Kisah Nabi Muhammad

Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (3/3)

Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian. Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Abu Thalib

Mungkin, penolakan Abu Jahal terhadap Islam membuat kita terheran. Bagaimana seorang yang dijuluki Abu al-Hakam, bapak kebijaksanaan, bisa menolak Islam dengan alasan gengsi kesukuan. Sebaliknya, kita juga takjub dengan Abdullah bin Abi Umayyah. Bagaimana lika-liku kehidupan yang ia alami hingga mengantarkannya pada hidayah dan syahid di akhir hayat. Tapi, kisah Abu Thalib akan membuat kita lebih terheran lagi. Bagaimana ia bisa menolak Islam?!

Begitu banyak jalan dan sebab yang memungkinkan Abu Thalib menerima Islam dan menjadi seorang mukmin. Ia seorang yang cerdas. Matanya menyaksikan, bagaimana wahyu turun pada anak saudaranya sejak hari pertama. Ia tahu dan yakin wahyu itu benar. Tak pernah ia dustakan keponakannya yang mengklaim diri sebagai nabi. Rasulullah sangat mencintainya. Demikian juga dia, keponakannya ini berada di tempat istimewa di hatinya. Ia laki-laki terhormat. Tokoh bani Hasyim yang turut berbangga, terlahir seorang nabi dari kabilahnya. Rasulullah berjanji membelanya di hari kiamat jika ia mengucapkan laa ilaaha illallaah. Tapi tak diindahkannya. Setelah semua itu, ia akhiri hayatnya dengan berpegang pada agama ayah dan kakek-kakeknya.

Abu Thalib sangat dekat dengan Nabi. Melebih kedekatan Nabi dengan dua orang sahabat istimewanya, Umar bin al-Khattab dan Utsman bin Affan. Tapi, demikianlah hidayah. Ia tak mengenal nasab dan kedudukan sosial. Dari sini kita bersyukur, Allah memilih kita menerima Islam. Nikmat terbesar yang tidak didapatkan oleh keluarga Nabi, paman beliau sendiri.

Fanatik Kesukuan (Ashobiyah)

Abu Thalib mengungkapkan alasan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengapa ia enggan mengucapkan kalimat tauhid.

لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ؛ يَقُولُونَ: إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ لأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ

“Sekiranya bukan karena cemoohan orang-orang Quraisy. Mereka akan mengatakan, ‘Dia mengucapkan itu karena jiwanya panik (takut)’. Pasti kuucapkan kalimat itu agar jiwamu tenang.”

Sebagai seorang tokoh bani Hasyim, Abu Thalib merasa berkewajiban menjaga wibawa kabilah. Ia tak ingin orang-orang menyangka tokoh kabilah bani Hasyim ketakutan di akhir hayat. Sehingga turunlah marwah kabilah.

Abu Thalib juga mencintai ayahnya, Abdul Muthalib, dan kakek-kakeknya, Hasyim, Abdu Manaf, dll. Cinta yang dibangun di atas fanatik kesyirikan. Cinta yang menutup hatinya dari cinta hakiki. Kecintaan yang menjadi hijab dari fitrahnya. Kalau dia beriman, sama saja telah memvonis ayah dan kakek-kakeknya berada dalam kesesatan. Sebab ini juga yang banyak menghalangi orang Arab menerima Islam.

Fanatik kesukuan (ashobiyah) sampai tingkat demikian, tidak dimiliki oleh ras manapun di dunia ini kecuali bangsa Arab. Allah Ta’ala menggambarkan bagaimana ashobiyah bangsa Arab:

﴿قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ﴾

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. [Quran Al-A’raf:70].

Allah Ta’ala berfirman,

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. [Quran Al-Baqarah:170].

Firman-Nya yang lain,

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ﴾

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. [Quran Al-Maidah:104].

Dan firman-Nya juga,

﴿بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ * وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ * قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ﴾

Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”. Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. [Quran Az-Zukhruf: 22-24].

Seperti ini pula keadaan Abu Thalib.

Tampak bagi kita, Abu Thalib lebih mencintai ayahnya dibanding Allah. Dalam hatinya, membuat Abdul Muthalib senang walaupun ia sudah tiada itu lebih dikedepankan dibanding membuat Rasulullah yang masih hidup bahagia. Kemudian Allah ungkapkan isi hatinya melalui kata-kata terakhirnya itu. Ia menolak hidayah. Ia menzhalimi dirinya sendiri. Mengetahui kebenaran tapi menepisnya dan lebih memperturutkan hawa nafsunya.

Jasa Yang Terkubur Dosa

Tidak diragukan lagi, Abu Thalib memiliki jasa besar dalam dakwah Islam. Ia melindungi Rasulullah dan menghadang intimidasi pembesar-pembesar Mekah terhadap keponakannya itu. Rasulullah sangat mencintainya. Dan berharap agar sang paman memeluk Islam. Kita tidak memungkiri keutamaannya ini. Di sisi lain, kita juga tidak boleh berlebihan memujinya. Menyebutnya sebagai seorang muslim dan beriman. Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam menilai sosok Abu Thalib:

Pertama: Meskipun Abu Thalib memiliki jasa besar terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia mempraktikkan dosa yang paling besar. Yaitu dosa syirik. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu:

سَأَلْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم أيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ للهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ»

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Engkau menjadikan tandingan untuk Allah, padahal Dia yang menciptakanmu.” “Aku pun berkata kepada beliau, ‘Jika demikian, hal ini benar-benar serius (besar)’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir, Surah al-Baqarah (4207) dan Muslim dalam Kitab al-Iman, Bab Kaunu asy-Syirki Aqbahu adz-Dzunub wa Bayanu A’zhamuha Ba’dahu (86)).

Allah Ta’ala berfirman,

﴿إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [Quran An-Nisa:48].

Dan firman-Nya,

﴿إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا﴾

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [Quran An-Nisa:116].

Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa buruknya apa yang telah dilakukan Abu Thalib. Ia membawa mati sosa syirik. Dosa yang tidak diampuni apabila pelakunya mati dan tak sempat bertaubat. Demikianlah seriusnya keadaan seseorang yang mempraktikkan kesyirikan.

Memang, Abu Thalib punya andil menyebarkan dakwah di masa-masa sulit. Tapi ia juga memiliki kesahalan yang besar. Ia menolak tunduk kepada Allah Ta’ala. Dan malah menghambakan diri kepada Hubal, Latta, dan Uzza.

Kedua: Banyak nash-nash yang menjelaskan bahwa Abu Thalib adalah penghuni neraka. Dan Allah Ta’ala melarang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan ampunan untuknya. Ia telah divonis sebagai ash-habul jahim. Allah Ta’ala berfirman,

﴿مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ﴾

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” [Quran At-Taubah:113].

Al-Musayyib bin Hazn radhiallahu ‘anhu berkata, “Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Thalib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memahami realita bahwa Abu Thalib wafat dalam keadaan musyrik. Sehingga Allah melarang beliau memintakan ampunan untuknya. Setelah sebelumnya beliau berazam untuk memintakan ampunan. Sebgaimana sabda beliau,

«وَاللَّهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ»

“Demi Allah, pasti aku akan mohonkan untukmu ampunan selama aku tidak dilarang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tak lagi memohonkan ampun untuknya. Beliau hanya diizinkan memberikan syafaat. Sehingga Abu Thalib mendapatkan keringanan adzab di neraka. Allah Ta’ala adalah Maha Adil dan Bijaksana, tidak melupakan jasanya menolong Rasul-Nya dan dakwah sepanjang umurnya. Jadi, yang menyebabkan syafaat ini bukan kedekatan kerabat, akan tetapi jasanya terhadap dakwah.

Berikut ini riwayat-riwayat tentang syafaat terhadap Abu Thalib:

Dari al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ؟ قَالَ: «هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّا

“Apakah Anda tidak bisa menolong paman Anda? Karena dia selalu melindungi Anda dan marah karena Anda.” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

Dari Abdullah bin al-Harits, ia berkata,

سمعتُ العباس رضي الله عنه، يقول: قلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا طَالِبٍ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَنْصُرُكَ فَهَلْ نَفَعَهُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَجَدْتُهُ فِي غَمَرَاتٍ مِنَ النَّارِ، فَأَخْرَجْتُهُ إِلَى ضَحْضَاحٍ»

Aku mendengar al-Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, (Kata Abbas) Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Thalib dulu melindungi dan menolongmu, apakah hal itu bermanfaat untuknya?” Rasulullah menjawab, “Iya, aku melihatnya dalam kesengsaraan di neraka (paling bawah pen.). Kemudian aku keluarkan (atas izin Allah pen.) ke permukaan neraka.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, Bab Syafaatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam li-Abi Thalib wa at-Takhfif ‘anhu bi Sababihi (209)).

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudry radhiallahu ‘anhu, bahwasanya dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang paman beliau. Beliau bersabda,

لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُجْعَلُ فِي ضَحضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ يَغْلِي مِنْهُ دِمَاغُهُ

“Semoga bermanfaat syafaatku untuknya pada hari kiamat. Dia ditempatkan di neraka yang paling atas. Yang api neraka mencapai mata kakinya, yang dengan itu otaknya mendidih.” (HR. Al-Bukhari no. 3885 dan 6564, Muslim no. 210; dan yang lainnya).

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbsada,

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ، وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Penduduk neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib. Yaitu dia memakai sandal yang membuat otaknya mendidih.” (HR. Muslim dalam Kitabul Iman, Bab Ahwanu Ahlun Nar Adzaban (212) dan Ahmad (2636)).

Tokoh keempat adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah ada artikel tersendiri yang membahas tentang beliau, berkaitan dengan peristiwa wafatnya Abu Thalib.

Penutup

Dari sini kita benar-benar sadar, betapa bahayanya syirik. Amal shaleh apapun tidak ada yang bisa menutupinya. Sampaipun amalan agung berupa menolong utusan Allah. Kita sadar, amalan yang bukan karena Allah tidak akan diterima. Seperti halnya Abu Thalib, ia menolong Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Niatnya bukan karena Allah; bukan karena mecintai agamanya, akidahnya, atau kenabiannya. Ia menolognnya lantaran sama-sama anak keturunan Hasyim. Kecintaannya kepada Nabi adalah cinta tabiat. Seperti cintanya seorang ayah kepada anak. Ia menolong Nabi semata-mata agar anaknya ini selamat dari luka dan derita. Dan inilah bentuk niat karena dunia. Ia tidak mendapat bagian apapun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا * وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا * كُلاًّ نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا * انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا * لَا تَجْعَلْ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا﴾

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” [Quran Al-Isra:18-22]

Oleh Nurfitri hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Pelajaran dari Wafatnya Abu Thalib (2/3)

Next post

Seorang Anak Menjual Rumahnya Demi Bayarkan Utang Ayah