Kisah Nabi Muhammad

Perjalanan Isra’ Mi’raj: Langkah Bilal di Surga

Sepulang dari perjalanan isra’ mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada Bilan bin Rabah. Nabi berjumpa dengan dirinya di surga dalam perjalanan istimewa tersebut.

Tidak hanya Umar bin al-Khattab saja yang dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan mi’raj beliau. Ada kisah yang menjadi hadiah istimewa juga untuk Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِنَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه وسلم، دَخَلَ الجَنَّةَ، فَسَمِعَ مِنْ جَانِبِهَا وَجْسًا، قَالَ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟ قَالَ: هَذَا بِلالٌ الْمُؤَذِّنُ”. فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ جَاءَ إِلَى النَّاسِ: “قَدْ أَفْلَحَ بِلاَلٌ، رَأَيْتُ لَهُ كَذَا وَكَذَا…

“Pada malam isra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memasuki surga. Saat itu beliau mendengar suatu suara. Beliau bertanya, ‘Hai Jibril, suara apa itu?’ Jibril menjawab, ‘Itu Bilal sang muadzin’. Saat bertemu dengan khalayak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh beruntung Bilal. Aku melihatnya dalam keadaan demikian dan demikian’.” (HR. Ahmad 2324).

Belia shallallahu ‘alaihi wa sallam bergitu gembira dengan kabar baik yang didapatkan oleh para sahabatnya. Melihat keadaan Bilal, beliau langsung bersegera menceritakannya kepada khalayak. Kemudian beliau ungkapkan dengan ucapan, “Sungguh beruntung Bilal.” Beliau doakan Bilal dan menanyakan amal apa yang membuatnya begitu cepat masuk ke dalam surga.

Diriwayatkan oleh al-Hakim. Ia menyatakan riwayatnya ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim. Walaupun keduanya tak meriwayatkannya. Dari Buraidah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا، فَدَعَا بِلاَلاً، فَقَالَ: “يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الجَنَّةِ؟ إِنِّي دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي”. فَقَالَ بِلاَلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “بِهَذَا”

“Suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Bilal, dengan amal apa kamu mendahului diriku di surga? Sungguh semalam aku memasuki surga. Aku mendengar derap bersuaramu (suara sandalnya) di depanku.” Bilal mennjawab, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melakukan suatu dosa sama sekali melainkan (setelahnya) aku sholat dua rakaat. Dan tidaklah diriku berhadats (batal wudhu), melainkan aku langsung wudhu lagi dan sholat dua rakaat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar, “Dengan amalan inilah (engkau begitu cepat masuk surga).” (HR. al-Hakim 1179).

Dari hadits ini, jangan dipahami bahwa Bilal lebih dulu masuk surga dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena kita tahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang pertama yang diizinkan masuk ke dalam surga. Sebagaiman dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“آتِي بَابَ الجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat. Aku minta agar pintu dibuka. Penjaga surga berkata, ‘Siapa Anda?’ Aku jawab, ‘Muhammad’. Ia berkata, ‘Untukmulah aku diperintahkan (membuka pintu). Aku tak akan membukanya untuk seorang pun sebelummu’.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman 197).

Ini adalah suatu kepastian yang akan terjadi di hari kiamat. Adapun ketika masih di dunia, Allah Ta’ala mengirim ruh Bilal radhiallahu ‘anhu ke surga. Ia mendahului Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi ini. Di sisi lain, Bilal sendiri tidak menyadari hal ini. Ia baru tahu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakannya.

Hadits ini juga menunjukkan tawadhu (kerendahan hati) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan betapa beliau senang membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.

Dalam hadits ini, kita juga mendapat pelajaran betapa besar pahala dua rakaat shalat yang disebut oleh Bilal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan ath-Thabrani dengan sanad yang tsiqat, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di surga saat perjalanan mi’raj, beliau mendengar suatu suara.

فَقَالَ: “يَا جِبْرِيلُ، مَا هَذِهِ الْخَشْخَشَةُ؟ قَالَ: هَذَا بِلاَلٌ”. قَالَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه: لَيْتَ أُمَّ بِلاَلٍ وَلَدَتْنِي وَأَبُو بِلاَلٍ، وَأَنَا مِثْلُ بِلاَلٍ.

Beliau bertanya, “Hai Jibril, suara apa itu?” Jibril menjawab, “Itu Bilal.” Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Sekiranya ibu dan bapaknya Bilal melahirkanku. Sehingga aku menjadi seperti Bilal.” (HR. ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 22/137 No: 18214).

Abu Bakar radhiallahu ‘anhu begitu antusias mendapat kebaikan. Ia berharap menjadi seperti Bilal, padahal ia lebih utama dari Bilal. Dialah yang membebaskan Bilal dari perbudakan.

Dalam kitab-kitab sunan, kedudukan Umar dan Bilal radhiallahu ‘anhuma ini dikisahkan secara bersamaan. Diriwayatkan oleh at-Turmudzi dan dishahihkan oleh al-Albani, dari Buraidah radhiallahu ‘anhu ia berkata,

أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ: “يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الجَنَّةِ؟ مَا دَخَلْتُ الجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي، دَخَلْتُ البَارِحَةَ الجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي، فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرٍ مُرَبَّعٍ مُشْرِفٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ فَقَالُوا: لِرَجُلٍ مِنَ العَرَبِ. فَقُلْتُ: أَنَا عَرَبِيٌّ، لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ. فَقُلْتُ: أَنَا قُرَشِيٌّ، لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِرَجُلٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم. فَقُلْتُ: أَنَا مُحَمَّدٌ لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِعُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ”. فَقَالَ بِلاَلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ للهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “بِهِمَا”.

“Di pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal. Beliau bertanya, ‘Hai Bilal, apa yang membuatmu mendahuluiku di surga? Aku memasuki surga, dan tak kudengar apapun kecuali ada suara di depanku. Semalam aku memasuki surga, aku mendengar ada derap suara di depanku.

Aku juga mendatangi sebuah istana persegi yang terbuat dari emas. Aku bertanya, ‘Istana siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki Arab’. Kujawab, ‘Aku seorang laki-laki Arab. Punya siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki Quraisy’. Kujawab lagi, ‘Aku juga seorang Quraisy. Milik siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Kukatakan, ‘Akulah Muhammad. Milik siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik Umar bin al-Khattab’.

Bilal berkata, ‘Hai Rasulullah, tidaklah aku mengumandangkan adzan kecuali setelahnya aku shalat dua rakaat. Dan tidak pula aku berhadats (wudhuku batal), kecuali aku berwudhu kembali. Dan aku memandang untuk Allah dua rakaat kupersembahkan’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, ‘Karena dua rakaat inilah’.” (HR. At-Turmudzi dalam Kitab Manaqib, Bab Manaqib Umar bin al-Khattab 3689 dan Ahmad 23090).

Dua kisah, yaitu kisah Umar dan Bilal, memotivasi seorang muslim untuk semakin giat ibadah agar bisa masuk ke dalam surga. Kisah ini pula menunjukkan kemuliaan Umar dan Bilal. Tidak seperti keyakinannya orang-orang Syiah.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Perjalanan Isra' Mi'raj: Istana Umar di Surga

Next post

Perjalanan Isra' Mi'raj: Ummu Sulaim Berada di Surga