Kisah Pilihan

Jamaah Haji Suriah, Kesabaran Yang Tak Berbatas

Seorang jamaah haji Suriah. Dia kehilangan istrinya, lima anak, rumah, dan tanah airnya. Tragedi dan bencana yang ia alami di tanah airnya, Suriah, bertubi-tubi menimpanya tanpa jeda di saat ia telah tua. Meskipun banyak kehilangan dan mengalami duka lara, ia tetap membulatkan niatnya untuk datang berziarah ke Baitullah al-Haram untuk mendoakan tanah airnya. Jiwa yang rapuh itu ia kuatkan. Perasaan yang lebur berkeping-keping, terus ia tata untuk terus istiqomah tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Nama pria tua asal Suriah itu adalah Muhammad Husein. Ia mengatakan, “Saya di Mina dengan tubuh yang cacat dan perasaan yang hancur. Perang di Suriah telah merenggut seluruh keluarga saya –istri dan lima anaknya-, dan jari-jari tangan kanan saya pun lumpuh karena luka tembak.”

Husein menceritakan kepada surat kabar al-Hayat bahwa semua anggota keluarganya meninggal ketika rumahnya di Aleppo rata berubah menjadi puing-puing oleh serangan jet tempur pasukan pemerintah Suriah. “Tidak ada yang selamat dari serangan itu. Kami menyeret semua mayat dari reruntuhan kemudian menguburkan mereka. Sejak saat itu, saya pun hidup sendiri.” katanya.

Ia melanjutkan, “Mimpi yang telah saya idam-idamkan selama lebih dari 50 tahun, melihat anak-anak saya menikah dan hidup bahagia, sirna begitu saja oleh hujan bom pada hari itu.”

Dengan kesedihan, ia tetap melanjutkan ceritanya, “Selain kehilangan istri, anak-anak, dan tempat tinggal, saya juga merasakan kehilangan yang sangat besar, yaitu kehilangan negeri saya Suriah. Negeri yang direnggut oleh Presiden Bashar al-Assad dan kroni-kroninya.”

Husein menggambarkan perang adalah sebuah “kutukan”, tapi ia tetap menasihatkan agar rakyat Suriah tetap bersabar atas apa yang menimpa mereka. Betapapun lamanya bencana ini menghujam malam-malam Suriah, suatu hari ia pun akan berakhir.

Dalam kesabaran dan harapan terhadap rahmat Allah, cinta dan kasih sayangnya terhadap anak dan istrinya terus hidup di sanubarinya. “Mereka selalu terukir di dalam hatiku. Mungkin dari luar, orang-orang melihatku seolah-olah tidak apa-apa. Namun di dalam ragaku, kurasakan luka besar yang menganga karena kehilangan mereka.”

Pelajaran:

Pertama: Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sebgaimana firman Allah,

لَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Berharap jalan keluar dan rahmat dari Allah adalah sifat orang yang beriman. Sedangkan berputus asa dari rahmat Allah adalah sifat orang-orang kafir.

Kedua: Sabar terhadap takdir dan ketetapan Allah. Muhammad Husein ditimpa ujian yang sangat berat dengan kehilangan keluarga, harta, tanah air, bahkan anggota tubuhnya, namun ia tetap bersabar atas ketetapan Allah. Lebih dari itu, ia juga mengajak agar semua rakyat Suriah bersabar.

Ketiga: Berprasangka baik terhadap Allah. Muhammad Husein tidak mencela Allah atas duka lara yang ia terima. Ia terus berprasangka baik kepada Allah dengan keyakinan semua musibah itu akan berakhir pada waktu yang Allah tetapkan.

Keempat: Semakin dekat kepada Allah saat mendapatkan ujian. Banyak orang ketika mendapatkan ujian, ia malah menjauh dari Allah. Ujian yang ia terima, direspon dengan malas beribadah, atau bahkan bermaksiat kepada Allah, wal ‘iyadzubillah. Hal ini sama saja dengan mendapat musiah terbesar karena kehilangan Allah. Muhammad Husein merespon ujian yang ia terima dengan cara yang sangat positif. Ia semakin dekat dengan Allah, dengan menunaikan haji ke Baitullah.

Kelima: Tetap berdoa meminta kebaikan terahadap tanah air. Pemandangan di Suriah adalah pemandangan yang mengenaskan. Melihat apa yang terjadi di sana, seolah-olah tidak ada lagi harapan untuk hidup. Setiap jengkal adalah gedung yang hancur, darah yang mengalir, mayat yang terkapar, atau derai air mata dan kelaparan. Namun Husein tetap mendoakan negerinya. Demikian juga semestinya kita rakyat Indonesia, tetap mendoakan kebaikan untuk negeri kita dan pemimpin-pemimpin kita.

Keenam: Semangat berhaji di tengah berbagai kekurangan yang dialami.

Sumber: saudigazette.com.sa

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Kakek Ini Menjual Kebunnya Untuk Berangkat Haji Bersama Istrinya

Next post

Usia 75 Tahun, Jalan Kaki 2 Bulan Untuk Haji

1 Comment

  1. abu hafshah
    October 17, 2014 at 9:04 am —

    kisah yang sangat bagus,…
    semoga negri ini menjadi negri yang aman…
    aamiin

Leave a reply