Kisah Pilihan

Salaf ash-Shalih di Hari Raya Idul Fitri

Bulan Ramadhan yang penuh keberkahan telah berakhir. Siang hari dan malam-malamnya akan telah beranjak pergi meninggalkan kita semua. Sebuah bulan dimana umat Islam berpuasa di siang hari dan meramaikan masjid dengan shalat di malam hari sudah mengucapkan salam perpisahan. Ya, Ramadhan, bulan yang begitu banyak rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka telah berlalu.

Sebagaimana kedatangan bulan ini memberikan kabar gembira, perpiasahan dengannya tentulah menyedihkan jiwa. Perpisahan Ramadhan dengan orang-orang yang beriman adalah layaknya perpisahan seorang kekasih dengan pujaan hatinya, perpisahan yang dikhawatirkan ini adalah pertemuan terakhir dengannya.

Lalu, apakah perpisahan kita dengan Ramadhan layaknya perpisahan seseorang yang lemah perhatiannya dan tidak mengenal ketekunan beribadah ataukah ia layaknya perpisahan para ulil albab dari kalangan hamba Allah? Merkalah generasi awal dan generasi terbaik umat ini. Mereka menggabungkan kesungguhan dalam beramal dan ketakwaan di dalam hati. Di jiwa mereka terdapat harapan besar agar ibadahnya diterima dan kekhawatiran apakah ia akan tertolak sia-sia.

Para Salaf ash-shalih telah merindukan Ramadhan, jauh sebelum kedatangannya. Mereka berdoa kepada Allah agar usia mereka disampaikan kepada Ramadhan sejak 6 bulan sebelum bulan yang mulia ini tiba. Ketika Ramadhan berlalu, selama 6 bulan berikutnya mereka berdoa agar Allah menerima amalan mereka di bulan Ramadhan (Lathaif al-Ma’arif, Hal: 209).

Ekspresi kesedihan sangat terlihat tatkala Ramadhan pergi meningglakan mereka. Senantiasa wasiat dan nasihat agar tetap tekun beribadah pasca Ramadhan menghiasi hari-hari orang-orang shaleh ini. Demikianlah memang seharusnya seorang muslim, setiap bulana dalah hari-hari ketaatan dan sepanjang rentang usia adalah masa-masa ibadah kepada-Nya.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berangkat dari rumahnya menuju tempat shalat Idul Fitri. Dalam khotbahnya, beliau mengatakan, “Wahai jamaah sekalian, sesungguhnya kalian telah berpuasa selama 30 hari karena Allah. Dan kalian juga telah shalat di malam harinya selama 30 malam. Hari ini kalian keluar, meminta kepada Allah agar berkenan menerima apa yang telah kalian lakukan”.

Di antara mereka (para salaf) ada yang dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari Id adalah hari kebahagiaan dan suka cita”. Lalu dijawab, “Benar. Namun, aku adalah seorang hamba, Tuanku memerintahkan aku untuk melakukan suatu pekerjaan. Aku tidak tahu apakah ia menerima apa yang telah aku kerjakan atau tidak”.

Wahab bin Wardi pernah melihat sekelompok orang yang tertawa-tawa di hari Id, lalu ia mengatakan, “Seandainya amalan puasa mereka diterima, maka bukanlah demikian prilaku orang-orang yang bersyukur. Jika amalan mereka belum diterima, maka hal itu bukanlah sikap orang-orang yang takut/khawatir”.

Dari Hasan al-Bashri, ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena pacu bagi para hamba-Nya untuk melakukan ketaatan demi meraih rihda-Nya. Ada kelompok yang mereka (cepat dalam pacua) sehingga mendahului, dan mereka memenangkannya. Ada juga yang tertinggal, dan mereka merana. Beruntunglah mereka yang bergembira di hari suksesnya orang-orang yang telah berbuat baik. Dan merugilah orang-orang yang berbuat kejelekan”. kemudian beliau menangis.

Saudara-saudaraku, lihatlah para pendahulu kita ini, bagaimana keadaan mereka saat berpisah dengan Ramadhan. Betapa sedihnya mereka dengan perginya bulan yang penuh berkah ini. Yang demikian ini adalah teladan bagi kita semua.

Kita memohon kepada Allah agar menerima amalan puasa dan shalat malam kita, serta amalan-amalan lainnya di bulan Ramadhan ini.

Taqobbalallahu minna wa minkum..

Oleh Nurfitri Hadir
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Salaf ash-Shalih dan Shalat Malam

Next post

Apakah Yahudi Berhak Atas Palestina?

No Comment

Leave a reply