Sejarah

Urgensi Mekah al-Mukaramah dan Kedudukannya dalam Islam (Bagian 4)

Peristiwa Pasukan Bergajah

Apakah kami tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (QS. Al-Fiil: 1-5)

Pada masa Abdul Muthalib, terjadi peristiwa besar yang diabadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alquran, yaitu: peristiwa pasukan bergajah. Tersebutlah dalam sejarah seorang panglima yang bernama Abrahah yang berkebangsaan Habasyah yang memerintah negeri Yaman, ia membangun sebuah gereja, diberi nama al-Qulais. Ia ingin agar bangsa Arab berpaling dari Ka’bah ke gerejanya untuk melaksanakan haji, tentu saja bangsa Arab menjadi marah karena hal tersebut.

Seorang laki-laki dari Suku Kinanah buang hajat di dalam gereja tersebut. Tatkala Abrahah mengetahui hal itu, ia marah dan bersumpah akan memimpin seluruh tentaranya berangkat menuju Ka’bah dan menghancurkannya. Kemudian ia memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap, maka berangkatlah pasukan ini dan Abrahah menunggang gajah.

Tatkala Abrahah singgah di al-Mughamas, ia mengutus seorang laki-laki dari Habasyah yang bernama al-Aswad bin Maqshud, ia berangkat menunggangi kuda hingga sampai ke Mekah. Lalu ia menggiring harta penduduk Tihamah dari bangsa Quraisy dan lain-lain. Di antara harta yang dirampasnya; ada 200 ekor onta milik Abdul Muthalib bin Hasyim yang pada saat itu adalah seorang pembesar dan pemimpin Quraisy.

Maka bangsa Quraisy, Kinanah, Huzail, dan seluruh penduduk yang berada di tanah haram berkeinginan untuk memerangi tentara Abrahah. Kemudian mereka sadar bahwa mereka tidak punya kekuatan untuk melawan Abrahah, kemudian mereka mengurungkan niat untuk melawan.

Lalu Abrahah mengutus Hunathah al-Himyari ke Mekah seraya ia berkata kepadanya: “Carilah pemimpin penduduk negeri ini dan pemukanya, kemudian katakan kepadanya: Sesungguhnya sang Raja berpesan kepadamu, “Sesungguhnya kami datang bukanlah untuk memerangi kalian, hanya saja kami datang untuk menghancurkan tempat ibadah ini, maka jika kalian tidak menghalangi niat kami, kami tidak perlu menumpahkan darah kalian. Jika pemimpin tersebut tidak berniat menghalangi niatku hendaklah ia mendatangiku.”

Tatkala Hunathah memasuki Mekah, ia bertanya tentang pemuka bangsa Quraisy dan tokohnya, maka dikatakan kepadanya, ia adalah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu Hunathah datang kepada Abdul Muthalib dan menyampaikan pesan Abrahah kepadanya. Abdul Muthalib berkata: “Demi Allah, kami tidak akan memeranginya karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk memeranginya, ini adalah rumah Allah yang mulia dan rumah khalil-Nya Ibrahim, jika Dia menghalanginya, maka ini adalah rumah dan tanah haram-Nya. Dan jika Dia membiarkan Abrahah menghancurkan Ka’bah, maka demi Allah kami tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.”

Lalu Hunathah berkata, “Berangkatlah bersamaku menuju pemimpin kami, karena sesungguhnya ia memerintahkanku untuk membawamu kepadanya.” Abdul Muthalib adalah orang yang paling tampan rupanya, elok parasnya, dan paling berwibawa. Tatkala Abrahah melihatnya, ia menghargai, mengagungkan dan memuliakannya untuk tidak duduk di bawah. Dan Abrahah juga tidak suka bila orang-orang Habasyah melihat Abdul Muthalib duduk di atas singgasana kerajaannya. Maka Abrahah turun dari singgasananya dan duduk di permadani serta memerintahkan Abdul Muthalib duduk di sampingnya.

Kemudian Abrahah berkata kepada juru bicaranya, “Katakan kepadanya, apa yang ia perlukan?” Lalu juru bicara memberitahukan kepada Abrahah, perkataan Abdul Muthalib, “Keperluanku hanya agar raja mengembalikan kepadaku 200 ekor onta yang dirampas dariku.” Tatkala juru bicaranya selesai berkata, Abrahah berkata kepadanya, “Katakan kepadanya, ‘Awalnya di saat aku melihatmu aku kagum kepadamu, selanjutnya aku jadi merendahkanmu ketika engkau menyampaikan keperluanmu, kenapa engkau berbicara kepada ku tentang 200 ekor onta yang kurampas darimu? Dan engkau membiarkan rumah tempat ibadahmu, milik agamamu dan agama nenek moyangmu yang akan kuhancurkan, mengapa engkau tidak menyampaikan tentang hal ini?’.”

Abdul Muthalib menjawab, “Bahwasanya aku adalah pemilik onta-onta tersebut, sedangkan tempat ibadah itu ada pemilik (Tuhan) yang akan melindunginya.”

Kemudian Abrahah berkata, “Dia tidak akan menghalangiku.” Abdul Muthalib menjawab, “Hal itu terserah padamu.” Lalu Abrahah mengembalikan onta-ontanya dan ia dipersilahkan kembali ke Quraisy.

Abrahah memerintahkan penduduk Quraisy untuk keluar dari Mekah dan mencari tempat perlindungan di atas perbukitan dan lembahnya, khawatir mereka terkena imbas kekuatan pasukannya.

Abdul Muthalib berdiri dan memegang pintu Ka’bah dan dibantu oleh beberapa orang Quraisy. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menurunkan pertolongan-Nya untuk menghalangi Abrahah dan pasukannya. Abdul Muthalib sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdia: “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi kendaraannya, maka lindungilah rumahmu. Jangan engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatanmua esok hari.”

Di pagi harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki Mekah, ia menyiapkan gajah-gajahnya dan mengomandani tentaranya. Gajahnya bernama Mahmud dan Abrahah telah bertekad untuk menghancurkan Ka’bah, setelah itu ia kembali lagi ke Yaman.

Tatkala mereka mengarahkan gajahnya ke Mekah, gajah mereka menderum, lalu mereka memukul gajah-gajah mereka, tetapi gajah tetap tidak mau berdiri. Lalu mereka mencoba mengarahkan gajah-gajahnya ke arah Yaman, gajah berdiri dan berlari. Lalu mereka arahkan ke Syam, gajah pun melakukan hal yang sama, mereka arahkan ke arah timur, gajah pun melakukan hal yang sama.

Kemudian mereka arahkan lagi ke Mekah, gajah malah menderum, maka seketika itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim kepada mereka burung laut. Setiap ekor burung membawa 3 buah batu: 1 di paruhnya dan 2 di kakinya sebesar kacang Arab atau kacang Adas. Tidak seorang pun yang terkena batu tersebut melainkan tubuhnya hancur. Lalu mereka keluar meninggalkan Mekah, sedangkan daging mereka tercecer di sepanjang jalan dan mereka binasa.

Abrahah terkena sebuah batu di tubuhnya, lalu mereka membawanya ke Yaman sedangkan jari jemarinya mulai terputus satu per satu, hingga mereka membawanya ke Shan’a dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar seekor anak burung, dan ia mati di sana.

Sungguh peristiwa pasukan bergajah ini membawa dampak yang sangat besar terhadap Quraisy dan kedudukannya di antara kabilah-kabilah Arab. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala mematahkan serangan pasukan Habasyah, hingga mereka mendapatkan siksa, maka bangsa Arab pun sangat memuliakan bangsa Quraisy. Mereka berkata, “Quraisy adalah ahli Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerangi musuh mereka, sehingga mereka tidak perlu melawannya.”

Seperti juga peristiwa ini mengangkat kedudukan Abdul Muthalib dan mengharumkan namanya serta meninggikan martabatnya di seluruh kalangan. Karena ia telah melakukan suatu hal dengan penuh kecerdasan dan strategi yang elok dan menyelamatkan kaumnya dari bencana yang besar.

Runtuhnya Ka’bah di Akhir Zaman

Banyak riwayat yang menguatkan tentang akan runtuhnya Ka’bah di akhir zaman. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ka’bah akan diruntuhkan oleh seorang yang berkaki bengkok berkebangsaan Habasyah.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Perbanyaklah melakukan thawaf di Baitullah semampu kalian sebelum kalian dihalangi untuk melakukannya, seolah-olah aku melihatnya sedang melakukan hal tersebut. Tanda-tandanya: berkepala dan bertelinga kecil, dia menghancurkan Ka’bah dengan beliungnya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tandanya orang tersebut berkulit hitam, kakinya bengkok (seperti letter O), dia meruntuhkan batu dinding Ka’bah satu per satu.”

Diriwayatkan dari Sa’id bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bercerita kepada Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seorang laki-laki (Imam Mahdi) akan dibai’at di antara sudut (tempat Hajar Aswad) dan Maqam Ibrahim, dan Ka’bah tidak akan dirusak kehormatannya melainkan oleh orang Arab sendiri, dan bila mereka telah merusak kehormatan Ka’bah, maka itulah saatnya kehancuran bangsa Arab, kemudian datang orang-orang Habasyah meruntuhkan Ka’bah yang setelah itu tak pernah dibangun kembali selama-lamanya, dan merekalah yang menggali harta yang terpendam di dalamnya.”

Hadis di atas tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sebuah pasukan hendak menyerang Ka’bah, hingga ketika mereka berada di sebuah padang pasir, semua pasukan ditenggelamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam bumi.”

Ibnu Hajar dalam bukunya “Fath al-Bari” dalam bab: runtuhnya Ka’bah, berkata: “Hadis-hadis di atas menjelaskan akan terjadinya penyerangan terhadap Ka’bah. Penyerang pertama dimusnahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum mereka sampai ke Ka’bah, dan penyerangan kedua dibiarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sepertinya penyerang yang dimusnahkan terjadi lebih awal.”

Dan jangan sampai timbul pertanyaan: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggagalkan penyerangan tentara bergajah terhadap Ka’bah padahal saat itu Ka’bah belum menjadi kiblatnya umat Islam, maka mana mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan bangsa Habasyah menghancurkannya setelah Ka’bah menjadi kiblatnya umat Islam?

Pertanyaan ini tak akan muncul, andai dijelaskan bahwa peristiwa runtuhnya Ka’bah akan terjadi nanti di akhir zaman menjelang kiamat terjadi. Di waktu itu tidak ada seorang pun di permukaan bumi yang mengucapkan, “Allah! Allah”, seperti yang disebutkan dalam shahih Muslim:

Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi orang yang mengucapkan, “Allah! Allah.”

Sumber: Sejarah Kota Mekah oleh Syaikh Syaifurrahman Mubarakfury

Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Salim bin Abdullah bin Umar bin Khathab, Cucu Umar

Next post

Tokoh Tabi'in - Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab

10 Comments

  1. Hermansyahsanip
    July 28, 2013 at 11:24 pm — Reply

    Hanya Allah Swt yang mengetahui akhir dunia ini..

  2. Muhammad saman
    January 12, 2014 at 7:44 pm — Reply

    Kami sekeluarga sangat merindukan ka’bah dan do’akan kmi semoga kami dpat menunaikan ibadah haji….

    h.M.Saman sekeluarga d.jmbi

  3. January 25, 2014 at 8:58 pm — Reply

    muda2han allah melindungi kita semua

  4. muhadam
    March 19, 2014 at 12:45 pm — Reply

    semoga aq di kesempatan lg oleh ALLAH swt.. mengunjungi ka’bah dan semoga ka’bah tetap berdiri sampai akhir zaman..

  5. dion
    May 19, 2014 at 10:26 pm — Reply

    Ya Allah tetapkanlah hati kami YG memegang teguh agamamu.. Semoga kami dapat menjadi insan yang tersadarkan.,

  6. June 4, 2014 at 7:18 am — Reply

    Apa Berhala Menurut Islam Itu? Tidak boleh menyembah patung, batu, pohon, dan apapun yang ada di dunia ini. Sebab AL’QURAN pun menuliskan demikian. Tetapi di dalam teori Islam dan prakteknya sungguh sangat bertentangan. Mengapa demikian?? Islam di saat sholat selalu mengarah dan sujud di depan KA’BAH. Pertanyaannya apakah itu KA’BAH?? Didalam KA’BAH adalah BATU yang berwarna HITAM.. Jadi Islam jelas-jelas sujud menyembah menghadap KA’BAH yang berisikan BATU berwarna HITAM.. Tetapi umat Islam jelas dengan tegas akan menjawab “Kami umat Islam tidak menyembah KA’BAH-nya, Tetapi menyembah allah”. Pasti benar bukan jawaban Anda begitu?? Coba Anda tanyakan kepada umat Hindu, Budha, Konghucu, Pasti jawaban mereka pun akan sama seperti umat Islam “Kami umat hindu, budha, konghucu, tidak menyembah patungnya tetapi kami menyembah tuhan. Padahal secara mata jasmani kita melihat bahwa mereka sembahyang menghadap patung dan pasti 100% umat Islam akan berkata “mereka itu agama hindu, budha, konghucu KAFIR alias penyembah berhala”. Apakah umat Islam tidak MENGACA diri?? Sedangkan mereka sendiri (umat Islam) sujud menyembah di depan KA’BAH yang berisi BATU berwarna HITAM?? Lantas apa bedanya umat Islam dan Umat hindu, Budha, Konghucu yang sama-sama menghadap terhadap benda yang ada di dunia ini?? Berarti kesimpulannya agama Islam, Hindu, Budha, Konghucu, sama-sama menyembah BERHALA.. Sebab di dalam AL’QURAN tidak boleh menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya.. Umat Islam kalau tidak mau dibilang penyembah berhala sungguh NAIF.. Sebab kenyataan dan prakteknya seperti itu. ISLAM SUJUD MENGHADAP BATU HITAM DI DALAM KA’BAH!! BERHALA..

    • June 4, 2014 at 2:10 pm — Reply

      Sebenarnya konsepnya sangat mendasar, klo kita belajar akidah secara runut tidak loncat2 dalam belajar.

      Thaghut diartikan segala sesuatu yg disembah selain Allah, ini dari sisi yg menyembah. Dari sisi yg disembah, thagut adalah segala sesuatu yg disembah selain Allah dan yg disembah itu ridha diperlakukan demikian.
      Diantara syarat ibadah adalah merendahkan diri dengan penuh ketundukan kepada yg disembah.

      Yg jadi pertanyaan apakah umat Islam merendahkan diri dengan penuh ketundukan kpd Ka’bah ataukah kpd pemilik Ka’bah, Allah Ta’ala.

      Nah klo dikatakan umat Islam menyembah ka’bah, kenapa ga dikatakan sekalian umat Islam menyembah dinding masjid, karena sujudnya menghadap tembok masjid. Ini konsep sederhana yg banyak dilalaikan karena belajar akidah tidak runtut. Hingga syubhat umat Islam menyembah ka’bah terkesan menjadi kerancuan, padahal hal itu semata-mata berangkat dari ketidaktahuan terhadap perkara sepele yg mendasar.

      • February 18, 2015 at 11:53 am — Reply

        sebelum komen sebaiknya dipelajari dulu ya pak jangan setengah” nanti malu sendiri :)

    • suseno aji rahadiyanto
      February 26, 2015 at 12:36 pm — Reply

      Mas, ada perkataan dari Umar ibnul Khattab ketika mencium batu hitam (hajar aswad) tersebut, seperti ini: “Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Menunjukkan kami muslim tidak menyembah Allah lewat batu itu, ataupun ka’bah. Namun kami diperintah oleh Allah untuk berkiblat ke arah masjidil haram/ka’bah. Bahkan kaum muslimin awalnya diperintah Allah utk berkiblat ke masjidil aqsa di palestina (tidak ada batu hitam disana mas), sebelum diperintah oleh Allah utk mengubah kiblat ke masjidil haram. Jadi sangkaan anda bener2 salah dan ngawur.

  7. Abdullah
    June 19, 2015 at 8:34 am — Reply

    Bisakah admin memberi nasihat koda saya agar saya bisa brhenti mlakukannya dan saya saat ini berada dalam keragu raguan.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>