Kisah Pilihan

Indahnya Akhlak Islam Terhadap Tawanan

Islam adalah agama yang relevan. Cocok dalam berbagai kondisi dan keadaan. Syariatnya bukanlah suatu yang khayali, tak bisa diterapkan, atau tak diterima logika yang lurus. Di antara wujud nyata syariat Islam sesuai dengan logika yang lurus adalah bagaimana Islam membimbing manusia berinteraksi dengan tawanan perang mereka. Emosi dan nafsu manusia sama sekali tak bisa dijadikan acuan dalam hal ini. Biasanya, manusia memperlakukan tawanan dengan perlakuan buruk. Sampai-sampai si tawanan tak lagi ingin merasakan hidup. Sebagaimana telah kami muat di artikel sebelumnya Nasib Tawanan Sebelum Islam Datang.

Interaksi dengan tawanan yang ditawarkan oleh Islam, tidak mengabaikan hak-hak mereka, tidak mengedepankan emosional, dan realistis. Oleh karena itu, syariat menugaskan kaum muslimin untuk menjaga dan memperhatikan tawanan mereka.

Nabi dan Tawanan

Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berinteraksi dengan orang-orang yang ditawan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan prinsip mendasar, bagaimana seharusnya seorang muslim memperlakukan tawanannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“استوصُوا بهم –أي بالأسرى- خيرًا

“Aku wasiatkan agar kalian berbuat baik terhadap mereka -yaitu tawanan-.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 977).

Apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bukan hanya teori belaka. Hal ini benar-benar terbukti dalam prilaku beliau. Kasih sayang terhadap musuh ini benar-benar ada. Berikut ini di antara buktinya:

Memberi Makan

Allah Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” [Quran Al-Insan: 8].

Ayat yang mulia ini menjadi undang-undang islami. Allah mendorong hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berbuat baik terhadap tawanan mereka. Caranya, memberi mereka makanan yang layak. Allah berjanji membalas kebaikan mereka di akhirat kelak.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahabat-sahabatnya dalam Perang Badar untuk memuliakan tawanan. Lebih mengutamakan tawanan-tawanan tersebut dari pada diri mereka sendiri dalam hal makanan. Said bin Jubair, Atha, al-Hasan, dan Qatadah juga mengatakan demikian (Ibnu katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim).

Ibnu Juraij berkata tentang ayat ini, “Tawanan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah orang-orang musyrik.”

Abu Ubaid mengatakan, “Aku berpendapat bahwa Allah Ta’ala memuji orang-orang yang berbuat baik terhadap tawanan meskipun orang-orang musyrik.” (al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, 6/526).

Para sahabat radhiallahu ‘anhum lebih mengutamakan tawanan Perang Badar dibandingkan diri mereka sendiri. Menyajikan mereka makanan. Mengamalkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Aziz, -saudara kandung sahabat Mush’ab bin Umair yang membuat Mush’ab dihukum ibunya karena memeluk Islam-, menceritakan, “Aku berada di tengah-tengah beberapa orang Anshar yang menawanku dari Perang Badar. Apabila tiba waktu makan siang dan malam, mereka memberikan roti, khusus untukku. Sedangkan mereka hanya memakan kurma. Mereka lakukan itu karena wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Tidak ada sepotong roti pun di tangan mereka kecuali mereka beri untukku. Aku pun malu, sehingga kukembalikan pada mereka. Lalu mereka kembalikan lagi padaku. Mereka tidak mau menyentuhnya.”

Ibnu Hisyam mengatakan, “Abu Aziz adalah pembawa panji musyrikin di Perang Badar setelah an-Nadhr bin al-Harits.” (Ibnu Katsir dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 2/475). Artinya, tawanannya ini bukanlah orang biasa. Ia termasuk orang musyrikin Mekah yang terdepan memusuhi kaum muslimin. Karena pembawa panji perang adalah orang-orang yang terkenal pemberani dan pemimpin kaum. Meskipun demikian, aturan tidak berubah. Karena kasih sayang terhadap tawanan adalah asas muamalah dengan mereka. Tidak boleh hilang rasa kasih itu dalam keadaan apapun.

Memberi Pakaian

Tidak berhenti pada memberi makanan, kaum muslimin bahkan memuliakan tawanan dengan mengedepankan mereka dalam hal pakaian. Dalam kitab Shahih-nya, Imam al-Bukhari membuat judul suatu bab dengan Bab al-Kiswah lil Usara (pakaian untuk tawanan-tawanan). Beliau meriwayatkan bahwasanya Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma berkata,

“‏لَمَّا كَانَ يَوْمَ ‏بَدْرٍ ‏أُتِيَ بِأُسَارَى وَأُتِيَ‏ ‏بِالْعَبَّاسِ ‏وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ ثَوْبٌ فَنَظَرَ النَّبِيُّ ‏‏ صلى الله عليه وسلم ‏لَهُ قَمِيصًا فَوَجَدُوا قَمِيصَ ‏عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ ‏‏يَقْدُرُ عَلَيْهِ فَكَسَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏إِيَّاهُ

“Pada hari Perang Badar, orang-orang musyrik yang tertawan dibawa (ke hadapan Nabi). Saat itu Abbas bin Abdul Muthalib dibawa dalam keadaan tidak memiliki baju. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencarikan sebuah baju panjang untuknya. Para sahabat mendapati baju panjang Abdullah bin Ubay cocok untuk badan Abbas bin Abdul Muthalib. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan baju panjang Abdullah bin Ubay kepada Abbas bin Abdul Muthalib untuk ia pakai.” (HR. al-Bukhari: Kitab al-Jihad wa as-Sair, Bab Kiswatul Usra (2846) dan al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra (18570)).

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar tawanan dari suku Hawazin diberi pakaian. Beliau memerintahkan seseorang untuk ke Mekah membeli pakaian untuk tawanan. Sehingga saat mereka bebas, mereka mengenakan pakaian (al-Baihaqi dalam Dala-il an-Nubuwah, 5/264).

Tempat Yang Layak Untuk Tawanan

Berbeda dengan Romawi, Persia, Yunani, dll., Islam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawanan ditempatkan di tempat yang layak. Di zaman itu memang belum ada tempat khusus seperti penjara. Tapi, tawanan tetap diberikan tempat yang manusiawi. Ada dua tempat bagi tawanan di awal-awal Islam. Pertama, masjid. Yang merupakan tempat paling mulia bagi kaum muslimin. Kedua, rumah-rumah para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Mengapa tawanan ditempatkan di masjid? Agar mereka terus menyaksikan akhlak dan ibadah kaum muslimin. Mudah-mudahan hal itu berpengaruh pada mereka. Kemudian keimanan pun mengetuk hati mereka. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat Tsumamah bin Utsal radhiallahu ‘anhu. Sedangkan penempatan mereka di rumah para sahabat tujuannya sebagai pemuliaan untuk mereka.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan pernah tawanan dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau menempatkan mereka di rumah para sahabat. Beliau berpesan kepada shahibul bait:

أَحْسِنْ إليه

“Berbuat baiklah kepadanya.”

Tawanan itu tinggal di rumah mereka selama dua atau tiga hari. Dan hal itu berpengaruh pada diri para tawanan (al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Quran al-Azhim wa as-Sab’ al-Matsani, 29/155).

Tidak Ada Siksa

Umat Islam tidak menyakiti tawanan. Tentu hal ini sejalan dengan nalar yang baik dan nilai-nilai kemanusiaan. Manusia tidak mau jika dirinya disiksa. Bahkan hewan sekalipun tak rela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendidik para sahabatnya dengan pendidikan kasih sayang.

Diriwayatkan dari Jabi bin Abdullah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لاَ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Barangsiapa yang tidak menyayangi sesama manusia, maka Allah Azza wa Jalla pun tidak akan menyayanginya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dengan pendidikan yang Nabi berikan kepada para sahabatnya, mereka pun menjadi teladan dalam kasih sayang antar sesama manusia. Baik muslim maupun non muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membenarkan pemukulan terhadap dua orang budak milik Quraisy dalam kisah Perang Badar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَدَقَاكُمْ ضَرَبْتُمُوهُمَ، وَإِذَا كَذَبَاكُمْ تَرَكْتُمُوهُمَ، صَدَقَا وَاللهِ إِنَّهُمَا لِقُرَيْش

“Jika keduanya jujur pada kalian, kalian memukulnya. Jika keduanya berdusta, kalian biarkan. Keduanya telah jujur. Demi Allah, keduanya memang miliki Quraisy.” (Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/ 616-617).

Dua orang budak yang dipukul tersebut adalah bagian dari pasukan musuh. Keduanya bertugas menyediakan air untuk Quraisy. Tapi, Islam memiliki cara pandang jauh kedepan. Melampaui jangakauan orang-orang yang mengklaim humanis tapi menolak Islam. Agama mulia ini melarang menyiksa tawanan. Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Apakah tawanan itu disiksa agar ia menunjukkan rahasia pasukannya? Aku tidak pernah mendengar yang demikian.” (Muhammad bin Yusuf al-Miwwaq dalam at-Taj wa al-Iklil 3/353).

Lemah Lembut Terhadap Tawanan

Islam terus digempur dengan pemberitaan negatif. Digambarkan sadis tak beradab. Seolah-olah nama lain dari kekejaman adalah Islam. Orang menyangka hanya teroris yang dicuci otaknya agar menjadi ekstrimis. Padahal setiap hari mereka sedang dicuci otak agar ekstrim memusuhi Islam.

Agama Islam mengajarkan lemah lembut, sampai-sampai terhadap tawanan. Saking luar biasanya, tawanan pun merasa aman dan nyaman. Di antara akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengabulkan permintaan tawanan. Berlapang hati dan kasih. Padahal tawanan-tawanan ini menghunuskan senjata kepada beliau dan para sahabatnya di medan peperangan.

Dalam Shahih Muslim terdapat sebuah riwayat dari Imran bin Hushein radhiallahu ‘anhu yang mengatakan,

كَانَتْ ‏ثَقِيفُ ‏‏حُلَفَاءَ ‏لِبَنِي عُقَيْلٍ ‏فَأَسَرَتْ ‏‏ثَقِيف ‏رَجُلَيْنِ مِنْ ‏‏أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ‏ صلى الله عليه وسلم ‏وَأَسَرَ ‏أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏رَجُلاً مِنْ ‏بَنِي عُقَيْلٍ وَأَصَابُوا مَعَهُ‏ ‏الْعَضْبَاءَ ‏فَأَتَى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏وَهُوَ فِي الْوَثَاقِ قَالَ: يَا ‏مُحَمَّدُ، ‏فَأَتَاهُ فَقَالَ: ‏”مَا شَأْنُكَ؟” فَقَالَ: بِمَ أَخَذْتَنِي وَبِمَ أَخَذْتَ ‏سَابِقَةَ ‏الْحَاجِّ؟ فَقَالَ: “إِعْظَامًا لِذَلِكَ أَخَذْتُكَ ‏بِجَرِيرَةِ ‏حُلَفَائِكَ‏ ‏ثَقِيفَ”. ثُمَّ انْصَرَفَ عَنْهُ فَنَادَاهُ فَقَالَ: يَا ‏مُحَمَّدُ، ‏يَا ‏مُحَمَّدُ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ صلى الله عليه وسلم ‏رَحِيمًا رَقِيقًا فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ: “مَا شَأْنُكَ؟” قَالَ: إِنِّي مُسْلِمٌ. قَالَ: “لَوْ قُلْتَهَا وَأَنْتَ تَمْلِكُ أَمْرَكَ أَفْلَحْتَ كُلَّ الْفَلاحِ” ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَادَاهُ فَقَالَ: يَا‏ ‏مُحَمَّدُ،‏ ‏يَا ‏مُحَمَّدُ، ‏فَأَتَاهُ فَقَالَ: “مَا شَأْنُكَ؟” قَالَ: إِنِّي جَائِعٌ فَأَطْعِمْنِي وَظَمْآنُ فَأَسْقِنِي، قَالَ: “هَذِهِ حَاجَتُكَ”

Bani Tsaqif adalah pelayan Bani ‘Uqail, lalu Bani Tsaqif menawan dua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi lain, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawan seseorang dari bani ‘Uqail bersama dengan seekor untanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendatanginya, saat itu si tawanan dalam keadaan terikat.

Tawanan itu berkata, “Wahai Muhammad!” Beliau menimpalinya, “Ada apa denganmu?” Laki-laki itu berkata, “Apa alasanmu menawanku? Dan apa alasanmu menawan unta pacuanku yang larinya cepat?” Beliau menjawab, “Itu aku lakukan sebagai pembalasan karena dosa sekutumu, Tsaqif!” Kemudian beliau beranjak pergi.

Laki-laki itu kembali menyeru beliau seraya mengatakan, “Wahai Muhammad, wahai Muhammad!” -Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang pengasih lagi santun- lalu beliau kembali menemuinya dan bersabda, “Apa keperluanmu?” Laki-laki itu menjawab, “Sekarang saya muslim.”

Beliau bersabda, “Sekiranya yang kamu katakan benar, sedangkan kamu dapat mengendalikan urusanmu, sungguh kamu akan mendapatkan segala keberuntungan.” Kemudian beliau beranjak pergi, namun laki-laki itu menyerunya sambil berkata, “Wahai Muhammad, wahai Muhammad.” Beliau lalu menemuinya sambil bersabda, “Apa keperluanmu?” laki-laki itu berkata, “Aku lapar, berilah makan kepadaku, dan aku juga haus maka berilah aku minum!” Beliau bersabda: “Ini kebutuhanmu.” (HR. Muslim, Kitab an-Nadzar No.3107).

Subhanallah!! Alangkah indahnya akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tawanan. Rasa-rasanya mebaca riwayat ini kita hendak menangis karena mencintai beliau ‘alaihi ash-shalatu wa salam. Berkali-kali tawanan itu memanggilnya dan meminta sesuatu kepada beliau, selalu beliau penuhi permintaannya. Padahal si tawanan berlaku tidak sopan. Memanggilnya dengan nama, bukan dengan sebutan penghormatan seperti tuan -saat dia belum mengaku Islam- atau rasulullah -saat ia sudah menerima Islam-. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pimpinan tertinggi Daulah Islamiyah kala itu. Kisah ini menunjukkan betapa kasih sayangnya beliau.

Orang inikah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dibenci oleh musuh-musuh Islam? Orang inikah yang mereka sebut kejam dan kasar? Pepatah Arab mengatakan,

النَاسُ أَعْدَاءُ مَا جَهِلُوا

“Manusia itu memusuhi yang tidak mereka ketahui.”

Atau kata orang Indonesia, “Tak kenal maka tak sayang.”

Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tawanan (yang statusnya sebagai budak) itu kepada Abu Haitsam radhiallahu ‘anhu. Nabi berwasiat kepadanya agar berlaku baik. Kemudian Abu Haitsam membawa si tawanan ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepadamu. Sekarang kumerdekakan engkau berharap pahala di sisi Allah.” Dalam riwayat lain terdapat tambahan, “Sekarang kumerdekakan engkau berharap pahala di sisi Allah. Ini anak panah dari hartaku (untukmu).” (al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4606).

Bersikap Hormat Terhadap Tawanan

Islam adalah agama yang mengangkat harkat manusia. Dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini berlaku untuk muslim maupun non muslim. Praktik ini akan sangat mudah kita jumpai dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terutama dalam keadaan genting dan peperangan. Dalam keadaan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan kepada para sahabatnya. Isinya adalah tentang nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana berlaku lembut terhadap tawanan, wanita, dan anak-anak.

Apabila wanita dan anak-anak menjadi tawanan perang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan ibu dan anaknya. Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ وَالِدَةٍ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang memisahkan antara ibu dan anaknya, Allah akan memisahkan antara dirinya dengan orang yang ia kasihi pada hari kiamat nanti.” (HR. at-Turmudzi, 1566).

Penutup

Inilah bukti nyata bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Nabi Muhammad itu orang terbaik. Seandainya syariat Islam diberlakukan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena syariat ini sesuai dengan nalar yang baik. Logika yang tulus. Dan Hati nurani.

Sumber:

– islamstory.com
– library.islamweb.net/hadith/

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Nasib Tawanan Sebelum Islam Datang

Next post

Aku Memeluk Islam Tanpa Bertemu Seorang Muslim