Kisah Pilihan

Biografi Nabi Ismail: Peristiwa Penyembelihan (Bagian 3)

Ketiga: Ismail dan Peristiwa Penyembelihan

Allah Ta‘ālā berfirman,

فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ * فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ * فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ * وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ * قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ * إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ * وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ

“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat penyantun. Ketika anak itu sampai pada (umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Dengan izin Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 101–107)

Lihat pula tafsir ayat-ayat tersebut pada jawaban nomor: 5522. Pendapat yang benar adalah bahwa putra yang hendak disembelih ialah Ismail ‘alaihis salām, bukan Ishak ‘alaihis salām. Ibnu Taimiyah raḥimahullāh berkata, “Secara umum, perselisihan mengenai masalah ini memang masyhur. Namun, yang wajib diyakini dengan pasti adalah bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih ialah Ismail. Inilah pendapat yang didukung oleh Al-Qur’an, Sunah, dan berbagai dalil yang masyhur. Inilah pula yang ditunjukkan oleh Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab.”

Kisah ini menunjukkan bahwa putra yang akan disembelih adalah Ismail dari beberapa sisi. Di antaranya, bahwa Allah terlebih dahulu memberikan kabar gembira tentang putra yang akan disembelih dan menyebutkan kisahnya terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan penyebutan kisah tersebut, Allah berfirman,

وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ * وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ

“Dan Kami memberikan kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Dan Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak.” (QS. Ash-Shaffat: 112–113)

Dengan demikian, jelas bahwa itu adalah dua kabar gembira yang berbeda, yaitu kabar gembira tentang putra yang diperintahkan untuk disembelih dan kabar gembira yang kedua tentang kelahiran Ishak. Ini gamblang sekali. Hal lain yang menunjukkan bahwa putra yang diperintahkan untuk disembelih bukanlah Ishak ialah firman Allah Ta‘ālā,

فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ

“Lalu Kami menyampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan setelah Ishak akan lahir Ya‘qub.” (QS. Hud: 71)

Bagaimana mungkin setelah itu Allah memerintahkan agar Ishak disembelih? Kabar gembira tentang kelahiran Ya‘qub mengharuskan bahwa Ishak akan tetap hidup hingga memiliki seorang putra bernama Ya‘qub. Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa peristiwa penyembelihan terjadi sebelum kelahiran Ya‘qub. Bahkan, Ya‘qub baru lahir setelah wafatnya Ibrahim ‘alaihis salām, sedangkan peristiwa penyembelihan terjadi ketika Ibrahim masih hidup, tanpa perlu diragukan. (Majmū‘ Al-Fatāwā, 4/335)

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Katsir raḥimahullāh berkata dalam Al-Bidāyah wan-Nihāyah (1/442), “Nabi Ibrahim Al-Khalīl memiliki beberapa orang putra. Akan tetapi, yang paling terkenal di antara mereka adalah dua orang bersaudara yang sama-sama nabi agung dan rasul, yang mana yang lebih tua di antara keduanya, sekaligus yang lebih mulia—serta menurut pendapat yang benar merupakan putra yang diperintahkan untuk disembelih—ialah Ismail, putra sulung Ibrahim Al-Khalīl dari Hajar Al-Qibṭiyyah Al-Miṣriyyah ‘alaihās salām, atas karunia dari Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia.

Adapun orang yang berpendapat bahwa putra yang akan disembelih adalah Ishak, maka pendapat itu hanyalah bersumber dari riwayat-riwayat Bani Israil yang telah mengubah, memutarbalikkan, dan menyelewengkan Taurat serta Injil, juga menyelisihi Al-Qur’an yang ada di hadapan mereka dalam perkara ini. Padahal Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra sulungnya, dan dalam riwayat lain disebut ‘putra tunggalnya’. Bagaimanapun redaksinya, berdasarkan dalil yang tegas, putra itu adalah Ismail. Dalam naskah kitab mereka sendiri disebutkan bahwa Ismail lahir ketika usia Ibrahim delapan puluh enam tahun, sedangkan Ishak baru lahir ketika usia Ibrahim telah mencapai seratus tahun. Jadi, Ismail adalah putra sulungnya tanpa perlu diragukan. Bahkan, ia juga merupakan putra tunggal, baik secara realitas pada masa itu maupun dari secara makna.”

Dengan masing-masing asumsi tersebut, bahwa secara realitas, Ismail memang merupakan putra tunggal karena selama lebih dari tiga belas tahun ia adalah satu-satunya anak Ibrahim. Adapun secara makna, ia adalah putra tunggal yang mana ayahnya berhijrah bersamanya dan bersama ibunya, Hajar, ketika ia masih kecil, bahkan menurut suatu pendapat masih bayi yang menyusu. Ibrahim menempatkan keduanya di lembah-lembah pegunungan Faran, yaitu pegunungan yang berada di sekitar Makkah, sebaik-baik tempat mukim. Beliau meninggalkan keduanya di sana dengan bekal makanan dan air yang sangat sedikit. Hal itu dilakukan atas dasar keyakinan dan tawakal beliau kepada Allah. Maka Allah Ta‘ālā menjaga keduanya dengan pemeliharaan dan kecukupan dari-Nya. Dialah sebaik-baik Yang Mencukupi, Yang Melindungi, Yang Diserahi urusan, dan Yang Menjamin. Inilah yang dimaksud bahwa Ismail adalah putra tunggal, baik secara realitas maupun secara makna.

Akan tetapi, di mana orang yang dapat memahami detail ini dan dapat mencapai pemahaman seperti ini? Makna tersebut tidak dapat dipahami dan dimengerti ilmunya kecuali oleh setiap orang yang teliti dan baik. Selesai. Lihat pula penjelasan Ibnu Qayyim dan dukungannya terhadap pendapat Ibnu Taimiyah raḥimahumallāh dalam Zādul Ma‘ād (1/71). Lihat juga jawaban nomor: 347041 dan 108912.

Bersambung …

Flashdisk Video Belajar Iqro - Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28