Kisah Hikmah: Jangan Dekati Zina, Zina adalah Hutang

jangan dekati zina 13

You may also like...

13 Responses

  1. mazari says:

    bukan maksud menjelek kan akhwat-akhwat sekalian,tapi alangkah baiknya jika para wanita-wanita muslim menjaga auratnya agar para pria juga bisa menjaga syahwatnya.

  2. Tuhkunen says:

    Betul. pezina sebagian besar akan dpt pezina. muslim wajib menjaga aurat muhrimnya. Sy panya teman laki2 pezina yg menikahi pezina pula.

  3. Tuhkunen says:

    seorang laki2 muslim haram menikmati tubuh calon istrinya sblm mereka menikah. Jagalah, itu kan calon istri, kehormatanmu.

  4. mpah says:

    zina adalah srigala bagi kaum muslim yang slalu mengintai..di saat lengah…

  5. muis says:

    orang yang berzina maka akan turun menurun sampai anak cucu, tergantung seberapa banyak dosa zina yang telah dilakukan, sehingga akan berdampak seberapa jauh pengaruhnya kepada turunannya.. saya py tetangga begitu, dulu orang tuanya pernah berzina, akhirnya anak-anaknya bahkan cucunya juga menjadi pelaku zina. yang dulunya keluarganya itu dihormati, sekarang anak-anaknya dan cucunya menjadi orang2 yang nista di mata masyarakat. naa’uzubillah….orang yang suka berzina, pasti hidupnay akan sengsara di akhir hayatnya, sebagai azab dari Allah. yang mencari pekerjaan juga susah,

  6. triyono says:

    semoga hati kita dibersihkan dari dosa zina.

  7. Madrasah Aliyah says:

    Semoga kita tidak pernah berhutang pada ALLAH SWT

  8. rahlina muskar says:

    na`uzu bi llah…ya Allah lindungilah anak dan keturunan kami dari berbuat zina..apakh yang harus dilakukan org yg sdh sempat berzina? cukupkah hanya bertaubat? bila dia sdh bertaubat msihkah keluarganya mendapt blasan dari apa yg dilakukannya?

  9. Assariie says:

    Zina penghambat rizki

  10. Agus Prihandono says:

    Ya A;llah, jauhkan hamba, istri hamba dan anak2 keturunan hamba, serta saudara2 sesama muslim, dari perbuatan zina. Amin ya Robbal ‘alamin.

  11. yunyun says:

    Hukuman apa buat seorang penzina yg sudah
    Menikah atau belom saat masih di dunia?

  12. hamba Alloh says:

    Melihat realita seperti makanya kita perlu jelaskan bahwa hal tersebut adalah salah dan tidak ada dasarnya, hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

    وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لاَ يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ.

    “Dan orang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lian) untuk memikul dosanya itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azdab Tuhanya (sekalipun) mereka tidak melihatNya. Dan barang siapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan untuk dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah kembali(mu)”.[1]

    Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa seseorang tidak akan bisa menanggung dosa orang lain sedikitpun dan Allah tidak akan membebankan dosa orang lain itu kepada siapapun meskipun dia dari kerabat. Kemudian di dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman:

    وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى.

    “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatanya (dosanya) kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.[2]

    Ayat ini juga menerangkan bahwa seseorang yang mengerjakan dosa, maka ia telah mencelakakn dirinya sendiri dan tidak bisa mencelakakan orang lain.

    Dua ayat Al-Qur’an di atas secara garis besar dan tegas menunjukkan pengertian bahwa siapapun mereka dan apapun kedudukannya, ia tidak akan terbebani menanggung dosa orang lain meskipun dosa orang tuanya. Lalu bagaimana dengan hadits Rasulullah SAW yang mengatakan keturunan pezina tidak akan masuk surga?. Untuk itulah mari kita tela’ah pendapat-pendapat para Sahabat Nabi dan Ulama tentang dilalah atau arahan hadits Rasulullah SAW tersebut.

    Pendapat Para Sahabat Nabi dan Ulama’

    A’isyah r.a istri Rasulullah berpendapat berkenanan dengan keturunan orang zina; “Anak pezina tidak akan menanggung sedikitpun dosa yang dilakukan kedua orang tuanya. Hal ini berdasarkan firman Allah yang berbunyai:

    وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى.

    “Dan orang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.[3] Juga dalam kesempatan yang lain A’isyah r.a pernah mendengar sabda Rasulullah SAW;

    عن عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “وَلَدُ الزِناَ شَرُ الثلاَثَةِ إِذاَ عَمِلَ بِعَمَلِ اَبَوَيْهِ”.

    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Anak orang zina adalah orang ketiga yang berbuat kejelekan jika ia juga melakukan perbuatan orang tuanya”.[4]

    Dalam hadits di atas Rasulullah SAW memberi sinyal bahwa, anak orang zina merupakan orang jelek ketiga setelah orang tuanya jika ia melakukan perbuatan zina seperti perbuatan orang tuanya. Mafhum mukhalafah (pengertian sebaliknya) dari hadits tersebut adalah, jika anak orang zina tidak melakukan perbuatan seperti perbuatan orang tuanya (tidak melakukan zina), maka dia tidak termasuk golongan orang jelek. Hadits dan pemahaman ini juga didukung oleh Ibnu Abbas dan Shofyan Ats-Tsaury, bahwa anak orang zina bisa masuk neraka jika ia juga melakukan perbuatan zina.[5] Demikianlah patutnya pengertian dari pada hadits yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tersebut.

    Sedangkan menurut Syekh Abu Hatim dalam memahami hadits penafian anak zina adalah, bahwa hadits yang mengatakan “Tidak masuk surga anak keturunan pezina” hanya berlaku menurut keumumannya. Artinya, seorang anak menurut kebiasaan umum tidak akan jauh dari watak dan kelakuan orang tuanya. Seandainya orang tuanya pencuri, maka anaknya juga berpotensi menjadi pencuri, begitu juga jika orang tuanya sering melakukan perbuatan zina, maka anaknya kelak juga berpotensi melakukan perbuatan zina. Itu berarti tidak semua keturunan pezina bisa difonis akan masuk neraka dikarenakan perbuatan orang tuanya. Sebab seorang anak tidak akan menanggung sedikitpun dosa yang dilakukan orang tuanya. Apalagi justru tidak sedikit dari mereka (keturunan anak zina) yang justru beriman dan beramal shalih.[6]

    Syekh Ibnu Taimiyyah saat ditanya tentang anak keturunan zina, beliau juga memberi jawaban sama dengan pendapat di atas. Beliau berkata: “Anak keturunan zina jika beriman dan beramal shalih tetap akan masuk surga. Dan jika tidak beriman dan atau tidak beramal shalih, maka akan dibalas sesuai dengan perbuatanya seperti yang lainya. Pembalasan Allah itu menurut amal perbuatan manusia, bukan karena keturunannya. Sedangkan keturunan orang zina diremehkan, karena biasanya ia berpotensi melakukan perbuatan seperti orang tuanya. Padahal tidak semuanya demikian. Dan makhluk yang paling mulya dihadapan[7] Allah adalah yang paling takwa di antara mereka”.[8]

    Pada prinsipnya, dosa dan sanksi zina di dunia dan akhirat hanya ditanggung oleh orang tuanya. Tetapi dikhawatirkan sifat bawaan yang negatif itu akan terwarisi dan akan membawanya untuk berbuat buruk dan kerusakan. Namun hal ini tidak selalu menjadi acuan, kadangkala Allah akan memperbaikinya sehingga menjadi manusia yang alim, bertakwa lagi wara’, dengan demikian menjadi satu kombinasi yang terdiri atas tiga komponen yang baik. Wallahu a’lam.

  13. Kisah Hikmah Kehidupan Terbaik says:

    Wah, ngeri juga ya sob bahaya Zina. Mudah-mudahan kita senantiasa dihindari dari segala macam perbuatan maksiat terutama Zina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>