Kisah Pilihan

Menggendong Sang Ayah Selama Prosesi Haji

Punggungku adalah kursi yang nyaman untuk ayahku…
———————————————————————

Itulah ucapan jamaah haji asal India saat menggendong ayahnya yang telah berusia 80 tahun, saat keduanya menunaikah ibadah haji tahun ini, tahun 1435 H/2014 M. Nama anak itu adalah Muhammad Rasyid. Ia berusia 50-an tahun. Rasyid menyatakan, ia bisa saja membawa kursi roda untuk membantu ayahnya menunaikan satu per satu rangkaian ibadah haji. Namun menurutnya ayahnya yang sepuh itu lebih merasa nyaman berada di atas punggunya. Jadi ia lebih memilih cara itu agar ayahnya merasa lebih senang.

“Aku bisa mendorongnya dengan kursi roda atau alat pengangkut sejenisnya, tapi punggungku lebih nyaman untuk ayahku,” katanya kepada harian al-Watan.

Rasyid adalah anak satu-satunya dari sang ayah. Dan ia sangat mencintai ayahnya lebih dari apapun. “Aku sangat dekat dengan ayahku, terutama setelah ibuku meninggal dunia”, katanya.

Dia berkisah, dulu sewaktu kecil ayahnya senantiasa menggendongnya. Mengangkat tubuh kecilnya di atas punggung si ayah. “Sekarang saatnya aku membalas kebaikan ayahku dalam bentuk serupa”.

Sebenarnya sang ayah sejak dulu telah mengutarakan harapan agar bisa menunaikan ibadah haji ke tanah haram. Namun saat itu, kondisi keuangan keluarga mereka tidak memungkinkan. “Ketika ayahku berusia 80 tahun, aku memutuskan untuk membawanya pergi berhaji, tidak peduli berapapun biayanya”, kata Rasyid.

Muhammad Rasyid dan ayahnya yang sudah berusia 80 tahun.
Muhammad Rasyid yang sudah berusia 50-an tahun menggendong ayahnya yang berusia 80 tahun.

Rasyid melanjutkan, “Aku juga bertekad dan berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membiarkan kaki ayahku menyentuh bumi (aku gendong), baik saat thawaf (mengelilingi Ka’bah tujuh putaran), sa’i (bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa-Marwa), dan saat melempar kerikil jamarat”.

Setelah berhasil menunaikan tekadnya itu, Rasyid teringat akan ucapan seseorang di desanya, desa kecil yang berada di India. Orang-orang mengatakan, ia tidak mungkin bisa menunaikan ibadah haji karena ayahnya yang sangat mencintainya tidak akan mungkin mengizinkannya berangkat ke Arab Saudi. Selain itu, ayahnya juga tidak bersedia apabila ia gendong agar pergi haji bersama. Namun ia telah membuktikan apa yang disangkakan penduduk desa itu keliru. Bahkan, ia tidak hanya berangkat dengan ayahnya saja. Ibu tirinya pun ikut serta bersama-sama menunaikan rukun Islam yang kelima.

Kisah Muhammad Rasyid ini mengajarkan kepada kita tentang berbakti kepada orang tua. Haji saat ini berbeda dengan haji-haji di zaman dulu. Saat ini, jumlah jamaah haji begitu besar dan kondisinya begitu padat. Bahkan pada saat-saat tertentu, untuk masuk Masjidil Haram di waktu-waktu haji pun mendapat peringatan dan pengaturan karena Masjidil Haram sudah tidak mampu menampung jamaah haji. Belum lagi cuaca yang terik menyengat. Namun di tengah kondisi padatnya Masjidil Haram dan lempar jamarat, serta panasnya cuaca, Rasyid berusaha sekuat tenaga menggendong ayahnya yang sudah sangat tua. Terkadang kita dalam keadaan longgar dan mudah, masih sering menolak perintah dan enggan berbuat baik kepada orang tua. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita bakti dan kasih sayang kepada orang tua kita.

Ia juga menjadi bukti dari sekian banyak bukti kebenaran janji Allah. Janji barangsiapa yang jujur kepada Allah, maka Allah akan mewujudkan cita-citanya. Rasyid telah jujur berniat sepenuh hati mewujudkan cita-citanya dan ayahnya untuk berhaji ke tanah suci. Lalu, Allah bukakan jalan kepadanya.

Kisah Rasyid juga mengajarkan bahwa rezeki haji itu bukanlah hitungan pasti nominal rezeki. Terkadang jalan menuju ke sana Allah bukakan dari pintu yang tiada disangka. Entah apapun dan bagaimanapun caranya. Dan sebaliknya, terkadang rezeki harta itu ada tapi kesehatan atau hal-hal lain jadi penghalang. Terkadang harta itu cukup atau berlebih, namun lemahnya iman menghalangi.

Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah dengan sepenuh hati dan penuh kejujuran bahwa kita ingin menjadi tamu-Nya di rumah-Nya, Baitullah yang mulia, mudah-mudahan Allah kabulkan keinginan dan wujudkan suatu hari nanti. Mohonlah kepada Allah taufik, agar hati kita diberikan spirit untuk menggemakan kalimat talbiyah bersama kaum muslimin dunnia di Baitullah al-haram.

Sumber: saudigazette.com.sa

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

7 Bulan Memeluk Islam Sudah Cukup Meyakinkannya Untuk Berhaji

Next post

Haji Wada’, Perpisahan Rasulullah dengan Umatnya

5 Comments

  1. Berita Haji
    October 8, 2014 at 7:13 pm —

    kisah yang sangat inspiratif

  2. Arip Hidayat
    October 9, 2014 at 1:35 pm —

    sejak kecil kita di doktrin istilah “haji jika mampu”, namun tidak semua guru dapat mendefinisikan kata mampu tersebut dengan baik. Akhirnya, ada sebuah pembenaran untuk tidak berhaji ketika kondisinya dalam keadaan kekurangan.
    Padahal jika kita melihat kisah diatas, mampu yang dimaksud tidak hanya apa yang tampak. tapi lebih daripada itu. mampu dalam artian hati dan keyakinan. thanks :)

  3. Krisna
    October 11, 2014 at 3:25 pm —

    keren gila :’D

  4. ahmadjunaidi
    October 12, 2014 at 4:56 pm —

    Mudah2an saya juga bisa dan mampu berbuat seperti apa yang dilakukan oleh rasyid. Amin2yaarabbal ‘aalamiin.

  5. Brilly
    October 28, 2014 at 9:46 pm —

    Allohu Akbar, Moga kita bisa sangat berbakti kepada orang tua lantas diridhai Alloh..

Leave a reply