Perhiasan Seorang Laki-Laki

Mendengar kata perhiasan, sebagian orang langsung membayangkan logam mulia, berlian, dan permata. Atau pakaian yang indah. Jam tangan mewah. Dan hal-hal lain yang bersifat materi. Padahal perhiasan itu juga termasuk karakter mulia dan akhlak yang baik. Seseorang yang mengenakan perhiasan materi mungkin akan dikenal hanya dalam satu resepsi. Setelah itu namanya tenggelam dilupakan. Atau paling lama sampai dia meninggal. Kemudian orang-orang melupakannya. Tapi akhlak yang mulia akan membuat orang dikenang sepanjang masa. Seorang penyair mengatakan,

وَإِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاقُ مَا بَقِيَتْ ### فَإِنْ هُمُ ذَهَبَتْ أَخْلاقُهُمْ ذَهَبُوا

Suatu masyarakat akan teranggap selama mereka memiliki akhlak.
Apabila akhlak mereka telah hilang merekapun dilupakan.

Dan perhiasan seseorang yang merdeka adalah:

Bermanfaat Untuk Orang Lain

Menjadi seorang yang bermanfaat bisa dengan harta, tenaga, dan bisa pula dengan pemikiran. Orang yang bermanfaat untuk orang lain, ia akan dihormati. Hal ini berlaku sedari masa jahiliyah dulu.

Paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, adalah seorang yang miskin. Di antara bukti yang menunjukkan kemiskinannya adalah beberapa putranya diasuh oleh orang lain. Karena ia tak mampu menafkahi mereka. Seperti Ali bin Abu Thalib dirawat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ja’far bin Abu Thalib dirawat oleh saudaranya, Abbas bin Abdul Muthalib.

Walaupun Abu Thalib seorang yang miskin tapi ia seorang tokoh yang dihormati di masyarakat Quraisy. Suaranya dianggap. Perlindungannya dihormati. Karena itu ia mampu melindungi Nabi Muhammad. Padahal Nabi Muhammad dianggap telah melecehkan nenek moyang dan tradisi lokal masyarakat Quraisy. Ketika Abu Thalib melindunginya, tak ada yang berani menyentuh keponakannya itu.

Dengan kemiskinannya, Abu Thalib adalah seorang yang berjasa besar di tengah Quraisy. Ia mengurusi zam-zam yang bermanfaat bagi khalayak. Saat Ramadhan tiba, ia menaiki Gua Hira membagi-bagi makanan untuk orang miskin bahkan untuk hewan-hewan liar dan burung di sana. Dan jasa-jasa lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat umum. Karena memiliki peran dan manfaat di tengah masyarakatnya, ia pun dihormati.

Contoh lainnya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Seorang yang terhormat di masyarakat Arab. Baik muslimnya maupun yang masih kafir. Ia bukanlah orang paling kaya di kalangan penduduk Mekah. Bukan pula di kalangan para sahabat. Tapi kemanfaatannya tersebar di tengah-tengah mereka. Karena itu, ia menjadi tokoh saat masa jahiliyah dan menjadi sahabat yang paling utama setelah Islam datang. Inilah perhiasan seorang laki-laki.

Kemampuan Mengendalikan Diri dan Emosi

Kemampuan mengendalikan diri dan emosi adalah akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji seseorang karena memiliki sifat ini.

إن فيكَ خصلتينِ يحبهُما اللهُ : الحلمُ والأناةُ

“sesungguhnya pada dirimu ada 2 hal yang dicintai Allah: sifat al hilm dan al aanah” (HR. Muslim no. 17).

Hilm adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya ketika marah. Ketika ia marah dan mampu memberikan hukuman, ia lebih memilih bersikap hilm dan tidak jadi memberikan hukuman.

Di antara contoh orang yang memiliki sifat hilm ini adalah Ahnaf bin Qais. Ahnaf bin Qais adalah seorang tabi’in. Tokoh Bani Tamim. Dinamai dengan Ahnaf karena ia memiliki kaki yang cekung ke dalam. Mirip bentuk huruf x. Perawakannya pendek. Dan parasnya jelek. Namun wibawanya begitu besar di tengah kaumnya. Kalau ia marah, maka ribuan pedang bisa terhunus membelanya tanpa perlu tahu apa alasan kemarahan Ahnaf.

Mengapa demikian? Karena Ahnaf adalah teladan dalam hilm. Kalau ia sudah marah berarti hal tersebut memang benar-benar sudah keterlaluan. Karena itu, kaumnya tak perlu tahu alasan untuk membelanya.

Untuk mengukur sifat hilm yang dimiliki Ahnaf, orang-orang pun mengutus seseorang untuk membuatnya marah. Seseorang mengatakan, “Aku akan membuatnya marah.” Kemudian yang lain menanggapi, “Kalau kau mampu, akan kami berikan sesuatu untukmu.” Orang tersebut mendekati Ahnaf yang sedang berjalan menuju perkampungannya. Mulailah orang tersebut mencaci dan mencelanya terus-menerus. Sementara Ahnaf seakan tak mendengar celaan tersebut.

Saat telah dekat di perkampungan kaumnya, Ahnaf berkata, “Hai anak saudaraku, kalau masih ada sesuatu pada dirimu yang ingin kau lampiaskan, katakanlah sekarang! Karena kita telah dekat pada suatu perkampuangan yang penduduknya tak akan mampu menahan diri dari celaanmu terhadapku sebagaimana aku tahan mendengar celaanmu.”

Maksudnya, kalau kaumku mendengar celaanmu terhadapku, akan terjadi sesuatu pada dirimu. Mereka tak akan sabar mendengar tokoh mereka dicela sebagaimana kesabaranku menghadapimu. Karena itu, keluarkan sekarang semua celaanmu sampai kau puas.

Ahnaf pernah ditanya, “Dari mana kau belajar hilm?” Ahnaf menjawab, “Aku belajar dari Qais bin Ashim. Pernah didatangkan padanya seorang yang membunuh anaknya. Melihat si pembunuh ini tertawan, Ahnaf berkata, ‘Kalian telah membuatnya takut’. Kemudian pembunuh ini dihadapkan padanya. Ahnah berkata padanya, ‘Hai anakku, engkau telah membuat anggota kaummu menjadi sedikit. Sehingga melemahlah kekuatannya. Rapuhlah kekokohannya. Kau buat musuh-musuhmu senang. Dan kau permalukan kaummu. Bebaskanlah dia!’ Kemudian Qais yang membayarkan diyat (harta tebusan) kepada ibu dari anaknya yang terbunuh itu (Jamal min Ansab al-Asyraf, 3/263).

Tentu kita mengatahui, diyat diberikan oleh pihak keluarga yang membunuh kepada keluarga korban. Si pembunuh anaknya Qais adalah seorang dari sukunya sendiri. Ia adalah bagian dari keluarganya. Karena itu, Qais sendiri yang memberi diyat atas prilaku si pembunuh kepada ibu korban.

Pelajaran

Pertama: Di antara menariknya mempelajari budaya masyarakat Arab adalah kisah-kisah tentang kehidupan mereka diriwayatkan dengan rapi. Sehingga nama-nama dan nasab-nasab mereka terjaga. Kebijaksanaan-kebijaksanaan masyarakat tempo dulu dari mereka teriwayatkan dengan baik. Hikmah kehidupan dan kondisi sosial mereka begitu terekam. Tentu ini memudahkan para ilmuan sosiologi dan antropologi untuk mengkaji kehidupan mereka. Kuncinya satu, kemampuan bahasa Arab untuk mengakses sumber-sumber berita mereka.

Namun sayang, karena lemahnya kemampuan bahasa Arab di tengah umat Islam dan derasnya konspirasi buruk tentang masyarakat Arab, sehingga umat Islam sendiri ketika mendengar kata Arab, konotasinya adalah negatif. Konotasinya adalah perang, gurun, tertinggal, tak beradab, badui, dll.

Kedua: Hendaknya seorang laki-laki berhias dengan sifat-sifat yang mulia. Mengubah persepsi dalam standar kemuliaan. Kemuliaan itu tidak semata-mata dengan harta. Harta yang tertumpuk karena tidak dibagi adalah aib. Mencari harta kemudian menjadikannya bermanfaat untuk orang lain, itulah perhiasan diri.

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com