Sejarah

11 Ramadhan: Wafatnya Tokoh Tabi’in, Said bin Jubeir

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Telah terbunuh Said bin Jubeir. Dan tiada seorang pun di muka bumi ini melainkan membutuhkan ilmunya.”

Siapakah Said bin Jubeir?

Said bin Jubeir adalah tokoh ulama tabi’in. Ia berasal dari Habasyah. Dalam mencari kemuliaan memahami agama, tak tanggung-tanggung, ia langsung berguru dengan banyak sahabat senior. Di antaranya: Abu Said al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Tha-i, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas hingga Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhum.

Di masa hidup Said bin Jubeir terdapat seorang pemimpin yang zhalim bernama Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Ia adalah gubernur Daulah Umayyah. Pernah menjabat gubernur Madinah dan Irak. Sebagian ulama telah memvonis kafir Hajjaj bin Yusuf. Karena kezhaliman yang luar biasa yang ia lakukan. Ribuan atau puluhan ribu nyawa kaum muslimin telah melayang di tangannya.

Ketika terjadi perselisihan antara Abdurrahman bin Asy’ats dengan Hajjaj bin Yusuf. Banyak tokoh tabi’in mendukung Abdurrahman bin Asy’ats. Di antara mereka adalah Said bin Jubeir, Abdurrahman bin Laila, asy-Sya’bi, Abul Bakhtari, dll.

Terjadi peperangan sengit antara Hajjaj dan Ibnu Asy’ats. Awalnya Ibnu Asy’ats berhasil menaklukkan wilayah-wilayah yang dikuasai Hajjaj. Tapi akhirnya Hajjaj mampu mengatasi perlawanan Ibnu Asy’ats. Setelah menggapai kemenangan, Hajjaj memerintahkan semua yang ia anggap memberontak untuk memperbarui bai’at.

Orang-orang yang menyerah itu datang untuk berbai’at. Namun mereka dikejutkan oleh kejadian yang tak mereka duga. Hajjaj berkata kepada salah seorang di antara mereka, “Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan bai’atmu kepada amirmu?” Jika dia menjawab, “Ya” Bai’atnya yang baru diterima dan dibebaskan. Jika tidak, maka dibunuh.

Salah seorang di antara yang ditanyai itu adalah orang tua dari suku Khat’am. Ketika terjadi konflik antara Hajjaj dan Ibnu Asy’ats, dia tidak memihak siapapun. Ia mengasingkan diri. Menunggu redanya huru-hara. Ia digiring menuju Hajjaj.

Orang tua itu mengatakan, “Semenjak meletus pertempuran, aku mengasingkan diri ke tempat yang jauh sambil menunggu perang usai. Setelah Anda menang dan perang usai, barulah aku datang kemari untuk melakukan bai’at.”

“Celaka engkau! Engkau tinggal diam menjadi penonton dan tidak ikut membantu pemimpinmu?! Sekarang, apakah engkau mengakui bahwa dirimu telah kafir?!” Bentak Hajjaj.

“Terkutuklah aku jika selama 80 tahun ini mengabdi kepada Allah, lalu mengakui sebagai kafir,” jawab orang tua itu mantab.

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu,” balas Hajjaj.

Orang tua itu menjawab, “Jika kau membunuhku, demi Allah, yang tersisa dari usiaku selama ini hanyalah seperti waktu kesabaran seekor keledai yang kehausan. Pagi hari dia minum dan sorenya mati. Aku memang sudah menantikan kematian itu siang dan malam. Karena itu, lakukanlah semaumu.”

Orang tua itu pun dipenggal lehernya.

Pembantaian besar-besaran ini telah menelan ribuan korban. Dan ribuan yang lain selamat adalah mereka yang dipaksa mengakui kekafiran. Said bin Jubeir juga yakin. Kalau seandainya ia tertangkap, juga akan dihadapkan pada dua pilihan itu. Dua pilihan, yang paling manis antara keduanya pun pahit. Karena itu, ia pergi dari Irak. Kemudian memilih Mekah sebagai tempat tinggal yang baru.

Sepuluh tahun tinggal di Mekah. Waktu yang lama untuk menghilangkan dendam dan kedengkian Hajjaj. Akan tetapi, terjadi perkembangan situasi di Mekah. Seorang gubernur baru, Khalid bin Abdullah al-Qasari, diangkat menjadi pimpinan tertinggi di kota suci itu. Ia seorang yang zalim. Murid-murid Said yakin akan terjadi sesuatu pada guru mereka. Mereka pun menyarankan agar sang ulama pergi ke kota lainnya. Said menjawab, “Demi Allah, sudah lama aku bersembunyi. Sampai malu rasanya kepada Allah. Aku telah memutuskan tetap tinggal di sini. Pasrah dengan kehendak Allah.”

Apa yang diduga oleh murid-murid Said menjadi kenyataan. Said ditangkap, diikat, dan dibawa menuju Hajjaj di Irak.

Setelah tiba di hadapan Hajjaj. Pemimpin zalim itu bertanya kepada Said, bagaimana pendapatnya tentang Nabi Muhammad dan empat khalifah rasyidun. Sampailah pertanyaannya tentang khalifah Bani Umayyah.

“Khalifah yang mana dari Bani Umayyah yang paling kau sukai?” tanya Hajjaj.

“Yang paling diridhai Pencipta mereka,” jawab Said.

“Manakah yang paling diridhai Rabnya,” Hajjaj menajamkan pertanyaan.

Said menjawab, “Ilmu tentang itu hanyalah diketahui oleh Yang Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.”

“Bagaimana pendapatmu tentan diriku,” tanya Hajjaj lagi.

“Engkau lebih tahu tentang dirimu,” jawab Said.

“Aku ingin mendengar pendapatmu,” kata Hajjaj.

Said berkata, “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.”

“Aku haru tahu dan mendengarnya darimu,” paksa Hajjaj.

Said mengatakan, “Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah. Engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat, padahal justru membawamu ke arah kehancuran. Dan menjermuskanmu ke neraka.”

Hajjaj yang murka mengatakan, “Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu.”

“Bila demikian, engkau telah merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu,” Said menanggapi dengan santai.

“Pilihlah untukmu, cara kematian yang kau sukai,” tantang Hajjaj.

“Pilihal sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat.” kata Said.

“Tidakkah engkau menginginkan ampunanku,” kata Hajjaj.

“Ampunan itu hanyalah dari Allah. Sedangkan engkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya,” kata Said.

Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya ia perintahkan, “Siapkan pedang dan alasnya!”

Said tersenyum mendenganya. Sehingga bertanyalah Hajjaj, “Mengapa kau tersenyum?!”

“Aku takjub akan kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu,” jawab Said.

Hajjaj berkata, “Bunuh dia sekarang!!”

Said menghadap kiblat sambil membaca firman Allah:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [Quran Al-An’am: 79].

“Palingkan ia dari kiblat,” perintah Hajjaj.

Kemudian Said membaca firman Allah:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّه

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” [Quran Al-Baqarah: 115].

“Sungkurkan dia ke tanah,” kata Hajjaj

Kemudian Said membaca:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” [Quran Tha-ha: 55].

Hajjaj pun geram, ia berkata, “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah seperti dia.”

Said mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, “Ya Allah, jangan lagi Kau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Wafatlah ulama besar ini pada 11 Ramadhan 94 H. Saat itu usia beliau 49 tahun.

Dan Allah mengabulkan permohonan Said bin Jubeir. Tak lebih dari 15 hari setelah wafatnya, Hajjaj terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya semakin panas. Sampai ia sering pingsan karena demamnya. Kemudian ia pun meninggal.

Daftar Pustaka:

– Basya, Abdurrahman Raf’at. 2008. Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, Terj. Mereka Adalah Para Tabi’in. Solo: at-Tibiyan.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

10 Ramadhan: Koalisi Negara Arab Menyerang Israel (Perang Yom Kippur)

Next post

12 Ramadhan: Berdirinya Jami' Ibnu Thulun