Kisah Nabi Muhammad

Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

Di tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana peristiwa wafatnya paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib. Bagaimana Nabi berusaha mendakwahi sang paman di akhir hayat. Dan bagaimana pula tokoh-tokoh kekufuran, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tak mau kalah menyerukan kekufuran untuk teman mereka.

Orang pertama yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini adalah Abu Jahal.

Abu Jahal

Namanya adalah Amr bin Hisyam al-Makhzumi. Ia dikenal sebagai seorang yang bijaksana. Mampu menyelesaikan perselisihan antara dua orang dengan putusan yang membuat keduanya lapang. Karena itu ia digelari Abul Hakam (tokoh yang bijaksana) oleh orang-orang Mekah. Saat risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, ia menolaknya. Alasannya, hanya dengan alasan fanatik kesukuan. Sehingga dalam Islam ia disebut dengan Abu Jahal (bapak kebodohan).

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, kita bisa mengetahui bahwa Abu Jahal adalah seorang yang sangat bersemangat turut andil dalam peristiwa penting di Mekah. Ia senantiasa memperhatikan setiap perkembangan yang dapat mengokohkan syiar kekufuran. Ia gelontorkan seluruh daya upaya. Kesungguhan maksimal, waktu siang dan malam yang bernilai, harta hasilnya berniaga, tak membuatnya reda rasa luka, ia tahan kantuk yang membuat mata tekatup, semua itu ia lakukan demi menghalangi dakwah Rasulullah.

Sosok Abu Jahal memang telah berlalu. Tapi spirit dan pemikirannya tetap hidup di sebagian jiwa manusia. Kita temui ada orang-orang tertentu yang rela berpeluh letih untuk menghalangi tersebarnya agama ini. Ia kerahkan segala kemampuan. Tenaga, lobi, harta, bahkan jiwa agar Islam tidak dikenal manusia. Akhir kehidupan mereka pun sama. Mereka telah menyia-nyiakan masa hidup di dunia. Di dunia dada mereka sesak karena tak mampu menghalangi cahaya Allah. Di akhirat adzab yang pedih disediakan untuk mereka.

يريدون ليطفئوا نور الله بأفواههم والله متم نوره ولو كره الكافرون

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” [Quran: ash-Shaf :8].

Abu Jahal hadir di akhir hayat Abu Thalib, ia tak rela Abu Thalib tutup usia sebagai seorang mukmin yang mengesakan Allah Ta’ala. Ia tak sudi kalau temannya wafat dalam keadaan membenarkan risalah kenabian anak saudaranya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekiranya Abu Thalib tutup usia dengan kalimat syahadat, tentu hal ini menjadi pukulan keras untuk syiar kekufuran di Mekah. Keimanan Abu Thalib tentu menginspirasi anggota-anggota kabilah Bani Abdu Manaf, Bani Hasyim, dan Bani Abdul Muthalib yang belum beriman untuk beriman pula. Atau setidaknya mereka akan menggantikan Abu Thalib melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, Abu Jahal mewajibkan dirinya hadir di sisi Abu Thalib. Mendampingi dan memastikannya berada di atas kekufuran hingga ruh keluar dari jasadnya. Inilah sosok Abu Jahal.

Abdullah bin Abi Umayyah

Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi. Kehadiran Abdulllah bin Abi Umayyah dalam peristiwa ini cukup menarik. Ia memiliki kedekatan dengan Islam dan kekufuran dalam level yang sama. Ia adalah sepupu Abu Jahal dari pihak ayah. Di sisi lain, ia juga sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ibu. Ibunya adalah Atikah bin Abdul Muthalib, bibi Rasulullah sekaligus saudari perempuan Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Tapi, karena nasab itu dari jalur ayah, jadilah Abdullah bin Abi Umayyah seorang Makhzumi (berasal dari bani Makhzum).

Sebagaimana telah kita ketahui, dalam kisah “Kata Abu Jahal Tentang Pribadi Nabi Muhammad”, bani Makhzum selalu bersaing dengan bani Hasyim (kabilah Rasulullah). Dari sinilah, Abdullah bin Abi Umayyah merasa berkepentingan membela gengsi kabilahnya. Sekaligus mempertahankan agama pamannya dari pihak ibu, Abu Thalib, agar terus berada di atas kekufuran.

Selain memiliki kedekatan nasab dengan Rasulullah, Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki sifat mulia. Ia laki-laki yang cerdas, bijak, dan dermawan. Kedermawanannya terwarisi dari sang ayah, Abi Umayyah, yang dikenal sebagai Zadur Rukab. Karena kebiasannya menanggung makanan dan perbekalan semua orang yang bersafar dengannya (ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, 11/539).

Inilah nasab Abdullah bin Abi Umayyah yang cukup unik dalam permasalahan ini. Namun ia lebih memilih kekufuran. Lebih dekat dengan sepupunya Abu Jahal dibanding sepupu lainnya, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah pengaruh teman dekat.

Alasan lain yang membuat Abdullah bin Abi Umayyah benci terhadap Islam adalah anggapannya bahwa Islam memecah belah hubungan keluarga. Saudarinya, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, memeluk Islam bersama suaminya Abu Salamah. Hubungan kekerabatan pun retak. Ia memandang Muhammad adalah pemecah belah keharmonisan keluarganya. Permusuhan dengan Islam dan Nabi Muhammad pun ia kumandangkan.

Disebutkan, Abdullah bin Abi Umayyah menyatakan kepada Rasulullah, sekiranya beliau bisa mengeluarkan mata air di Mekah, ia akan beriman. Berkaitan dengan ini, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya.” [Quran Al-Isra: 90-94]. (ath-Thabari, Jami’ul Bayan 17/558).

Oleh karena itu, Abdullah bin Abi Umayyah datang bersama Abu Jahal mengupayakan segala kemampuannya menghalangi manusia dari Islam. Ia meyakini usaha yang ia lakukan ini adalah demi kemaslahatan pamannya dari pihak ibu, Abu Thalib.

Hari-hari terus berlalu, debu-debu kekufuran Mekah pun tertiup angin tauhid. Kebenaran datang menggusur kebatilan. Mekah menjadi negeri muslim melalui peristiwa Fathu Mekah. Lebih dari 10 tahun sudah Abu Thalib wafat. Abdullah bin Abi Umayyah mulai mempertimbangkan memeluk Islam. Ia keluar bersama Abu Sufyan. Berharap selamat dari kemungkinan hukuman mati. Keduanya meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertemu. Awalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak menemui kedua tokoh ini, walaupun keduanya telah melobi beliau melalui Ummu Salamah, saudari Abdullah bin Abi Umayyah yang telah menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Abu Sufyan bin al-Harits dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Tsaniyah al-‘Iqab (dekat Juhfah) antara Mekah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi. Ummu Salamah berkata kepada Nabi, ‘Wahai Rasulullah, anak pamanmu dan anak bibimu serta kerabat istrimu (iparmu) (ingin bertemu pen.)’ Rasulullah menjawab, ‘Aku tidak ada keperluan dengan mereka. Adapun anak pamanku (Abu Sufyan), ia sangat berlebihan dalam merusak kehormatanku. Sedangkan anak bibi sekaligus iparku, ia telah mengatakan padaku apa yang ia katakan sekwatu di Mekah’.”

Saat keduanya mendengar kabar penolak Rasulullah, Abu Sufyan yang bersama anaknya saat itu mengatakan, “Demi Allah, Rasulullah mengizinkan kita atau aku akan membawa anakku ini pergi ke suatu tempat. Biar kami mati kehausan atau kelaparan di sana. Ketika ucapan itu sampai kepada Rasulullah, beliau merasa iba pada keduanya. Kemudian mempersilahkan keduanya masuk. (HR. al-Hakim 4359. al-Hakim mengatakan hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan Muslim, walaupun ia tidak meriwayatkannya).

Setelah memeluk Islam, Abdullah bin Abi Umayyah memegang teguh ajaran Islam dengan baik. Imannya kokoh. Ia turut serta dalam Perang Hunain bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia syahid di Perang Thaif. Wafat disaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ibnu Abdil Bar: al-Isti’ab 3/868, Ibnul Atsir: Asadul Ghabah 3/176, Ibnu Hajar al-Asqalani: al-Ishabah 4-12/10).

Luar biasa sekali lika-liku hidup Abdullah bin Abi Umayyah radhiallahu ‘anhu. Dari seseorang yang memusuhi Rasulullah dan Islam. Menantang Nabi memancarkan mata air dari bumi, baru ia mau memeluk Islam. Membuat Nabi sangat bersedih, karena menjadi sebab wafatnya paman beliau tanpa mengucapkan syahadat seperti yang beliau harapkan. Kemudian memeluk Islam dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya syahid di Perang Thaif. Segala puji bagi Allah Yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

Demikianlah keutamaan Islam, ia menghapus dosa-dosa terdahulu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Amr bin al-Ash,

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ اْلإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

“Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya
?” (HR. Muslim).

Keislamannya pun baik sehingga Allah wafatkan ia dalam keadaan husnul khotimah.

إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ رواه البخاري وغَيْرُهُ.

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR. Bukhari dan selainnya).

Sebagaimana sosok Abu Jahal diperankan oleh person yang berbeda di setiap zaman dan tempat, demikian pula sosok Abdullah bin Abi Umayyah. Kisahnya juga terulang di kurun perjalanan kehidupan. Hanya saja pemerannya yang berbeda. Betapa banyak kita melihat seseorang, yang sebenarnya ia dekat dengan Islam dan iman. Tapi ada penghalang duniawi yang menutupinya dari cahaya Islam. Saat tabir penghalang itu hilang, ia menjadi seorang yang kuat imannnya. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan wafat dalam keadaan berjihad di jalan Allah.

Hanya saja, ketika orang ingkar kepada Allah, syariat-Nya, dan Rasul-Nya, dirinya sendiri dan orang lain tidak tahu, akhir hayatnya akan seperti Abu Jahal yang tetap dalam kekufuran atau seperti Abdullah bin Abi Umayyah yang mendapatkan husnul khotimah.

Inilah sosok kedua dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, yakni Abdullah bin Abi Umayyah.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (1/3)

Next post

Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (3/3)