Kisah Pilihan

Biografi Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi

Berbicara tentang Hajjaj bin Yusuf, berarti kita mengangkat pembicaraan tentang seorang pemimpin yang zalim, otoriter, dan kejam. Buku sejarah manapun yang kita buka yang meceritakan tentang Hajjaj bin Yusuf, maka tema besar pembicaraannya serupa, semua bercerita tentang kesewenang-wenangannya sebagai seorang pemimpin. Sampa-sampai sebagian ahli sejarah menjadikan namanya sebagai sinonim kata zalim dan menjadikannya sebagai profil batas maksimal kezaliman seorang penguasa. Namun, Hajjaj juga memiliki sisi-sisi humanis dan jasa-jasa yang layak untuk diapresiasi. Ahli sejarah melulu menceritakan kejelekannya sehingga sosok Hajjaj tidak tergambar secara utuh.

Pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan sisi lain dari sosok Hajjaj bin Yusuf, sehingga jelas bagi kita pribadi Hajjaj bin Yusuf; manis dan pahitnya, baik dan buruknya.

Kelahiran dan Masa Kecil Hajjaj bin Yusuf

Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dilahirkan di daerah Thaif pada tahun 41 H / 661 M. Ia dibesarkan di keluarga yang terhormat dari kalangan Bani Tsaqif. Ayahnya adalah seorang yang taat dan berilmu. Sebagian besar waktu sang ayah dihabiskan di kampungnya, Thaif, mengajarkan anak-anaknya Alquran.

Dengan didikan sang ayah, Hajjaj pun berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna, 30 juz. Kemudian ia mengulang-ulang hafalannya di majilis-majlis para sahabat dan tabi’in, seperti: Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Sa’id bin al-Musayyib, dll. Kemudian ia mulai diberi tanggung jawab untuk mengajar anak-anak lainnya.

Masa kanak-kanak yang ia habiskan di Thaif sangat berpengaruh terhadap kefasihannya berbahasa. Di sana juga ia bergaul dengan Kabilah Hudzail, kabilah Arab yang paling fasih dalam berbahasa. Setelah ditempa dengan baik, Hajjaj tumbuh menjadi seorang orator, memiliki kemampuan public speaking yang luar biasa. Abu Amr bin Ala’ mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih (dalam berbahasa) seperti Hasan al-Bashri kemudian Hajjaj.”

Hubungan Hajjaj dengan Abdullah bin Zubair

Saat Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhu memproklamirkan diri menjadi khalifah di Mekah –tahun 64 H / 683 M setelah wafatnya Yazid bin Muawiyah-, ia berhasil mencuri perhatian masyarakat dunia Islam karena latar belakangnya anak dari sepupu Rasulullah, cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq, dan salah satu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis. Saat itu nyaris hanya Yordania saja yang memberikan loyalitas penuh kepada kekhilafahan Bani Umayyah. Marwan bin Hakam sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah hanya mampu mengamankan Mesir dari pengaruh Abdullah bin Zubair.

Kemudian diangkatlah Abdul Malik bin Marwan sebagai pewaris tahta. Untuk membereskan masalah dengan Abdullah bin Zubair, Abdul Malik melirik Hajjaj bin Yusuf karena Hajjaj dikenal sebagai orang yang keras, memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, dan pantang menyerah. Kekuatan Abdullah bin Zubair pun bias didesak sehingga kekuasaannya hanya terbatas di wilayah Hijaz. Akhirnya Hajjaj berhasil mengepung Kota Mekah yang menjadi benteng terakhir Abdullah bin Zubair.

Hajjaj menggempur kota suci itu dengan tembakan-tembakan manjaniq, sampai-sampai  sebagian dari Ka’bah roboh tertimpa peluru-peluru manjaniq pasukan Hajjaj. Hajjaj benar-benar tidak peduli dengan kehormatan kota yang mulia itu. Pengepungan itu akhirnya menewaskan Abdullah bin Zubair dan berakhirlah masa kekuasaannya. Umat Islam kembali lagi bersatu di bawah satu kepemimpinan, kepemimpinan Bani Umayyah dengan khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Sebagai penghargaan untuk keberhasilan Hajjaj, khalifah melimpahkan kekuasaan Hijaz di tangan Hajjaj bin Yusuf. Dengan demikian kekuasaan Mekah, Madinah, dan Thaif berada di tangan gubernur bertangan besi yang ditakuti. Kemudian kekuasaan Hajjaj ditambah lagi dengan wilayah Yaman dan Yamamah.

Hajjaj bin Yusuf Menjadi Gubernur Irak

Setelah Basyar bin Marwan –saudara Khalifah Abdul Malik- wafat, khalifah menunjuk Hajjaj bin Yusuf menjadi gubernur Irak. Irak adalah sebuah wilayah yang luas yang sedang mengalami gejolak dan kekacauan, orang-orang Khawarij terus membuat makar di wilayah ini sehingga stabilitas sulit dicapai. Sebelumnya penduduk wilayah berani menolak perintah khalifah untuk berangkat berjihad memerangi Khawarij Azariqah. Jadi, menurut khaligah Hajjaj-lah orang yang tepat yang mampu meredam keadaan ini dan mengembalikan keamanan di tengah-tengah rakyat Irak.peta irak

Hajjaj menyambut perintah khalifah dan langsung berangkat menuju Irak pada tahun 75 H / 694 M. sesampainya di Kufah, ia langsung berkhutbah di tengah-tengah rakyatnya dengan khutbah yang keras bagaikan badai. Isi khutbahnya adalah ancaman terhadap orang-orang yang merusak stabilitas Irak, mengancam para Khawarij, dan teguran bagi mereka yang malas berjihad. Hajjaj mengancam akan membunuh orang-orang yang malas untuk berangkat berjihad. Mendengar ancaman itu, rakyat Kufah pun bersegera berangkat berjihad memerangi Khawarij Azariqah.

Saat suasana Kufah sudah mulai bisa dikendalikan, Hajjaj berangkat menuju Bashrah. Sesampainya di Bashrah, rakyat Bashrah ternyata sudah ciut nyalinya untuk berhadapan dengan Hajjaj. Hajjaj kembali mengancam orang-orang Khawarij di kota itu agar tidak membuat onar dan kembali menaati khalifah. Hajjaj mengatakan, “Sesungguhnya aku mengingatkan dan aku tidak akan menimbang-nimbang setelahnya, aku sudah menegaskan dan aku tidak akan memberi keringanan, aku sudah mengancam dan tidak akan memaafkan…”

Hajjaj berhasil menuntaskan banyak pergolakan yang terjadi di wilayah Irak, seperti pemberontakan Abdurrahman bin al-Asy’ats yang dibaiat menjadi khalifah oleh penduduk Irak. Awalnya Ibnu al-Asy’ats tidak menginginkan menjadi khalifah, ia hanya tidak senang dengan perlakuan Hajjaj yang teramat zalim, namun situasi kian memanas, dan orang-orang pun membaiatnya menjadi khalifah. Akibat peperangan Hajjaj dan Abdurrahman bin al-Asy’ats ini, ribuan jiwa tewas.

Jasa-jasa Hajjaj bin Yusuf

Berbiacara tentang kezaliman dan kekejaman Hajjaj, hal itu adalah sesuatu yang tak terbantahkan, ia sangat mudah menumpahkan darah orang yang tak bersalah. Kekejamannya itu menyebabkan beberapa panglima perangnya membelot karena tidak tahan menerima perintah yang menzalimi kelompok tertentu. Namun pada masanya juga ada masa-masa perbaikan. Setelah pergolakan di Irak dapat ia atasi, ia mulai mewujudkan pembangunan fisik di Irak. Pembangunan kantor-kantor, fasilitas umum dan kesehatan. Sungai-sungai di Irak yang kala itu tidak memiliki jembatan, dibuatkan Hajjaj jembatan untuk mempermudah masyarakat, ia juga membuat bendungan untuk menampung air hujan, nantinya bendungan tersebut digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan para musafir. Sedangkan daerah-daerah yang jauh dari bendungan diperintahkan menggali sumur.

Hajjaj juga dikenal detil dan selektif dalam memilih pegawai pemerintahan, ia benar-benar menunjuk orang-orang yang capable di bidangnya karena ia sangat benci dengan kesalahan dan keteledoran.

Ia juga berhasil menaklukkan banyak wilayah.  Di antara wilayah yang ditaklukkannya adalah wilayah Balkh, Baikan (بيكند), Bukhara, Kasy, Thaliqan (sebuah kota yang mencakup daerah Thakharistan, kota di Afganistan, dan Thaliqan Qazawin di Iran sekarang), Khawarizm, Kasyan (daerah di wilayah Iran sekarang), hingga kota-kota perbatasan Cina. Mungkin buah dari penakulukkan Hajjaj terhadap Bukhara adalah lahirnya seorang imam besar di Bukhara, Imam Bukhari rahimahullah.

Hajjaj juga memerintahkan sepupunya yang masih sangat belia, pahlawan Islam yang terkenal, Muhammad bin Qasim ats-Tsaqafi menaklukkan wilayah India, hingga muncullah kerajaan besar di abad pertengahan, Kerajaan Mughal. Para sejarawan mengaitkan penaklukkan Muhammad bin Qasim ast-Tsaqafi ini dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Bani Tsaqif. Ketika Nabi berdakwah di Thaif, dan diusir oleh Bani Tsaqif lalu datanglah Jibril yang menawarkan agar sekiranya malaikat akhsyabain menimpakan gunung kepada orang-orang Thaif, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR Bukhari dan Muslim).

Di antara jasa-jasa Hajjaj yang paling besar adalah keseriusannya dalam memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Alquran.

Penutup

Para ahli sejarah ketika membicarakan pribadi Hajjaj, ada yang mencela dan ada yang memuji dari sisi-sisi tertentu. Namun mereka tidak berselisih bahwa Hajjaj adalah seorang pemimpin yang lebih mengedepankan cara-cara keras dan sangat mudah memerangi atau membunuh orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada pemerintah tanpa mengedepankan dialog. Namun memang, kebijakannya ini berhasil membuat keadaan wilayah pimpinannya menjadi aman, suatu pencapaian yang tidak bias didapatkan oleh pemimpin-pemimpin daerah sebelum dirinya.

alquranImam Ibnu Katsir mencoba memposisikan diri di pihak yang pertengahan, beliau mengatakan, “Celaan yang terbesar yang diberikan kepada Hajjaj adalah ia seorang yang sangat mudah menumpahkan darah. Cukuplah bagi dia hukuman dari Allah karena perbuatannya ini. Di sisi lain, ia sangat bersemangat dalam berjihad dan menyebarkan Islam ke negeri-negeri lainnya, mudah berderma kepada orang-orang yang memuliakan Alquran (ahlul Quran), ia juga banyak berjasa dalam penyebaran dan penjagaan Alquran (member harakat dan titik serta menjaga riwayat-riwayat bacaan Alquran di masyarakat pen.), saat wafat ia hanya meninggalkan uang sebanyak 300 dirham saja”.

Hajjaj wafat di Kota Wasith 21 Ramadhan 95 H bertepatan dengan 9 Juni 714 M.

Sumber: Islamstory.com

Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Pembebasan Jerusalem di Masa Umar bin Khattab

Next post

Kisah Syuraih al-Qadhi Bersama Istrinya

3 Comments

  1. January 22, 2015 at 1:03 am — Reply

    maaf, lebih baik anda mengutip dari sumber yang berbentuk arabic litertur. bukan kitab-kitab terjemahan.. kasihan sekali kamu.
    #kecewa

    • January 22, 2015 at 11:40 am — Reply

      Itu dari sumber arab Ustadz..

  2. abdillah
    February 3, 2015 at 5:46 pm — Reply

    Izin share ustadz..
    Ohya, afwan, diartikel yang lain dengan judul “ulama yang tak takut mati (kisah pembunuhan Said bin jubair oleh Hajjaj), dituliskan tahun wafat Said bin jubair adalah tahun 96 H. Sedangkan diartikel dituliskan wafat Hajjaj tahun 95 H. Mana yang betul ustadz? Bukankah Said bin jubair dan Hajjaj bin yusuf wafat pada tahun yang sama, seperti pada artikel “ulama al-Quran dan penguasa yang dzalim”? Mana sebenarnya yang benar terkait tahun wafat mereka?

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>