Perjalanan Isra’ Mi’raj: Istana Umar di Surga

Di surga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan hal-hal yang istimewa. Ada yang memang diperuntukkan untuk beliau, seperti al-Kautsar. Dan adapula sesuatu yang disediakan Allah Ta’ala untuk orang-orang yang beriman. Kemudian beliau ceritakan hal tersebut kepada umatnya. Agar mereka bertambah semangat mendapatkan bagian surga tersebut.

Salah satu yang dilihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga yang diperuntukkan untuk umatnya adalah istana emas. Sebuah istana mewah yang ada di surga.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “دَخَلْتُ الجَنَّةَ، فَإِذَا أَنَا بِقَصْرٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا؟ فَقَالُوا: لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ، فَمَا مَنَعَنِي أَنْ أَدْخُلَهُ يَا ابْنَ الخَطَّابِ، إِلاَّ مَا أَعْلَمُ مِنْ غَيْرَتِكَ”. قَالَ: وَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُولَ اللهِ؟

Dari Jabir radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku memasuki surga. Aku lihat ada sebuah istana emas. Aku bertanya, ‘Milik siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki Quraisy’. Tidak ada yang menghalangiku masuk ke dalamnya kecuali karena aku tahu sifat cemburu (menjaga kepemilikan) mu, wahai Ibnu al-Khattab.” Umar menanggapi, “Apakah aku akan cemburu padamu Rasulullah?” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Ta’bir, Bab al-Qashru fi al-Manam, 6621).

وعن أنس بن مالك رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “دَخَلْتُ الجَنَّةَ، فَإِذَا أَنَا بِقَصْرٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ فَقَالُوا: لِفَتًى مِنْ قُرَيْشٍ. فَظَنَنْتُ أَنَّهُ لِي، قُلْتُ: مَنْ هُوَ؟ قِيلَ: عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ”. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يَا أَبَا حَفْصٍ لَوْلاَ مَا أَعْلَمُ مِنْ غَيْرَتِكَ لَدَخَلْتُهُ”. فقال: يا رسول الله، مَنْ كُنْتُ أَغَارُ عَلَيْهِ، فَإِنِّي لَمْ أَكُنْ أَغَارُ عَلَيْكَ.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku memasuki surga. Di dalamnya terdapat istana emas. Aku bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang pemuda Quraisy’. Aku sangka itu milikku. Kutanyakan lagi, ‘Siapa laki-laki Quraisy itu?’ Mereka jawab, ‘Umar bin al-Khattab’.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Hai Abu Hafsh, kalau aku tak mengenal rasa kecemburuanmu, pasti aku memasukinya.” Umar menanggapi, “Siapa aku yang layak cemburu padamu? Aku tidak akan cemburu padamu.” (HR. Ibnu Hibban 54).

Inilah istana Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu di surga. Kabar itu sampai kepadanya saat ia masih menginjakkan kaki di dunia. Tapi istana itu telah disediakan untuknya. Kabar itu sampai kepadanya saat ia dan kematian berjarak dua puluh tahun. Allah Ta’ala mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dia mengetahui apa yang terjadi pada Umar. Bahwa Umar dijamin istiqomah hingga wafatnya. Tak akan berubah dan berbalik menjadi seorang yang murtad.

Tentu istana emas milik Umar yang disaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istana yang amat istimewa. Sampai-sampai beliau menyangka istana itu adalah miliknya. Ternyata beliau salah duga. Itu miliknya Umar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa tidak enak hati untuk memasukinya. Karena beliau tahu, Umar adalah seorang yang memiliki sifat cemburu (peduli terhadap apa yang ia miliki). Pertanyaannya, mengapa Nabi menyebutkan sifat cemburu?

Jawabnya adalah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakin orang yang menjawab pertanyaan beliau adalah istri Umar dari kalangan bidadari. Dan sangkaan beliau itu tepat. Beberapa tahun setelah peristiwa mi’raj, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi melihat istri Umar di sisi istana tersebut.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Saat kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Saat aku bermimpi. Aku melihat diriku sedang berada di surga. Kulihat seorang wanita sedang berwudhu di sisi istana. Aku bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ Mereka menjawab, ‘Miliknya Umar bin al-Khattab’. Kemudian aku teringat dengan kecemburuan Umar. Aku pun berbalik. Spontan Umar menangis. Ia berkata, ‘Apakah kepadamu aku akan cemburu wahai Rasulullah?’” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Bad’u al-Khalqi 3070 dan Muslim dalam Kitab Fadhail Shahabah 2395).

Kisah ini menceritakan tentang apa yang Allah sediakan untuk Umar bin al-Khatta radhiallahu ‘anhu di sruga kelak. Dan bagi siapa yang mengikuti Umar, dalam keimanan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah pun akan menyediakan balasan yang baik bagi mereka di surga. Istana yang megah. Istri yang baik.

Semoga Allah meridhai Umar yang telah dijanjikan surga untuknya. Istana yang megah. Istri yang baik. Ridha dari Allah Ta’ala. Dan kecintaan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (60) لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

“Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” [Quran Ash-Shaffat: 60-61].

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com