Ummu Darda al-Kubra

Nama dan Nasab

Kita akan membahas profil singkat seorang sahabat wanita yang bernama Khairah binti Abi Hadrad al-Aslami. Atau yang lebih dikenal dengan kun-yahnya Ummu Darda al-Kubra. Disebut al-Kubra yang artinya senior karena ada Ummu Darda ash-Shugra yang artinya junior. Keduanya merupakan istri dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu. Khairah adalah istri yang tua. Karena itu disebut Ummu Darda al-Kubra (senior).

Ummu Darda al-Kubra menyandang status sebagai sahabat nabi. Ia adalah salah sorang wanita yang mulia dan yang cerdas. Seorang yang bijak pendapatnya dan ahli ibadah.

Bersama Rasulullah

Diriwayatkan dari Sahl bin Muadz dari ayahnya dari Ummu Darda. Ummu Darda radhiallahu ‘anhu berkata:

خرَجتُ منَ الحمَّامِ فلقِيَني رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ فقالَ مِن أينَ يا أمَّ الدَّرداءِ ؟ قالَت : منَ الحمَّامِ فقالَ والَّذي نَفسي بيدِهِ ما منَ امرَأةٍ تضعُ ثيابَها في غيرِ بيتِ أحَدٍ من أمَّهاتِها إلَّا وَهيَ هاتِكَةٌ كلَّ سترٍ بينَها وبينَ الرَّحمنِ

Saat keluar dari toilet, aku bertemu dengan Rasulullah. Beliau bertanya, “Dari mana, Ummu Darda”? Aku menjawab, “Dari toilet.” Beliau bersabda, “Tidak ada seorang wanita pun yang meletakkan pakaiannya di selain rumah salah seorang ibunya kecuali dia telah merobek-robek setiap tirai yang menutupi antara dia dengan Ar-Rahman. ” [HR Ahmad : 2/361, Thabarani di dalam Mu’jamul Kabir : 24/253, dishahihkan Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah : 7/1308 hadits no. 3442).

Di hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kaum wanita. Agar mereka tidak membuka aurat mereka di hadapan orang-orang yang tak halal melihatnya. Tidak berdandan ala-ala jahiliyah. Kalau mereka melakukan hal tersebut, ada konsekuensi yang berat yang akan ia terima. Ia telah merusak tirai rasa malu dan merusak hubungannya dengan Rabbnya. Larangan ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Ummu Darda berada di tempat yang berpotensi dia terlihat oleh orang lain. Karena itu para Muslimah, hati-hatilah. Dan perhatikanlah hal ini.

Bersama Suami

Aun bin Abu Juhaifah berkata bahwa ayahnya berkata, “Rasulullah mempersaudarakan Salman al-Farisi dengan Abu Darda. Suatu hari, Salman mengunjungi Abu Darda. Sesampainya di sana, ia lihat Ummu Darda tampil kusut. Ia berkata, ‘Bagaimana kondisimu, Ummu Darda’? ‘Saudaramu Abu Darda tak lagi membutuhkan dunia’, jawab Ummu Darda.

Lalu datang Abu Darda. Ia buatkan makanan untuk Salman. Ia berkata kepada Abu Darda, ‘Makanlah’. Abu Darda menanggapi, ‘Aku sedang puasa’. ‘Aku tak akan makan sampai kau ikut makan’, tegas Salman. Abu Darda pun makan.

Saat memasuki malam hari, Abu Darda memulai malamnya dengan hendak mengerjakan shalat. Salman berkata padanya, ‘Tidurlah’. Ia pun tidur. Lalu di tengah malam ia hendak shalat lagi. Salman berkata lagi, ‘Tidurlah’. Saat akhir malam, baru Salman berkata padanya, ‘Sekarang shalatlah’. Keduanya pun mengerjakan shalat malam. Lalu Salman berkata pada Abu Darda,

إن لربك عليك حقًّا, ولنفسك عليك حقًّا, ولأهلك عليك حقًّا, فأعط كل ذي حق حقه

“Sesungguhnya Rabmu punya hak atas dirimu. Dirimu sendiri punyak hak juga. Keluargamu juga punya hak atas dirimu. Karena itu, tunaikanlah masing-masing hak tersebut pada mereka yang memiliki hak.”

Abu Darda menyampaikan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi berkata,

صدق سلمان

“Salman benar.”

Wafat

Ummu Darda al-Kubra wafat dua tahun lebih awal dibanding Abu Darda. Ia wafat di Syam di masa pemerintahan Utsman bin Affan.

Diterjemahkan secara bebas dari: https://islamstory.com/ar/artical/22080/أم_الدرداء_الكبرى

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com