Kisah Nabi Muhammad

Perjalanan Isra’ Mi’raj: Pertemuan dengan 3 Orang Rasul

Selain bertemu dengan tiga orang umat beliau yang shaleh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dipertemukan secara khusus dengan tiga orang rasul terbaik. Mereka adalah Musa, Isa, dan Ibrahim ‘alaihimussalam.

Pertemuan ini dapat kita pahami dari salah satu riwayat yang disebutkan setelah kisah Bilal radhiallahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِنَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه وسلم، دَخَلَ الجَنَّةَ، فَسَمِعَ مِنْ جَانِبِهَا وَجْسًا، قَالَ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟ قَالَ: هَذَا بِلالٌ الْمُؤَذِّنُ. فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ جَاءَ إِلَى النَّاسِ: “قَدْ أَفْلَحَ بِلاَلٌ، رَأَيْتُ لَهُ كَذَا وَكَذَا”. قال: “فَلَقِيَهُ مُوسَى عليه السلام فَرَحَّبَ بِهِ، وَقَالَ: مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الأُمِّيِّ. فَقَالَ: وَهُوَ رَجُلٌ آدَمُ طَوِيلٌ، سَبْطٌ شَعَرُهُ مَعَ أُذُنَيْهِ، أَوْ فَوْقَهُمَا فَقَالَ: مَنْ هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا مُوسَى عليه السلام. قَالَ: فَمَضَى فَلَقِيَهُ عِيسَى، فَرَحَّبَ بِهِ، وَقَالَ: مَنْ هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا عِيسَى. قَالَ: فَمَضَى فَلَقِيَهُ شَيْخٌ جَلِيلٌ مَهِيبٌ فَرَحَّبَ بِهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَكُلُّهُمْ يُسَلِّمُ عَلَيْهِ. قَالَ: مَنْ هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا أَبُوكَ إِبْرَاهِيمُ”.

“Malam saat Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam isra, beliau memasuki surga. Beliau mendengar ada suara di sampingnya. Nabi bertanya, “Hai Jibril, apa itu?” “Itu adalah Bilal sang muadzin.”, jawab Jibril. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di tengah khalayak, “Sungguh beruntung Bilal. Aku melihatnya demikian dan demikian.”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Kemudian beliau berjumpa dengan Musa ‘alaihissalam. Musa menyambut beliau dengan gembira. Ia berkata, ‘Selamat datang kepada nabi yang buta huruf’. Kata Ibnu Abbas, ‘Musa adalah seorang yang sedang tingginya. Rambutnya lurus terurai hingga kedua telinganya. Atau di atasnya’. Nabi bertanya, ‘Siapa ini hai Jibril?’ ‘Ini adalah Musa ‘alaihissalam’, jawab Jibril.”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Beliau berlalu. Kemudian berjumpa dengan Isa. Nabi Isa menyambut beliau dengan gembira. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini Isa’. Kemudian beliau berlalu. Beliau berjumpa dengan orang tua yang berwibawa. Ia menyambut nabi dengan gembira. Mengucapkan salam kepadanya. Dan mereka semua mengucapkan salam padanya. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah ayahmu, Ibrahim’.” (HR. Ahmad 2324).

Dalam riwayat ini, kita dapat memahami perjumpaan dengan tiga orang nabi ini terjadi setelah beliau mendengar jejak kaki Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu di surga. Dengan demikian, pertemuan ini bukan pertemuan terdahulu. Bukan pertemuan yang terjadi di langit kedua, keenam, dan ketujuh. Sebagaimana yang dijelaskan oleh riwayat lainnya. Di langit, beliau melihat Isa terlebih dahulu dari Musa. Baru kemudian Ibrahim.

Lalu, mengapa beliau bertanya tentang siapa mereka, padahal sebelumnya telah berjumpa. Banyak kemungkinan -Allahu a’lam- yang bisa terjadi. Bisa jadi beliau tak begitu melihat detil para nabi tersebut saat di langit. Ditambah lagi, setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan deretan hal-hal yang menakjubkan dan agung.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Hakim dengan sanad yang shahih, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

لَمَّا كَانَ لَيْلَةُ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، لَقِيَ إِبْرَاهِيمَ، وَمُوسَى، وَعِيسَى عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ، فَتَذَاكَرُوا السَّاعَةَ مَتَى هِيَ، فَبَدَءُوا بِإِبْرَاهِيمَ فَسَأَلُوهُ عَنْهَا، فَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مِنْهَا عَلْمٌ، فَسَأَلُوا مُوسَى فَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مِنْهَا عَلْمٌ، فَرَدُّوا الْحَدِيثَ إِلَى عِيسَى، فَقَالَ: عَهْدُ اللهِ إِلَيَّ فِيهَا دُونَ وَجْبَتِهَا، فَلاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ عز وجل، فَذَكَرَ خُرُوجَ الدَّجَّالِ، وَقَالَ: فَأَهْبِطُ فَأَقْتُلُهُ، ثُمَّ يَرْجِعُ النَّاسُ إِلَى بِلاَدِهِمْ، فَيَسْتَقْبِلُهُمْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ، وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ، لاَ يَمُرُّونَ بِمَاءٍ إِلاَّ شَرِبُوهُ، وَلاَ بِشَيْءٍ إِلاَّ أَفْسَدُوهُ، فَيَجْأَرُونَ إِلَيَّ فَأَدْعُو اللهَ فَيُمِيتُهُمْ، فَتَخْوَى الأَرْضُ مِنْ رِيحِهِمْ، فَيَجْأَرُونَ إِلَيَّ، فَأَدْعُو اللهَ فَيُرْسِلُ السَّمَاءَ بِالْمَاءِ فَيَحْمِلُهُمْ، فَيَقْذِفُ بِأَجْسَامِهِمْ فِي الْبَحْرِ، ثُمَّ تُنْسَفُ الْجِبَالُ، وَتُمَدُّ الأَرْضُ مَدَّ الأَدِيمِ،….

“Tatkala malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di-isra’kan, beliau berjumpa dengan Ibrahim, Musa, dan Isa ‘alaihimussalam. Mereka membicarakan kapan hari kiamat. Mereka menanyakannya kepada Ibrahim. Namun Ibrahim tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu. Mereka bertanya kepada Musa. Ia pun tak memiliki pengetahuan tentang hal itu. Kemudian ditanyakan kepada Isa. Allah menetapkan aku bagian darinya, tanpa menyebutkan pastinya. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah ‘Azza wa Jalla. Ia menyebut tentang keluarnya Dajjal. Kemudian mengatakan, ‘Akulah yang membunuhnya. Setelah itu orang-orang kembali ke negeri mereka masing-masing. Ya’juj dan Ma’juj menyerang mereka. Mereka datang dengan cepat dari segala penjuru. Tidaklah mereka melewati satu pun tempat air kecuali mereka menghabiskannya. Tidak mereka melewati suatu tempat, kecuali mereka merusaknya. Orang-orang mengadu kepadaku. Aku pun berdoa kepada Allah agar mematikan Ya’juj dan Ma’juj. Bumi dipenuhi dengan bau bangkai mereka. Orang-orang mengadu kepadaku. Aku pun berdoa kepada Allah. Kemudian Allah mengirim awan yang membawa hujan yang membawa bangkai mereka. Bangkai mereka pun terbawa ke laut. Kemudian gunung dihancurkan. Bumi dibentangkan…”

Salah seorang periwayat hadits mengatakan, “Kudapati hal itu dalam Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Kemudian dia membaca:

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ (96) وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ}

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit).” [Quran Al-Anbiya: 96-97] (HR. Ibnu Majah 4081, Ahmad 3556, dan al-Hakim 8502).

Pertemuan ini adalah pertemuan yang besar. Para nabi ulul azmi ini saling berbicara tentang ilmu tentang kapan kiamat itu terjadi. Para nabi itu tidak saling bertanya tentang kapan pastinya kiamat itu terjadi. Dan tak ada seorang pun dari mereka yang berani menjawab. Hal ini menunjukkan kerendahan hati mereka. Adapun Nabi Isa, beliau bercerita tentang kekhususan yang Allah Ta’ala berikan padanya. Ia diturunkan ke dunia sebelum terjadinya hari kiamat.

Ini adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Sumber:
– https://islamstory.com/ar/artical/3406680/اجتماع-النبي-مع-الانبياء

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Kisah Pernikahan Ali dengan Fatimah yang Shahih

Next post

Nabi Palsu: Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi