Sejarah

Tragedi dan Teror di Andalusia

Sejak tahun 2001 kata teroris dan terorisme benar-benar menjadi hot topik yang tidak pernah habis untuk dibicarakan, bahkan isu ini terus meluas dan berkembang. Terorisme sebagai ideologi yang memberikan ketakutan, merusak keamanan, dan menghilangkan nyawa sebenarnya bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia. Setiap agama dan kepercayaan seperti Yahudi, Kristen, Hindu, dan Budha atau selainnya memiliki sejarah teror yang terekam dalam catatan sejarah.

Kalau Yahudi terekam kekejaman mereka di antaranya melalui peristiwa Nakba Palestina, maka orang-orang Kristen juga banyak melakukan kekejaman dan pembantaian terhadap umat lainnya, di antaranya umat Islam di Andalusia.

Sebelum lebih jauh bertutur, penulis mengajak para pembaca agar bijak dalam menyikapi tulisan ini. Tulisan ini bukanlah sebagai provokasi berbuat anarkis dan melampiaskan emosi tak terarah, akan tetapi penulis hendak membuka mata kita semua agar ketika kata teroris dan terorisme disebut, semua mata dan telunjuk tidak lagi mengarah kepada umat Islam, semua memiliki sejarah teror yang memang sengaja disembunyikan atau dicitrakan sebagai ekspedisi penjelajahan. Penulis juga ingin menghilangkan atau setidaknya mengurangi kadar Islamphobia yang kian menyebar di tengah masyarakat melalui tulisan ini.

Tragedi Andalusia

Kita beranjak ke abad pertengahan, menuju benua biru yang tatkala itu kerajaan-kerajaannya menyatakan bahwa mereka adalah kerajaan Kristen, rakyatnya adalah pengabdi salib, dan prajuritnya disebut tentara salib, bukan Eropa sekuler seperti saat ini.

Saat Kerajaan Granada yang merupakan kerajaan Islam terakhir di Andalusia runtuh, umat Islam mengalami penderitaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Pembantaian, pengusiran, dan pemaksaan agar berpindah agama dari Islam menjadi Kristen adalah episode kehiudpan yang baru yang mau tidak mau harus mereka lewati. Orang-orang Kristen Eropa berupaya

Wilayah Andalusia
Wilayah Andalusia

membersihkan Islam sebersih-bersihnya dari tanah Andalusia. Karena itulah, hari ini hampir tidak kita lihat syiar-syiar Islam di Negara Spanyol dan Portugal, hampir tidak ada atau memang sudah tidak ada lagi anak keturunan umat Islam di semenanjung Iberia itu.

Salah satu peristiwa penting yang menyebabkan hilangnya umat Islam dan syiar-syiar Islam di Andalusia adalah karena kebijakan Raja Felipe III. Pada tahun 1609, Raja Felippe III menetapkan kebijakan bahwa orang-orang Morisco harus diusir dari wilayah Andalusia. Orang-orang Morisco adalah suatu etnik muslim yang banyak mendiami wilayah Granada lalu dipaksa memeluk agama Kristen, jika tidak, mereka akan dibunuh atau diusir dari Andalusia.

Lalu mengapa Felipe III mengambil kebijakan ini, padahal mereka telah mengganti agamanya. Alasannya adalah karena orang-orang Morisco secara lahiriah adalah Kristen namun mereka tetap melaksanakan ritual-ritual ibadah Islam. Sebenarnya ide pengusiran ini dicetuskan oleh Uskup Agung sekaligus Raja Muda Valencia, Juan de Ribera, lalu pandangan ini mempengaruhi sang pengambil keputusan, Felipe III.

Lebih dari 300.000 orang Morisco diusir dari Andalusia menuju Maroko, Tunisia, atau Aljazair. Diperkirakan sekitar 800.000 orang Morisco telah pergi dari tanah Andalusia sejak runtuhnya kerajaan Granada. Di antara mereka ada yang dijadikan budak dan sebagiannya lagi dibunuh. Namun Felipe III tidak mengizinkan anak-anak berusia dibawah 7 tahun untuk diikutsertakan dalam eksodus ini. Ia tidak ingin anak-anak yang masih bisa diubah dan diatur pemikirannya ini tumbuh di negeri muslim dan menjadi seorang muslim di kemudian hari, sehingga dipisahkanlah anak-anak kecil ini dengan orang tua-orang tua mereka, anak-anak kecil itu tetap tinggal di Valencia sementara orang tua mereka diusir. Dengan demikian, bertambahlah derita orang-orang Morisco yang diusir tersebut.

Eksodus umat Islam Morisco dari Andalusia menuju negeri-negeri Islam di Afrika Utara.
Eksodus umat Islam Morisco dari Andalusia menuju negeri-negeri Islam di Afrika Utara.

Pembersihan etnik (ethnic cleansing) yang dilakukan orang-orang Kristen Eropa membuat umat Islam benar-benar hilang dari tanah Andalusia. Mereka membunuh dan mengusir umat Islam dari negerinya, lalu mengisi desa atau kota yang telah ditinggalkan dengan imigran Kristen dari wilayah Andalusia lainnya atau dari wilayah Prancis. Sehingga wajar kita lihat pada hari ini, seolah-olah tanah Spanyol dan Portugal sama sekali tidak pernah terinjak oleh kaki-kaki umat Islam. Seandainya tidak ada peninggalan Islam berupa bangunan-banguna bersejarah, mungkin kita tidak pernah tahu kalau umat Islam pernah menguasai wilayah tersebut selama 800 tahun.

Antara Nakba Andalusia dan Nakba Palestina

Prilaku orang-orang Kristen di abad pertengahan mungkin sedikit banyak menginspirasi orang-orang Yahudi di Palestina. Orang-orang Yahudi ini juga melakukan pembersihan etnik muslim dan Arab di tanah Kan’an ini. Mereka membunuh, mengusir, dan menghancurkan pemukiman-pemukiman rakyat Palestina. Setelah itu mereka mengundang orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia, untuk menghuni tanah yang menurut mereka telah dijanjikan bagi umat Yahudi.

Apabila kita hendak menerawang bagaimana penderitaan umat Islam yang terusir dari Andalusia, kira-kira kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan fenomena yang menimpa bangsa Palestina. Mudah-mudahan, kita tidak melupakan Palestina sebagaimana kita tidak mendapatkan gambaran tentang Andalusia.

Penutup

Coba bandingkan dengan Islam ketika menguasai wilayah-wilayah Kristen atau agama dan kepercayaan selainnya, adakah catatan sejarah tentang pembersihan etnik? Adakah pengusiran? Bagaimana Umar bin Khattab datang ke Jerusalem dalam menghadapi Yahudi dan Kristen di sana? Mereka tidak kehilangan hak-hak dan tidak mengalami pelcehan, penyiksaan, dan pemaksaan.

Bacalah sejarah-sejarah tentang betapa damainya umat non-Islam di bawah kekuasaan Kerajaan Islam, bacalah sejarah peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangannya, bagaimana jumlah korbannya? Bagaimana musuh diperlakukan? seperti dalam artikel “Apakah Islam Disebarkan dengan Peperangan?”, maka Anda dapat menyimpulkan kata terorisme apabila ditujukan hanya kepada umat Islam atau sengaja ditujukan kepada Islam, hal itu adalah pemaksaan istilah dan pembentukan opini yang menyesatkan.

Dari sini kita menyadari dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Islam itu memang benar-benar menebar keselamatan.

Sumber:
– as-Sirjani, Raghib. Qishshatu al-Andalus min-al Fathi ila-sh Shuquth.Kairo: Muassasah Iqra. 2011.
– Islamstory.com dll.

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Mukjizat Perjalanan Isra dan Mi’raj

Next post

Suhaib ar-Rumi Radhiallahu 'Anhu

4 Comments

  1. Muhammad hud
    May 23, 2014 at 2:41 am —

    Saya rasa jika cerita ini dapat menceritakan lebih mendalam lagi tentang islam pasti ramai yang akan sebarkan tentang islam di laman sosial mereka sendiri

  2. Ilham Ramadhani
    May 23, 2014 at 6:13 pm —

    Patutlah kita membuka mata kita tentang semua ini,

  3. Annas
    June 17, 2014 at 10:44 pm —

    Mungkin keruntuhan Islam saat ini di sebab kan oleh diri sendiri yg tak lagi menjalankan dan menyempurankam rukun Islam, kepuraan, malu, dan takut akan sesuatu, teman, atasan dan lainya yang semakin lama semakin menutup mata ke Islaman diri.
    Andai setiap Muslim mau saling mengalah, berbagi dan mampu menahan lapar demi yang lain (baik kepada Muslim ataupun non-Muslim), insya allah kebaikan akan datang perlahan lahan.

  4. Fadlan
    July 7, 2014 at 9:02 pm —

    Sangat bermanfaat saudara Admin. Terima Kasih. Semoga kita semua diberkahi Allah SWT.

Leave a reply