Kisah Nabi dan Rasul

Biografi Nabi Ismail: Masa Muda dan Pernikahannya (Bagian 2)

وَشَبَّ الغُلاَمُ وَتَعَلَّمَ العَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ، وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ، فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ، وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ، فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَمَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ، فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ، فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ

Setelah dewasa, ia menjadi orang yang paling mereka hargai dan kagumi. Ketika telah mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah ibunda Ismail wafat, Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk melihat keadaan keluarganya. Namun, beliau tidak mendapati Ismail. Beliau lalu bertanya kepada istri Ismail tentang keberadaannya. Istrinya menjawab,

خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا

‘Ia pergi mencari nafkah untuk kami.’

Kemudian Ibrahim bertanya tentang keadaan hidup dan kondisi mereka. Istri Ismail menjawab,

نَحْنُ بِشَرٍّ، نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ، فَشَكَتْ إِلَيْهِ

‘Kami hidup dalam keadaan yang buruk. Kami berada dalam kesempitan dan kesulitan,’ lalu ia mengeluhkan keadaannya kepada beliau (Ibrahim).” (HR. Al-Bukhari no. 3364)

Ibrahim berkata,

فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ

“Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan katakan kepadanya agar mengganti ambang pintunya.”

Ketika Ismail pulang, firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu. Lalu ia bertanya,

هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟

“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”

Istrinya menjawab,

نَعَمْ، جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا، فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا، فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ وَشِدَّةٍ

“Ya, ada seorang lelaki tua datang dengan ciri-ciri seperti ini dan seperti itu. Ia bertanya tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya tentang keadaan hidup kami, maka aku mengatakan kepadanya bahwa kami hidup dalam kesusahan dan kesempitan.”

Ismail bertanya,

فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ؟

“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”

Istrinya menjawab,

نَعَمْ، أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ

“Ya. Ia memerintahkanku agar menyampaikan salam kepadamu, dan berkata, ‘Gantilah ambang pintumu!’”

Ismail berkata,

ذَاكِ أَبِي، وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ، الحَقِي بِأَهْلِكِ

“Itu adalah ayahku. Ia telah memerintahkanku agar menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu.” Maka Ismail pun menceraikannya. (HR. Al-Bukhari no. 3364)

Kemudian Ismail menikah lagi dengan wanita lain dari kalangan mereka. Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama waktu yang Allah kehendaki. Setelah itu beliau datang kembali, namun tidak mendapati Ismail. Beliau masuk menemui istri Ismail dan bertanya tentang keberadaannya.

Istrinya menjawab,

خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا

“Ia pergi mencari nafkah untuk kami.”

Ibrahim bertanya,

كَيْفَ أَنْتُمْ؟

“Bagaimana keadaan kalian?”

Beliau juga bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. 

Istrinya menjawab,

نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ

“Kami dalam keadaan baik dan berkecukupan,” seraya memuji Allah.

Ibrahim bertanya,

مَا طَعَامُكُمْ؟

“Apa makanan kalian?”

Ia menjawab, 

اللَّحْمُ

“Daging.”

Beliau bertanya lagi, 

فَمَا شَرَابُكُمْ؟

“Apa minuman kalian?”

Ia menjawab,

المَاءُ

“Air.” 

Lalu Ibrahim berdoa,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالمَاءِ

“Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka.”

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ، وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ

“Pada waktu itu mereka belum memiliki biji-bijian. Seandainya mereka telah memilikinya, niscaya Ibrahim juga akan mendoakan keberkahan padanya.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)

Beliau mengisahkan,

فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمْ يُوَافِقَاهُ

“Kedua makanan itu (yaitu daging dan air) tidak akan cocok bagi siapa pun yang menjadikannya sebagai makanan pokok di selain Makkah.”

Beliau melanjutkan,

فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ، وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ

“Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya, dan perintahkan agar ia mempertahankan ambang pintunya.”

Ketika Ismail datang, ia bertanya,

هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ؟

“Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”

Istrinya menjawab,

نَعَمْ، أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الهَيْئَةِ، وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ، فَسَأَلَنِي عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ، فَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ

“Ya, telah datang seorang lelaki tua yang baik penampilannya, sembari ia memuji Allah. Ia bertanya kepadaku tentangmu, lalu aku memberitahunya. Ia juga bertanya tentang kehidupan kami, maka aku mengatakan bahwa kami dalam keadaan baik.” 

Ismail bertanya,

فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ

“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?”

Istrinya menjawab, 

نَعَمْ، هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ، وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ

“Ya. Ia menyampaikan salam untukmu dan memerintahkanmu agar mempertahankan ambang pintumu.”

Ismail berkata, 

ذَاكِ أَبِي وَأَنْتِ العَتَبَةُ، أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ

“Itu adalah ayahku, dan engkaulah yang dimaksud dengan ambang pintu itu. Ia memerintahkanku agar tetap mempertahankanmu.”

Kemudian Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama waktu yang Allah kehendaki. Setelah itu beliau datang lagi. Saat itu Ismail sedang meraut anak panah miliknya di bawah sebuah pohon di dekat Zamzam. Ketika Ismail melihat ayahnya, ia segera berdiri menyambutnya. Keduanya saling menyambut sebagaimana yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya dan seorang anak kepada ayahnya. Setelah itu Ibrahim berkata,

يَا إِسْمَاعِيلُ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ

“Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku melakukan suatu perkara.” 

Ismail menjawab,

فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ

“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu.”

Ibrahim bertanya,

وَتُعِينُنِي؟

“Maukah engkau membantuku?”

Ismail menjawab,

وَأُعِينُكَ

“Aku akan membantumu.” (HR. Al-Bukhari no. 3364)

Beliau mengatakan,

فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَا هُنَا بَيْتًا

“Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di tempat ini,” sambil menunjuk ke sebuah tempat yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya. Pada saat itulah keduanya mulai meninggikan fondasi Baitullah. Ismail membawa batu-batu, sedangkan Ibrahim membangunnya. Ketika bangunan itu semakin tinggi, Ismail terus membawakan batu, lalu meletakkannya untuk beliau dan beliau berdiri sambil terus membangun, sedangkan Ismail menyodorkan batu-batu kepadanya.

Keduanya terus mengucapkan,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Keduanya terus membangun sambil mengelilingi Baitullah dan mengucapkan,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127). (HR. Al-Bukhari no. 3364)

Bersambung …

Flashdisk Video Belajar Iqro - Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28