Kisah Nabi Muhammad

Nabi Palsu: Sijah at-Tamimiyah

Munculnya nabi palsu di abad pertama Islam tidak hanya dari kalangan laki-laki. Ada juga seorang perempuan yang menyatakan bahwa ia mendapatkan wahyu kenabian pula semisal kenabiannya Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perempuan itu adalah Sijah binti al-Harits yang berasal dari kabilah besar at-Tamimi.

Siapakah Sijah at-Tamimiyah?

Namanya adalah Sijah binti al-Harits bin Suwaid at-Tamimiyah. Ia adalah seorang dukun perempuan yang mengaku sebagai nabi. Di masa itu, dukun adalah tokoh masyarakat. Mereka layaknya hakim yang dipintai solusi atas permasalahan. Pengakuan kenabiannya ia nyatakan sebelum muncul peristiwa pemurtadan atau sekitar masa itu.

Selain dianggap tokoh karena profesinya sebagai dukun, ia juga menyandang status tokoh karena darah birunya. Ia berasal dari Bani Yarbu’ yang merupakan pembesar Bani Tamim. Ibunya berasal dari Bani Taghlib dari Irak. Sebuah kabilah yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen karena kontak mereka dengan wilayah Eufrat. Sijah adalah pemimpin mereka. Ia menikah dengan klan ini. Dan ia juga seorang Nasrani sama seperti mereka (Ath-Thabari: Juz 3 Hal 272).

Bani Tamim adalah kabilah besar Arab yang bertetangga dengan Bani Amir di sebelah selatan. Kota Madinah di sebelah timur. Mereka juga tersebar di Teluk Arab hingga di tepian utara Sungai Eufrat. Dan cabang-cabang kabilah ini memiliki ladang gembala yang terbentang hingga bagian tengah Eufrat.

Bani Tamim memiliki kedudukan terhormat di tengah kabilah-kabilah Arab. Baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam. Mereka dikenal pemberani dan dermawan. Lahir dari rahim mereka para penyair dan pahlawan. Sehingga mereka dijuluki qalb al-muluk (jantung para raja) (Ath-Thabari: Juz 3 Hal 116).

Pengaruh Geografis Terhadap Munculnya Nabi Palsu

Posisi geografis sedikit banyak memiliki pengaruh untuk mendorong para nabi palsu menyebarkan dakwahnya. Demikian juga dengan Sijah. Masyarakat Bani Tamim yang banyak dan tersebar di berbagai daerah menjadi salah satu alasan ia memproklamirkan diri sebagai wanita yang mendapat risalah kenabian. Jika kita teliti, pesebaran masyarakat Bani Tamim mempengaruhi hal-hal berikut ini:

Pertama: Bani Tamim memiliki hubungan dengan Persia. Hubungan ini terjalin melalui Kerajaan Hirah. Sebuah kerajaan yang menjadi kepanjangan tangan Persia di Jazirah Arab. Pedagang-pedagang Persia melewati beberapa wilayah terlebih dahulu untuk sampai di Hirah. Bani Tamim memiliki andil dalam menjaga keamanan kafilah dagang Persia yang melintasi Jazirah Arab.

Kedua: Pemeluk Nasrani di Bani Tamim memiliki kesamaan (sekte Kristen) pemahaman dengan Nasrani yang ada di wilayah Eufrat dan utara Syam.

Ketiga: Para pemimpin kabilah ada yang berafiliasi ke Persia, ada pula yang ke Bizantium. Sehingga agama mereka ada yang Nasrani, ada pula yang paganis.

Keempat: Kedudukan istimewa Bani Tamim selalu mereka pertahankan. Hal itu terbukti dengan peranan besar mereka di Pasar Okaz. Salah seorang tokoh mereka al-Aqra’ bin Habis menjadi hakim di Pasar tersebut. Walaupun akhirnya, ketokohan mereka jatuh dua tahun sebelum diutus Nabi.

Itulah kondisi Bani Tamim.

Pada tahun 9 H, utusan mereka datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman mereka. Mereka berjanji untuk taat dan memberikan loyalitas kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara utusan mereka yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Atharad bin Hajib bin Zurarah, al-Aqra’ bin Habis, Zabraqan bin Badr, dan Qays bin Ashim. Nabi menerima dan melepas mereka menuju kaumnya dengan ridha dan jiwa yang lapang (Ibnu Saad: Juz 1 Hal 293-294. ath-Thabari: Juz 3 Hal 115).

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kabilah ini terbelah. Sebagian masih menyatakan taat. Dan sebagian lainnya tak mau lagi menaati Madinah yang dipimpin Abu Bakar. Saat itulah Sijah datang dari Irak. Ia diiringi oleh pengikutnya dari Bani Taghlib, Rabi’ah, Nimr, Ayyad, dan Syaiban. Mereka ingin memerangi Madinah.

Sijah Menyatakan Kenabiannya

Sijah menyatakan kenabiannya setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Dalam hal ini, ia menjadi teladan orang-orang setelahnya yang turut mengaku nabi. Motivasi pengakuannya ini adalah fanatik suku dan cinta popularitas. Hudzail bin Imran dari Bani Taghlib menyambut seruan wanita ini. Ia rela meninggalkan agama lamanya, Nasrani. Namun, di tengah kaumnya sendiri dakwah nabi palsu ini tidak banyak disambut.

Ketika Sijah tiba di wilayah Hizn, ia mengajak orang-orang Tamim untuk bersekutu. Sijah pun bergembira dengan sambutan pimpinan Bani Malik, Waki’ bin Malik, dan pimpinan Bani Yarbu’, Malik bin Nuwairah (Ath-Thabari: Juz 3 Hal 115).

Dua Nabi Palsu Bersatu

Ketika Sijah sudah putus asa untuk mendapatkan dukungan kaumnya, ia pun mengarahkan harapannya ke Yamamah. Di sana terdapat nabi palsu lainnya, Musailimah al-Kadzab, yang juga ingin memerangi Madinah. Dakwah Musailimah lebih populer di seantero Arab dibanding Sijah. Namun, kehadiran Sijah di Yamamah membuat Musailimah khawatir kalau wanita ini bakal mengganggunya dalam memerangi Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Sementara pasukan Islam tengah bersiap menyerangnya. Dan kabilah-kabilah tetangga juga tengah menekannya. Oleh karena itu, ia berusaha mencairkan keadaan dengan mengajak Sijah bernegosiasi. Selama tujuan mereka satu, yaitu menyerang Hijaz, tak perlu ada perpecahan di antara mereka. Negosiasi tersebut menghasilkan keputusan:

Pertama: Memperkuat kerja sama mereka dengan pernikahan.

Kedua: Menyatukan kekuatan mereka untuk menghadapi umat Islam dan menguasai Jazirah Arab.

Ketiga: Musailmah menjanjikan setengah hasil bumi Yamamah untuk Sijah (ath-Thabari: Juz 3 Hal 273-275).

Resepsi pernikahan dua nabi palsu ini pun dilangsungkan. Sijah tinggal bersama Musailimah selama tiga hari (al-Balkhy: Juz 2 Hal 198). Setelah itu ia kembali menuju kaumnya tanpa sebab yang jelas. Ia membawa setengah hasil bumi sebagaimana yang sudah disepakati. Ia tinggalkan Musailimah sendirian menghadapi singa-singa Islam. Musailimah tewas di kampungnya Yamamah.

Setelah dari Yamamah, Sijah tinggal bersama kaumnya, Bani Taghlib. Kemudian ia memeluk Islam dan tinggal di Basrah. Ia hidup sebagai seorang muslimah hingga wafat pada tahun 55 H/675 M (Atha-Thabari: Juz 3 Hal 275).

Sumber:
– https://islamstory.com/ar/artical/3408069/سجاح-التميمية

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Mengapa Muncul Nabi Palsu Pasca Wafatnya Nabi Muhammad?

Next post

Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid