Pertanyaan:
Siapakah Harut dan Marut? Mereka manusia atau malaikat? Jika mereka adalah malaikat, apakah mereka maksum (terbebas dari dosa) meskipun mengajarkan sihir kepada manusia?
Jawaban:
Segala puji bagi Allah. Nama Harut dan Marut disebutkan dalam Al-Quran hanya di satu tempat.
Dengan menadaburi ayat tersebut, seseorang akan mengetahui hakikat perkara berikut:
- Mereka adalah malaikat, bukan manusia.
- Mereka diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengajarkan kepada manusia sesuatu yang bisa melindungi mereka dari keburukan, bukan karena mereka dihukum karena dosa mereka.
Berdasarkan hal itu, barang siapa mengklaim bahwa mereka adalah manusia atau bahwa mereka adalah malaikat yang terjatuh ke dalam kemaksiatan lalu Allah Subẖānahu wa Ta’ālā mengutuk mereka menjadi wujud lain, maka dia telah berbicara tentang perkara gaib tanpa dasar ilmu. Dia telah mengklaim sesuatu yang merendahkan para malaikat Allah yang mulia dan meyakini sesuatu yang tertulis dalam kitab-kitab Bani Israil tanpa dilandasi dalil yang benar dari wahyu yang maksum.
Allah Subẖānahu wa Ta’ālā berfirman,
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidaklah kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.’ Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (bisa) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka sudah tahu bahwasanya orang yang membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat, dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.” (QS. Al-Baqarah: 102).
Syekh Abdur Rahman as-Sa’di —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya— berkata, “Demikian juga orang-orang Yahudi, mereka mengikuti sihir yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia di tanah Irak. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan sihir melalui mereka sebagai fitnah dan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya dengan mengajarkan kepada mereka ilmu sihir.
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى
(Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum menasihatinya.)
يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ
(mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’)
maksudnya, kalian jangan belajar sihir karena itu adalah kekafiran. Mereka sendiri melarang sihir dan mereka memberitahukan tentang status ilmu sihir tersebut.
Kemudian para setan mengajarkan sihir untuk menipu manusia dan menyesatkan mereka lalu menyebarkannya dan menyandarkannya kepada Sulaiman ‘Alaihis Salām, seseorang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan terbebas dari sihir. Jadi, pengajaran sihir dari dua malaikat tersebut disertai dengan nasihat untuk menjadi ujian, agar mereka tidak lagi memiliki alasan. Orang-orang Yahudi ini mengikuti sihir yang diajarkan oleh setan dan sihir yang diajarkan kedua malaikat tersebut dan meninggalkan ilmu para nabi dan rasul karena lebih memilih ilmu setan, karena memang setiap orang akan condong dengan apa yang cocok dengan dirinya.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keburukan-keburukan sihir dengan firman-Nya,
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ
‘Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (bisa) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya.’
Padahal kecintaan antara suami istri adalah hubungan yang tiada bandingannya, karena Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah Memfirmankan tentang hubungan mereka berdua,
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
‘Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.’ (QS. Ar-Rum: 21).
Ini adalah dalil bahwa sihir itu nyata dan bisa mendatangkan bahaya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan kehendak-Nya. Izin Allah ada dua jenis (1) Izin Qadarī, yang berkaitan dengan kehendak Allah, seperti dalam ayat ini. (2) Izin Syar’ī, seperti dalam firman-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā pada ayat sebelumnya,
فَإِنَّهُ نزلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ
‘Dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah.’ (QS. Al-Baqarah: 97).
Dalam ayat ini dan ayat-ayat semisalnya menjelaskan bahwa sebab apa pun dan seberapa kuat akibatnya, tetap semua itu mengikuti pada takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidak memberi pengaruh dengan sendirinya. Tidak ada sekte-sekte umat Islam yang menyelisihi kaidah ini kecuali Qadariyah dalam masalah perbuatan-perbuatan hamba. Mereka menyangka bahwa perbuatan-perbuatan tersebut terlepas dari kehendak-Nya dan tidak tunduk dengannya sehingga mereka mengeluarkannya dari cakupan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka telah menyelisihi Kitab Allah, sunah Rasul-Nya, dan kesepakatan para sahabat dan para tabiin.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa ilmu sihir itu murni berbahaya dan tidak memiliki manfaat sama sekali, baik untuk agama maupun dunia. Padahal ada beberapa manfaat duniawi dalam beberapa bentuk dosa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā tentang minuman keras dan judi (yang artinya),
قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا
‘Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219).
Adapun sihir ini seratus persen berbahaya sehingga sama sekali tidak ada alasan untuk mempraktikkannya. Semua larangan-larangan, kemungkinannya adalah murni berbahaya atau keburukannya lebih besar dari kebaikannya, seperti halnya semua perintah, kemungkinannya murni kebaikan atau kebaikannya lebih besar daripada keburukannya.
وَلَقَدْ عَلِمُوا
(Sungguh, mereka sudah tahu.)
yakni orang-orang Yahudi
لَمَنِ اشْتَرَاهُ
(Bahwasanya orang yang membelinya (sihir).)
yakni orang yang menginginkan sihir seperti pembeli yang sangat ingin membeli sebuah barang,
مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ
(Niscaya tidak akan mendapat apa pun di akhirat,) yakni bagian (kebaikan, pent.), bahkan mendatangkan azab. Jadi, perbuatan mereka itu bukan karena tidak tahu ilmunya, tapi mereka lebih memilih dunia daripada akhirat.
وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
(Sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.” (QS. Al-Baqarah: 102).
Maknanya bahwa ilmu akan membuahkan amal, namun mereka tidak mengamalkannya.” (Tafsīr as-Saʿdi, halaman 61).
Segala sesuatu yang tidak semakna dengan Al-Quran tentang dua malaikat ini, maka berasal Isrāʾiliyyāt, dan itu terbantahkan dengan riwayat sahih yang menjelaskan kemaksuman para malaikat secara umum tanpa ada dalil yang mengecualikannya dari kaidah umum tersebut.
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ * لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ * يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 26-28).
Ibnu Katsir —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya— berkata bahwa kisah tentang Harut dan Marut tersebut diriwayatkan dari sebagian tabiin seperti Mujahid, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Abul ‘Āliyah, Az-Zuhri, Al-Rabīʿ bin Anas, Muqatil bin Hayyan, dan lain-lain. Hal tersebut juga dikisahkan oleh para ahli tafsir klasik dan kontemporer, namun rincian-rincian kisah tersebut adalah bersumber dari kabar-kabar Bani Israil (Isrāʾīliyyāt), karena dalam kisah tersebut tidak ada riwayat Marfūʿ yang sahih yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi yang jujur, dipercaya, dan maksum Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Adapun secara tekstual Al-Quran, maka kisah tersebut konteksnya umum tanpa ada rincian dan detail yang panjang, sehingga kita harus mengimani apa yang tersebut dalam Al-Quran sebagaimana yang Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Kehendaki, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih Mengetahui hakikat sebenarnya. Tafsir Ibnu Katsir (1/360). Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih Mengetahui.
Sumber:

