Sejarah

Asia Tengah dan Kaukasus di Bawah Penjajahan Rusia

Pada abad ke-13 H atau abad ke-19 M, sebagian besar wilayah Islam berada di bawah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah, Rusia, Eropa, dan Iran. Setelah Crimea, Kaukasus hingga Laut Kaspia jatuh ke tangan Rusia, pengaruh politik Turki Utsmani terhadap wilayah Asia Tengah pun terkena dampaknya. Kekuasaan kerajaan Islam tersebut kian menurun grafiknya. Semakin melemah dan kehilangan pengaruh. Satu wilayah terbagi-bagi kekuasaannya, menjadi milik penjajah dan sebagian tetap milik Turki Utsmani. Peluang Rusia untuk berkuasa di Asia Tengah pun kian terbuka.

Dimanakah Asia Tengah dan Kaukasus?

Asia Tengah adalah sebuah kawasan yang terkurung di Benua Asia. Wilayah yang meliputi negara-negara Transkaukasus (Azerbaijan, Armenia, dan Georgia), wilayah Turkic/Muslim selatan Rusia (Siberia selatan), Mongolia, Tiongkok bagian barat (Xinjiang dan Tibet), Afganistan, dan sebagian wilayah utara Pakistan.

Ada pula yang mendefiniskan Asia Tengah sebagai wilayah-wilayah bekas jajahan Uni Soviet, seperti: Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Sejarawan muslim menyebut negeri-negeri ini dengan sebutan Negeri Seberang Sungai.

Wilayah Asia Tengah
Wilayah Asia Tengah

Bencana Besar Dimulai

Melemahnya Turki Utsmani adalah kerinduan yang menemukan jawaban bagi masyarakat Kristen Eropa. Mereka hendak mentahbiskan benua biru hanya untuk pengikut salib saja. Dan saatnya tiba, Turki Utsmani melemah. Saatnya mewujudkan cita-cita dan melakukan tindakan nyata.

Rusia yang saat itu masih dikenal dengan Kekaisaran Rusia mulai menyambangi satu per satu wilayah kaum muslimin di Asia Tengah, wilayahnya Turki Utsmani. Mereka mulai memerangi penduduknya. Dan melakukan pembantaian di sana. Mulai dari masa kekuasaan Kaisar Ivav III (885 H/1480 M) yang mengkampanyekan perang besar terhadap bangsa Mongol Islam dan mengusir mereka dari Moskow, setelah 240 tahun Mongol menguasai daerah tersebut.

Kemudian di masa Vasily III, anak Ivan III, Paus memintanya agar mempercepat pengasingan kaum muslimin menuju Serbia. Paus juga menjanjikan kerajaan surga untuknya apabila berhasil menaklukkan Konstantinopel yang telah menjadi negeri muslim saat ditaklukkan oleh Muhammad al-Fatih pada tahun 857 H.

Namun yang paling mengerikan adalah Ivan IV. Kaum muslimin menggelarinya dengan ar-rahib, yang menakutkan. Ia melakukan pembantaian terhadap kaum muslimin dalam jumlah besar. Ia memberikan dua pilihan kepada umat Islam; menjadi Kristen atau pergi dari tanah air mereka sendiri. Kebijakan ini persis seperti yang dilakukan orang-orang Spanyol saat berakhirnya kekuasaan Islam di sana.

Banyak orang Tatar (Mongol) dan Bashkir mengubah agama mereka menjadi Nasrani. Mereka takut dibunuh, dibantai sekeluarga. Akhirnya mereka sembunyikan keimanan di hati. Berpenampilan layaknya penganut Kristen, namun tetap mengamalkan Islam sembunyi-sembunyi. Tekanan ini berlangsung selama kurang lebih 3 abad. Hingga muncul kebijakan kebebasan memeluk agama pada tahun 1323 H/1905, mereka kembali menampakkan keislaman mereka (Mustafa Dasuki Kasbah dalam al-Muslimun fi Asia al-Wustha wa al-Qufaz, Hal: 130-131).

Dipaksa Pindah Agama

Setelah Ivan IV, Kekaisaran Rusia dipimpin oleh Peter the Great atau Peter I (1092-1138 H/1682-1725 M). Kebijakan Rusia terhadap umat Islam tetap sama, umat Islam dipaksa menjadi Kristen atau pergi meninggalkan tanah mereka. Pada tahun 1108 H/1696 M, Peter I mulai menaklukkan wilayah utara Laut Hitam, tepatnya wilayah Azov. Namun berhasil direbut kembali oleh Utsmani pada tahun 1112 H/1700 M.

Rusia telah menguasai Kota Hanna (di wilayah Czechoslovakia sekarang) sejak masa pemerintahan Ivan IV. Sejak itu penduduknya dipaksa memeluk Nasrani, mereka wajib membayar upeti, madrasah-madrasah ditutup, dan orang-orang Islam yang murtad menjadi Nasrani dibebaskan dari siksa dan wajib militer. Mereka diperlakukan baik secara sosial. Sedangkan yang masih teguh dalam iman Islamnya dilarang menampakkan syiar agama. Seluruh masjid dan sekolah agama ditutup. Anak-anak umat Islam pun tidak punya pilihan lain jika ingin sekolah, mereka sekolah di sekolah misionaris Kristen. Sehingga mereka tumbuh dengan pendidikan dan pola pikir Nasrani.

Pada masa Catherine the Great (1176-1211 H / 1762-1796 M), invasi terhadap wilayah kaum muslimin selesai. Namun ia menyita ratusan ribu lahan paling subur yang dimiliki orang-orang Mongol di Crimea. Ia menerapkan politik yang toleran terhadap kaum muslimin. Pada tahun 1187 H/1773 M, Catherine memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk menjalankan agamanya. Setelah itu, umat Islam kembali mengalami intimidasi di zaman Nicola I. Nicola I tidak mengizinkan kaum muslimin mendirikan masjid. Ia juga merampas sebagian besar tanah.

Jihad dan Perlawanan

Dalam masa-masa sulit penjajahan Rusia ini, perlawanan umat Islam tetap ada. Di antara tokoh yang terkenal dalam jihad melawan Rusia adalah al-Imam Manshur, seorang pejuang dari Kaukasus. Ia membuat Rusia kerepotan di wilayah Chechnya dan Dagestan.

Ketika terjadi perang antara Rusia dan Turki pada tahun 1787, Turki menjadikan Imam Manshur sebagai sekutunya. Rusia pun menderita kekalahan. Namun akhirnya, pada tahun 1794, Rusia berhasil membunuh Imam Manshur di Anapa. Itulah akhir perlawanan Imam Manshur terhadap penjajah Rusia setelah kurang lebih mengadakan perlawanan terhadap kekaisaran tersebut.

Rusia Mengancam Wilayah Utsmani

Rusia tidak menerima begitu saja kekalahan mereka pada perang tahun 1787 menghadapi Turki Utsmani. Mereka merencanakan balas dendam, menyerang dan mengganggu kedaulatan Turki Utsmani. Dimulai dengan memprovokasi dan melibatkan diri dalam revolusi Bosnia Herzegovina untuk memberontak kepada Turki Utsmani.

Kemudian Rusia tidak hanya berperan jadi pihak kedua, mereka ingin terlibat langsung memerangi Utsmani. Mereka masuk ke wilayah Montenegro pada tahun 1876. Dari sana mereka mencoba menarik simpati masyarakat Kristen Eropa, datang ke Montenegro hanya untuk melindungi orang-orang Krsiten yang berada di wilayah kekuasaan Utsmani. Negara-negara Eropa pun serentak mengecam Turki Utsmani dan menuntut Utsmani mengadakan perdamaian, dengan ketentuan yang merugikan Utsmani tentunya. Utsmani menolak perjanjian, pecahlah peperangan Rusia dan Utsmani. Yang berakhir dengan diizinkannya Rusia menaruh perwakilan di wilayah Balkan Timur.

Dampak ekspansi Rusia pada paruh kedua abad ke-19 adalah terbukanya jalan bagi bangsa-bangsa Eropa untuk menjajah negara-negara Asia dan Afrika. Kolonialisme Eropa atas Asia dan Afrika pun tumbuh pesat.

Kebijakan Rusia Setelah Pendudukan

Kebijakan colonial Rusia setelah menduduki Asia Tengah (1890 – 1917) adalah sebagai berikut:

  1. Merampas tanah-tanah penduduk lokal dan memberikannya kepada 1,5 juta lebih penduduk miskin Rusia.
  2. Bank-bank Rusia menawarkan riba kepada penduduk Turkmenistan, ketika mereka tidak mampu membayar hutang mereka kepada bank, maka bank-bank Rusia itu menyita tanah-tanah tersisa yang dimiliki penduduk.
  3. Menyebarkan budaya Rusia kepada penduduk local. Strategi ini dinilai efektif untuk menghilangkan nilai-nilai Islam di negeri-negeri Asia Tengah.
  4. Menutup sekolah lokal dan menggantinya dengan sekolah Rusia.
  5. Melakukan propaganda lewat media.
  6. Masifnya gerakan misionaris Kristen Ortodok untuk mengubah agama penduduk lokal, dari Islam ke Kristen.

Melihat Keadaan wilayah Asia Tengah saat ini cukup memprihatinkan. Meskipun mereka telah merdeka dari penjajahan Rusia, namun bekasnya masih begitu kentara. Yaitu hilangnya identitas muslim pada rakyatnya. Negeri-negeri yang melahirkan tokoh selevel Imam al-Bukhari dan Imam Muslim ini kehilangan akar sejarahnya. Komunisme telah memisahkan mereka dengan Islam sejauh-jauhnya. Ditambah ajaran Syiah juga cukup berkembang di sana.

Semoga Allah ﷻ mengembalikan marwah tanah Asia Tengah. Sebagaimana dahulu dunia mengenalnya.

Sumber:
– http://islamstory.com/ar/آسيا-الوسطى-والقوقاز-تحت-الاستعمار-الروسي

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

10 Pemimpin Besar Dalam Sejarah Islam (2/2)

Next post

Al-Jazari Mengenalkan Robot Pada Dunia

No Comment

Leave a reply