Yazid telah mengirim surat kepada Husein ketika di Mekah, ternyata saat surat itu tiba Husein telah berangkat menuju Irak. Surat itu berisikan syair dari Yazid untuk melunakkan hati Husein agar tidak berangkat ke Irak dan Yazid juga menyatakan kedekatan kekerabatan mereka. Bibi Yazid, Ummu Habibah adalah istri Rasulullah dan kakek (Jawa: mbah buyut) Yazid dan Husein adalah saudara kembar.

Kepala Husein

Tidak ada riwayat yang shahih yang menyatakan bahwa kepala Husein dikirim kepada Yazid di Syam. Husein tewas di Karbala dan kepalanya didatangkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Tidak diketahui dimana makamnya dan makam kepalanya.

Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Sumber: almanhaj.net

Diterjemahkan dengan beberapa tambahkan oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Alquran Melunakkan Hati Yang Keras

Next post

Syair Rindu Istri Shalehah

34 Comments

  1. ibnu Idris okto fikri
    November 12, 2013 at 4:12 pm —

    Bissmillah..

    Jazakallahu khairan katsiro atas ilmunya…
    semoga Allah menjauhkan kaum muslimin dari Makar-makar SYIAH dan sekutu-nya.

    barakallahu fiik

  2. Pranowo Raharjo
    January 15, 2014 at 4:25 pm —

    Semoga ALLAH menolong/melindungi muslim Ahlussunnah wal jamaah dari tipu daya Syiah Rafidhoh Laknatullah (Majusi-Persi-Yahudi) !!!

  3. Ibnu Abdurrahman
    January 16, 2014 at 8:35 am —

    Jazakallahu khairan katsira…
    Ilmu yg bermanfaat perli untuk disebar luaskan…utamanya bagi generasi muda …saat ini banyak yg mendapatkan bacaan2 bersumber dari versi kesesatan Syi’ah rafidhahla’natullah ‘alaih…buku2 propaganda syiah banyak beredar…semoga bacaan ini bisa tersebar luas… BarakAllahu fiik

  4. gghh
    May 5, 2014 at 4:38 pm —

    Ada yg sedikit aneh…ceritanya…
    Yazid mengutus ubaidilah bin ziyad m engejar husein.r.a..
    Trus husein menolak menjadi tawanan dan tdk mau kembali ke mekah…
    Terjadi pertempuran antara 73 orang melawan 5000 prajurit irak…
    Kan belum sampai ke irak? Yang mengejar kan prajurit yazid dari syam. . Jadi yg membunuh cucu rasulullah prajurit dari irak atau dari syam?..tolong diluruskan agar tidak ada distorsi dlm sejarah

    • May 5, 2014 at 9:18 pm —

      Ubaidullah diutus dari Syam ke utk memimpin Irak dan sudah sampai di Irak, pasukannya adalah orang Irak. Bukan prajurit Yazid.
      Husein bukan menolak kembali, malah menawarkan kembali ke Mekah. Silahkan dibaca ulang dengan perlahan.

  5. arsyad
    May 6, 2014 at 12:32 am —

    Knp husein menolak baiat yazid ?
    Padahal kalo dia mau baiat ,gak usah ambisi menuruti rakyat kufah pasti gak bakal ada pertentangan seperti skrg..

    Oh iya…mau tanya sekalian..
    Bukankan rasulullah mengajarkan untuk mencari khalifah dgn musyawarah atau pemilihan…?
    Knp selepas zaman khalifaturrasyidin ..semenjak umayah bin abu sofyan..khalifah diteruskan pada keturunannya..yaitu yazid..dan seterusnya….seperti sistem kerajaan?

    Bukankah hal ini tidak dicontohkan rasulullah saw?

  6. arsyad
    May 6, 2014 at 12:32 am —

    Knp husein menolak baiat yazid ?
    Padahal kalo dia mau baiat ,gak usah ambisi menuruti rakyat kufah pasti gak bakal ada pertentangan seperti skrg..

    Oh iya…mau tanya sekalian..
    Bukankan rasulullah mengajarkan untuk mencari khalifah dgn musyawarah atau pemilihan…?
    Knp selepas zaman khalifaturrasyidin ..semenjak umayah bin abu sofyan..khalifah diteruskan pada keturunannya..yaitu yazid..dan seterusnya….seperti sistem kerajaan?

    Bukankah hal ini tidak dicontohkan rasulullah saw?

    • May 6, 2014 at 11:35 am —

      1. Knp Husein menolak?
      jawab: akhirnya beliau rujuk, silahkan baca dsnihttp://kisahmuslim.com/apakah-husein-bin-ali-menolak-baiat-kepada-yazid/
      Kita katakan seperti yg orang-orang bijak katakan, idza hadhara al-qadar dzahaba al-bashar: kalau takdir terjadi, akal pun hilang. Sama halnya kita katakan kenapa Nabi Adam tidak memakan buah khuldi, jd kita anak keturunannya jg ttp di surga.

      Setelah zaman Rasulullah tidak melulu musyawarah, Abu Bakar langsung menunjuk Umar sbg pengganti, tanpa musyawarah. Para sahabat hanya mengkritik sistem keturunannya.

      Setelah itu bukan Umayyah saja yg kerajaan, termasuk Abbasiyah, Turki Utsmani, Mughal, Daulah Ayyubiyah, dll. Ada raja yg cakap dlm memimpin ada yg biasa2 saja, dan ada yg tidak.

  7. May 17, 2014 at 2:01 pm —

    Assalamu’alaikum.
    Mohon maaf sebelumnya, cerita di atas agak berbeda dengan film yang saya tonton (Karbala), di filmnya, kepala Imam Husein dipenggal dan dibawa ke khalifah, lalu ahlul bait dibawah ke khalifah dengan penuh kesedihan hingga ada 2 anak kecil dari ahlul bait yang meninggal.
    Namun perbedaan sejarah tersebut tidak perlu diperdebatkan, marilah kita belajar untuk mencintai keturunan Rasulullah… karena siapa yang mencintai keluarga Rasulullah = mencintai Rasulullah, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, amin

    • May 17, 2014 at 10:01 pm —

      Wa’alaikumussalam.
      Maaf pak.. sebisa mungkin kita tidak menjadikan film sebagai rujukan sejarah agama kita. Dalam film tentunya ada adegan yg ditambah atw dikurangi, ada dialog2 fiksi untuk mencukupkan durasi, ada unsur2 tambahan sbg nilai komersil, dll. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita dan ahlul baitnya..

  8. Kusuma Alvian
    May 24, 2014 at 7:31 pm —

    Baru faham ttg tragedi Karbala
    kl kakek Hussein & Yazid adlh saudara kembar…
    berarti Ummu Habibah & Rasullulah msh sepupu ya…
    begitu?

    • May 25, 2014 at 10:20 pm —

      Alhamdulillah, mudah-mudahan bermanfaat.
      sepupu jauh..

  9. sakinah
    May 29, 2014 at 5:18 pm —

    af1..
    ane no komen..
    atas terjadi nya terbunuhnya hasan husain, saya tawaquf…
    semoga tidak terulang kembali cerita itu di kalangan kaum muslimin nanti setelah tegaknya kembali agama ini…

  10. oky
    June 5, 2014 at 7:46 pm —

    Syiah bukan Islam!!!

  11. June 23, 2014 at 9:57 am —

    jazakumullah khaurankatsiran atas ilmunya

  12. Resky r s
    July 13, 2014 at 12:07 am —

    Ini adalah kebiadapan kaum syiah laknatullah ! Yg mengaku menegakan syari pdhl hnya mengejar posisi dunia. Dngn membunuh husain . Dn kisah ini sama dngn president sadam husein yg di khianati oleh para kaum syiah di iraq.

  13. Arif
    July 13, 2014 at 12:26 am —

    Assalamu’alaikum,
    Di paragraf dua tertulis “… asy-syahid Husein bin Ali ‘alaihissalam…”
    Apa memang seperti itu? Bukankah gelar para Nabi?

    • July 15, 2014 at 5:56 am —

      Wa’alaikumussalam. ‘Alaihissalam adalah doa bukan gelar. Para ulama mengatakan permasalahan ini longgar (tidak baku menjadi haknya para nabi walaupun biasanya dikenal demikian), terlebih kita diperintahkan bershalawat kepada ahlul bait nabi.

      • January 6, 2016 at 10:40 am —

        @editor
        Saya rasa lebih baik tidak membiasakan menyebut alaihisalam kepada hussein (ini kebiasaan org” syi’ah),jgn lah berlebihan, tetapi lebih baik radiallahu ‘anhu.

        Ada yg harus diperhatikan jg, isi nya memang mengecam para kaum syiah, tp disamping itu seakan” memberi kesan negatif kpd Yazid bin Muawiyah ra. Saya harap artikel yg membahas ttg kematian Hussein ra bs lebih jelas, walaupun singkat. Tidak meninggalkan kesan yg akhirnya nanti keliru, sehingga bs dimanfaatkan oleh org” syi’ah.

  14. abi yasir
    July 13, 2014 at 4:05 pm —

    Salam saudaraku,
    Tulisan yg baik, mari kita sama2 menentang syiah yg terang-terangan berdusta dan berkhianat.
    Mamposlah golongan syiah.laknat Allah ke atas kamu golongan syiah.

  15. July 29, 2014 at 2:34 am —

    ya allah

  16. khadafie
    September 24, 2014 at 3:33 pm —

    Mau nanya dong
    Kalo kasus ini sepertinya ada kesamaan dengan terbunuhnya amar bin yasir benar gx sih??

  17. yono
    November 3, 2014 at 10:53 am —

    Jazakallahu khairan katsiro atas ilmunya…
    semoga Allah menjauhkan kaum muslimin dari Makar-makar SYIAH dan sekutu-nya.

    barakallahu fiik

  18. xxx
    November 4, 2014 at 7:37 am —

    Pertanyaan saya : Penduduk yazid itu orang iraq yg sekarang atau orang iran ?

  19. Ahmad
    March 1, 2015 at 10:04 pm —

    yazid dan Husain (a.s) saudara kembar? Haha kebohongan apa lagi inii ??
    Husain (a.s) adalah mahluk suci yg dilahirkan oleh rahim dan keluarga suci pula tdk pantas jika dikatakan saudara kembar dengan yazid…

    • March 3, 2015 at 8:21 am —

      baca yang cermat, kalimatnya seperti ini “kakek (Jawa: mbah buyut) Yazid dan Husein adalah saudara kembar”

  20. syamsu
    March 20, 2015 at 9:08 am —

    alhamdulillah, semakin jelas … kaum syiah hanya membesar besarkannya, menutupi kesombongan, ketidakberdayaan dan penghianatan kakek buyut mereka

  21. joan tezha
    June 25, 2015 at 8:18 am —

    Sangat bermamfaat

  22. Rudy
    October 24, 2015 at 9:34 pm —

    Alhamdulillh dpt ilmu

  23. Rudy
    October 24, 2015 at 9:36 pm —

    Apa benar kepala beliau sayyidina husen d jadikan mainan bola?astghfrllh

    • October 26, 2015 at 2:34 pm —

      Sepertinya itu kisah berlebihan yang dibuat-buat oleh orang-orang Syiah. Di saat, mulut Husein disentuh Ubaidullah bin Ziyad dengan pedangnya saja sahabat Anas bin Malik memarahinya dan menegurnya bahwasanya Rasulullah pernah mencium bibir tersebut.

  24. Imam
    February 19, 2016 at 6:37 pm —

    putera Ali bin Abi Thalib lainnya; Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali kenapa jarang di sebut di cerita2 tragedi Karbala?

  25. saif
    October 11, 2016 at 12:15 pm —

    kisah tragedi karbala merupakan kisah yang sangat pelik. kebenaran hanya milik Allah

  26. idquote
    October 11, 2016 at 3:03 pm —

    inilah mengapa kalau ada istilah Politik itu kejam.

Leave a reply