Kisah Nabi Muhammad

Perjalanan Isra’ Mi’raj: Ummu Sulaim Berada di Surga

Islam adalah agama untuk laki-laki dan wanita. Tak ada diskriminasi antara laki-laki dan wanita. Yang membedakan mereka di sisi Allah adalah takwanya. Demikian juga di surga. Allah jadikan tempat yang agung itu untuk orang yang beriman laki-laki maupun perempuan. Laki-laki berhak masuk surga jika menaati Allah, perempuan pun demikian. Allah memberi kabar gembira kepada kaum perempuan dalam peristiwa mi’raj Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ada perempuan masyarakat biasa, bukan keluarga nabi, atau dalam bahasa kita keturunan kiyai. Bukan pula bangsawan atau anak raja. Ia adalah perempuan biasa pada umumnya.

روى مسلم عن أنس بن مالك رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: “دَخَلْتُ الجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْفَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذِهِ الْغُمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانَ أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ”!

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku memasuki surga dengar sesuatu (suara dari gerakan). Aku berkata, ‘Siapa itu?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah Rhumaisha binti Milhan (Ummu Sulaim). Ibunya Anas bin Malik’.” (HR. Muslim dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah Bab Fadail Ummu Sulaim, 2456).

Teks hadits menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki surga bukan dalam mimpi. Artinya fisik beliau benar-benar memasukinya. Dan tentu saja hal itu tidak terjadi kecuali dalam peristiwa mi’raj. Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha berada di dalam surga melalui mimpi beliau. Hal ini semakin menguatkan kedudukan Ummu Sulaim di surga.

روى النسائي عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أُرِيتُ أَنِّي أُدْخِلْتُ الجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِالرُّمَيْصَاءِ امْرَأَةِ أَبِي طَلْحَةَ، أُمِّ سُلَيْ

Diriwayatkan oleh an-Nasai dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperlihatkan bahwa aku memasuki surga. Kulihat ada Rhumaisha, istrinya Abu Thalhah. Yakni Ummu Sulaim.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah, 3467. An-Nasai 8385. Dan Ahmad 15044).

Dalam riwayat lain, disebutkan Ummu Sulaim bersama Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“أُرِيتُ الجَنَّةَ فَرَأَيْتُ امْرَأَةَ أَبِي طَلْحَةَ، ثُمَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَةً أَمَامِي فَإِذَا بِلاَلٌ

“Aku diperlihatkan surga. Di dalamnya kulihat istri Abu Thalhah. Kemudian aku mendengar suara gerakan di depanku. Ternyata itu Bilal.” (HR. Muslim dalam kitab Fadhail ash-Shahabah 2457).

Dalam riwayat lain, juga dari Jabir, Ummu Sulaim disebut bersama Bilal, dan Umar bin al-Khattab. Dari Jabi radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأَيْتُنِي دَخَلْتُ الجَنَّةَ، فَإِذَا أَنَا بِالرُّمَيْصَاءِ، امْرَأَةِ أَبِي طَلْحَةَ، وَسَمِعْتُ خَشَفَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا بِلاَلٌ. وَرَأَيْتُ قَصْرًا بِفِنَائِهِ جَارِيَةٌ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: لِعُمَرَ. فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَهُ فَأَنْظُرَ إِلَيْهِ، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ”. فقال عمر: بأبي وأمِّي يا رسول الله أعليك أغار

“Aku lihat diriku sedang berada di surga. Kulihat ada Rumaisha, istrinya Abu Thalhah. Kemudian aku mendengar suara gerakan. Aku bertanya, ‘Siapa itu?” Ia menjawab, ‘Bilal’. Aku juga melihat istana yang di halamannya terdapat seoragn wanita. Aku bertanya, ‘Milik siapa ini?’ Ia menjawab, ‘Milik Umar’. Aku ingin memasukinya untuk melihat-lihat. Tapi aku teringat rasa cemburu (kepemilikan) Umar.” Umar berkata, “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, apakah terhadap dirimu patut aku cemburu.” (HR. al-Bukhari dalam kitab Fadhail ash-Shahabah 3476).

Banyak kaum muslimin tidak mengenal wanita yang mulia ini. Wanita yang Allah berikan keutamaan dan anugerah dengan kedudukan yang sedemikian mulia. Secara umum, rekam jejak beliau tak diketahui. Akan tetapi Allah Ta’ala menampakkan sesuatu yang istimewa yang tersimpan dalam hatinya. Dan membuatnya termasuk di antara orang yang mulia yang berada di tempat mulia di negeri abadi sana.

Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha adalah seorang wanita yang zuhud terhadap dunia. Sehingga Allah membalasnya dengan karunia besar di akhirat padahal ia masih berada di dunia. Diriwayatkan oleh an-Nasai, Anas radhiallahu ‘anhu -putra Ummu Sulaim- bercerita:

Suatu hari, Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim meresponnya dengan mengatakan, “Abu Thalhah, bukankah Tuhan yang Anda sembah adalah sebuah kayu yang tumbuh dari tanah. Kemudian dibuat oleh orang-orang Habasyi dari bani Fulan?” “Betul.”, jawab Abu Thalhah.

Ummu Sulaim berkatan, “Janganlah Anda melamarku jika Anda menyembah kayu yang tumbuh dari bumi itu, yang dibuat oleh orang-orang Habasyi dari bani Fulan. Jika Anda memeluk Islam, aku tak menginginkan (mahar) apapun dari Anda selain itu.” “Baiklah. Aku pikir-pikir dulu urusan ini”, jawab Abu Thalhah mempertimbangkan.

Kemudian Abu Thalhah pulang. Beberapa waktu ia datang kembali. Ia berkata, “Asyhadu an laa ilaaha illallaah. Wa anna Muhammadan Rasulullah. (Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Dan Muhammad adalah utusan Allah). Ummu Sulaim berkata, “Hai Anas, nikahkanlah Abu Thalhah.”

Tsabit -salah seorang perawi hadits ini- berkata, “Aku tak pernah mendengar seorang pun wanita, yang mahar nikahnya lebih mulia dibanding Ummu Sulaim. Maharnya masuk Islam. Kemudian mereka tinggal bersama dan dikaruniai anak.” (HR. an-Nasai dalam Kitab an-Nikah 5395 dan al-Hakim 2735).

Ini di antara kemuliaan Ummu Sulaim. Dan masih banyak lagi kisah-kisah keutamaan beliau. Sebagaimana termaktub dalam al-Isti’ab oleh Ibnu Abdil Bar, Asad al-Ghabah oleh Ibnu al-Atsir, as-Siyar oleh adz-Dzahabi, dan al-Ishabah oleh Ibnu Hajar al-Asqalani. Umat Islam yang bercita-cita masuk surga hendaknya merenungkan kisah-kisah kehidupan Ummu Sulaim. Bagaimana kuatnya iman dan besarnya usaha yang dilakukan Ummu Sulaim. Demikian juga dengan Umar dan Bilal. Agar mereka bisa meneladani orang-orang yang sudah dipastikan masuk surga. Mereka yang langsung disebut melaui lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan katanya-katanya.

Jika kita renungkan kisah tiga orang sahabat yang dilihat di surga ini, Allah hendak mengajarkan kita sebuah nilai. Allah Ta’ala tidak hanya menjelaskan kepada kita tentang kedudukan tiga orang sahabat mulia ini. Tapi, Allah menampakkan teladan bahwa surga tempat yang mulia itu tidak mendiskriminasi kedudukan sosial dan jenis kelamin. Bahwa seorang masuk surga itu bukan karena kedudukan.

Umar adalah sosok laki-laki merdeka. Seorang kepala negara. Dan pemimpin orang-orang yang beriman. Sedangkan Bilal adalah seorang yang pernah menjadi hamba sahaya. Ia dikenal dengan kemiskinan dan tak memiliki status sosial tinggi dalam kelas masyarakat. Dan Ummu Sulaim mewakili kaum wanita. Jadi, surga itu Allah peruntukkan untuk orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Tidak pandang dia seorang merdeka atau hamba. Kaya atau miskin. Pejabat atau rakyat. Laki-laki atau perempuan. Allah membuka peluang siapapun untuk masuk surga asalkan mereka beriman dan beramal shaleh.

Mungkin, inilah hikmah Allah menampakkan Ummu Sulaim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga saat perjalanan isra’ mi’raj. Bukan menampakkan salah seorang dari istri beliau. Bukan pula putri-putri beliau. Sehingga orang-orang tak berputus asa dan menyangkan surga itu tempat yang khusus untuk keluarga nabi saja. Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya memilihkan wanita dari masyarakat umum para sahabat. Ia bisa mencapai kedudukan demikian dengan iman dan amal shaleh. Sehingga para perempuan mukminah yang lain pun merasa termotivasi.

Lalu, mengapa Allah hanya memilihkan tiga orang ini? Padahal ada ratusan sahabat yang layak dijadikan permisalan. Baik dari kalangan merdeka atau hamba sahaya. Laki-laki atau perempuan. Jawabnya adalah ini merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” [Quran Al-Qashash: 68].

Dan firman-Nya:

اللهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [Quran Al-Baqarah: 105].

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Perjalanan Isra' Mi'raj: Langkah Bilal di Surga

Next post

Kisah Pernikahan Ali dengan Fatimah yang Shahih