Abu al-Ash, Menantu Rasulullah

Abul Ash bin ar-Rabi’ al-Qurasyi adalah menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia suami dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak kisah yang menceritakan tentang keistimewaannya. Sampai akhirnya ia wafat di masa pemerintahan Abu Bakar, di bulan Dzul Hijjah tahun 12 H.

Nasab dan Kabilahnya

Pemuda Quraisy ini nasabnya mulia. Dia adalah Abul Ash bin ar-Rabi’ bin Abdul Uzza bin Abdu asy-Syams bin Abdu Manaf bin Qushay al-Qurasyi al-Absyami. Ia adalah suami dari putri sulung Rasulullah, Zainab radhiallahu ‘anha (Ibnu Abdil Bar: al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ash-hab, 4/1701). Ibunya adalah Halah bin Khuwailid, saudari perempuan Khadijah.

Profil Abul Ash

Pertama: Menepati Janji

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memujinya, “Dia berbicara padaku, dan ucapannya jujur. Dia berjanji padaku, dan ia tepati janjinya.”

Kedua: Amanah

Abul Ash juga adalah seorang yang dikenal amanah. Ia termasuk laki-laki Quraisy yang diperhitungkan dalam kekayaan, amanah, dan kepandaian berdagang. (Adz-Dzahabi: Tarikh al-Islam, 3/75-76).

Memeluk Islam

Menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini masih berada di atas agama nenek moyangnya hingga mendekati penaklukkan Kota Mekah. Suatu hari, pada bulan Jumadil Ula tahun 6 H, Abul Ash bersafar dagang menuju Syam. Ia membawa harta orang-orang Quraisy dan barang dagangan mereka. Saat ia selesai berdagang dan menemui kafilahnya, pasukan Rasulullah menemuinya. Ada juga yang mengatakan bahwa Rasulullah sendiri yang mengarahkan pasukan itu menuju kafilah dagang yang ada Abul Ash di dalamnya.

Pasukan itu terdiri dari 700 orang penunggang kuda/onta. Mereka dipimpin oleh Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. Pasukan ini berhasil mengambil harta yang dibawa di atas hewan dan menawan sejumlah orang. Namun Abul Ash berhasil melarikan diri. Saat pasukan itu tiba di Kota Madinah dengan bawaan mereka, Abul Ash menemui mereka di malam harinya dalam rangka meminta hartanya. Ia menemui Zainab putri Rasulullah dan meminta perlindungan padanya. Ia pun memberinya perlindungan.

Pagi harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah untuk shalat subuh. Beliau terkejut dan bertakbir. Orang-orang yang bersama beliau pun ikut bertakbir. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Zainab berteriak, ‘Aku telah memberi jaminan pada Abul Ash bin ar-Rabi’.”

Setelah Rasulullah usai menunaikan shalat, beliau menghadap pada jamaah. Beliau bersabda, “Jamaah sekalian, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar”? Mereka menjawab, “Iya.” Beliau meneruskan, “Demi Allah, aku tak tahu apapun dari Zainab. Hingga aku mendengar yang kalian dengar. Sesungguhnya perlindungan itu berlaku walaupun dari rakyat biasa kaum muslimin.” Karena jaminan keselamatan itu, meskipun berstatus perang dengan orang-orang kafir Mekah, Abul Ash tidak boleh disentuh oleh kaum muslimin.

Dari masjid, Nabi masuk ke rumah putrinya, Zainab. Beliau berkata, “Anakku, berilah padanya layanan yang terbaik. Tapi jangan biarkan ia berduaan bersamamu, karena engkau tidak halal untuknya.”

Dalam riwayat lain juga dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah pernah mengirim pasukan perang dan mereka mendapatkan banyak harta dari Abul Ash. Rasulullah berkata kepada para sahabat, ‘Laki-laki ini dari kalangan kita sebagaimana yang kalian tahu (sama-sama Quraisy). Kalian telah mendapatkan harta darinya. Kalau kalian berkenan kalian bisa mengembalikan hart aitu padanya. Karena kita suka melakukan yang demikian. Namun kalau kalian enggan melakukannya, memang itu adalah harta fa-i yang Allah anugerahkan pada kalian. Kalian yang lebih berhak terhadap harta tersebut.”

Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami lebih memilih mengembalikan padanya.”

Aisyah menyatakan, “Orang-orang pun mengembalikan harta itu. Sampai-sampai seutas tali, wadah air yang usang, dan kantong kulit. Tidak ada sedikit pun yang tertinggal. Kemudian Abul Ash membawa itu semua menuju Mekah dan ia berikan kepada pemiliknya masing-masing dari relasi dagangnya.”

Kemudian Abul Ash berkata, “Wahai orang-orang Quraisy sekalian, apakah masih tersisa harta kalian padaku yang belum kalian ambil”? Mereka menjawab, “Jazakallahu khoir… (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Sungguh kami tahu engkau adalah seorang yang menunaikan amanah dan mulia.”

“Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang benar kecuali Allah. Dan Muhmmad adalah hamba dan utusan-Nya. Kalian tidak menghalangiku memeluk Islam kecuali kalian sangka kalau aku memeluk Islam aku akan mengambil harta kalian. Saat Allah telah menyerahkan itu semua pada kalian. Selesai urusanku dan aku memeluk Islam.” kata Abul Ash. Kemudian dia berangka menuju Rasulullah di Madinah. (al-Hakim an-Naisaburi: al-mustadrak ‘ala ash-Shahihain 3/262 No: 5038).

Kalung Ibu Mertua

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Saat orang-orang Mekah mengutus seseorang utus menebus tawanan mereka (di Perang Badar), Zainab binti Rasulullah (yang saat itu masih tinggal di Mekah) mengirim tebusan untuk suaminya Abul Ash. Ia mengirimkan kalung yang merupakan pemberian ibunya, Khadijah. Ibunya menghadiahkan kalung itu saat ia mulai berumah tangga dengan Abul Ash.

Melihat kalung itu, Rasulullah begitu terenyuh pada putrinya itu. Beliau berkata pada para sahabat, ‘Kalau kalian berpandangan membebaskan tawanannya dan mengembalika hartanya, lakukanlah’. Para sahabat menjawab, ‘Tentu Rasulullah’. Mereka pun membebaskan Abul Ash dan mengembalikan harta tebusannya.

Rasulullah berkata pada Abul Ash agar merelakan Zainab untuk tinggal bersamanya di Madinah. Walaupun ucapan ini tersirat dari Rasulullah, tapi Abul Ash paham Nabi menginginkan hal itu. Lalu Nabi berpesan pada Zaid bin Haritsah dan seorang Anshar, “Tunggu di daerah Bathni Najih sampai Zainab menemui kalian berdua. Lalu temanilah dia.”

Sesampainya di Mekah, Abul Ash meminta istrinya agar menyusul ayahnya. Zainab pun keluar Mekah secara terang-terangan (al-Haitsami: Majmu’ az-Zawaid, 9/343).

Wafatnya

Ibrahim bin al-Mundzir mengatakan, “Abul Ash bin ar-Rabi’ wafat di masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Tepatnya di bulan Dzul Hijjah tahun 12 H. (Ibnu Hajar: al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shahabah, 7/251).

Diterjemahkan dari: https://islamstory.com/ar/artical/34040/أبو_العاص_بن_الربيع

Oleh Nurfitri Hadi (IG: nurfitri_hadi)
Artikel www.KisahMuslim.com