Kisah Nabi Muhammad

Cara-Cara Orang Musyrik Menghambat Dakwah Islam

Sedari dulu, orang-orang musyrik memusuhi dakwah Islam. Karena Islam mengungkap apa yang mereka yakini selama ini adalah salah. Islam mengajak mereka berpikir tentang Tuhan yang mereka sembah. Apakah sesembahan itu layak disebut Tuhan ataukah tidak? Islam datang mengkritik cara mereka beriteraksi. Interaksi sosial tidak bisa dilakukan hanya sesuai selera. Tak peduli dosa. Tak peduli merugikan orang lain atau tidak. Yang kuat jadi terusik. Kehilangan keuntungan dan dominasi. Tak ayal, penyebaran dakwah ini menimbulkan reaksi.

Flashdisk Yufid.TV

Orang-orang musyrik menempuh berbagai cara untuk menghalangi dakwah. Mereka menyebar dusta. Menyerang Islam dan juru dakwahnya. Mengkaburkan masalah. Dan membuat beragam konspirasi. Agar supaya pijar cayaha itu bisa dibuat redup atau padam untuk selamanya.

Lelah-letih usaha mereka takkan berhasil. Dan selalu memetik kegagalan. Karena suara Rasulullah ﷺ lebih kuat dibanding suara mereka. Manhaj dakwah Nabi lebih menyentuh ketimbang konspirasi yang mereka tawarkan. Keteguhan Rasulullah ﷺ dalam memegang agama dan menyebarkan dakwah ini, mengalahkan semangat dan keyakinan mereka yang rapuh. Dan Allah ingin agar cahaya tetap kekal menyinari.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS:At-Taubah | Ayat: 32).

Kalau Allah ﷻ sudah berkehendak, siapa yang mampu menghalangi kehendaknya?

Rasulullah ﷺ tidak duduk bersembunyi di rumahnya agar terjaga dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau keluar, menyeru penduduk Mekah meskipun harus menempuh resiko besar. Beliau temui orang luar Mekah yang datang untuk berhaji. Menyampaikan risalah tauhid yang juga diwakwahkan Nabi Ibrahim dan Ismail.

Kejadian yang sama terjadi pada hari ini. Orang-orang menuduh Islam anti persatuan. Tidak cocok dengan masyarakat heterogen. Bukan solusi peradaban modern. Dll. Karena itu, bentuk permusuhan orang-orang musyrik di zaman Rasulullah ﷺ ini perlu kita ketahui. Agar kita tidak hanyut dalam tipu daya mereka. umat Islam akhir zaman pun bisa mendapatkan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.

Di antara cara-cara orang-orang musyrik memerangi dakwah Rasulullah ﷺ adalah mengolok dan menebar kebohongan.

Cara ini mereka gunakan untuk membuat ragu umat Islam dan melemahkan rasa bangga terhadap Islam. Mereka menuduh Nabi ﷺ dengan tuduhan-tuduhan dusta. Mereka sebut beliau gila, tukang sihir, pendusta, mengolok-olok beliau dan para sahabatnya. Allah ﷻ berfirman,

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Alquran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.” (QS:Al-Hijr | Ayat: 6).

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”.” (QS:Shaad | Ayat: 4).

Celaan, hinaan, dan ejekan orang-orang musyrik kepada Nabi ﷺ tidak surut. Malah meningkat menjadi serangan fisik. Nabi ﷺ dan para sahabatnya disakiti.  Pembela kebatilan tidak menyerah begitu saja menentang kebenaran. Satu cara gagal, mereka akan tempuh cara lain untuk mengalahkan kebenaran. Hingga akhirnya, Allah ﷻ datangkan janjinya. Dia akan memenangkan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS:Al-Mu’min | Ayat: 51).

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS:Ar-Ruum | Ayat: 47).

Tidak manjur dengan cara kekerasan, orang-orang musyrik menempuh cara halus. Mereka melobi. Melakukan diplomasi. Atas nama toleransi, mereka meminta Nabi Muhammad ﷺ untuk saling menghormati. Mereka beri tawaran harta, kuasa, dan hidup mulia. Mereka mengusulkan satu tahun menyembah Tuhan berhala, tahun berikutnya menyembah Allah ﷻ semata.

Sama seperti saat ini. Hari ini ke tempat ibadah kami untuk merayakan hari raya. Tahun depan, kami juga ucapkan selamat hari raya untuk kalian.

Lalu bagaimana sikap Nabi ﷺ dalam menghadapi siasat jahat ini?

Pertama: Sabar

Rasulullah ﷺ disakiti dan diuji dengan berbagai cara, namun beliau bersabar. Beliau ﷺ menaruh iba pda para sahabatnya yang disakit dan tak ada yang membela. Hal ini menjadi teladan bagi juru dakwah sepanjang zaman. Ketika mereka disakiti, maka Rasulullah ﷺ telah mengalami hal yang sama. Dan inilah sunnatullah pada para nabi dan orang-orang yang menempuh jalan dakwah mereka. Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185)).

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 214).

Kedua: Teguh dan Tak Kenal Kompromi Dalam Masalah Pokok Agama

Orang-orang musyrik membujuk Nabi ﷺ dengan jabatan dan kekuasaan. Berharap agar Muhammad jadi seperti Muhammad yang dulu. Agar Muhammad berhenti menyuarakan dakwahnya. Namun beliau tak peduli terhadap bujuk rayu itu. Bahkan tidak membuka dialog sama sekali.

Nabi ﷺ menjawab, “Aku diutus kepada kalian bukan untuk meminta harta kalian, bukan pula meminta kemuliaan di tengah-tengah kalian, atau menjadi raja untuk kalian. Akan tetapi, Allah mengutusku pada kalian sebagai seorang rasul dan menurunkan untukku sebuah kitab. Dia memerintahkanku menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan untuk kalian. Menyampaikan risalah Rabbku kepada kalian. Menasihati kalian. Jika kalian menerimanya, itu menjadi kebaikan untuk dunia dan akhirat kalian. Kalau kalian menolak, aku bersabar atas ketetapan Allah hingga datang keputusan-Nya antara aku dan kalian.” (Sirah Ibnu Hisyam, Juz: 1, Hal: 296).

Sikap beliau ini menjadi teladan bagi para sahabatnya dan umatnya agar senantiasa berpegang teguh dengan asas agama. Tidak berkompromi dalam permasalahan ini. Konspirasi orang-orang musyrik untuk melemahkan dakwah pun gagal. Umat Islam bertampah mulia dan teguh dengan agamanya.

Ketiga: Optimis di Tengah Kesulitan

Di tengah tekanan dan gangguan orang-orang Quraisy, Nabi ﷺ tetap optimis dakwah ini akan dimenangkan oleh Allah ﷻ. Rasa optimis beliau sangat tampak ketika beliau yang sedang duduk di teduh bayangan Ka’bah ditanya oleh Khabbab bin al-Arats radhiallahu ‘anhu, “Tidakkah Anda memohon pertolongan untuk kita? Tidakkah Anda berdoa kepada Allah untuk kebaikan kita?” Nabi ﷺ menjawab, “Dulu, orang-orang sebelum kalian digalikan tanah untuknya. Kemudian ia diletakkan di dalamnya. Setelah itu, didatangkan gergaji lalu digasakkan di kepalanya hingga terbelah dua. Ada pula yang badannya disisir dengan sisir besi hingga dagingnya terpisah dengan tulangnya. Keadaan demikian tidak membuat mereka berpaling dari agama mereka. Demi Allah! Pasti Allah akan menyempurnakan urusan ini hingga seseorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau takut pada serigala atas kambingnya. Tetapi kalian hendak bercepat-cepat saja (tidak sabar).” (HR. al-Bukhari).

Apa yang dilakukan orang-orang musyrik terhadap Rasulullah ﷺ, juga dilakukan oleh cucu-cucu mereka di zaman kita sekarang terhadap kaum muslimin. Oleh karena itu, hendaknya kita tetap berpegang pada agama ini. Meneladani sikap Rasulullah ﷺ dalam menghadapinya. Allah ﷻ pasti memenangkan agama ini, dengan atau tanpa kita. Tinggal kita, mau atau tidak menjadi bagian proses kemenangan itu.

Pelajaran:

Pertama: Rasulullah ﷺ diejek dengan sebutan gila karena dakwahnya. Kalau kita berpegang dengan ajaran Islam, kemudian diejek ‘sumbu pendek (pendek akal)’, ya wajar. Bahkan itu belum apa-apa dibanding disebut gila. Mudah-mudahan Allah ﷻ beri kesabaran bagi umat Islam yang berpegang pada ajaran agamanya.

Kedua: Orang yang baik, namun tidak memperbaiki, akan disukai. Inilah keadaan Nabi ﷺ sebelum diangkat menjadi Rasul. Beliau adalah orang yang baik. Orang-orang memuji dan mencintainya. Beda halnya dengan orang yang baik dan melakukan perbaikan. Orang-orang yang merasa tidak nyaman akan menyasarkan kebencian. Dan inilah keadaan Nabi ﷺ setelah diangkan menjadi Rasul.

Ketiga: Pembela kebatilan tidak mudah menyerah menentang kebenaran.

Keempat: Orang-orang yang menempuh jalannya Rasulullah ﷺ, ia akan mengalami ujian yang beliau alami.

Kelima: Jangan menukar agama dengan dunia, karena itu adalah kehinaan.

Keenam: Tidak terburu-buru menginginkan dakwah diterima. Karena kewajiban seorang da’i adalah menyampaikan. Diterima atau tidak, itu kehendak Allah.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Flashdisk Yufid.TV
Previous post

Tradisi Menjual Istri di Eropa

Next post

Merekalah Orang-Orang Yang Mencintai Nabi

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *