Sejarah

Nama-Nama Hari dan Bulan di Masa Jahiliyah

Terdapat perbedaan mencolok antara masyarakat Arab pra Islam dan Arab Islam dalam menyebut waktu-waktu mereka. Artinya, pengaruh Islam begitu besar di masyarakat Arab. Sehingga sangat kentara mana budaya Arab dan syariat Islam.

Nama Hari

Nama-nama hari di masyarakat jahiliyah adalah sebagai berikut:

Hari Sabtu (السبت) dulu dikenal dengan nama Syiyar (شِيَار).

Hari Ahad (الأحد) di masa jahiliyah disebut Awwal (أَوَّل).

Hari Senin (الاثنين) disebut dengan Ahwan (أَهْون) atau Awhad (أوْهَد).

Hari Selasa (الثلاثاء) disebut dengan Jubar (جُبَار).

Hari Rabu (الأربعاء) disebut dengan Dubar (دبُار).

Hari Kamis (الخميس) disebut dengan Mu’nis (مُؤْنِس).

Dan hari Jumat (الجمعة) disebut dengan ‘Arubah (عَرُوبة).

Sistem Penanggalan

Dalam sistem penanggalan, orang-orang Arab jahiliyah membagi satu bulan menjadi 10 bagian. Setiap bagian terdiri dari 3 hari. Pembagiannya seperti berikut ini:

Gharar (غرر) adalah sebutan untuk 3 hari di awal bulan. Gharar ini adalah malam-malam saat bulan sabit. Pada masa kita sekarang, bisa jadi kita sebut tanggal 1-3 awal bulan.

Samar (سَمَر) tiga hari berikutnya setelah Gharar. Tanggal 4-6 awal bulan.

Zahar (زهر) tiga hari setelah Samar. Tanggal 7-9 awal bulan.

Darar (درر) tiga hari setelah Zahar. Tanggal 10-12 pertengahan bulan.

Qamar (قمر) tiga hari setelah Darar. Tanggal 13-15 pertengahan bulan. Kita mengenal hari-hari ini dengan Ayyamul Bidh.

Dara’ (درع) tiga hari setelah Qamar. Yakni pada tanggal 16-18 pertengah bulan.

Zhalam (ظلم) tiga hari setelah Dara’. Yakni pada tanggal 19-21.

Tsalatsu Hanadis (ثلاث حناديس) tiga hari setelah Zhalam. Pada tanggal 22-24 akhir bulan.

Tsalatsu Dawari (ثلاث دواري) tiga hari setelah Tsalatsu Hanadis. Pada tanggal 25-27 akhir bulan.

Tsalatsu Muhaq (ثلاث محاق) tiga hari setelah Tsalatsu Dawari. Pada tanggal 27-30 akhir bulan.

Nama-nama Bulan

Sedangkan nama-nama bulan, mereka menyebutnya dengan:

Bulan Muharram (المحرَّم) disebut dengan al-Mu’tamir (المُؤْتَمِر).

Bulan Shafar (صفر) disebut dengan Najir (ناجِر).

Bulan Rabiul Awal (ربيع الأول) disebut dengan Khawwan (خَوَّان).

Bulan Rabiul Akhir (ربيع الآخر) disebut dengan Bashan (بصَان).

Bulan Jumadil Ula (جمادى الأولى) disebut dengan al-Hanin (الحَنِين).

Bulan Jumadil Akhir (جمادى الآخرة) disebut dengan Rabba (ربَّى).

Bulan Rajab (رجب) disebut dengan al-Asham (الأَصَمُّ)

Bulan Sya’ban (شعبان) disebut dengan Adil (عادل).

Bulan Ramadhan (رمضان) disebut dengan Natiq (ناتِق).

Bulan Syawwal (شوَّال) disebut dengan Wa’il (وَعِل).

Bulan Dzul Qa’dah (ذُو القعدة) disebut dengan Huwa’ (هُوَاع) atau Warnatun (وَرْنَة).

Bulan Dzul Hijjah (ذو الحجة) disebut dengan Burak (بُرَك).

Perhitungan Tahun

Adapun hitungan tahun, orang-orang membagi tahun menjadi dua bagian. Bagian pertama terdiri dari 8 bulan. Bulan-bulan inilah mereka menjalankan aktivitas mereka seperti biasa. Bagian kedua terdiri dari 4 bulan. Bulan-bulan ini adalah bulan haram. Mereka mempersembahkan 4 bulan ini untuk Tuhan mereka. Tidak boleh mengadakan peperangan di bulan itu. Tidak boleh berbuat keji dan merusak kehormatan orang lain.

Bulan haram dalam Islam adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Walaupun namanya berbeda dengan nama-nama di masa Islam, tapi sejak dulu orang-orang Arab jahiliyah mengagungkan bulan-bulan ini. Mereka mengharamkan peperangan di bulan ini.

Sumber:
– Raghib as-Sirjani, Ta’arraf ‘ala Asma al-Ayyam wa asy-Syuhur fi Jahiliyah

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Previous post

Membela Sahabat Nabi, Abu Musa al-Asy’ari

Next post

Ilmu Sanad, Tradisi Istimewa Sejarah Islam

1 Comment

  1. zaenal Muttaqin
    December 14, 2016 at 10:04 pm —

    semoga ke depannya kalender hijriyah lebih menjadi acuan di dunia. aamiin

Leave a reply