Abu al-Haitsam bin at-Tayhan Sahabat Anshar Yang Pertama Beriman

Abu al-Haitsam bin at-Tayhan adalah seorang sahabat Anshar dari kabilah Aus. Ia turut serta dalam peristiwa besar, yaitu Baiat Aqobah bersama tujuh puluh sahabat Anshar lainnya. Bahkan dia salah satu pimpinan Anshar yang hadir di peristiwa bersejarah tersebut. Ia juga turut dalam Perang Badr, Uhud, Khandaq, dan semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasabnya

Abu al-Haitsam adalah kun-yahnya. Sedangkan nama dan nasabnya adalah Malik bin at-Taihan bin Malik bin Atik bin Amr bin al-Aus al-Anshari. Ada yang menyebutkan bahwa dialah orang pertama yang membaiat Rasulullah di Baiat Aqobah II.

Ibnu Ishaq mengatakan, “Bani Najjar meyakini kalau Abu Umamah As’ad bin Zurarah-lah orang pertama yang membaiat Nabi. Sedangkan Bani Abdul Asy-hal mengatakan justru yang pertama adalah Abu al-Haitsam bin at-Taihan.

Memeluk Islam

Muhammad bin Umar mengatakan, “Abu al-Haitsam adalah seorang yang membenci berhala sejak masa jahiliyah. Ia menjaga kesucian hatinya dengan menjauhi berhala-berhala itu. Dan ia meyakini tauhid. Dia dan As’ad bin Zurarah adalah dua orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan Anshar. Keduanya memeluk Islam saat di Mekah. Lalu mereka tergabung dalam delapan orang pertama yang beriman dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua beriman sebelum kaumnya. Dan Abu al-Haitsam termasuk enam orang Anshar yang pertama berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Kemudian mereka datang ke Madinah dengan keislaman mereka. Lalu menyebarkannya.”

Muhammad bin Umar juga mengatakan, “Abu al-Haitsam juga hari bersama tujuh puluh orang Anshar di Baiat Aqobah II. Ia termasuk salah seorang dari dua belas pimpinan Anshar saat itu. Rasulullah mempersaudarakannya dengan sahabat Muhajirin, Utsman bin Mazh’un. Abu al-Haitsam turut serta di Perang Badr, Uhud, Khandaq, dan semua peperangan yang diikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ada juga yang mengatakan, orang Anshar yang pertama kali memeluk Islam adalah As’ad bin Zurarah dan Dzakwan bin Abdu Qais. Keduanya datang ke Mekah menemui Utbah bin Rabi’ah. Utbah berkata pada keduanya, “Orang yang shalat ini menyibukkan kami hingga lupa banyak hal. Dia mengklaim dirinya seorang utusan Allah.”

Kemudian As’ad bin Zurarah dan Abu al-Haitsam berbicara tentang tauhid di Yatsrib (Madinah). Dzakwan bin Abdu Qais berkata pada As’ad bin Zurarah tentang ucapan Utbah, “Ambil agama itu.” Keduanya bersiap. Lalu pergilah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Setibanya di Mekah, Rasulullah menawarkan Islam pada dua orang ini. Keduanya pun memeluk Islam. Lalu kembali ke Madinah. Di Madinah, As’ad menjumpai Abu al-Haitsam bin at-Taihan. Ia mengabarkan tentang keislamannya. Ia sampaikan ucapan Rasulullah pada Abu al-Haitsam. Dan mengajaknya beriman. Abu al-Haitsam menanggapi, “Sungguh aku bersaksi bersama bahwa dia adalah utusan Allah.” Ia memeluk Islam.

Bersama Rasulullah

Saat Rasulullah sudah serius untuk mengadakan perjanjian dengan orang-orang Anshar di Baiat Aqobah, beliau berdiri dan berbicara. Lalu membaca Alquran. Menyeru mereka kepada Allah. dan memotivasi mereka untuk memeluk Islam. beliau berkata, “Aku baiat kalian untuk berjanji melindungiku seperti kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian.”

Al-Barra’ bin Ma’ruru menggapai tangan beliau. Kemudian berkata, “Iya. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran dan menjadikanmu seorang Nabi, kami akan melindungimu seperti kami melindungi orang-orang yang bersama kami. Kami baiat Anda wahai Rasulullah. Demi Allah, kami adalah ahli dalam peperangan dan ahli strategi. Hal itu terwarisi dari tokoh-tokoh kami kepada tokoh selanjutnya.”

Ucapan al-Barra didengar oleh Abu al-Haitsam bin at-Taihan. Ia ikut meyakinkan Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sungguh kami ada hubungan dengan satu kelompok -maksdunya Yahudi Madinah-. Namun kami putuskan hal itu. Ada kekhawatiran pada kami, setelah kami melindungi Anda dan memutus hubungan dengan Yahudi, lalu Allah menangkan dakwah Anda ini, kemudian Anda kembali pada kaum Anda dan meninggalkan kami.”

Rasulullah tersenyum lalu berkata, “Tidak. Darah dibalas dengan darah. Kehormatanku adalah kehormatan kalian. Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dariku. Aku memerangi orang yang kalian perangi. Dan aku berdamai dengan orang yang kalian damai dengan mereka.”

Maksud Rasulullah kalian tumpah darah melindungiku. Balasan yang layak juga adalah tumpah darah melindungi kalin. Kalian memutus hubungan dengan Yahudi karena aku -karena Yahudi menolak Nabi-. Aku juga memutus hubungan dengan Quraisy yang menolakku meskipun mereka kerabatku.

Kisah lainnya yang menceritakan tentang kebersamaan Abu al-Haitsam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Suatu hari atau malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersama Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang membuat kalian kedua keluar rumah di jam-jam seperti ini”? Keduanya menjawab, “Rasa lapar, Rasulullah.” Beliau berkata, “Aku juga demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, yang membuat aku keluar juga apa yang membuat kalian keluar. Mari kita pergi.”

Keduanya pun pergi bersama Rasulullah. Mereka menemui seseorang Anshar. Ternyata sahabat tersebut sedang tidak di rumahnya. Saat istri sahabat tersebut melihat kedatangan orang-orang mulia ini, ia berkata, “Marhban wa ahlan.” Rasulullah berkata, “Mana si Fulan”? Istrinya berkata, “Ia pergi mengambil ari untuk kami.”

Lalu sahabat itu datang. Ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua orang sahabatnya. Ia berkata, “Alhamdulillah.. pada hari ini tak ada seorang pun yang memiliki tamu semulia tamuku.”

Ia menghidangkan wadah berisi kurma segar, kurma kering, dan kurma basah. Lalu berkata, “Makanlah ini.” Kemudian ia mengambil pisaunya. Rasulullah berpesan, “Perhatikan, jangan sembelih yang bersusu.” Ia menyembelihkan untuk tamu-tamu mulianya. Mereka pun menyantap hidangan daging kambing itu. Ditemani dengan setandan kurma dan minuman.

Setelah kenyang, Rasulullah berkata pada Abu Bakar dan Umar,

والذي نفسي بيده لتسألن عن نعيم هذا اليوم يوم القيامة

“Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, kita pasti benar-benar ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat nanti. Kalian keluar rumah dalam kondisi lapar. Kemudian pula dengan merasakan kenikmatan ini.”

Siapakah sahabat yang menjamu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar radhiallahu ‘anhuma ini? Dialah Abu al-Haitsam Malik bin at-Taihan radhiallahu ‘anhu.

Wafatnya

Abu Amr menukil kabar dari al-Ashma’i, ia berkata, “Aku bertanya kepada kaumnya Abu al-Haitsam. Mereka berkata, ‘Ia wafat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam’.” al-Ashma’I mengomentari, “Ucapan ini tidak dibenarkan.”

Shalih bin Kaisan berkata, “Abu al-Haitsam wafat di masa kekhilafahan Umar.” Yang lainnya mengatakan, “Ia wafat pada tahun 20 H.” Al-Waqidi mengomentari, “Menurut kami, yang benar adalah ia terbunuh di Perang Shiffin dan berada di pihak Ali.”

Pendapat lain menyebutkan bahwa Abu al-Haitsam wafat tahun 21 H. Pendapat kebanyak sejarawan, termasuk juga Ibnul Atsir, Abu al-Haitsam wafat di Perang Shiffin di pasukannya Ali.

Rujukan:

1. al-Ishobah fi Tamyiz ash-Shahabah
2. ath-Thabaqat al-Kubra
3. al-Mu’jam al-Kabir
4. Siyar A’lam an-Nubala