Kisah Nabi Muhammad

Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (1/3)

Saat Abu Thalib mendekati akhir usia, berkumpullah tokoh-tokoh besar di sekitarnya. Penghulu manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tokoh kekafiran juga pemuka Quraisy, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Kehadiran para tokoh yang kontradiktif inilah, membuat peristiwa wafatnya Abu Thalib memuat banyak pelajaran.

Ketika ajal Abu Thalib telah dekat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuju rumah sang paman. Beliau berharap pamannya yang turut memperjuangkan dakwah ini, melisankan syahadat di akhir hayat. Meninggalkan dunia dengan menyandang status seorang muslim. Sehingga menjadi sebab bergantinya keadaan, dari berhadapan dengan ancaman neraka berganti dengan nikmat surga.

Akan tetapi bukan hanya Rasulullah saja yang mengetahui Abu Thalib sedang menghadapi sakaratul maut, Abu Jahal pun tahu kabar itu. Jadilah peristiwa wafatnya Abu Thalib sebuah pertemuan antara kebenaran dan tokohnya dengan kebatilan juga dan dedengkotnya.

Dari Said bin al-Musayyib rahimahullah dari ayahnya, ayahnya berkata, “Kala Abu Thalib telah dekat dengan ajal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuinya. Saat itu, telah ada di sisi Abu Thalib, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

أَيْ عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ.

Paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Sebuah kalimat yang nanti akan kubela engkau di hadapan Allah.”

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah tidak membiarkan teman mereka ini ingkar dengan ajaran nenek moyang. Keduanya mengatakan,

أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟

Apakah engkau membenci agamanya Abdul Muthalib?”

Rasulullah terus mendakwahi pamannya. Tapi selalu ditimpali oleh kedua gembong kemusyrikan ini. Akhirnya Abu Thalib menutup seruan-seruan itu dengan ucapan, “Di atas agamanya Abdul Muthalib.” Ia enggan mengucapkan laa ilaah illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«وَاللَّهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ»

Demi Allah, sungguh aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang.”

Kemudian Allah menurunkan firman-Nya,

﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ﴾

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” [Quran At:Taubah:113]

Tentang Abu Thalib, Allah turunkan ayat pula kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” [Quran 28:56].

Kisah ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir, Suratul Qashash (4494). Dan Muslim dalam Kitabul Iman, Bab Awwalul Iman Qaulu: Laa ilaaha illallaah (24).

Doa yang ingin dipanjatkan Rasulullah adalah bentuk balas budi. Paman yang mengasuh dan melindunginya. Paman yang turut membantu Islam tersebar saat tokoh-tokoh Quraisy berusaha menghadangnya. Tapi kebaikan itu tak bernilai tanpa keimanan. Kebaikan yang banyak tak akan diterima dengan kekufuran.

Nasab bukanlah faktor keselamatan di akhirat. Kalau keluarga Nabi Muhammad dijamin surga dan terjaga dari dosa, tentu Abu Thalib dan Abu Lahab yang merupakan paman beliau lebih layak mendapatkannya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada pamannya, Abu Thalib,

«قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»، قَالَ: لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ. يَقُولُونَ: إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ. لأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ. فَأَنْزَلَ اللهُ: ﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾ [القصص: 56]

Ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Akan aku persaksikan kalimat itu untukmu nanti di hari kiamat.”

Abu Thalib menjawab, “Sekiranya bukan karena cemoohan orang-orang Quraisy. Mereka akan mengatakan, ‘Dia mengucapkan itu karena jiwanya panik’. Pasti kuucapkan kalimat itu agar jiwamu tenang.”

Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” [Quran 28:56]. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman, Bab Awwalul Iman Qaulu: laa ilaaha illallah (25), at-Turmudzi (3188), dan Ahmad (9608).

Dalam kisah wafatnya Abu Thalib ini, kita melihat ada empat orang laki-laki. Ada Abu Jahal, Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah, Abu Thalib, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari masing-masing tokoh ini bisa kita petik pelajaran yang penting. Insya Allah kita lanjutkan di tulisan berikutnya.

Penutup

Sebagian orang menyangka, Abu Jahal hanyalah bagian dari salah satu babak sejarah. Tindak-tanduknya hanyalah antagonis pelengkap sirah Nabi. Sebagaimana orang-orang yang mewarisi ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terus ada hingga kiamat, demikian juga pewaris-pewaris Abu Jahal yang menentang ajaran Nabi akan terus bermunculan. Karakter Abu Jahal terus berulang. Banyak orang semisalnya dalam kurun zaman dan tempat. Bahkan tokoh-tokoh kezhaliman (para thaghut), tak jauh keadaanya dari gembong kekafiran Quraisy ini.

Namun bagaimana keadaan para thaghut itu pada akhirnya? Kekuasaan mereka lenyap. Kesombongan mereka tak tersisa. Ketenaran dan kuasa mereka dilupakan. Hilang terhembus angin.

Previous post

Kata al-Walid bin al-Mughirah Tentang Alquran

Next post

Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)