Peristiwa Isra’ Mi’raj: Rasulullah di Langit Ketiga, Keempat, dan Kelima

Di Langit Ketiga

Sekarang, pembicaraan kita tentang perjalanan mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada langit ketiga. Kita menuju ke tempat yang lebih tinggi lagi hingga beliau sampai ke tempat yang paling tinggi, menerima wahyu shalat.

Di langit ketiga, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَفُتِحَ، فَلَمَّا خَلَصْتُ إِذَا يُوسُفُ، قَالَ: هَذَا يُوسُفُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ”. وفي رواية مسلم زاد: “إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ

“Kemudian aku dinaikkan menuju langit ketiga. Jibril meminta dibukakan. Ada yang bertanya, “Siapa itu?” Ia berkata, “Jibril.” Ditanyakan lagi, “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muammad.” Penjaga bertanya lagi, “Apa ia diutus kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Iya.” Penjaga berkata, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”Pintu langit dibukakan.

Ketika aku melwati pintu, ternyata ada Yusuf. Jibril berkata, “Ini adalah Yusuf. Ucapkanlah salam kepadanya.” Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Dan ia membalas salamku. Kemudian ia berkata, “Selamat datang wahai saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.” Dalam riwayat lain ada tambahan, “Ia (Yusuf) dianugerahi setengah ketampanan.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman No.162).

Pujian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam merupakan bentuk ketakjuban beliau akan kekuasaan (kemampuan) Allah Ta’ala dalam menciptakan Yusuf. Sehingga beliau mengekspresikan apa yang beliau lihat dengan mengatakan, “Ia (Yusuf) memiliki setengah ketampanan.” Jika seluruh manusia dari zaman Nabi Adam hingga yang terakhir, kebagusan rupa mereka dikumpulkan, nah Nabi Yusuf memiliki setengah dari kadar semua ketampanan itu. Mungkin inilah di antara hikmah pertemuan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Untuk menyampaikan kepada kita tentang kehebatan dan keluar-biasaan kekuasaan Allah dalam mencipta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita tentang kedudukan Nabi Yusuf. Karena keindahan fisik beliau sebagaimana keindahan penciptaan malaikat. Hal itu sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya, ketika menceritakan kesan pertama mereka melihat Nabi Yusuf:

مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيمٌ

“Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” [Quran Yusuf: 31].

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi kenikmatan dengan kenikmatan memandang seseorang yang indah. Sebagaimana kita bahagia melihat ciptaan-ciptaan Allah yang indah. Baik berupa alam ataupun berjumpa dengan seseorang yang baik penampilannya. Dan kita pun dimotivasi dengan keindahan-keindahan manusia penghuni surga. Yang menunjukkan, bertemu dengan yang demikian merupakan kebahagiaan.

Peristiwa ini juga menunjukkan kejujuran dan ketulusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendudukkan Nabi Yusuf sebagaimana yang Allah dudukkan. Beliau juga pernah memuji silsilah mulia nasab Nabi Yusuf. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الكَرِيمُ، ابْنُ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ

“Seorang yang mulia. Putra dari seorang yang mulia. Cucu dari seorang yang mulia. Dan cicit dari seorang yang mulia. Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimussalam.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Anbiya No. 3210).

Di Langit Keempat

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dinaikkan menuju langit keempat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: أَوَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَفُتِحَ، فَلَمَّا خَلَصْتُ إِلَى إِدْرِيسَ، قَالَ: هَذَا إِدْرِيسُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ”. وفي رواية مسلم زاد: قَالَ اللهُ تعالى: {وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا} [مريم: 57] .

Kemudian aku dinaikkan ke langit keempat. Jibril meminta pintu dibukakan. Penjaga langit keempat bertanya, “Siapa?” “Jibril”, jawabnya. “Siapa yang bersamamu?”, tanyanya lagi. “Muhammad”, jawab Jibril. Ia kembali bertanya, “Apakah ia diutus kepada-Nya?” “Iya”, jawab Jibril. Malaikat itu menjawab, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”

Kemudian dibukakan pintu. Ketika aku telah melewati pintu, di sana terdapat Idris. Jibril mengatakan, “Ini Idris. Ucapkanlah salam padanya.” Aku pun memberi salam padanya. Dan ia membalas salamku. Idris berkata, “Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.” Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” [Quran Maryam: 57].

Sedikit sekali kabr yang sampai kepada kita tentang Rasulullah Idris ‘alaihissalam. Meskipun demikian, pertemuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beliau menunjukkan kedudukan beliau yang tinggi. Ditambah lagi ketika Rasulullah membacakan ayat “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” [Quran Maryam: 57]. Seolah-olah beliau hendak menafsirkan kepada kita alasan Allah mempertemukan beliau berdua.

Para ahli berbeda pendapat tentang ucapan Nabi Idris ketika menyebut Nabi Muhammad dengan “Saudara shaleh”. Bukan dengan ucapan “Anakku yang shaleh” seperti ucapan Nabi Adam dan Nabi Ibrahim. Karena menurut sebagian sejarawan Idris juga merupakan rasul setelah Nabi Adam. Mereka berdalil dengan sebuah isra-iliyat yang menyebutkan silsilah nasab Nabi Ibrahim:

Ibrahim bin Tarih bin Nahur bin Ar’uwa bin Syarikh bin Falikh bin ‘Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh bin Lamka bin Mitusyalkh bin Akhnukh bin Burda bin Mihla-ibala bin Qam’an bin Qausy bin Syits bin Adam (Injil Luke: 3: 34-38).

Menurut mereka Akhnukh adalah Nabi Idris. Ucapan beliau “Saudara yang shaleh” adalah bentuk ketawadhu-an beliau. Namun pendapat ini bisa kita katakan lemah dari beberapa sisi.

Pertama: Tidak seharusnya kita mengambil silsilah nasab dari Taurat atau Injil. Siapa yang bisa menjamin bagian tersebut tidak diubah oleh Bani Israil?

Kedua: Karena ini merupakan peristiwa gaib tentang umat-umat terdahulu, kita butuh penjelasan nash syar’i. Sementara tidak ada dalil dari syariat kita yang menyatakan bahwa Akhnukh adalah Idris. Ditambah lagi, Nabi Idris keluar dari silsilah nasab Nabi Muhammad.

Ketiga: Tidak tepat mengkhususkan sifat tawadhu kepada Nabi Idris dalam permasalahan ini. Sementara Nabi Adam dan Ibrahim tidak.

Dalam Syarah Arba’in an-Nawawi, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menjelaskan bahwa Idris adalah nabi dari bani Israil. Artinya beliau dari keturunan Ishaq ‘alaihissalam bukan Ismail ‘alaihissalam. Karena itu, Nabi Idris bukan ‘ayah’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Adam dan Ibrahim. Beliau adalah ‘pamannya’ sebagaimana nabi-nabi bani Israil lainnya.

Di Langit Kelima

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“ثُمَّ صَعِدَ بِي، حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الخَامِسَةَ فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا هَارُونُ، قَالَ: هَذَا هَارُونُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ”.

Kemudian aku dinaikkan ke langit kelima. Jibril meminta pintu langit kelima dibukakan. Penjaga pintu langit berkata, “Siapa itu?” “Jibril”, jawabnya. “Siapa yang bersamamu?”, tanya penjaga. “Muhammad”, jawab Jibril. Penjaga kembali bertanya, “Apakah ia diutus kepada-Nya?” “Iya”, jawab Jibril. Penjaga itu berkata, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”

Ketika aku telah melewati pintu, aku berjumpa dengan Harun. Jirbil berkata, “Ini adalah Harun. Ucapkanlah salam padanya.” Aku pun mengucapkan salam, kemudian ia membalas salamku. Ia berkata, “Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.”

Di langit kelima ini, Nabi Muhammad berjumpa dengan saudaranya Nabi Musa, yaitu Nabi Harun. Pertemuan dengan Nabi Harun ini, merupakan bentuk pemuliaan juga terhadap Nabi Musa. Kehadiran Nabi Harun memberikan kegembiraan yang luar biasa bagi Nabi Musa. Harun bukan hanya seorang saudara. Tapi ia juga merupakan hadiah dan rahmat Allah kepadanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا

“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi.” [Quran Maryam: 53].

Dalam firman-Nya yang lain, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia mengabulkan permintaan Nabi Musa yang memohon keteguhan dengan mengangkat saudaranya sebagai temannya berdakwah.

قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَى (36) وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَى

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa”. Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain.” [Quran Thaha: 36-37].

Sumber:
– https://islamstory.com/ar/artical/3406657/الرسول-في-السماوات

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com