Pertanyaan:
Mungkin bisa dijelaskan biografi syekh Aq Syamsuddin bin Hamzah, sang guru Muhammad Al-Fatih, yang dianggap sebagai salah satu ulama terbaik pada masanya?
Jawabannya:
Alhamdulillah. Nama lengkapnya adalah syekh Muhammad bin Hamzah bin Muhammad bin Muhammad Ar-Rūmi, Syamsuddin Al-Hanafi, yang dikenal sebagai nama Ibnul Fanari. Dia punya kontribusi penting terhadap ilmu-ilmu Islam. Dia memiliki pengetahuan yang baik tentang bahasa Arab dan ilmu qiraah Al-Quran. Dia memiliki beberapa karya tulis dalam bidang tafsir, Ushul Fikih, disamping wawasannya di bidang kedokteran. Hanya saja, dia adalah seorang sufi dan mengidolakan
Ibnu ʿArabī Aṯ-Ṯāʾī —penulis kitab Al-Fuṣuṣ dan Futuhat, yang penuh dengan kalimat-kalimat kekufuran dan akidah H̱ulūl wa Ittiẖād (bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala membaur bersama makhluk dan menyatu dengan makhluk)— yang biografinya telah dibahas sebelumnya pada jawaban soal no. 7691. Dahulu dia (Ibnul Fanarī) membacakan kitab Al-Fusus dan menjelaskannya kepada manusia.
Al-Hafiẓ Ibnu Hajar —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Merahmatinya— berkata bahwa ia lahir di bulan Safar 751 H. Dia mulai belajar di negerinya di bawah bimbingan Al-ʿAllāmah ʿAlāʾuddīn yang dikenal dengan nama Al-Aswad, pensyarah kitab Al-Mughni. Dia juga belajar dari Al-Kamāl Muhammad bin Muhammad Al-Maʿarrī dan Al-Jamāl Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Aqṣaraʾī, dan selain mereka.
Dia mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan mengembara ke daerah-daerah di Mesir pada 778 H saat dia berusia dua puluh tahun. Di sana dia belajar kepada syekh Akmaluddīn dan lain-lain. Kemudian dia kembali wilayah Rūm (daerah Anatolia, pent.) dan menjadi hakim di Burṣā untuk beberapa lama. Kemudian dia dipindahkan ke kota Konya dan menetap di sana. Ketika terjadi peperangan antara Ibnu Qarmān dan Ibnu Utsman di mana Ibnu Qarmān mengalami kekalahan.
Lalu Ibnu Utsman menjadikan syekh Syamsuddīn ini orang kepercayaannya dan mengangkatnya sebagai penanggung jawab peradilan kerajaannya dan mengangkat kedudukannya di sisinya. Di sisinya, dia mencapai puncak karirnya dan menjadi setingkat wazir hingga namanya tersohor dan keutamaannya tersebar.
Dia adalah orang yang sangat berwibawa dan sering berbagi dan berderma. Hanya saja, dia dikritik karena menyukai Ibnul ʿArabī dan mengajarkan kitab Al-Fuṣūṣ dan menyetujuinya. Ketika dia datang ke Kairo, dia tidak menunjukkan semua itu. Dia melakukan haji pada tahun 822 H.
Sepulang haji, Al-Mu’ayyid memanggilnya, maka dia kembali Kairo dan bertemu dengan orang-orang terkemuka di sana. Tidak nampak sama sekali darinya tentang tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya, karena beberapa orang yang peduli terhadapnya menasihatinya untuk tidak membicarakan hal-hal tersebut, sehingga dia bisa bergabung bersama tokoh-tokoh terkemuka pada zaman tersebut. Mereka berdiskusi dan berdialog dengannya hingga mereka mengakui keutamaannya.
Setelah itu dia kembali ke Al-Quds untuk menziarahinya lalu dia pulang ke kampung halamannya. Dia sangat menguasai ilmu qiraah Al-Quran, bahasa Arab, dan makna-makna bahasa Arab, serta memiliki kontribusi dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Kemudian dia pergi haji pada tahun 833 H melalui jalur Antiokhia. Sepulang perjalanan, dia meninggal di tanah kelahirannya di bulan Rajab. Dia pernah mengalami pembengkakan di matanya hingga membuatnya buta, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia buta kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mengembalikan penglihatannya. Maka dari itu, dia melakukan haji terakhirnya ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selesai kutipan dari Inbā’ul Ghumar fī Abna’il ʿAmri (3/ 464).
Diriwayatkan bahwa Sultan Turki Ustmani, Muhammad Khan, sang penakluk Konstantinopel, dahulu sangat menghormati dan memuliakannya. Penulis kitab Asy-Syaqāʾiq An-Nuʿmāniyyah fī ʿUlamāʾ Ad-Daulah Al-ʿUtsmāniyyah (hal. 140) mengatakan bahwa sultan Muhamad Khan suatu ketika datang ke tenda Syekh ketika dia sedang berbaring. Dia sama sekali tidak berdiri untuk menyambutnya. Sultan Muhammad Khan lantas mencium tangan Syekh dan berkata, “Aku datang kepadamu karena aku membutuhkan sesuatu darimu.” Dia berkata, “Ada perlu apa?” Dia berkata, “Saya ingin khalwat di tempatmu selama beberapa hari.” Syekh berkata, “Tidak!” Dia mengulangi permintaannya beberapa kali, tapi dia terus berkata, “Tidak!”
Syekh berkata, “Jika Anda mulai berkhalwat, Anda akan merasakan kelezatan yang membuat kerajaan ini tidak bernilai di mata Anda sehingga rusak segala urusannya, yang dengan demikian Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan Murka kepada kita. Tujuan khalwat adalah menegakkan keadilan, maka lakukan ini dan itu saja —lalu dia menyampaikan beberapa nasihat yang menurutnya sesuai. Sultan Muhammad Khan berdiri dan berpamitan sementara Syekh masih berbaring seperti sedia kala. Ketika Sultan Muhammad Khan keluar, dia berkata kepada Ibnu Waliyyuddīn, “Syekh sama sekali tidak berdiri untukku,”—dia menunjukkan kekesalannya karena perlakuan itu. Ibnu Waliyyuddīn berkata, “Syekh melihat ada kesombongan dalam diri Anda karena penaklukan ini yang tidak dapat dicapai oleh penguasa-penguasa besar sekalipun. Syekh adalah seorang pendidik, maka dia ingin menghilangkan kesombongan tersebut dari dalam diri Anda.” Selesai kutipan.
Bughyatu Ar-Ruʿāh (1/97) dan Syadzarāt Adz-Dzahab (9/304). Dia meninggal pada tahun 834 H sebagaimana tersebut dalam kitab Al-A’lām karya Az-Zarkali (6/110). Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.
Sumber:
https://islamqa.info/ar/answers/240396/ترجمة-الشيخ-محمد-بن-حمزة-الرومي-،-المعروف-بابن-الفَنَري

