Kisah Kaum Durhaka

Kisah Kaum Durhaka: Al-Walid bin Al-Mughirah (Bagian 2)

Pendapat yang Jahat dari Pemimpin yang Jahat Pula

Al-Walid Ibnul Mughirah dengan para sahabatnya mengamati bahwa kebanyakan suku Arab, termasuk orang pandai di antara mereka dan ahli hikmah, pulang di musim-musim tertentu seperti haji dan pasar bersama. Yang hanya mereka bicarakan adalah perkara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwahnya serta kenabiannya, sifat-sifatnya yang mulia dan tingginya kepirbadian Beliau.

Hal ini merupakan salah satu perkara yang membuat gelisah menghinggapi hati kaum musyrikin dan ketakutan mencekam mereka, tatkala musim haji semakin dekat berkumpullah para pembesar yang beridiri dan orang-orang yang dengki di Daarun Nadwah di bawah kepemimpinan Bani Makhzum yang melampaui batas, Al-Walid Ibnul Mughirah. Dari segi umur dia sudah tua, kepalanya telah beruban, sementara hatinya terbakar oleh api kedengkian.

Tatkala anggota yang hadir dalam majlis memenuhi jiwanya yang tergambar dari raut wajahnya yang mendendam:

“Wahai bangsa Quraisy, sesungguhnya musim ini telah tiba, dan sebagaimana kalian ketahui, para utusan dari orang-orang Arab dari segala penjuru telah mendengar perkara teman kalian ini, maka bersatulah dalam satu pendapat dan jangan bercerai-berai hingga kalian saling mendustakan antar sesama, dan saling membantah antara sesama pula, akhirnya harapan kita menjadi hancur.”

Para pembesar Quraisy berkata, “Wahai Abu Abdi Syams, katakanlah pendapatmu dan tegaskanlah pendapatmu hingga kami mengambilnya.”

Al-Walid berkata, “Kemukakan dulu pendapat kalian!” Dia hendak memancing –melemahkan- pendapat mereka, agar dia menjadi penentu kalimat terakhir, inilah puncak kebusukkannya.

Mereka berkata, “Kita katakan dia seorang tukang ramal (dukun).”

Al-Walid berkata, “Demi Allah, dia bukan tukang ramal, kita tahu bagaimana tukang ramal itu.”

Orang-orang yang melampaui batas berkata, “Kita katakan dia itu gila.”

Si thaghut tua itu berkata, “Dia tidaklah gila, kita telah melihat bagaimana penyakit gila, dia tidak menderita was-was, emosi, juga kegilaan.”

Para pembesar kufur dan syirik berkata, “Kalau begitu kita katakan dia itu penyair.”

Pembesar yang sombong berkata, “Dia bukanlah penyair, kita mengetahui semua syiar, bait dan intonasinya, puisi dan koridor serta bentengannya, ia bukan penyair.”

Para pembesar berkata saat kehabisan ungkapan, “Kita katakan dia tukang sihir wahai Abu Abdi Syams.”

Setelah mengetahui ketidakmampuan mereka, Al-Walid berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah dia bukan tukang sihir, kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka, dia bukanlah tiupan penyihir atau tali ikatan mereka.”

Tatkala hilang kesabaran dan habis kedengkian serta kebejatan mereka, hilang pula cara berbuat kejahatan di otak mereka yang kosong, mereka berkata, “Lantas apa yang akan kita katakan wahai Abu Abdi Syams?!”

Dia menjawab, “Demi Allah, pada perkataannya terdapat rasa manis, akar pokoknya kelapangan, cabangnya bunga yang tumbuh, dan tidaklah kalian mengarang sesuatu pun yang mirip, melainkan diketahui bahwasanya itu bathil.”

Nampaknya kebenaran ada pada si thaghut ini yang mengakui keindahan Alquran dan kehebatannya, menimbulkan benang-benang cahaya di langit kebenaran. Maka hal itu menyentuh hatinya, akan tetapi ia kembali pada kecongkakan dan kekufurannya serta tertipu lagi berbuat kejahatan. Dia berkata:

“Perkataan yang tepat untuk diucapkan bagi Muhammad, adalah penyihir yang berkata dengan sihir, yang memisahkan antara ayah dengan anaknya, atau seseorang dengan ayahnya, seseorang dengan saudaranya, seseorang dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya.”

Mereka Tidak Mendapati Kebenaran

Para pembesar Quraisy berpencar, menurut petunjuk jelek lagi dengki pemimpin mereka. Mereka duduk di jalan yang dilalui orang-orang tatkala datang musim haji, tidaklah seorang pun yang lewat, melainkan mereka peringatkan dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka menyebarkan dusta dan membuat tipu daya yang amat besar tentang Beliau.

Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan tipu daya tersebut pada diri mereka sendiri, hingga mereka tidak meraih sedikit pun kebaikan, bahkan tipu daya yang mereka rencanakan justru menjadi sebab tersebarnya dakwah ke penjuru negeri Arab. Makar dan rencana yang diusulkan oleh thaghut mereka yang dengki dan sengsara berbalik arah kepada mereka sendiri. Sedangkan kebaikan, keberkahan tercurah kepada junjungan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Neraka serta ancaman untuk Al-Walid. Allah menurunkan firman-Nya mengenai Al-Walid”

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.” (QS. Al-Muddatstsir: 11)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan untuk orang-orang yang bersamanya:

“(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Alquran itu terbagi-bagi. Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.” (QS. Al-Hijr: 91-92)

Alangkah indahnya perkataan Al-Bushiri:

Sungguh aneh orang-orang kafir yang semakin sesat padahal dengan otaknya orang bisa mengambil petunjuk. Orang yang bertanya tentang kisah yang diturunkan padanya yang mendatangi mereka dan meninggikannya.

Al-Walid dan Abu Jahal

Referensi menyebutkan kisah yang dapat dijadikan dasar, bahwa Al-Walid Ibnul Mughirah menyimak Alquran yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari satu kali. Hampir saja dia beriman sekiranya tidak didahului taqdir, kufur dan kesombongan Jahiliyyah.

Diriwayatkan bahwa Al-Walid datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang membacakan Alquran, seakan-akan dia simpati terhadap Beliau. Lantas berita tersebut sampai kepada keponakan Al-Walid –musuh Allah- Abu Jahal, lalu dia mendatanginya seraya berkata, “Wahai pamanku, sesungguhnya kaummu akan mengumpulkan harta agar diberikan kepadamu.”

Al-Walid merasa heran dan berkata, “Untuk apa wahai anak saudaraku?!”

Abu Jahal si Laknat berkata, “Untuk memberimu, engkau mendatangi Muhammad untuk memaparkan apa yang diperolehnya!”

Al-Walid berkata dengan kesal lagi menyombongkan diri, “Demi Allah, kaum Quraisy mengetahui bahwa akulah orang yang kaya di antara mereka.”

Di sini Abu Jahal berkata dengan logat orang yang membela, “Wahai paman, katakanlah mengenai Alquran kepada kaummu bahwa ia munkar dan engkau membencinya.”

Al-Walid berkata, “Apa yang akan kukatakan?! Demi Allah, tidak ada di antara kalian lelaki yang lebih mengetahui dan lebih luas wawasannya tentang syair dariapdaku, dan demi Allah dia tidak mirip dengan syair sama sekali.”

Demi Allah berkata, “Apa yang akan kukatakan?! Demi Allah, tidak ada di antara lelaki yang lebih mengetahui dan lebih luas wawasannya tentang syair daripadaku, dan demi Allah dia tidak mirip dengan syair sama sekali.”

Demi Allah, perkataan yang diucapkannya adalah sesuatu yang manis, dia memiliki keindahan, dan ada buah di atasnya, sementara di bawahnya lebat. Sungguh, ia amat tinggi dan tiada tara, dia pun akan menghancurkan apa yang di bawahnya.

Maka Abu Jahal berkata dengan logat yang buruk untuk membangkitkan dasar-dasar kekufuran di hati Al-Walid yang paling dalam, “Demi Allah, kaummu tidak rela terhadapmu sehingga engkau mengatakan komentar buruk tentangnya.”

Al-Walid berkata, “Biarkan aku berfikir.” Sesudah berfirkir keras, berperang melawan jiwa, berfikir dengan bantuan gerombolan setan dalam dirinya, dia berkata, “ini adalah sihir yang membekas.” Kemudian turun ayat:

“Biarkanlah aAku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.”

Hingga firman Allah:

“Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al-Muddattsir: 11-25)

Dia Menyelisihi Watad dan Fithrah

Al-Walid Ibnul mughirah mengetahui dengan fithrahnya sebagai orang Arab dan wataknya yang benar, bahwa Alquran yang mulia tidak mungkin berasal dari manusia. Dia berkata sebatas perkataan yang terlontar sebagai wujud rasa yang mendalam dan sastra bahasanya, tanpa menjadikan suatu beban yang menguasa melainkan fithrah dan perasaannya, tanpa pembicaraan yang bertele-tele dan ungkapan yang berputar-putar, bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam orang paling jauh orang dari perdukunan, syair dan sihir serta bisikannya. Pada rangkaian perkataannya terdapat kelezatan yang dirasakan oleh para pemimpin sastra dan pemuka yang fasih berbahasa Arab serta khatib yang handa, ia adalah perkataan yang tetap dalam puncak kejelasan, cabangnya bertaburan di langit sastra, tiang-tiangnya menancap di lubuk kejujuran dan petunjuk.

Hanya saja kecongkakan Al-Walid, kelalaian dan kekufurannya juga kekufuran keponakannya fir’aun umat ini, taklid yang dominan, demikian pula kefanatikan yang terwarisi, menjadikan Al-Walid mengundurkan diri membalikkan kedua kakinya, jiwanya berkecamuk, dia takut akan ungkapan Abu Jahal terhadapnya di depan para pembesar yang buruk dari kalangan Quraisy, dia dikuasai kesesngsaraan hingga menempuh jalan yang menentang.

Menentang adalah jalan menuju dosa dan penipuan serta kejahatan paling besar. Dia mengira bahwa kemuliaan hanyalah memakai baju yang bagus, memakan makanan yang empuk. Sementara dia menjauhkn diri dari kemuliaan akhlak, dan akhlak itu sendiri berlepas diri darinya. Alangkah bagusnya orang itu berkata:

Sesungguhnya aku mendapati, kemuliaan hanyalah cukup dengan memakai pakaian sutera dan keadaan kenyang. Apabila kemuliaan itu menjadi cela dalam majlis kalian sekali saja, maka terimalah akibatnya.

Bersambung insya Allah…

Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Kisah Kaum Durhaka: Al-Walid bin Al-Mughirah (Bagian 1)

Next post

Kisah Kaum Durhaka: Al-Walid bin Al-Mughirah (Bagian 3)

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>