Kisah Tak Nyata

Salman Bagian dari Ahlu Bait

Ibnu Sa’ad, Hakim dan lainnya meriwayatkan dari jalur Katsir bin Abdillah bin Amru bin Auf Al-Muzani, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengukur parit lantas membagi setiap sepuluh orang (menggali) 40 hasta. Kemudian kaum Muhajirin dan kaum Anshar berebut Salman, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salman bagian dari kami, Ahlu Bait.”

Takhrij Hadis Tentang Salman Bagian dari Ahlu Bait

Dzahabi berkata dalam At-Talkhish, “Sanadnya lemah.” Dalam Al-Majmu’, Haitsami menyandarkannya pada Thabrani dan ia berkata, “Dalam sanadnya ada Katsir bin Abdillah Al-Muzani. Ia di-dha’if-kan mayoritas ulama, sedangkan Tirmidzi menghasankan hadisnya. Dan rawi-rawi lainnya tsqiah.” Dzahabi menyebutkan riwayat ini dalam Siyar A’lamin Nubala’ pada biografi Salman. Dan ia berkata, “Katsir perawi matruk.” Al-Albani berkata, “Lemah sekali, dan riwayat ini terbukti mauquf (terhenti) pada Ali.”

Dzahabi berkata dalam As-Siyar, “Ya’la bin Ubaid berkata, A’Masy bercerita kepada kami, dari Amru bin Murrah, dari Abu Bukhturi yang berkata, ‘Dikatakan pada Ali, ‘Beritakanlah kepada kami tentang sahabat-sahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.’ Ia balik bertanya, ‘Siapa yang kalian tanyakan?’ mereka menjawab, ‘Salman.’ Ia berkata, ‘Ia mengetahui ilmu pertama dan ilmu terakhir. Ia bagai lautan yang tidak diketahui dasarnya. Ia bagian dari kami, Ahlul Bait’.”

Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam catatan pinggirnya terhadap kitab As-Siyar berkata, “Para perawinya tsiqah.” Al-Faswi mengeluarkan riwayat ini secara panjang dalam Al-Ma’rifah wat Tarikh, 2: 540, dan rawi-rawinya tsiqah. Begitu juga Thabrani (6041) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 1: 187. Lihat Al-Mathalibul Aluyah.” Syaikh Al-Albani membenarkan bahwa kisah yang diriwayatkan ini mauquf pada Ali, seperti diungkapkan di atas.

Sumber: Masyhur Tapi Tak Shahih Dalam Sirah Nabawiyah, Muhammad bin Abdullah Al-Usyan, Zam-Zam, Cetakan 1 April 2010

Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Sebuah Mukjizat Yang Tidak Benar

Next post

Fenomena Kehidupan Sosial Semut (Bagian 1)

2 Comments

  1. elfan
    July 30, 2012 at 4:40 pm — Reply

    APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    • Mukhlish
      March 10, 2015 at 1:47 pm — Reply

      Dalam sebuah hadits dijelaskan :

      عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قاَلَ قاَمَ رَسُوْلُ اللهِ صلىالله عليه و سلم يَوْمًا خَطِيْبًا (فَقَالَ): أَذْكُرُكُمُ اللهَ فيِ أَهْلِ بَيْتيِ –ثلاثا- فَقَالَ حُصَيْنُ بْنُ سَبْرَةَ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَْيدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ: إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حَرُمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قاَلَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آَلُ عَلِيْ و آَلُ عُقَيْلٍ وَ آلُ الْعَبَاسِ قَالَ أَكُلُّ هَؤُلاَءِ حَرُمَ الصَّدَقَة ؟ قَالَ: نَعَمْ (صحيح مسلم 7/122-123)

      Dari Zaid bin Arqom bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berkhutbah: Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku (sampai tiga kali) maka Husain bin Sibroh (perawi hadits) bertanya kepada Zaid “Siapakah Ahlul Bait beliau wahai Zaid bukankah istri-istri beliau termasuk ahlil baitnya? Zaid menjawab para istri Nabi memang termasuk Ahlul Bait akan tetapi yang di maksud di sini, orang yang di haramkan menerima sedekah setelah wafatnya beliau. Lalu Husain berkata: siapakah mereka beliau menjawab:“Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas ? Husain bertanya kembali Apakah mereka semuanya di haramkan menerima sedekah? Zaid menjawab Ya… [Shahih muslim 7/122-123]

      Lihat selengkapnya di:
      http://almanhaj.or.id/content/2937/slash/0/mengenal-ahlul-bait-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>