Kisah Nabi dan Rasul

Lima Langkah untuk Melewati Musibah

Oleh:

Abdussalam bin Muhammad Ar-Ruwaihi

Manusia yang paling kuat keterikatannya dengan Tuhan adalah para nabi. Manusia yang paling kuat keyakinan dan kepercayaannya dengan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah para nabi. Manusia yang paling bagus optimismenya dan paling baik sangkaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah para nabi juga. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada mereka.

Dalam kisah Nabi Yusuf Alaihissalam, disebutkan luka yang mengingatkan luka, rasa sakit yang disusul rasa sakit lain, dan derita perpisahan yang menghadirkan kepahitannya. Derita ini ditanggung oleh ayahnya, Nabi Ya’qub Alaihissalam, tapi kesudahannya begitu indah dan akhir ceritanya manis terasa.

Pada akhir kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang disebutkan dalam surat yang diberi nama dengan nama beliau, surat Yusuf, Nabi Ya’qub mengirim anaknya, Benyamin bersama anak-anaknya yang lain ke Mesir, setelah meminta dari mereka janji untuk membawanya kembali pulang dalam keadaan selamat, kecuali jika mereka dikepung musuh. 

Anak-anak bersaudara itu akhirnya berangkat ke Mesir dan menemui penguasanya, Yusuf yang mengenal mereka tapi mereka tidak mengenalnya. Nabi Yusuf lalu membuat rencana untuk mengambil saudaranya, Benyamin setelah menyiapkan barang-barang untuk saudara-saudaranya. Rencana itu berhasil dan saudaranya berhasil beliau ambil. Saudara-saudaranya yang lain berusaha merayu dan memohon dengan segala cara kepada Nabi Yusuf agar membiarkan Benyamin pergi, dan salah satu dari mereka siap menggantikan posisinya. Namun, Nabi Yusuf enggan kecuali Benyamin yang diambil, karena berdasarkan bukti yang ada, Benyamin yang telah mencuri gelas sang raja. 

Ketika saudara-saudara itu sudah menyerah dan hendak kembali pulang ke negeri ayah mereka, saudara tertua mereka menolak ikut pulang bersama karena mereka telah membuat janji kepada ayahnya untuk membawa Benyamin pulang. Akhirnya mereka pulang tanpa disertai Benyamin dan saudara tertua, sehingga Ya’qub kehilangan dua anaknya lagi setelah kehilangan Yusuf sebelumnya. Ketika mereka menceritakan kisah yang terjadi kepada ayah mereka, teranglah bagi beliau kadar ujian dan besarnya musibah yang menimpanya, sehingga beliau hanya bisa mengatakan:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 83).

Dari sinilah mulai terlihat datangnya jalan keluar dan akhir dari rasa sakit berkat kesabaran yang baik, harapan yang besar, dan asa yang tiada ujung. “(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku.” (QS. Yusuf: 83). Kesabaran yang tidak diselingi keluh kesah, harapan yang tidak ada habisnya, dan asa yang tidak ada putusnya.

Nabi Ya’qub lalu pergi dari mereka dan tersingkap lagi luka lama yang belum sempat mengering. Beliau berkata: “Alangkah kasihan Yusuf” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan). (QS. Yusuf: 84).

Kedua matanya memutih karena kesedihan! Hal ini karena putih mata yang menimpanya tidak datang begitu saja, tapi karena kesedihan dan rasa sakit yang datang silih berganti ke dalam hati beliau, sehingga menyebabkan gangguan saraf penglihatan.

Matanya buta karena kesedihan mendalam. Kebutaan ini tidak datang begitu saja, tapi penglihatan beliau melemah sedikit demi sedikit hingga beliau buta akibat kesedihan mendalam yang memenuhi hati, kesedihan atas hilangnya Yusuf dan saudara-saudaranya. Luka yang disusul luka lain, kesedihan yang diiringi luka lain. Musibah-musibah dan luka-luka ini silih berganti bermula dari kepergian Yusuf, maka beliau menyebutkan nama Yusuf dalam kalimat ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ

“Dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. (QS. Yusuf: 84).

Kesedihan yang sudah menjadi tabiat jiwa manusia. Kesedihan yang tidak menafikan kesabaran, tidak diiringi dengan penolakan dan kemurkaan atas takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan bagaimana mungkin seorang Nabi Ya’qub, orang yang terluka dan tabah akan melupakan Yusuf? Bagaimana mungkin akan melupakan Yusuf, sedangkan ia telah memenuhi pandangan dan pendengarannya dengan kecintaan kepadanya? Bagaimana mungkin seorang ayah akan melupakan buah hati dan penyejuk matanya? Bagaimana mungkin itu terjadi terhadap Ya’qub, yang selalu khawatir terhadap Yusuf meski dengan hembusan hawa dingin yang menerpanya?

Orang-orang di sekitar beliau mengingkari kesedihan beliau terhadap Yusuf dan menyatakan bahwa kesedihan itu dapat menjerumuskan beliau ke dalam kebinasaan. Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa (wafat).” (QS. Yusuf: 85).

Namun beliau hanya menjawab mereka dengan berujar: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86).

Qatadah menjelaskan: “Dulu Nabi Ya’qub hanya menyimpan kesedihannya dalam dadanya, dan tidak mengucapkan ucapan kecuali yang baik.”

Bertahun-tahun Nabi Ya’qub Alaihissalam menjalani hidup dengan kesedihan mendalam. Seorang ulama tafsir mengatakan: “Itu selama 40 tahun, kendati demikian, tidak pernah terdengar dari beliau satu kalimat keluh kesah atau kemurkaan. Beliau hanya mencurahkan kesedihan dan aduannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demikianlah selayaknya sikap orang beriman bersama kesabaran, dan sikap yang lebih sempurna lagi adalah dengan ridha kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan memahamkan diri bahwa pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu lebih baik daripada pilihan dirinya sendiri. ‘Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’ (QS. Yusuf: 86).”

Putus asa tidak pernah masuk ke dalam hati Nabi Ya’qub yang penyabar itu. Justru semuanya diisi dengan sangkaan baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta sebaik-baik tawakal dan penyerahan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau lalu berkata kepada anak-anaknya melalui lisan seorang yang tabah, tawakal, dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْئسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Ketika musibah semakin berat menerpa, beliau tidak berputus asa, tapi justru meminta mereka pergi untuk mencari Yusuf dan saudaranya, dan bukan hanya mencari sekedarnya saja, tapi pencarian yang penuh ketelitian dan keingintahuan agar dapat menemukan mereka berdua.

Untuk mencari Benyamin, mungkin itu masih memungkinkan, tapi bagaimana mereka dapat mencari Yusuf, sedangkan telah berlalu sekitar 40 tahun sejak kehilangannya? Oleh sebab itu, Nabi Ya’qub menutup pesan beliau kepada anak-anaknya itu: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Selama apa pun waktu yang telah berlalu sejak ia hilang, janganlah kalian berputus asa dari jalan keluar dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena putus asa dari rahmat-Nya merupakan sifat orang-orang kafir.

Nabi Ya’qub Alaihissalam menjalankan langkah-langkah untuk keluar dari kesulitan dan melewatinya, dan ini tertuang dalam lima perkara:

Pertama: Bersabar. Allah Ta’ala berfirman: “(Kesabaranku) adalah kesabaran yang baik.” (QS. Yusuf: 83).

Kedua: Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 83).

Ketiga: Menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta bertawakal dan bersandar hanya kepada-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Keempat: mengerahkan usaha dan berikhtiar untuk keluar dari kesulitan, serta mencari anak-anaknya yang hilang dengan menanyakan dan mencari kabar berita tentang mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Ya’qub berkata: ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Yusuf: 86).

Kelima: Tidak berputus asa dari datangnya solusi atas kesulitan, meskipun waktu telah lama berlalu dan diperkirakan sudah tidak ada jalan keluar, tapi tetap tidak berhenti berharap dan terus mencari dan menanyakan kabar beritanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Lima langkah ini diamalkan Nabi Ya’qub Alaihissalam dalam ujian panjang dan musibah yang datang silih berganti. Lalu bagaimana hasilnya? Hasilnya sangatlah indah, akhir ceritanya lebih manis daripada madu. Ceritanya berakhir dengan kembalinya penglihatan, tercapainya harapan, perjumpaan kembali dengan orang terkasih yang telah lama hilang, lenyapnya segala kesusahan, hilangnya kesedihan, terangkatnya bala, kebahagiaan bagi orang yang sedih, kemenangan bagi orang yang terzalimi, pertaubatan pihak yang zalim, pemberian maaf bagi orang yang bersalah, persatuan yang terwujud kembali, mimpi yang menjadi kenyataan, dan tergapainya pahala bagi orang yang telah bersabar, ridha dengan ketetapan, dan bertaubat dari kesalahan.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Siapa yang bertakwa dan bersabar, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90).

Ini merupakan ringkasan kisah dan pelajaran terpentingnya. Ringkasan dari ujian-ujian besar yang dilalui satu per satu oleh Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub Alaihimassalam.

Lima langkah tersebut –dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala– merupakan jalan keluar dari segala musibah, sebesar dan seagung apa pun itu, dan meskipun sudah dikira tidak ada lagi jalan keluar dan solusi darinya. Perhatikanlah penutup surat ini yang menjadi penegas terhadap hakikat tersebut:

حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

“Sehingga, apabila para rasul tidak memiliki harapan lagi dan meyakini bahwa mereka benar-benar telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang yang Kami kehendaki. Siksa Kami tidak dapat ditolak dari kaum pendosa.” (QS. Yusuf:110).

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/0/119799/خمس-خطوات-لتجاوز-الأزمات

Sumber artikel PDF

Flashdisk Video Belajar Iqro - Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28