Mutiara Faidah

Yang Langka, Jenaka, dan Pilihan

Kisah Muslim – Seorang yang miskin meminta kepada orang pedalaman agar kebutuhannya dipenuhi. Orang pedalaman tersebut berkata, “Saya tidak mempunyai apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Harta yang saya punya, saya sendirilah yang paling berhak menggunakannya. Si peminta berkata, “Di manakah orang-orang yang mengutamakan (orang lain) daripada dirinya sendiri?” Orang pedalaman pun menimpali. “Mereka pergi bersama orang-orang yang tidak meminta secara paksa kepada orang lain.”

Ada orang bodoh –dia menghindari ghibah (menggunjing)- saking menghindarinya, ia pun menjadi orang yang berlebihan. Ia ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang iblis?” Dia menjawab, “Saya sering mendengar pembicaraan mengenai Iblis. Allah yang Maha Mengetahui rahasia iblis.

Seorang laki-laki berangkat untuk berjuang di jalan Allah. Dia meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ada sebagian perempuan yang lemah iman berkata kepada istri pejuang tersebut, “Wahai ibu yang miskin! Siapa orang yang akan membiayai keluargamu serta merawat anak-anakmu jika ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan suamimu meninggal dunia dan tercatat sebagai orang yang mati syahid?” Perempuan mukminah itu pun berkata lantang dengan penuh kemantapan, keimanan, dan ketenangan, “Sungguh, yang saya tahu suamiku adalah tukang makan. Saya tidak mengenal dia sebagai pemberi rezeki. Jadi, apabila tukang makan meninggal dunia, maka Sang Pemberi Rezeki masih tetap hidup.”

Pada suatu hari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu terdiam di depan Ka’bah, lalu dia berkata kepada para sahabatnya, “Bukankah jika seseorang hendak melakukan perjalanan, pastinya dia mempersiapkan bekal?” Mereka menjawab, “Iya, benar.” Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Padahal perjalanan akhirat lebih jauh daripada perjalanan kalian ini.” Mereka pun berkata, “Tunjukkan kepada kami bekal untuk ahirat!” Dia berkata, “Lakukanlah ibadah haji untuk menghadapi hal-hal besar, laksanakanlah shalat dua rakaat di malam yang gelap untuk menghadapi kesulitan di alam kubur, dan berpuasalah pada hari yang sangat terik untuk menghadapi lamanya hari kiamat.”

Al-Jahizh, seorang penulis, ahli sastra Arab terkenal adalah seorang yang buruk rupa, tetapi dia sombong meskipun tentang fisiknya. Al-Jahizh pernah bercerita mengenai dirinya sendiri. Dia berkata, “Saya pernah berdiri di depan pintu rumahku, lalu ada seorang perempuan yang menghampiriku.” Perempuan tersebut berkata, “Saya butuh kepadamu. Saya ingin engkau ikut bersamaku untuk suatu kepentingan.” Al-Jahizh melanjutkan ceritanya, “Saya pergi bersamanya sehingga kami sampai ke toko emas. Lalu perempuan tersebut berkata kepada tukang emas, ‘Seperti ini,’ sambil menunjuk ke arahku. Kemudian dia meninggalkanku dan pergi. Lalu saya bertanya kepada tukang emas, ‘Apa maksud dari perkataan perempuan tersebut?” Tukang emas menjelaskan, “Perempuan tersebut pernah membawa batu mata cincin kepadaku dan menyuruhku agar aku melukiskan gambar setan di atasnya, lalu saya berkata kepadanya, “Wahai nona! Saya belum pernah melihat setan sama sekali.’ Lantas dia datang lagi membawamu dan mengatakan apa yang telah kamu dengar tadi.”

Isham bin Yusuf melewati Hatim al-Asham di majelis pengajiannya, lalu Isham bertanya, “Wahai Hatim! Apakah kamu melaksanakan shalat dengan baik?” Dia menjawab, “Iya.” Isham bertanya lagi, “Bagaimana tata caramu melaksanakan shalat?” Hatim al-Asham menjawab, “Saya berdiri berdasarkan perintah, saya berjalan dengan rasa khasyyah (takut kepada Allah), saya masuk (ke dalam shalat) dengan niat, saya bertakbir dengan mengagungkan, saya membaca Alquran dengan tartil dan memikirkan artinya, saya melakukan ruku’ dengan khusyuk, saya bersujud dengan tawadhu, saya duduk tasyahhud dengan sempurna, saya mengucap salam dengan berniat, saya mengakhiri shalat dengan ikhlash kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya kembali pada diri sendiri dengan rasa takut, saya takut bila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalatku. Saya menjaganya dengan susah payah sampai mati.” Isham berkata, “Ya sudah, bicaralah. Engkau melaksanakan shalat dengan baik.”

Juha sedang pergi ke pasar untuk membeli keledai. Dia bertemu temannya. Temannya bertanya, “Kamu mau pergi ke mana?” Juha menjawab, “Ke pasar untuk membeli keledai.” Temannya berkata, “Katakanlah, ‘Insya Allah’.” Juha menanggapi, “Hal ini bukan tempatnya mengucapkan insya Allah. Di sakuku ada uang, sedangkan keledai ada di pasar.” Ternyata, ketika dia telah berada di pasar, tiba-tiba uangnya dicuri orang. Dia pun pulang dengan menyesal, lalu temannya bertanya kepadanya, “Hai Juha, mana keledainya?” Dia menjawab, “Insya Allah, uangku dicuri orang.”

Ada seorang yang bodoh melihat ke sumur. Dia melihat wajahnya di dalam sumur. Lalu dia kembali menemui ibunya, “Hai ibu, di dalam sumur ada pencuri.” Lantas ibunya datang dan melihat sumur. Dia berkata, “Iya, benar di dalam sumur ada pencuri beserta pelacur.” (ungkapan sindiran atas kebodohan anaknya.)

Seorang laki-laki berkata kepada Hisyam al-Quthi, Kam ta’uddu (Berapa kamu menghitung)?” Hisyam menjawab, “Dari satu sampai satu juta bahkan lebih banyak lagi.” Dia berkata, “Bukan itu maksudku.” Hisyam menimpali, “Lalu apa yang kamu maksud?” Dia berkata lagi, “Kam tau’ddu minas sinni (Berapa hitungan gigi)?” Hisyam menjawab, “Ada tiga puluh dua. Yang enam belas di bagian atas dan enam belas lagi di bagian bawah.” Dia berkata, “Bukan itu yang aku kehendaki dan aku maksud.” Hisyam menimpali, “Lalu apa yang kamu maksud?” Dia berkata lagi, “Kam laka minas sinin (Berapa banyak gigimu)?” Hisyam menjawab, “Saya tidak mempunyai sedikit pun. Semuanya milik Allah ‘Azza wa Jalla.” Dia berkata lagi, “Fa ma sinnuka (Apa gigimu)?” Hisyam menjawab, “Tulang.” Dia berkata lagi, “Faibnu kam anta (kamu ini anak berapa orang)?” Hisyam menjawab, “Anak dua roang, yaitu Ayah dan Ibu.” Dia berkata lagi, “Fa kam ata alaika (berapa banyak yang membinasakanmu)?” Hisyam menjawab, “Katakanlah, ‘Kam Madha min umrika (Berapa banyak umurmu yang telah berlalu)’?”

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang mempunyai keinginan kuat untuk shalat berjamaah. Kemudian ada salah seorang yang tidak ikut shalat berjamaah memasuki rumahnya, dan menzinai istri pemilik rumah tersebut. Tiba-tiba ada anjing yang melompat menyerang keduanya sehingga keduanya mati. Kemudian pemilik rumah pulang dan mendapati keduanya telah tidak bernyawa.

Lantas dia mendendangkan syair berikut:

Anjing selalu memelihara tanggung jawabnya kepadaku, melindungiku, dan menjaga janjiku. Sedangkan kekasih malah berkhianat.

Sungguh heran, seorang kekasih malah merusak kehormatanku

Dan sungguh heran terhadap anjing bagaimana ia dapat menjaga

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berbincang-bincang dengan seseorang. Beliau bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Jamrah (bara api).” Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Anaknya siapa?” “Anak Syihab (cahaya api)” jawabnya. Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kamu dari golongan siapa?” Dia menjawab, “Dari Hurqah (kebakaran).” Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Di mana tempat tinggalmu?” Dia menjawab, “Di daerah Harratin Nar (panasnya api).” Tepatnya di sebelah mana, “Di daerah Dzati Lazha (yang mempunyai nyala api).” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Segera susul keluargamu. Mereka mengalami kebakaran.” Lelaki itupun bergegas menuju ke rumahnya. Dan ternyata memang terjadi seperti apa yang disampaikan Umar radhiyallahu ‘anhu.

Al-Ahsmu’i berkata, “Saya pernah berkata kepada seorang anak muda dari kalangan anak-anak Arab, ‘Apakah kamu senang jika kamu mempunyai seratus ribu dirham, tetapi kamu bodoh?” Dia menjawab, “Demi Allah, tidak.” Saya bertanya lagi, “Mengapa?” Dia menjawab, “Saya khawatir kebodohanku berbuat jahat kepadaku, sehingga hartaku lenyap dan tinggal bodohnya saja.”

Hakim berkata, “Jauhilah tujuh perkara, niscaya ragamu dan hatimu akan merasa lega. Di samping itu, kehormatanmu dan agamamu akan selamat.

Janganlah engkau bersedih atas sesuatu yang hilang dari dirimu.

Jangan memikul kesedihan atas sesuatu yang belum terjadi.

Janganlah engkau mencela orang atas sesuatu yang ada pada dirimu yang sama dengan orang lain.

Jangan engkau minta imbalan atas sesuatu  yang tidak pernah engkau lakukan.

Janganlah engkau marah kepada orang yang tidak terpengaruh dengan kemarahanmu.

Janganlah engkau memuji orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya tidak sesuai dengan apa yang dipujikan kepadanya.”

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tiada suatu musibah yang menimpaku melainkan aku melihat ada tiga hikmah di baliknya yang merupakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku. Pertama, musibah ini tidak terkait dengan agamaku. Sebab, musibah mengenai agama merupakan musibah besar. Terkadang dengan musibah ini seseorang merugi di dunia dan akhirat. Kedua, musibahnya tidak lebih besar dari itu. Tidak ada satu pun musibah melainkan ada yang lebih besar lagi. Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kesabaran kepadaku untuk menghadapinya. Sungguh, kesabaran dan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan penyumbat rasa aman yang dapat meringankan musibah yang menimpa.”

Ibnu Khalikan mengatakan, “Kami dengar dari sekelompok orang yang dapat dipercaya bahwa mereka mempunyai desa yang dikenal dengan nama ‘Dairu Abi Salamah’. Di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang fasih lisannya tetapi dia berlimpah kebohongan dan kebodohan. Pada suatu hari dia menyebtukan siwak dan keutamaan yang ada di dalanya. Dia berkata, ‘Demi Allah, saya tidak bersiwak kecuali dari dubur,’ lalu dia mengambil siwak dan membiarkan pada duburnya, sehingga siwak itupun menyakitkannya pada malam harinya. Hal tersebut masih berlangsung sampai sembilan bulan. Dia mengeluhkan rasa sakit pada perut dan duburnya. Dia merasakan sakitnya orang melahirkan. Kemudian dia melahirkan binatang yang bentuknya seperti tikus dan kepalanya seperti ikan. Binatang tersebut mempunyai taring yang nampak, berekor panjang, empat jari, dan dubur yang mirip dengan dubur kelinci. Ketika dia melahirkannya, binatang tersebut menjerit tiga kali. Lantas putri lelaki tersebut berdiri, kemudian meremukkan kepala binatang tersebut hingga mati. Lelaki tersebut masih hidup dua hari sejak binatang tersebut mati. Dia berkata, “Binatang ini membunuhku dan memotong usuku.’ Sekelompok orang dari daerah tersebut menyaksikan binatang tersebut pada tahun 665 H.”

Seorang lelaki thufaili (orang yang suka ikut-ikutan dalam suatu jamuan makan tanpa diundang) melihat serombongan orang yang sedang bepergian. Dia mengira bahwa rombongan tersebut hendak menghadiri undangan walimah (jamuan makan). Dia pun mengikuti mereka. Selidik punya selidik, ternyata mereka adalah rombongan penyair yang hendak mendatangi raja. Ketika masing-masing penyair telah mendendangkan syairnya dan mengambil hadiahnya, maka tersisalah lelaki thufaili tadi. Dia hanya duduk terdiam. Lalu dikatakan kepadanya, “Ayo dendangkan syairmu!” Dia menjawab, “Saya bukan seorang penyair.” Dia ditanya, “Lalu kamu siapa?” Dia menjawab, “Termausk orang-orang yang sesat, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.” (QS. Asy-Syu’ara: 224)

Kontan sang raja tertawa atas jawaban tersebut. Dia memerintahkan agar lelaki tersebut juga diberi hadiah.

Al-Aqra’ bin Habis (salah satu amir di negeri Islam) menghadap Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ternyata dia mendapati Umar radhiyallahu ‘anhu sedang bermain dengan anak-anaknya. Anak-anaknya bergantungan di lengannya dan di atas punggungnya. Lantas al-Aqra bertanya, “Apa-apaan ini, wahai Amirul Mukminin? Apakah memang seperti ini yang Anda lakukan bersama anak-anak Anda?” Umar bangun dan bertanya kepada al-Aqra’, “Hai al-Aqra’, kamu sendiri apa yang kamu lakukan di rumah?” Dia menjawab, “Ketika aku masuk rumah, orang yang berdiri langsung duduk, orang yang berbicara langsung diam, dan orang yang tidur langsung bangun. Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium satu pun dari mereka.” Lantas Umar berkata, “Kalau begitu kamu tidak layak menjadi penguasa bagi kaum muslimin.” Selanjutnya Al-Aqra dipecat.

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Kisah Hikmah: Ambisi Umar bin Abdul Aziz “Hari Esok Lebih Baik dari Hari Ini”

Next post

Dijualnya Pejabat dan Keagungan Ulama

1 Comment

  1. Septi
    March 22, 2013 at 9:14 pm — Reply

    MasyaAlloh… Allohuakbar, :p sesuai dengan judulnya langka, jenaka dan pilihan.
    syukron wa jazakumulloh khoir buat ilmunya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>