Kisah Pilihan

Keutamaan-Keutamaan Para Sahabat dan Perkataan Para Ulama Tentang Mereka Secara Umum dan Tentang Muawiyah Secara Khusus

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu terlimpah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi Muhammad, beserta keluarga, seluruh sahabat, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Sebagaimana diketahui, manusia terbaik adalah para nabi dan rasul—semoga selawat, salam, dan keberkahan tercurah kepada mereka. Yang terbaik dan paling utama di antara mereka adalah nabi terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun umat beliau adalah umat terbaik, sebagaimana difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah …” (QS. Ali Imran: 110).

Selanjutnya, generasi terbaik umat ini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang terbaik dari mereka adalah para Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, lalu Umar bin Khattab, lalu Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum. Allah Ta’ala telah memuliakan mereka dengan hidup pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala juga memuliakan mereka dengan kesempatan menemani dan berjihad bersama beliau, serta belajar Al-Qur’an dan as-Sunnah dari beliau secara langsung dan mengajarkannya kepada generasi setelah mereka. 

Di antara keutamaan para sahabat disebutkan dalam hadis:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian yang setelahnya lagi.” (HR. Imam al-Bukhari no. 3651 dan Imam Muslim no. 6472 dari riwayat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari no. 3650 dan Imam Muslim no. 6475 dari riwayat Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim no. 6478 dari riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha dan no. 6473 dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Juga disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، فَيَغْزُو فِئامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ لَهُمْ: فِيكُمْ مَن رَأَى رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فيُفْتَحُ لهمْ، ثُمَّ يَغْزُو فِئامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ لَهُمْ: هلْ فِيكُمْ مَن رَأَى من صحب رَسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فيُفْتَحُ لهمْ، ثُمَّ يَغْزُو فِئامٌ مِنَ النَّاسِ، فَيُقَالُ لَهُمْ: هلْ فِيكُمْ مَن رَأَى مَن صحَبَ منْ صحبَ رَسول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فيُفْتَحُ لَهُمْ.

“Akan datang kepada manusia suatu zaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka, ‘Apakah di antara kalian ada yang pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka menjawab, ‘Ya,’ maka mereka diberi kemenangan.

Kemudian, ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka, ‘Apakah di antara kalian ada yang pernah melihat sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka menjawab, ‘Ya,’ maka mereka pun diberi kemenangan.

Kemudian, ada sekelompok orang yang akan berperang, lalu ditanyakan kepada mereka, ‘Apakah di antara kalian ada yang pernah melihat orang yang melihat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka menjawab, ‘Ya,’ maka mereka pun diberi kemenangan.” (HR. Imam al-Bukhari no. 3649 dan Imam Muslim no. 6467 dari riwayat Abu Said radhiyallahu ‘anhu).

Generasi terbaik umat ini adalah generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mata mereka. Para tabi’in rahimahumullah adalah orang-orang yang telah melihat sahabat (orang yang telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan mata mereka. Adapun tabi’ut tabi’in adalah orang-orang yang telah melihat dengan mata mereka orang yang telah melihat sahabat.

Dahulu para tabi’in sangat bahagia ketika dapat bertemu dengan salah satu sahabat dan menganggap hal itu sebagai keberuntungan besar. Diriwayatkan dalam kitab Sunan Abi dawud no. 948 dengan sanad yang sahih dari Hilal bin Yasaf, dia menceritakan,

“Aku tiba di ar-Raqqah (salah satu wilayah di negeri di Syam), lalu salah satu temanku bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu ingin bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Aku menjawab, ’(Ya!), ini adalah keberuntungan besar.’

Lalu kami pergi menuju ke rumah Wabishah (salah seorang sahabat). Aku berkata kepada temanku tadi, ‘Kita mulai dengan melihat penampilannya!’ Ternyata Wabishah memakai peci ketat dengan dua telinga dan mengenakan mantel bertudung yang halus dan berwarna abu-abu. Saat itu dia sedang salat dengan bertumpu pada tongkatnya.” (HR. Imam Abu Dawud no. 948).

Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang dikaruniai umur panjang, sebagaimana disebutkan dalam kitab Taqrib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar. 

Dalam Al-Qur’an al-Karim terdapat banyak ayat yang menunjukkan keutamaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, seperti dalam surah Al-Anfal, At-Taubah, Al-Fath, Al-Hadid, dan Al-Hasyr. Bahkan, disebutkan dalam satu ayat di surah Al-Fath bahwa mereka disebutkan dan dipuji dalam Kitab Taurat dan Injil, sebelum mereka diciptakan dan sebelum datang zaman mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29).

Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang kafir merasa kesal terhadap para sahabat. 

Dalam kitab Syarh as-Sunnah karya Imam al-Baghawi jilid 1, hlm. 229, dikisahkan, “Ada seorang lelaki di hadapan Imam Malik rahimahullah yang mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Imam Malik pun membacakan ayat ini, ‘Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir …’ hingga firman Allah, ‘… karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.’

Kemudian, Imam Malik berkata, ‘Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia termasuk ke dalam golongan yang disebutkan dalam ayat ini.”

Dalam ayat itu juga disebutkan bahwa semua sahabat telah dijanjikan ampunan dan pahala yang besar karena kata (مِنْ) dalam kalimat (مِنْهُمْ), yang berarti “di antara mereka”, menunjukkan makna al-Jinsu (keseluruhan jenis), bukan untuk menunjukkan makna at-Tab’idh (sebagian jenisnya saja). Artinya, janji Allah dalam ayat ini adalah untuk seluruh sahabat, bukan sebagian mereka saja. Bahkan, Ibnu al-Anbari menyifati orang-orang yang mengatakan bahwa kata tersebut menunjukkan makna at-Tab’idh sebagai orang-orang zindiq.

Adapun Ibnu Hisyam berkata dalam kitab Mughni al-Labib jilid 2, hlm. 15, “Dalam kitab al-Mashahif karya Ibnu al-Anbari disebutkan bahwa sebagian orang zindiq berpegang pada firman Allah Ta’ala, ‘… Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar’ untuk mencela sebagian sahabat.

Adapun yang benar adalah bahwa huruf (مِنْ) di dalam ayat tersebut bermakna menjelaskan keseluruhan, bukan hanya sebagian, yaitu bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman adalah mereka itu (para sahabat).”

Jadi, ayat yang menyebutkan kata (مِنْهُمْ) ini mencakup seluruh sahabat. Seperti halnya ayat dalam surah Al-Maidah yang juga disebutkan kalimat (مِنْهُمْ) yang maknanya mencakup seluruh orang kafir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

لقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah salah satu dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada yang berhak disembah selain (Allah) Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 73).

Janji yang disebutkan dalam ayat di surah Al-Fath itu adalah untuk seluruh sahabat, bukan untuk sebagian mereka saja, sebagaimana ancaman dalam ayat di surah Al-Maidah itu adalah untuk semua orang yang mengatakan bahwa ‘Allah adalah salah satu yang tiga’, bukan untuk sebagian mereka saja.

Di antara keutamaan paling besar dari para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum adalah mereka menjadi perantara antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang yang ada pada zaman setelah mereka. Oleh sebab itu, tidaklah manusia mengetahui Al-Qur’an dan as-Sunnah, dan tidak pula mereka mengetahui kebenaran dan petunjuk, kecuali melalui para sahabat.

Setiap sahabat yang meriwayatkan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapatkan pahala seperti pahala setiap orang yang mengamalkan hadis itu sampai hari kiamat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ 

“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala semisal pahala yang diterima oleh orang yang mengerjakan amal tersebut.” (HR. Imam Muslim no. 4899 dari Abu Mas’ud al-Anshari al-Badri radhiyallahu ‘anhu).

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada hidayah (jalan petunjuk dan kebaikan), maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikuti) sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka (yang mengikuti) sedikit pun.” (HR. Imam Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Setiap orang yang peduli kepada dirinya dan mencintai kebaikan bagi dirinya harus memenuhi hatinya dengan kecintaan dan pengagungan yang sepatutnya kepada para sahabat. Lisannya harus senantiasa menyebut mereka dengan pujian yang selayaknya bagi mereka, tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan, dan menghindari menyebut mereka dengan hal yang tidak pantas untuk mereka, disertai kebersihan hati dari segala kedengkian terhadap mereka. Inilah jalan para salaf umat ini dari generasi tabi’in dan generasi setelah mereka. 

Berikut adalah beberapa contoh ucapan baik para salaf terhadap para sahabat:

  1. Ucapan Imam Malik bin Anas rahimahullah (wafat 179 H). Al-Baghawi mengatakan dalam kitab Syarh as-Sunnah jilid 1, hlm. 229,

“Imam Malik berkata, ‘Barang siapa yang membenci salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap mereka, maka dia tidak berhak mendapatkan harta fai’ (harta musuh yang dirampas tanpa peperangan).’

Lalu beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota …’ (QS. Al-Hasyr: 7). Hingga firman-Nya, ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami …’ (QS. Al-Hasyr: 10).”

  1. Ucapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah (wafat 241 H). Beliau berkata dalam kitab as-Sunnah,

“Di antara sunah adalah menyebutkan kebaikan-kebaikan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya dan menahan diri dari membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Barang siapa yang mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah satu dari mereka, maka dia adalah pelaku bid’ah dan penganut Syiah Rafidhah. Mencintai para sahabat adalah sunah, berdoa untuk mereka adalah ibadah, mengikuti mereka adalah wasilah, dan mengamalkan jejak-jejak mereka adalah fadilah (keutamaan).”

Beliau juga berkata, “Tidak boleh bagi seorang pun untuk menyebutkan suatu keburukan para sahabat dan mencela salah satu dari mereka. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka pemimpin wajib memberinya hukuman dan pelajaran, tanpa boleh memaafkannya.

Pemimpin harus menghukumnya lalu memintanya untuk bertobat dari perbuatan itu. Apabila dia bertobat, maka tobatnya diterima. Apabila menolak untuk bertobat, maka dia harus dihukum kembali dan terus ditahan hingga mau bertobat dan kembali kepada kebenaran.”

  1. Ucapan Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah (wafat 264 H). Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dalam kitabnya al-Kifayah hlm. 49, dengan sanad yang bersambung kepada Imam Abu Zur’ah ar-Razi yang berkata,

“Jika kamu melihat seseorang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah orang zindiq. Hal ini karena kita percaya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar dan Al-Qur’an juga benar. Sedangkan yang menyampaikan kepada kita Al-Qur’an dan sunah-sunah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebenarnya mereka (orang-orang yang mencela para sahabat itu) ingin mencederai kelayakan para saksi kita agar mereka dapat membatalkan kesahihan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal yang layak dibatalkan kelayakannya adalah mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq.”

  1. Ucapan Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah (wafat 322 H). Beliau berkata dalam kitab Aqidah Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah,

“Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, serta tidak berlepas diri dari seorang pun dari mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan menyebutkan mereka dengan sesuatu yang tidak baik.

Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan sesuatu yang baik. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan.”

  1. Ucapan Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah (wafat 386 H). Beliau berkata dalam pendahuluan risalahnya,

“Dan sungguh sebaik-baik generasi adalah generasi yang pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman kepada beliau. Kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelah mereka lagi. Dan sahabat yang terbaik adalah para Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali radhiyallahu ‘anhum.

Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang boleh disebutkan kecuali dengan sebutan yang baik. Kita harus menahan diri dari membicarakan perselisihan yang terjadi di antara mereka karena mereka adalah orang yang paling berhak untuk dicarikan alasan yang baik dan disangka dengan sangkaan yang terbaik.”

Saya juga telah menjelaskan pendahuluan risalah beliau ini melalui tulisan yang berjudul Qathf al-Janiy ad-Dani: Syarh Muqaddimah Risalah Ibn Abi Zaid (Petikan Buah yang Dekat: Penjelasan Pendahuluan Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani). Tulisan ini dicetak tersendiri dan juga dicetak bersama buku dan risalahku yang lain. 

  1. Ucapan Imam Abu Utsman ash-Shabuni rahimahullah (wafat 449 H). Beliau berkata dalam kitab Aqidah as-Salaf wa Ash-hab al-Hadits,

“Dan mereka (para salaf) memandang wajibnya menahan diri dari membahas perselisihan yang terjadi antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyucikan lisan dari mengucapkan hal yang mengandung celaan atau pelecehan terhadap mereka. Juga memandang wajibnya mendoakan rahmat bagi mereka semua dan berwala’ kepada mereka seluruhnya.”

  1. Ucapan Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah (wafat 489 H). Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitab Fath al-Bari jilid 4, hlm. 365 dari Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani bahwa beliau berkata,

“Menyinggung kehormatan para sahabat merupakan tanda kehinaan pelakunya. Bahkan, itu adalah bid’ah dan kesesatan.”

  1. Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H). Beliau berkata dalam kitab al-Aqidah al-Wasithiyah,

“Di antara asas dasar Ahlusunah wal jamaah adalah kebersihan hati dan lisan terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang Allah sebutkan sifat mereka dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا للَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’ (QS. Al-Hasyr: 10)

Serta taat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

‘Janganlah kalian mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak setara dengan satu mud dari sedekah mereka, dan bahkan tidak juga (setara) dengan setengahnya.’ (HR. Muslim).”

  1. Ucapan Syaikh Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah (wafat 792 H). Beliau berkata dalam kitab Syarh ath-Thahawiyah hlm. 696,

“Adakah orang yang lebih sesat daripada orang yang dalam hatinya terdapat kedengkian terhadap orang-orang beriman yang terbaik dan pemuka para kekasih Allah Ta’ala setelah para nabi? Bahkan kaum Yahudi dan Nasrani lebih baik daripada mereka (para pencela sahabat Nabi) dari satu sisi.

Saat kaum Yahudi ditanya, ‘Siapa orang terbaik dari agama kalian?’ Mereka menjawab, ‘Para sahabat Nabi Musa.’

Saat kaum Nasrani ditanya, ‘Siapa orang terbaik dari agama kalian?’ Mereka menjawab, ‘Para sahabat Isa.’

Namun, ketika orang-orang Syiah Rafidhah ditanya, ‘Siapa orang terburuk dari agama kalian?’ Mereka menjawab, ‘Para sahabat Muhammad.’
Mereka hanya mengecualikan beberapa sahabat saja (yang tidak mereka cela), sedangkan di antara sahabat yang mereka cela itu jauh lebih baik berkali-kali lipat daripada sahabat yang mereka kecualikan.”

Hal ini (celaan terhadap sahabat Nabi) juga disebutkan dalam syair salah satu ulama mereka yang hidup antara abad 12 atau 13 Hijriyah, yaitu Kazhim al-Uzri. Dia berkata:

أَهُمْ خَيْرُ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ هَيْهَاتَ ذَاكَ بَلْ أَشْقَاهَا

“Apakah mereka sebaik-baik umat yang diciptakan untuk manusia?

Itu jauh sekali, justru mereka seburuk-buruk umat!”

Saya menemukan syair ini dalam kitab kritikan Ustaz Mahmud al-Mallah terhadap kasidah al-Uzriyah yang dicetak dengan judul ar-Raziyah fi al-Qashidah al-Uzriyah (Musibah dalam Kasidah al-Uzriyah) halaman 51. 

Apa yang disebutkan dalam bait tersebut sungguh telah berada di puncak antipati dan kekejian terhadap para sahabat. Demikian juga sikap fanatisme berlebihan terhadap Amirul Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu, dan antipati terhadap para sahabat yang lain yang disebutkan di halaman 45:

أَنَبِيٌّ بِلَا وَصِيٍّ؟!!

تعَالى اللـَّ    ـهُ عَمَّا يَقُوْلُهُ سُفَهَاهَا!

“Apakah ada Nabi tanpa washi (penerima wasiat sebagai pengganti – yakni Ali bin Abi Thalib)?!

Maha Tinggi Allah dari apa yang diucapkan orang-orang bodoh itu!”

Di antara sikap fanatisme berlebihan dari Kazhim al-Uzri terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah ucapannya yang disebutkan dalam halaman 34:

وَهُوَ الْآيَةُ الْمُحِيْطَةُ فِي الْكَو     نِ فَفِي عَيْنِ كُلِّ شَيْءٍ تَرَاهَا

“Dia (Ali) adalah mukjizat yang meliputi alam semesta

Pada setiap benda, kamu dapat melihatnya!”

Juga dalam perkataannya yang terdapat di halaman 36:

وَرَأَتْ قُسُوْراً لَوْ اعْتَرَضَتْهُ الْـ     إِنْسُ وَالْجِنُّ فِي وَغَى أَفْنَاهَا!

“Dia (Ali) terlihat perkasa, andai dia dilawan 

Oleh jin dan manusia dalam peperangan, niscaya dia akan membinasakan mereka!”

Dua bait syair ini sungguh sesuai dengan ungkapan yang masyhur, “Membuat tertawa semut di liangnya dan lebah di sarangnya!”

  1. Ucapan Al-Hafizh bin Hajar al-Asqalani rahimahullah (wafat 852 H). Beliau berkata dalam kitabnya Fath al-Bari jilid 13, hlm. 34,

“Ahlusunah telah sepakat atas wajibnya melarang seseorang mencela salah satu sahabat Nabi disebabkan peperangan yang terjadi di antara mereka, meskipun telah diketahui siapa yang lebih benar dari mereka. Sebab, mereka tidaklah berperang dalam perang-perang itu kecuali berdasarkan ijtihad mereka, sedangkan Allah Ta’ala telah mengampuni orang yang salah dalam berijtihad. Bahkan ditetapkan baginya satu pahala. Adapun orang yang benar dalam berijtihad, mendapatkan dua pahala.”

Seluruh hadis dan atsar yang diriwayatkan berkaitan dengan keutamaan para sahabat secara umum juga mencakup Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma. Bahkan, diriwayatkan dari beberapa ulama salaf, atsar yang khusus menyebutkan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah:

  1. Atsar dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah (wafat 101 H). Ibrahim bin Maisarah berkata,

“Saya tidak pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul (menghukum cambuk) seseorang sama sekali, kecuali orang yang mencela Muawiyah. Beliau memukulnya beberapa kali cambukan.” (Diriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 11, hlm. 450–451, karya Ibnu Katsir).

  1. Atsar dari Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah (wafat 181 H). Beliau berkata,

“Muawiyah bagi kami adalah tolak ukur. Apabila kami melihat seseorang memandangnya dengan pandangan permusuhan, maka kami mencurigai pandangannya juga terhadap para sahabat lainnya.”

Beliau juga pernah ditanya tentang Muawiyah, dan beliau menjawab, “Apa yang harus saya katakan terhadap lelaki yang ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah mendengar orang yang memuji-Nya’ lalu dia menyambut dengan mengatakan, ‘Ya Tuhan kami, hanya bagi Engkau segala pujian’?! (Yakni dia adalah salah satu sahabat Rasulullah – pen)” 

Kemudian Abdullah bin Mubarak ditanya lagi, “Siapa yang lebih mulia, Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?” Beliau menjawab, “Sungguh tanah yang ada di dua lubang hidung Muawiyah yang membersamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dan lebih utama daripada Umar bin Abdul Aziz!” (Diriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 11, hlm. 449, karya Ibnu Katsir).

  1. Atsar dari Al-Muafa bin Imran al-Maushili rahimahullah (wafat 185 H). Beliau pernah ditanya,

“Mana yang lebih utama, Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?” Lalu beliau marah seraya berkata kepada orang yang bertanya, “Apakah kamu menjadikan lelaki dari kalangan sahabat sama seperti lelaki dari kalangan tabi’in?! Muawiyah adalah sahabat, menantu, dan juru tulis Rasulullah, serta orang yang beliau percaya atas wahyu Allah.” (Diriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 11, hlm. 450).

  1. Atsar dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Al-Fadhl bin Ziyad berkata,

“Aku pernah mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) ditanya tentang orang yang mencela Muawiyah dan Amr bin al-Ash, apakah orang itu disebut sebagai orang Syiah Rafidhah?” Beliau menjawab, “Tidaklah dia berani mencela mereka berdua kecuali karena dia punya isi batin yang buruk. Tidaklah seseorang mencela salah satu sahabat melainkan dia punya isi batin yang buruk.” (Diriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 11, hlm. 450).

  1. Atsar dari Abu Taubah ar-Rabi bin Nafi al-Halabi rahimahullah (wafat 241 H). Beliau berkata,

“Muawiyah adalah tirai bagi para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila ada orang yang berani menyingkap tirai itu, ia akan berani terhadap apa yang ada di balik tirai.” (Diriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 11, hlm. 450).

  1. Atsar dari Imam Amu Zur’ah ar-Razi rahimahullah. Ada seorang lelaki yang berkata kepada beliau, “Sungguh aku benci kepada Muawiyah!” Beliau lalu berkata kepadanya, “Mengapa?” Dia menjawab, “Karena dialah yang telah membunuh Ali!”

Abu Zur’ah berkata kepadanya, “Celakalah kamu! Sungguh Tuhannya Muawiyah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dan lawan Muawiyah (Ali) adalah lawan yang mulia. Untuk apa kamu masuk (dalam perselisihan) di antara keduanya?! Semoga Allah meridai mereka berdua.” (Diriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 11, hlm. 427).

  1. Atsar dari Imam Abu Abdurrahman an-Nasa’i rahimahullah (wafat 303 H). Disebutkan dalam biografi beliau di kitab Tahdzib al-Kamal karya al-Mizzi, bahwa Ibnu Qudamah rahimahullah pernah ditanya tentang Muawiyah, lalu beliau menjawab,

“Sesungguhnya agama Islam bagaikan rumah yang punya pintu, sedangkan pintu agama Islam adalah para sahabat. Barang siapa yang menyerang para sahabat, maka sesungguhnya dia ingin (menyerang) Islam. Seperti orang yang menggedor pintu, sebenarnya dia ingin memasuki rumah. Oleh sebab itu, barang siapa yang ingin (menyerang) Muawiyah, sebenarnya dia ingin (menyerang) para sahabat.”

  1. Atsar dari Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (wafat 620 H). Beliau berkata dalam kitabnya Lam’ah al-I’tiqad,

“Muawiyah adalah Khal Mu’minin (paman kaum Mukminin, karena dia adalah saudara Ummu Habibah binti Abu Sufyan, istri Rasulullah, Ummul Mu’minin), penulis wahyu Allah, dan salah satu khalifah kaum Muslimin, semoga Allah meridai beliau.”

  1. Atsar dari Imam al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah (wafat 748 H). Beliau berkata dalam kitabnya, Siyar A’lam an-Nubala jilid 3, hlm. 120, “Amirul Mukminin (Muawiyah) adalah raja Islam.”
  2. Atsar dari Syaikh Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah. Beliau berkata dalam kitabnya, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 722, “Raja pertama kaum Muslimin adalah Muawiyah. Dia adalah raja terbaik kaum Muslimin.”

Muawiyah radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan 130 hadis yang disebutkan dalam al-Kutub as-Sittah—sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Khulashah Tadzhib Tahdzib al-Kamal karya al-Khazraji. Empat di antaranya disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, empat di antaranya disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, serta lima di antaranya disebutkan dalam Shahih Muslim.

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Muawiyah, “Semoga Allah tidak membuat perutnya kenyang.” Hadis ini diriwayatkan dengan sanad yang berasal dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berkata,

“Dulu aku sedang bermain dengan anak-anak lain, lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga aku bersembunyi ke belakang pintu. Kemudian beliau datang dan memukul punggung antara dua pundakku (sebagai tanda beliau telah menemukannya).

Lalu beliau bersabda, ‘Pergilah dan panggilkan Muawiyah.’ (Lalu aku pergi) lalu aku menghadap kepada beliau dan berkata, ‘Dia sedang makan.’ Kemudian beliau bersabda lagi, ‘Pergilah dan panggilkan Muawiyah.’ (Lalu aku pergi) lalu aku menghadap kepada beliau dan berkata, ‘Dia sedang makan.’ Beliau lalu bersabda, ‘Semoga Allah tidak membuat perutnya kenyang.’” (HR. Imam Muslim no. 6628). 

Imam Muslim rahimahullah menutup hadis ini dengan hadis-hadis yang menyebutkan bahwa doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi celaan atau doa buruk terhadap seseorang, tetapi orang itu tidak layak dengan doa itu, maka Allah menjadikan doa itu sebagai pembersih dosa dan menjadi pahala baginya.

Hal ini seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “تَرِبَتْ يَمِيْنُكَ” (merugilah kamu), “ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ” (semoga ibumu merasakan kehilangan dirimu yang meninggal), “عَقْرَى حَلْقَى” (semoga Allah menjadikan luka di tubuhmu dan sakit di tenggorokanmu), dan “لَا كَبِرَتْ سِنُّكَ” (semoga umurmu tidak bertambah). 

Imam Muslim menyebutkan banyak hadis dalam kitab ash-Shahih. Di antaranya adalah hadis yang telah disebutkan di atas. Dan sebelumnya, beliau menyebutkan hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كَانَتْ عِنْدَ أُمِّ سُلَيْمٍ يَتِيمَةٌ -وَهي أُمُّ أَنَسٍ- فَرَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ اليَتِيمَةَ، فَقالَ: آنْتِ هِيهْ؟ لقَدْ كَبِرْتِ، لا كَبِرَ سِنُّكِ. فَرَجَعَتِ اليَتِيمَةُ إلى أُمِّ سُلَيْمٍ تَبْكِي، فَقالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: ما لَكِ يا بُنَيَّةُ؟ قالتِ الجَارِيَةُ: دَعَا عَلَيَّ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ أَنْ لا يَكْبَرَ سِنِّي، فَالآنَ لا يَكْبَرُ سِنِّي أَبَدًا -أَوْ قالَتْ: قَرْنِي- فَخَرَجَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ مُسْتَعْجِلَةً تَلُوثُ خِمَارَهَا، حتَّى لَقِيَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَقالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: ما لَكِ يا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَقالَتْ: يا نَبِيَّ اللهِ، أَدَعَوْتَ علَى يَتِيمَتي؟! قالَ: وَما ذَاكِ يا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ قالَتْ: زَعَمَتْ أنَّكَ دَعَوْتَ أَنْ لا يَكْبَرَ سِنُّهَا، وَلَا يَكْبَرَ قَرْنُهَا، قالَ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، ثُمَّ قالَ: يا أُمَّ سُلَيْمٍ، أَمَا تَعْلَمِينَ أنَّ شَرْطِي علَى رَبِّي، أَنِّي اشْتَرَطْتُ علَى رَبِّي فَقُلتُ: إنَّما أَنَا بَشَرٌ، أَرْضَى كما يَرْضَى البَشَرُ، وَأَغْضَبُ كما يَغْضَبُ البَشَرُ، فأيُّما أَحَدٍ دَعَوْتُ عليه مِن أُمَّتِي بدَعْوَةٍ ليسَ لَهَا بأَهْلٍ؛ أَنْ يَجْعَلَهَا له طَهُورًا وَزَكَاةً، وَقُرْبَةً يُقَرِّبُهُ بهَا منه يَومَ القِيَامَةِ.

“Dulu Ummu Sulaim memiliki anak perempuan yatim—dan Ummu Sulaim adalah adalah ibu Anas bin Malik. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat anak yatim itu lalu bersabda, ‘Apakah ini kamu? Kamu sudah sebesar sekarang. Semoga umurmu tidak bertambah.’

Lalu anak yatim itu segera pergi kepada Ummu Sulaim sambil menangis. Ummu Sulaim lalu bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai putriku?’ Anak itu menjawab, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keburukan untukku, semoga umurku tidak bertambah. Jadi sekarang umurku tidak akan bertambah lagi.’

Kemudian Ummu Sulaim bergegas keluar rumah dan segera membebatkan kerudungnya, hingga dia bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya kepadanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Ummu Sulaim?’ Dia menjawab, ‘Wahai Nabi Allah, apakah engkau mendoakan keburukan kepada anak yatimku?’

Beliau bertanya-tanya, ‘Doa apa itu, wahai Ummu Sulaim?’ Dia menjawab, ‘Anak itu berkata bahwa engkau mendoakan keburukan untuknya, semoga umur dan masanya tidak bertambah.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa, lalu bersabda, ‘Wahai Ummu Sulaim, apakah kamu tidak tahu syaratku kepada Tuhanku? Aku mensyaratkan kepada Tuhanku dengan berkata, “Aku adalah manusia biasa, dapat merasa rida sebagaimana manusia lainnya merasa rida, merasa marah sebagaimana manusia lainnya merasa marah.

Sehingga siapa saja dari umatku yang aku doakan dengan keburukan, sedangkan dia tidak layak dengan doa itu, maka Allah menjadikan doa itu sebagai pembersih dan penyuci (dari dosa), dan ibadah yang mendekatkannya kepada Allah pada hari kiamat.”’” (HR. Imam Muslim no. 2603).

Setelah hadis tersebut, Imam Muslim rahimahullah langsung menyebutkan hadis yang di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Muawiyah, “Semoga Allah tidak membuat perutnya kenyang.” Ini adalah bentuk sikap Imam Muslim rahimahullah yang sangat baik dan bagusnya urutan hadis dalam kitab ash-Shahih. Tentu ini berasal dari pemahamannya yang jeli dan penetapannya yang bagus.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Shahih Muslim jilid 16, hlm. 156, “Imam Muslim rahimahullah telah memahami dari hadis ini bahwa Muawiyah tidak layak mendapatkan doa yang buruk. Oleh sebab itu, beliau meletakkan hadis tersebut dalam bab ini, sedangkan selain beliau meletakkan hadis ini dalam bab manaqib (keutamaan-keutamaan) Muawiyah.” Yakni para ulama selain Imam Muslim meletakkan hadis di bab keutamaan-keutamaan Muawiyah, karena pada hakikatnya sabda Rasulullah itu adalah doa kebaikan baginya.

Saya telah menulis risalah yang berjudul Aqidah Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah fi ash-Shahabah al-Kiram Radhiyallahu ‘Anhum wa Ardhahum (Akidah Ahlusunah waljamaah terhadap para sahabat yang mulia—semoga Allah meridai mereka dan membuat mereka rida). Risalah tersebut telah dicetak secara terpisah dan dicetak dalam kumpulan buku dan risalahku (terletak di jilid 4, hlm. 191–205).

Dan risalah lainnya yang berjudul Min Aqwal al-Munshifin fi ash-Shahabi al-Khalifah Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu (Di antara pendapat-pendapat para ulama yang adil tentang seorang sahabat, khalifah Muawiyah radhiyallahu ‘anhu) yang telah dicetak secara terpisah dan juga dicetak dalam kumpulan buku dan risalahku (terletak di jilid 4, hlm. 397–424).

Di antara orang yang telah mencemarkan kehormatan para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum adalah orang zindiq dari sekte Syiah Rafidhah yang bernama Yasir al-Habib (Arti nama ini: mudah dan dicintai); tapi hakikatnya dia adalah ’Asir Baghidh (susah dan dibenci). Juga orang zindiq yang mengaku bagian dari Ahlusunah tapi hanya dusta dan tipuan, yang bernama Hasan Farhan al-Maliki. 

Saya telah menulis risalah bantahan terhadap Asir Baghidh ini dengan judul Aghuluw fi Ba’dh al-Qarabah wa Jafa’ fi al-Anbiya wa ash-Shahabah?! (Apakah Benar Sikap Fanatik Berlebihan kepada Sebagian Keluarga Nabi, Tetapi Antipati Terhadap Para Nabi dan Sahabat?!) telah dicetak secara terpisah dan dicetak juga dalam kumpulan buku dan risalahku (terletak di jilid 7, hlm. 7–31).

Ini adalah risalah bantahan terhadap ucapan Yasir al-Habib yang sangat keji, kotor, dan buruk. Dia mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah makhluk terburuk di alam semesta ini sejak awal penciptaan, kedua sahabat ini diazab di neraka Jahannam dengan azab yang lebih berat daripada azab Iblis di neraka. Dia juga berpandangan bahwa Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya lebih rendah derajatnya daripada 12 imam yang mereka miliki.

Saya telah menulis dua artikel sebagai bantahan terhadap Hasan Farhan al-Maliki ini, salah satunya dengan judul al-Intishar li-Shahabah al-Akhyar fi Radd Abathil ‘ala Hasan al-Maliki (Pembelaan bagi para sahabat terbaik, bantahan atas kebatilan-kebatilan Hasan al-Maliki). Yang kedua dengan judul al-Intishar li-Ahli as-Sunnah wa al-Hadis fi Radd Abathil ‘ala Hasan al-Maliki (Pembelaan bagi Ahlusunah dan hadis, bantahan atas kebatilan-kebatilan Hasan al-Maliki).

Keduanya telah dicetak secara terpisah dan dicetak dalam kumpulan buku dan artikelku. Orang yang membaca dua artikelku ini akan mengetahui kesesatan Hasan al-Maliki, bahkan itu dapat diketahui hanya dengan membaca pendahuluan dan daftar isi dari dua artikel tersebut. 

Di antara kesesatannya, dia berpandangan bahwa Abbas dan anaknya, Abdullah bin Abbas, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash, dan para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum yang masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah bukan termasuk sahabat Nabi secara syariat. Namun, sebutan mereka sebagai sahabat hanya definisi secara bahasa saja, seperti halnya sebutan sahabat bagi orang-orang munafik dan kafir (karena menemani Nabi).

Dia juga memasukkan Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu ke dalam kelompok para sahabat ini akibat kedengkiannya kepada beliau. Padahal beliau adalah sahabat yang ikut menyaksikan perjanjian Hudaibiyah (yakni telah masuk Islam sebelum itu). Bahkan, Mughirah bin Syu’bah adalah orang yang menyandang pedangnya di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga beliau. Mughirah termasuk orang-orang yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (baiat Ridwan di Hudaibiyah) …” (QS. Al-Fath: 18).

Pembatasan sebutan sahabat hanya bagi orang-orang yang telah beriman sebelum perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu bid’ah abad ke-15 Hijriyah ini. Saya juga telah menulis artikel tentang Hasan Farhan al-Maliki ini dengan judul Af’a Ta’udu ila Raf’i Ra’siha min Jadid li-Naftsi Sumumiha (Ular kobra kembali mengangkat kepalanya untuk menyemburkan bisanya) dan telah dipublikasikan pada tanggal 15 Muharram 1431 H.

Di antara hal yang disayangkan adalah sebagian saluran televisi dan surat kabar ikut mempublikasikan ucapan rendahan dari beberapa orang yang berusaha melecehkan Amirul Mukminin dan raja kaum Muslimin yang pertama dan terbaik ini, yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.

Oleh sebab itu, saya berinisiatif untuk menulis artikel ini sebagai bentuk pembelaan bagi para sahabat secara umum dan bagi Muawiyah secara khusus, dan sebagai nasihat bagi orang-orang tersebut dan yang berusaha merendahkan salah satu sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta agar setiap Muslim dapat memiliki penghormatan kepada kaum yang telah terhimpun bagi mereka kesucian hati dan lisan, yang Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhanku kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhanku kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10).

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“(Mereka berdoa): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).’” (QS. Ali Imran: 8).

Ya Tuhanku kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhanku kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.

***

Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr

Sumber: 

https://al-abbaad.com/articles/82-1433-09-06

PDF Sumber Artikel

Flashdisk Video Belajar Iqro - Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28