Terbunuhnya Sang Ayah Di Perang Badar

kisah muslim dan tabi'in

Peperangan yang tidak seimbang, kaum muslimin berjumlah 314 sementara kuffar Quraisy 950 pasukan. Dalam perang Badar, tersebutlah seorang sahabat bernama Abu Ubaidah yang berperang penuh keberanian, beliau menerjang musuh, orang-orang kufar Quraisy segan berhadapan bahkan mereka takut menghadapi pejuang ini, karena Abu Ubaidah berperang tidak ada rasa takut untuk mati. Tatkala perang berkecamuk, tiba-tiba ada diantara tentara Quraisy yang berusaha menghadang Abu Ubaidah, beliaupun menghindar dari hadangan tentara tersebut dan berusaha menjauh, tetapi upaya tersebut tidak mendapatkan hasil, tentara Quraisy tersebut senantiasa mengikuti kemana Abu Ubaidah pergi bahkan menghadangnya penuh dengan berani. Diwaktu dimana Abu Ubaidah dalam keadaan sempit dan susah untuk menghindar maka Abu Ubaidah mengayunkan pedangnya dan menebas orang tersebut, tersungkurlah tentara Quraisy itu. Ternyata tentara itu adalah Abdullah bin Jarrah, ayah Abu Ubaidah.

SelengkapnyaTerbunuhnya Sang Ayah Di Perang Badar

Dan Khalifah pun Terhina

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Ilmu agama adalah bagaikan simpanan harta yang Allah bagikan kepada siapa saja yang Allah cintai. Seandainya ada segolongan manusia yang berhak untuk diistimewakan untuk menjadi ulama tentu keluarga Nabi-lah yang paling berhak mendapatkan pengistimewaan. Atha’ bin Abi Rabah adalah orang Etiopia. Yazid bin Abu Habib itu orang Nobi yang berkulit hitam. Al Hasan Al Bashri adalah bekas budak milik kalangan Anshar. Sebagaimana Muhammad bin Sirin adalah mantan budak dari kalangan Anshar.” (Shifat Ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

SelengkapnyaDan Khalifah pun Terhina

Mengajar Satu Huruf Mendapat 80.000 Dirham

Seorang pakar nahwu, bahasa, syair, adab dan hadits, Nadhr bin Syumail Al-Mazini, lahir tahun 122 H. dan wafat tahun 203 H. Al-Qadhi Ibnu Khallikan menuturkan tentang biografinya dalam kitab Wafayatul A’yan II: 161, Abu Ubaidah menyebutkan dalam kitab Matsalibul Bashrah, ia berkata, “Nadhr bin Syumail merasakan kehidupan yang sempit di Bashrah, maka ia pun pergi menuju Khurasan. Ia dilepas oleh sekitar 3000 orang penduduk Bashrah. Tidak seorang pun dari mereka selain ahli hadits, ahli nahwu,ahli bahasa, ahli ‘arudh atau ahli sejarah.

SelengkapnyaMengajar Satu Huruf Mendapat 80.000 Dirham

Cintanya Nabi kepada Aisyah (Seri 1)

cinta nabi kepada aisyah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan dirinya terhadap Aisyah sebagaimana Abu Zar’ agar Aisyah sebagaimana Abu Zar’ terhadap istrinya Ummu Zar’ agar Aisyah tahu sayangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada dirinya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah diriku bagimu sebagaimana Abu Zar’ bagi Ummu Zar’ “. Berkata Imam An-Nawawi, “Para ulama berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian untuk menyenangkan hati Aisyah dan menjelaskan bahwa ia telah bersikap baik dalam kehidupan rumah tangga bersama Aisyah.”[1]

SelengkapnyaCintanya Nabi kepada Aisyah (Seri 1)