Kisah NyataKisah Orang Shalih

Ibnu Al-Jazari Menumbangkan Jagoan Romawi

Ibnu Al-Jazari

Menumbangkan Jagoan Romawi

Pahlawan Islam terkemuka yang lain adalah seorang laki-laki yang hidup pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Orang itu dijuluki sebagai ahli tipu daya perang, keberanian, dan kehebatan. Dia bernama Ibnu Al-Jazari.

Al-Qurtubi dalam kitab tarikhnya berkata, “Suatu hari, Harun Al-Rasyid keluar bersama pasukannya untuk menyerbu Konstantinopel dengan kekuatan 130 ribu orang mujahid pasukan berkuda, jumlah yang besar itu tidak termasuk sukarelawan, para remaja, dan pelayan (yang bertugas menyediakan logistik untuk para mujahidin pen.). Penguasa Konstantinopel waktu itu bernama Ya’fur bin Istabraq.

Setibanya di Konstantinopel, kaum muslimin melakukan pengepungan terhadap Konstansinopel, hingga penduduk kota itu merasakan kesempitan dan kesukaran hidup yang amat hebat. Dan hampir saja kaum muslimin berhasil merebut Konstantinopel dari tangan kaum kafir. Maka Ya’fur keluar berjalan menemui Al-Rasyid untuk meminta perjanjian damai dan rela membayar jizyah bahkan dari tangannya sendiri, anak keturunannya serta seluruh penduduk negeri. Ditambah lagi, Ya’fur akan membayar seluruh biaya yang dikeluarkan kaum muslimin sejak keluar dari Baghdad hingga mendekati Konstantinopel dan ditambah pula dengan hadiah-hadiah yang akan menyenangkan hati kaum muslimin. Juga yang sangat penting, Ya’fur berjanji akan membebaskan seluruh kaum muslimin yang tertawan dan dipenjarakan di seluruh negerinya. Harun Al-Rasyid pun memilih untuk menyelamatkan darah kaum muslimin yang tertangkap, sehingga beliau memutuskan untuk menerima tawaran Ya’fur. Selanjutnya Ya’fur akan mengeluakan jizyah sebesar lima 500.000 dinar (uang emas) kepada Al-Rasyid. Untuk menyeselaikan urusan tersebut, Al-Rasyid memerintahakan salah seorang komAndan pasukan mujahidin untuk mengambil harta jizyah, membebaskan kaum muslimin yang tertawan dan mengambil hadiah dari Ya’fur. Medengar adanya perjanjian tersebut, kaum muslimin merasakan kegembiaraan yang sangat besar waktu itu.

Kemudian Al-Rasyid kembali menuju negeri Islam. Ketika sampai di daerah Riqqah, Harun Al-Rasyid menderita sakit sehingga diputuskan untuk berhenti. Kabar tentang sakitnya Al-Rasyid sampai ke telinga Ya’fur, maka dia berbuat khianat dengan tidak menepati janji terhadap kaum muslimin. Tidak ada satu pun pelaksanaan dari isi perjanjian yang telah dia tetapkan sendiri. Kaum muslimin mengetahui peristiwa tersebut, akan tetapi mereka tidak berani menyampaikan pengkhianatan Ya’fur atas Harun Al-Rasyid dikarenakan sakit yang beliau derita. Hingga ketika beliau sembuh dari sakit, barulah beberapa penyair dari kaum muslimin menyampaikan beberapa bait syair, yang isinya memberitahukan kepada Al-Rasyid bahwa Ya’fur telah melakukan pengkhianatan terhadap kaum muslimin. Lalu Al-Rasyid bertanya tentang peristiwa sebenarnya, maka kaum muslimin menyampaikan berita tentang pengkhianatan Ya’fur. Segera Harun Al-Rasyid memerintahkan para mujahidin untuk kembali menyerbu Konstantinopel. Mereka kembali berjalan sehingga sampai di daerah Harqalah. Kemudian Al-Rasyid berkata, “Tidak akan meminta jizyah dari mereka, sampai aku mampu menaklukan negeri ini.”

Abu Ishaq Al-Fazari berkata kepada beliau, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Harqalah ini adalah salah satu benteng terbesar dan terkuat dari benteng-benteng yang dimiliki musuh, dan kita tidak akan mampu menaklukannya kecuali setelah usaha yang sangat keras. Jikalau Anda berusaha untuk menaklukannya, maka pasukan kaum muslimin tidak mencukupi. Akan tetapi jika Anda tidak berusaha menaklukan Harqalah, maka hal itu merupakan kehinaan atas agama kita, mengurangi kekuasaan, Anda dan menjadi aib bagi seluruh kaum muslimin.” Sehingga atas hasil musyawarah dengan seluruh komAndan pasukan, diambillah keputusan agar Amirul Mukminin memasuki sebuah ktoa besar terdekat yang dikuasai kaum muslimin terlebih dahulu. Kemudian beliau meminta bantuan penduduk muslim untuk menambah jumlah kekuatan sehingga mencukupi untuk menaklukan Konstantinopel, kemudian menaklukan benteng Harqalah dan benteng-benteng lain.

Ibnu Mukhallad berkata, “Benteng Harqalah ini merupakan benteng yang sangat besar dan mereka memiliki banyak benteng yang serupa dengan benteng ini. Apabila kita mampu menaklukannya, maka orang kafir itu pasti akan terhina. Dan tidak akan ada seorang pun yang tersisa kecuali tunduk di bawah kekuasaan Amirul Mukminin.” Kemudian Amirul Mukminin Harun Al-Rasyid memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan peralatan berupa manjanik yang berjumlah banyak serta mempersiapkan diri menghadapi pertempuran. Ketika pasukan telah siap, maka beliau mengirim Abdullah bin Abdul Malik bersama pasukannya menuju negeri Romawi yang kemudian berhasil menawan serta membunuh banyak musuh dan membawa harta ghanimah yang tidak sedikit. Beliau juga mengutus Daud bin Ali untuk menyerbu negeri Romawi dengan membawa 70.000 pasukan berkuda. Mereka berhasil menawan, membunuh banyak sekali musuh dan membawa ghanimah yang tidak sedikit pula. Amirul Mukminin Harun Al-Rasyid juga mengirim Syurahbil bin Mu’an bersama pasukanya, yang kemudian berhasil menaklukan benteng Ash-Shaqalah. Beliau juga mengutus Zaid bin Mukhallad bersama sepasukan mujadhidin untuk menguasai benteng Shafshaf. Beliau mengutus Jamil bin Ma’ruf beserta para mujahidin untuk membakar benteng-benteng musuh, membunuh banyak sekali pasukan kafir dan membawa 17.000 tawanan perang ke hadapan Amirul Mukminin.

Selanjutnya Al-Rasyid tinggal bersama dengan para mujahidin di dalam benteng Harqalah selama tujuh belas hari. Beliau merasa sempit dengan tinggalnya beliau dalam benteng tersebut dan semakin menipisnya perbekalan. Beliau mengadukan keadaan ini kepada para penasihat beliau. Al-Fazari berkata, “Saya telah memberikan nasihat kepada Amirul Mukminin sebelumnya, akan tetapi Anda tetap teguh pendirian. Saya sampaikan kembali bahwa saat ini kita tidak mempunyai jalan lain, walaupun kita nantinya harus terbunuh. Saya akan memberikan beberapa nasihat yang jika Amirul Mukminin bersedia menerimanya, saya harap semoga Allah memberikan kemenangan dan pertolongan.” Al-Rasyid berkata, “Kalau begitu katakanlah! Kami tidak akan menyelisihi pendapatmu, dari awal sampai akhir.”

Kaum muslimin pun diperintahkan untuk memotong pepohonan, memindahkan bebatuan, dan kepada seluruh pasukan disampaikan bahwa Amirul Mukminin berkeinginan untuk bertempat tinggal di dalam benteng Harqalah. Oleh karena itu, hendaklah setiap pasukan Islam membangun tempat tinggal di dalam benteng.

Ibnu Al-Jazari Menumbangkan Jagoan Romawi

Setelah semua rencana dijalankan, dimulailah pertempuran melawan tentara Romawi dengan usaha merebut benteng Anwah. Dan jalannya peperangan semakin berkecamuk. Mendekati siang Al-Rasyid tertidur, peperangan juga mereda. Saat itulah pintu benteng terbuka dan dari dalamnya seorang laki-laki Romawi keluar dengan membawa persenjataan lengkap serta mengendarai seekor kuda yang sangat gagah. Laki-laki itu berteriak dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih, “Wahai orang-orang Arab, keluarkanlah dua puluh jagoan kalian yang ahli mengendarai kuda untuk menghadapi aku.” Akan tetapi tidak ada seorangpun pasukan Islam yang maju menghadapinya, karena melihat Al-Rasyid sedang tidur (sehingga kaum muslimin tidak berani memberikan keputusan melangkahi pendapat Amirul Mukminin pen.). Tidak ada seorang pun yang memberanikan diri untuk membangunkan beliau. Orang Romawi itu terus berkeliling di antara dua kelompok besar pasukan, sambil terus meneriakkan tantangan kepada kaum muslimin. Keadaan seperti itu menyebabkan timbulnya kegaduhan dan rasa takut di kalangan pasukan Islam, akibatnya goncanglah barisan kaum muslimin. Peristiwa itu menyebabkan orang-orang Romawi tertawa dan merasa sangat gembira, lalu terlihat laki-laki yang tadi menantang masuk ke dalam benteng dengan perasaan bangga. Ketika Al-Rasyid akhirnya terbangun, beliau diberitahukan tentang peristiwa yang baru saja dialami kaum muslimin. Mendengar kabar tentang peristiwa yang baru saja dialami kaum muslimin, beliau merasa sangat terganggu, menyesal, hatinya risau, dan kemudian beliau bangun, berdiri, lalu duduk kembali. Selanjutnya Amirul Mukminin Harun Al-Rasyid bertanya, “Kenapa kalian tidak membangunkan aku? Dan kenapa salah seorang dari kalian tidak maju untuk menghadapinya?” Beberapa pasukan Islam berkata, “Kelengahan mereka (dengan kejadian tadi pen.) akan mendorong orang Romawi itu keluar dari benteng mereka esok hari.” Dan malam harinya Al-Rasyid tidak mampu memejamkan mata.

Pagi harinya, laki-laki Romawi itu keluar lagi seraya meneriakkan tantangan sebagaimana yang dia lakukan kemarin. Harun Al-Rasyid berkata, “Keluarkanlah dua puluh orang pasukan berkuda menghadapi orang itu.” Mendengar ucapan Amirul Mukminin, Ibnu Mukhallad berkata, “Demi Allah, Wahai Amirul Mukminin, cukup satu orang saja yang menghadapinya. Jika dia mampu mengalahkan orang Romawi itu, maka alhamdulillah. Akan tetapi apabila dia terbunuh, maka dia terbunuh sebagai syahid. Dengan begitu orang Romawi yang lain tidak akan mendengar bahwa seorang pasukan Romawi harus dihadapi oleh dua puluh orang pasukan Islam.” Al-Rasyid berkata, “Benarlah apa yang engkau katakan.” Pada saat itu di dalam barisan kaum muslimin terdapat seorang pejuang yang bernama Ibnu Al-Jazari yang terkenal dengan keberanian dan kekuatannya. Dia berkata, “Aku yang akan keluar untuk menghadapi orang itu dan aku memohon kepada Allah semoga Dia menurunkan pertolongan-Nya kepadaku.”

Kemudian Al-Rasyid memerintahkan seseorang untuk mempersiapkan kendaraan perang dan persenjataan untuk Ibnu Al-Jazari, akan tetapi Ibnu Al-Jazari berkata, “Aku tidak membutuhkannya.” Maka Al-Rasyid hanya mendoakan kemenangan dan memberikan nasihat agar Ibnu Al-Jazari selalu waspada. Kemudian bergeraklah dua puluh orang pasukan Islam bersama Ibnu Al-Jazari untuk mengawalnya.

Ketika pasukan Islam sampai di tengah lembah (antara dua pasukan pen.), orang Romawi itu berkata, “Wahai orang Islam, kalian berbuat curang. Aku meminta kalian untuk mengeluarkan dua puluh jagoan kalian, akan tatapi yang datang menghadapiku berjumlah dua puluh satu orang.” Salah seorang pasukan Islam menjawab teriakan Romawi, “Yang akan menghadapimu hanya satu orang. Kami hanyalah mengantar orang ini dan kami akan segera kembai.” Si kafir Romawi berkata, “Aku telah memohon kepada Allah, semoga aku berhadapan dengan Ibnu Al-Jazari.” Ibnu Al-Jazari berkata, “Benar, aku Ibnu Al-Jazari.” Si kafir Romawi menjawab, “Wahai teman, aku merasa cukup puas berhadapan denganmu.”

Kembalilah dua puluh orang pasukan Islam menuju barisannya dan mulailah kedua jagoan bertarung. Pertarungan berlangsung dengan seru dan melelahkan. Sedangkan kaum muslimin dan orang-orang musyrikin memperhatikan jalannya bertarungan dengan hati berdebar. Tiba-tiba terlihat Ibnu Al-Jazari bergerak menghantam musuh. Keadaan itu menyebabkan hati orang-orang musyrikin mulai khawatir dan terkoyak, sedangkan kaum muslimin terlihat gaduh karena peristiwa itu. Ibnu Al-Jazari semakin menguasai keadaan, dia mampu mengurung musuh dengna serangannya dan akhirnya tumbanglah si kafir Romawi dari pelana kudanya. Dan tidaklah tubuh Romawi itu menyentuh tanah, kecuali saat itu kepalanya telah terpisah dari badan. Maka bertakbirlah kaum muslimin dengan suara yang seakan-akan mampu meruntuhkan gunung. Akibatnya, tercerai berailah barisan musyrikin. Kemudian kaum muslimin memulai peperangan dengan semangat tinggi. Dan akhirnya benteng Anwah berhasil dikuasai dengan membawa korban dan tawanan yang sangat banyak dari pihak Romawi.

Ketika Ibnu Al-Jazari datang menghadap Al-Rasyid, maka Al-Rasyid mendudukkan di hadapannya. Selanjutnya Ibnu Al-Jazari diberi harta rampasan yang sangat banyak sehingga hampir saja dia tidak mampu membawanya, akan tetapi Ibnul Jazari menolak semua pemberian tersebut.

Selanjutnya Al-Rasyid bersama para mujahidin bergerak menuju Konstantinopel mendengar gerakan pasukan Islam, para uskup dan penjaga bergegas menghadap Amirul Mukminin untuk memohon ampunan serta belas kasihan atas kelancangan penguasa Romawi Ya’fur. Mereka berjanji bahwa hari itu juga mereka akan menepati semua perjanjian mereka dengan kaum muslimin keluar dari Baghdad hingga Konstantinopel dan memberikan hadiah kepada kaum muslimin. Para uskup dan pendeta terus memohon dengan merendahkan diri di hadapan kaum muslimin. Bahkan mereka sujud dan meletakkan dahi mereka pada permukaan tanah. Hingga akhirnya permohonan belas kasihan mereka diterima oleh kaum muslimin. Selanjutnya Al-Rasyid tetap bertahan di tempat pemberhentiannya selama beberapa saat sehingga semua tuntutan kaum muslimin terpenuhi. Orang-orang Nasrani kemudian menyerahkan tiga 300.000 dinar (uang emas) setiap tahun ditambah 50.000 dinar jizyah setiap tahun kepada kaum muslimin. Ditambah syarat lain yaitu orang-orang Nasrani tidak diperbolehkan mendiami perbentengan baik di Harqalah ataupun benteng lain.

Ketika Amirul Mukminin Al-Rasyid dan seluruh pasukan Islam telah bersiap untuk kembali ke Baghdad, penguasa Romawi Ya’fur menulis sebuah surat untuk Al-Rasyid yang berbunyi,

“Kepada Amirul Mukminin, seorang hamba Allah dan khalifah-Nya, dari Ya’fur penguasa Romawi.

Keselamatan semoga terlimpahkan kepada Anda, wahai penguasa agung, Amma ba’du,

Saya mempunyai hajat yang sederhana, remeh, dan tidak membahayakan agama Anda. Saya telah meminang seorang gadis yang merupakan anak perempuan dari penduduk Harqalah untuk dinikahkan dengan anak laki-laki saya. Apabila Anda menemukan gadis itu, maka saya memohon sudi kiranya Anda mengampuni dan mengirimkannya kepada kami agar hajat keluarga saya terlaksana. Semoga Anda mendapatkan limpahan karunia kebaikan dan keutamaan. Kemudian apabila Anda sudi menambah dengan memberikan kepada saya salah satu tenda perkemahan Anda (untuk perayaan pernikahan pen.), maka Anda lebih berhak untuk memutuskan. Selanjutnya saya memohon agar kedatangan gadis tersebut nantinya diiringi oleh para pendeta.”

Setelah membaca surat tersebut Al-Rasyid memerintahkan pasukan Islam untuk mencari keberadaan gadis yang dimaksud oleh Ya’fur. Setelah akhirnya ditemukan, maka Al-Rasyid memberikan kepadanya perbekalan yang baik dan mencukupi. Selanjutnya dipersiapkan iring-iringan yang panjang untuk mengantarnya. Al-Rasyid juga memberikan kepadanya permadani yang dihiasi dengan tilam emas dan perak. Ditambah berbagai wewangian yang menyemarakkan bau udara. Mendapat perlakuan seperti itu, maka Ya’fur merasa sangat gembira. Dia membalasnya dengan mengirimkan beberapa keledai yang berisi kekayaan yang berlimpah sebagai bukti ketundukannya kepada Amirul Mukminin. Seekor keledai membawa kekayaan mencapai sebanyak lima puluh ribu dirham (uang perak). Seekor keledai lain membawa banyak sekali kain sutera yang berhiaskan tilam perak yang merupakan kain paling mahal saat itu. Sekelompok keledai lain yang membawa banyak pakaian-pakaian pemburu, dua belas ekor elang pemburu dan beberapa ekor anjing pemburu yang mampu menangkap singa. Serta tiga ekor kuda khusus penarik beban. Keseluruhan harta fai’ tersebut segera dibagikan oleh Al-Rasyid kepada pasukan Islam. Sehingga ketika pulang menuju Baghdad, hanya dengan sekali peristiwa perang itu, kaum muslimin mampu menambah perbendaharaan. Baitul Mal sebanyak 3.100.000 dinar. Akhirnya kaum muslimin kembali dengan membawa kemenangan, kegembiraan, keberuntungan dan harta ghanimah yang sangat berlimpah.

Sumber: Kisah-Kisah Pahlawan Generasi Pilihan, Hilmi bin Muhammad bin Ismail, Wafa Press

Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Buah Sifat Kehati-hatian

Next post

Aku Ingin Terkena Lemparan Panah

2 Comments

  1. July 11, 2012 at 9:35 pm — Reply

    subhanallah cerita yang bagus, selama ini kita hanya dijejali dengan cerita-cerita khalifah Harun al rasyid dengan abunawas saja.
    Syukran wa jazakumullahu khoir

  2. Ibnu Sofyan
    October 23, 2012 at 4:47 pm — Reply

    kisah nyata yang sangat menggugah hati, memang seharusnya anak-anak, remaja, dan pemuda islam harus diinformasikan kisah-kisah nyata seperti ini… subhanalloh

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>