Pertanyaan:
Saya ingin mendapatkan informasi tentang Nabi Ismail ‘alaihis salām.
Ringkasan Jawaban:
Beliau adalah putra pertama Nabi Ibrahim ‘alaihis salām, dan ibunya bernama Hajar. Beliau adalah seorang rasul sekaligus nabi. Dialah putra yang “disembelih”, yang dari keturunannya lahir Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau membantu ayahnya dalam membangun Ka‘bah. Beliau adalah anak yang berbakti kepada ayahnya, tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah Ta‘ālā, mempelajari dasar-dasar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, kemudian setelah mempelajarinya, Allah mengilhamkan kepadanya bahasa Arab yang fasih dan jelas, sehingga beliau cakap bertutur dengannya.
وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
“Dan dia senantiasa menyuruh keluarganya melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 55)
Biografi Nabi Ismail: Nasab dan Masa Kecilnya
Jawaban:
Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Adapun berikutnya:
Pertama: Nasab Nabi Ismail ‘Alaihis Salām
Beliau adalah Ismail putra Ibrahim Al-Khalīl ‘alaihimas salām. Ibunya adalah Hajar raḍiyallāhu ‘anhā. Beliau adalah nenek moyang bangsa Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab yang mempelajari bahasa Arab), dan dari keturunannya lahir penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ رواه مسلم (2276). وانظر: إجابة رقم: (224203)
“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim no. 2276). Lihat juga jawaban nomor: 224203.
Kedua: Tinggalnya Ismail di Makkah dan kisah Zamzam
Telah diriwayatkan secara valid dalam Shahih Al-Bukhari kisah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salām meninggalkan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail ‘alaihis salām, di sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman, usaha Hajar mencari air, serta memancarnya mata air Zamzam. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 3364), dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā:
أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ المِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ، … ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ، حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ البَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ، فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى المَسْجِدِ، وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ، وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ، فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ، ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا
“Kaum wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah ibunda Ismail. … Kemudian Ibrahim mengajak Hajar dan putranya, Ismail, yang saat itu masih disusuinya, hingga beliau menempatkan mereka berdua di dekat Baitullah, di bawah sebuah pohon, di atas lokasi Zamzam, di sisi atas Masjidil Haram. Ketika itu belum ada seorang pun di Makkah dan belum ada sumber air di sana. Ibrahim meninggalkan keduanya di sana. Beliau meninggalkan untuk mereka sebuah kantong berisi kurma dan sebuah kantong kulit berisi air. Setelah itu Ibrahim berbalik pergi. Lalu ibunda Ismail mengikutinya seraya berkata,
يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا
“Wahai Ibrahim, ke manakah engkau pergi, sementara engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada apa pun di dalamnya?” Ia mempertanyakan hal itu berulang kali, sedangkan Ibrahim sama sekali tidak menoleh kepadanya.”
Lalu Hajar berkata kepadanya,
آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟
“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Ibrahim menjawab,
نَعَمْ
“Ya.”
Hajar berkata,
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا
“Kalau begitu, Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kami.”
Kemudian Hajar kembali, sedangkan Ibrahim terus melanjutkan perjalanannya. Ketika telah sampai di sebuah bukit sehingga mereka tidak lagi dapat melihatnya, beliau menghadap ke arah Baitullah, lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan doa ini,
رَبِّ (إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ المُحَرَّمِ) [إبراهيم/ 37] – حَتَّى بَلَغَ – (يَشْكُرُونَ) [إبراهيم/ 37]
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanaman, di dekat rumah-Mu yang suci …” hingga akhir ayat, “… agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Ibunda Ismail terus menyusui Ismail dan meminum air yang tersedia itu. Ketika air di dalam kantong kulit telah habis, ia pun merasa haus, begitu pula putranya. Ia melihat putranya yang menggeliat (atau beliau katakan: menggelinjang) kehausan. Maka ia pergi karena tidak sanggup melihat keadaan putranya.
Ia mendapati Bukit Shafa sebagai bukit yang paling dekat dengannya. Ia pun berdiri di atasnya, lalu menghadap ke arah lembah untuk melihat apakah ada seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Ia lalu turun dari Bukit Shafa. Ketika sampai di dasar lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya, kemudian berlari seperti larinya orang yang sangat kelelahan hingga melewati lembah. Setelah itu ia sampai di Bukit Marwah, berdiri di atasnya, lalu melihat apakah ada seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Hal itu dilakukannya sebanyak tujuh kali.
Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا
“Demikianlah asal muasal sai yang dilakukan manusia di antara keduanya (Shafa dan Marwah).”
Ketika Hajar telah sampai di Bukit Marwah, ia mendengar suara. Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri,
صَهٍ
“Diam!”
Kemudian ia mendengarkan dengan saksama, dan kembali mendengar suara itu. Lalu ia berkata,
قَدْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غِوَاثٌ
“Engkau telah memperdengarkan suaramu, barangkali engkau bisa menolong!”
Ternyata di tempat Zamzam ada seorang malaikat. Malaikat itu menghentakkan tanah dengan tumitnya (atau beliau katakan: dengan sayapnya) hingga air pun memancar. Hajar segera membuat kolam kecil di sekelilingnya sambil membendung air dengan tangannya seperti ini. Ia juga mengambil air dengan wadahnya, sedangkan air itu terus memancar setiap kali diambil.
Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ – أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ المَاءِ -، لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا
“Semoga Allah merahmati ibunda Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam (atau beliau bersabda: Seandainya ia tidak mengambil air darinya) niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)
Beliau mengisahkan,
فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا
“Lalu Hajar meminum air itu dan menyusui anaknya. Malaikat berkata kepadanya,
لاَ تَخَافُوا الضَّيْعَةَ، فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ، يَبْنِي هَذَا الغُلاَمُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَهْلَهُ
‘Janganlah kalian takut telantar, karena di sini ada Rumah Allah, yang kelak akan dibangun oleh anak ini bersama ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan penduduknya.’
Saat itu Baitullah tampak lebih tinggi daripada permukaan tanah seperti sebuah bukit kecil. Apabila banjir datang, air mengalir melewati sisi kanan dan kirinya. Keadaan itu terus berlangsung hingga datang kepada mereka sekelompok orang dari kabilah Jurhum, atau sebuah keluarga dari Jurhum, yang datang melalui jalan Kada’. Mereka singgah di sisi bawah Makkah. Lalu mereka melihat seekor burung yang berputar-putar. Mereka berkata,
إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ، لَعَهْدُنَا بِهَذَا الوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ
‘Burung ini pasti sedang berputar di atas air. Padahal yang kami ketahui, lembah ini tidak memiliki air.’
Maka mereka mengutus seorang atau dua orang pencari berita, ternyata memang ada air, maka mereka kembali dan memberitahukannya kepada rombongan. Mereka pun mendatangi tempat itu, sementara ibunda Ismail ada di dekat sumber airnya. Mereka berkata,
أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ؟
‘Apakah engkau mengizinkan kami tinggal di dekatmu?’ Hajar menjawab,
نَعَمْ، وَلَكِنْ لاَ حَقَّ لَكُمْ فِي المَاءِ
‘Ya, tetapi kalian tidak memiliki hak atas air ini.’
Mereka menjawab,
نَعَمْ
‘Baik.’” (HR. Al-Bukhari no. 3364)
Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُحِبُّ الإِنْسَ فَنَزَلُوا وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ فَنَزَلُوا مَعَهُمْ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ
“Hal itu menenangkan ibunda Ismail, karena ia senang tinggal bersama orang-orang. Maka mereka pun menetap di sana, lalu mengirim kabar kepada keluarga mereka, sehingga keluarga mereka ikut datang dan tinggal bersama mereka. Hingga akhirnya sejumlah keluarga dari mereka menetap di tempat itu. Ismail pun tumbuh besar dan belajar bahasa Arab dari mereka.”
Bersambung …

