Bakti kepada kedua orang tua adalah wasiat para nabi ‘alaihimussalam. Lihatlah sang kekasih Allah, Nabi Ibrahim, bapak para nabi, pemimpin orang-orang hanif, memanggil ayahnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang—meskipun ayahnya kafir dan enggan beriman—dengan panggilan, “Wahai ayahku!” saat beliau mengajaknya untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pemberi balasan, dan untuk meninggalkan kesyirikan dan kesesatan.
Ketika ayahnya menolak dan berpaling, ia mengancam Nabi Ibrahim akan memukul dan mengusirnya. Namun, balasan indah dari beliau adalah:
قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.’” (QS. Maryam: 47)
Allah juga memberi pujian bagi Nabi Yahya bin Zakaria ‘alaihimassalam dalam firman-Nya,
وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)
Inilah orang-orang yang begitu mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka melaksanakan wasiat beliau untuk berbakti kepada orang tua.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Dulu apabila hendak keluar rumah, Abu Hurairah berdiri di depan pintu kamar ibunya dan berkata, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, wahai ibuku!” Lalu ibunya menjawab, “Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, wahai anakku.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah merahmati engkau yang telah mengasuhku di masa kecil!” Ibunya pun menanggapi, “Semoga Allah juga merahmatimu, sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku di masa dewasa.”
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
Suatu hari, ibunya meminta air minum, sehingga ia pergi untuk mengambil air minum. Tapi ketika ia kembali, ibunya sudah tertidur, sehingga ia tetap berdiri membawa air di samping ibunya hingga pagi. Ia tidak membangunkan ibunya karena khawatir akan mengganggunya, tidak pula pergi karena khawatir ibunya terbangun lalu meminta air minum tapi tidak ada air.
Ibnu al-Hasan at-Tamimi
Suatu ketika ia hendak membunuh kalajengking, tapi tidak dapat menangkapnya hingga kalajengking itu memasuki lubang di rumahnya. Ia lalu memasukkan tangannya dan menutup lubang itu dengan jari-jarinya, sehingga ia disengat oleh kalajengking tersebut. Ia pun ditanya, “Mengapa engkau melakukan itu?” Ia menjawab, “Aku khawatir kalajengking itu keluar lalu mendatangi ibuku dan menyengatnya.”
Ibnu Aun al-Muzani
Suatu hari ibunya pernah memanggilnya, tapi ia menjawab panggilan itu dengan suara yang lebih keras daripada suara ibunya agar sang ibu dapat mendengar. Namun itu membuatnya menyesal, hingga ia memerdekakan dua budak (demi menebus kesalahannya).
Kisah nyata
Dulu seorang dai sedang dalam kunjungan ke salah satu negara Eropa. Ketika ia duduk di stasiun kereta, ia melihat wanita tua berusia sekitar 70-an sedang memegang buah apel di tangannya dan berusaha memakannya dengan sisa gigi yang ia punya.
Dai itu lalu duduk di samping wanita itu dan mengambil apel tersebut, kemudian memotongnya dan memberikannya lagi kepada wanita itu agar dapat memakannya dengan mudah. Tiba-tiba wanita itu meledak tangisannya, sehingga dai itu bertanya, “Mengapa Anda menangis?” Ia menjawab, “Sudah 10 tahun tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara, dan anak-anakku tidak pernah menjengukku. Lalu mengapa Anda melakukan itu untukku?”
Dai itu menjawab, “Agama yang aku anut memerintahkanku untuk melakukan itu, juga memerintahkanku untuk menaati dan berbakti kepada orang tuaku.” Ia melanjutkan, “Di negaraku, ibuku tinggal bersamaku di rumahku, beliau seumuran dengan Anda. Beliau hidup bagaikan seorang ratu. Kami tidak keluar rumah kecuali dengan izinnya, tidak makan sebelum beliau makan, dan kami—anak-anaknya—selalu berkhidmat kepadanya. Inilah yang diajarkan oleh agama kami.”
Wanita itu kemudian bertanya, “Apa agamamu?” Ia menjawab, “Islam.” Akhirnya peristiwa itu menjadi sebab wanita tua tersebut memeluk Islam.
Kisah Amirul Mu’minin Umar radhiyallahu ‘anhu
Diriwayatkan dari Umar bahwa dulu ada lelaki dari pemuka kaumnya yang punya anak bernama Kilab. Ia berhijrah ke kota Madinah pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu. Ia tinggal di sana beberapa lama. Suatu hari ia bertemu dengan beberapa sahabat Nabi, lalu ia bertanya kepada mereka, “Amalan apa yang terbaik dalam Islam?” Mereka menjawab, “Berjihad.” Kilab lalu pergi menemui Umar karena ingin ikut berjihad. Umar radhiyallahu ‘anhu kemudian mengirimnya bersama pasukan ke negeri Persia.
Ketika ayahnya mengetahui hal tersebut, ayahnya merangkulnya seraya berkata kepadanya, “Janganlah engkau meninggalkan ayah dan ibumu yang sudah tua dan lemah ini. Keduanya telah merawatmu sejak kecil, hingga ketika mereka berdua membutuhkanmu, apakah engkau lalu tega meninggalkan mereka?” Kilab menjawab, “Aku meninggalkan kalian berdua demi sesuatu yang lebih baik bagiku.”
Pada akhirnya Kilab tetap ikut pergi berperang setelah berusaha membuat ayahnya merelakannya. Namun, Kilab terlambat kembali dari perang.
Suatu hari, ayah dan ibunya sedang duduk di naungan pohon kurma milik mereka, ternyata di sana ada burung merpati yang sedang memanggil-manggil anaknya yang masih kecil, bermain dengannya, dan terbang ke sana kemari. Ayahnya melihat merpati itu sehingga ia menangis, lalu ibunya melihat suaminya menangis sehingga ia ikut menangis.
Kemudian sang ayah mengalami penurunan penglihatan. Ketika anaknya sudah terlambat pulang cukup lama, ia pergi menemui Umar bin Khattab di masjid. Ia berkata kepada Umar, “Demi Allah, wahai Ibnu Khattab, kalau engkau tidak juga mengembalikan anakku kepadaku, niscaya aku akan berdoa untuk keburukanmu di padang Arafah!”
Umar radhiyallahu ‘anhu lalu menulis risalah agar anaknya segera dipulangkan. Ketika Kilab pulang dan menemui Umar, Umar bertanya kepadanya, “Bagaimana kebaktianmu kepada ayahmu?”
Kilab menjawab, “Dulu saya sangat memuliakannya dan mengurus keperluannya. Dulu jika saya ingin memerah susu untuknya, saya mendatangi unta betina yang paling banyak susunya di antara unta-untanya, lalu saya mengistirahatkan unta itu dan membiarkannya hingga tenang. Kemudian saya membasuh puting-puting susunya hingga dingin, lalu memerahnya untuk dia dan memberi minum kepadanya.”
Umar lalu mengutus utusan untuk memanggil ayah Kilab. Akhirnya ayah Kilab datang dan menemui Umar radhiyallahu ‘anhu dalam keadaan terseok-seok, mata yang sudah rabun, dan punggung yang telah merunduk. Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya, “Bagaimana kabarmu, wahai ayah Kilab?” Ia menjawab, “Sebagaimana yang engkau lihat, wahai Amirul Mu’minin!”
Umar bertanya lagi, “Apa hal yang paling engkau harapkan saat ini?” Ia menjawab, “Aku tidak mengharapkan apa pun saat ini. Aku tidak merasa bahagia dengan kebaikan dan tidak sedih dengan keburukan.”
Umar lalu bertanya lagi, “Tidakkah ada hal lain?” Ia menjawab, “Ada, aku berharap Kilab—anakku—bersamaku sekarang, agar aku bisa mencium aromanya dan memeluknya sebelum aku mati.”
Umar radhiyallahu ‘anhu lalu menangis dan berkata, “Engkau akan mencapai apa yang engkau harapkan, insyaallah!” Kemudian Umar memerintahkan Kilab untuk keluar dan memerah susu unta untuk ayahnya sebagaimana dulu ia lakukan, lalu mengirim susu itu kepada sang ayah. Kilab lalu pergi dan melakukan hal tersebut, lalu datang sambil membawa sewadah susu kepada Umar. Kemudian Umar mengambilnya dan berkata kepada sang ayah, “Minumlah wahai ayah Kilab!”
Ketika sang ayah mengambil wadah itu untuk meminumnya dan mendekatkannya ke mulutnya, ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin! Demi Allah, aku mencium aroma kedua tangan Kilab.” Umar radhiyallahu ‘anhu lalu menangis dan berkata, “Ini Kilab sudah ada di sisimu, kami telah menghadirkannya untukmu.”
Sang ayah lalu segera memeluk dan mencium anaknya sambil menangis. Umar radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang yang hadir di sana juga ikut menangis. Kemudian Umar berkata, “Wahai Kilab, tetaplah bersama kedua orang tuamu dan berjihadlah dengan berbakti kepada mereka selagi mereka masih hidup. Lalu perhatikanlah urusanmu setelah itu!”
Seruan tegas
Wahai para pemuda, menjaga hubungan dengan orang tua, mencium tangan ayah dan ibu merupakan ciri orang-orang yang sukses dan berhasil. Terlebih lagi mendengar ucapan mereka, mengalah dengan pendapat mereka, dan berkhidmah kepada mereka hingga akhir napas. Lalu sampai kapan engkau akan memutus hubungan dengan mereka, mengingkari jasa mereka, dan membuat mereka lelah?
Tidakkah engkau melihat tetes air mata ibu yang bercucuran karena kesedihan atas kedurhakaanmu kepadanya, seberapa besar hal itu di hadapan Allah? Saya tidak mampu lagi berkomentar.
Sumber:
https://www.alukah.net/culture/0/103636/نماذج-وقصص-عن-بر-الوالدين

