Sejarah

Nasib Tawanan Sebelum Islam Datang

Zaman sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal dengan zaman jahiliyah. Disebut jahiliyah (kebodohan) karena manusia tidak tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah pencipta mereka. Mereka terkurung dalam gelapnya akhlak jahiliyah. Peraturan dibuat hanya berdasarkan kepentingan dan perasaan. Sedangkan perasaan manusia itu berbeda-beda. Nilai-nilai yang baik bagi satu kelompok belum tentu baik bagi yang lain. Standar kebaikan dan maslahat mereka berbeda, tidak bisa diukur dengan akal satu orang. Kemudian Islam datang, menembus sekat dan batas. Menyatukan persepsi dan akal mereka dengan bimbingan wahyu.

Di antara bentuk bimbingan dan teladan yang diajarkan Islam adalah berbuat baik walaupun kepada tawanan. Allah Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” [Quran Al-Insan: 8].

Lalu bagaimana ketika manusia dalam kegelapan jahiliyah? Bagaimana cara mereka memperlakukan para tawanan?

Menilik lembaran sejarah, bagaimana dulu peperangan terjadi dan apa konsekuensinya. Dalam perang pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang menguasai dan yang kalah menjadi tawanan. Mereka yang kalah akan tunduk terhina. Bahkan istri dan anak-anak mereka pun dikuasai. Menyandang status tawanan, mereka tak lagi memiliki kebebasan. Sampai-sampai terhadap hak asasi pribadi mereka sendiri. Jadi, di zaman itu belas kasih terhadap tawanan ditentukan oleh kadar nurani, akhlak, dan agama sang penawan semata.

Banyak agama, kelompok masyarakat, dan zaman mempraktikkan berbagai cara dalam berinteraksi dengan tawanan. Namun intinya interaksi mereka adalah interaksi yang kasar, kejam, dan zalim.

Yahudi Memperlakukan Tawanan

Orang-orang Yahudi meyakini mereka adalah etnis terbaik. Merekalah yang paling istimewa. Menurut mereka, keunggulan etnisnya merupakan hadiah khusus dari Allah untuk bangsa Yahudi. Yahudi adalah anak Allah. Bangsa yang suci. Dan lebih unggul dari yang lain.

Berangkat dari keyakinan ini, orang-orang Yahudi beranggapan janji Rabb mereka hanya bisa diperoleh dengan cara memperbudak etnis-etnis lain. Jalannya adalah perang. Tidak heran, perang bangsa Yahudi dengan selain mereka adalah perang yang menghancurkan. Perang mereka adalah kebengisan dan perusakan. Karena tujuan peperangannya perbudakan. Sampai-sampai tatkala Yahudi mengadakan perjanjian damai, poin-poin perjanjian adalah bentuk perendahan terhadap musuh mereka. Perjanjian damai hanya sekadar nama yang tak memiliki arti.

Demikianlah cara orang-orang Yahudi berinteraksi dengan tawanan mereka. Karena jiwa mereka memiliki benci dan dengki kepada selain Yahudi. Suka melakukan pengrusakan di muka bumi. Inilah cara mereka berinteraksi dengan para tawanan perang.

Negara-Negara Dunia dan Tawanannya

Tak ada beda perlakuan negara-negara dunia -sebelum Islam datang- dalam memperlakukan tawanan. Di antara tawanan ada yang disembelih, dipersembahkan untuk Tuhan-Tuhan. Atau direndahkan dijadikan budak. Atau diperjual-belikan.

Di antara negara yang memberlakukan kebijakan keras terhadap tawanan adalah Persia dan Yunani. Para tawanan mengalami siksaan, disalib, bahkan dibunuh. Di Romawi, yang merupakan negara paling sering berperang, tawanan begitu melimpah. Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa di sebagian wilayah Romawi jumlah budak tiga kali lebih banyak dari orang-orang merdeka. Kalau tidak selamat dari pembunuhan, hak hidup yang layak mereka terima adalah menjadi budak. Kerajaan Romawi memberikan legalitas bagi para pemilik budak untuk membunuh atau membiarkan mereka hidup. Para budak tidak memiliki hak-hak asasi. Dan tidak memiliki kedudukan di kelas sosial. Sampai-sampai seorang filsuf yang dikenal moderat sekelas Plato pun menyatakan tidak boleh memberi budak hak kewarga-negaraan. Tidak berhenti di situ, orang-orang Romawi menempatkan para budak -yang merupakan manusia- satu kandang dengan hewan.

Di tempat lain, di India, para budak menempati kelas sosial keempat, tingkat terakhir. Strata Sudra adalah yang paling layak untuk mereka. Mereka adalah orang-orang buangan. Lebih rendah dari anjing-anjing. Orang-orang Sudra yang mujur akan menjadi pelayan para dukun (tokoh agama) dan pemerintah. Meskipun demikian, mereka tetap tidak mendapat upah. Saking rendahnya kelompok budak ini, denda membunuh masyarakat kelas Sudra, sama dengan denda apabila salah seorang di antara mereka membunuh anjing, kucing, katak, dan burung hantu.

Bangsa Arab dan Tawanan Perang

Perang terjadi di mana saja, tidak terkecuali di wilayah Arab yang kala itu tidak teranggap. Masyarakat Arab yang terdiri dari suku dan kabilah terus saja bertikai. Sehingga kehidupan sosial mereka terpecah belah. Perang menuntut mereka memperbanyak jumlah keturunan laki. Selain memperkuat kabilah, laki-laki juga tidak menerima konsekuensi kekalahan perang sepahit perempuan. Perempuan ketika menjadi tawanan, kematian lebih terhormat untuk mereka dari pada kehidupan.

Bagi mereka yang kalah perang, akan menjadi budak yang diperjual-belikan. Kegiatan ini menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat Arab kala itu.

Peperangan di masyarakat Arab terus berlangsung hingga Islam datang mempersaudarakan mereka. Perang yang terkenal dalam sejarah Arab adalah perang antara kabilah Aus dan Khazraj di Madinah. Bakr dan Khuza’ah di dekat Mekah. Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” [Quran Ali Imran: 103].

Peperangan membuat angka perbudakan meningkat. Potensi-potensi mereka terkubur dalam penjara budak. Kemudian Islam datang membebaskan raga dan potensi mereka. Lihatlah bagaimana Islam membebaskan potensi orang-orang seperti Bilal bin Rabah al-Habasyi, Shuhaib ar-Rumi, Salman al-Farisi, Salim Maula Abi Hudzaifah, Zaid bin Haritsah, Amir bin Fuhairah, dll.

Banyak orang-orang yang memiliki potensi besar namun terkubur di dalam perbudakan. Setelah Islam membebaskan mereka, jadilah mereka tokoh dunia.

Sumber:
– as-Sirjani, Raghib. 2010. Akhlak al-Hurub fi Sunnati an-Nabawiyati.Kairo: Muas-sasah Iqra.

Previous post

Syaikh Mahmud Khalil al-Hushari, Imam Dalam Qiraat

Next post

Indahnya Akhlak Islam Terhadap Tawanan