Ringakasan Sejarah 800 Tahun Kekuasaan Islam di Andalusia (1/2)

Granada adalah benteng terakhir umat Islam di Andalusia. Dengan runtuhnya Granada berakhir pula masa kekuasaan Islam di daratan Siberia itu. Delapan abad bukanlah waktu yang singkat. Kekuasaan Islam di Andalusia adalah kekuasaan terlama dalam sejarah negara dan kerajaan Islam.

Islam masuk ke Andalusia tahun 92 H. Saat itu Andalusia dikuasai oleh orang-orang Goth (Gothic). Dipimpin oleh Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad, kaum muslimin yang berada di Afrika Utara memasuki benua biru tersebut. Sejak awal masuk dan menguasai Andalusia, umat Islam langsung membangun pondasi-pondasi peradaban. Hingga Andalusia menjadi Menara ilmu dan agama di jantung Eropa.

Untuk memudahkan kita mengetahui sejarah panjang umat Islam di Andalusia, berikut ini kami sajikan periodesasi kekuasaan umat Islam di daratan Iberia itu.

Periode Pertama, Periode al-Wulat (Para Gubernur) 92-138 H.

Dalam kamus sejarah, periode pertama ini dikenal dengan istilah periode wulat. Wulat adalah jamak dari kata wali (pemimpin). Periode ini dimulai sejak penaklukkan Andalusia hingga berakhirnya Daulah Bani Umayyah. Pada awalnya, Andalusia adalah wilayah kekuasaan Daulah Umayyah yang ber-ibu kota di Damaskus. Di masa ini, Andalusia dipimpin sebanyak 23 gubernur Umayah. Kondisi awal ini adalah kondisi babat alas. Sampai-sampai sebagian gubernurnya gugur di medan jihad Eropa. Baik untuk mempertahankan wilayah maupun untuk perluasan. Periode ini ditandai dengan beberapa peristiwa penting. Di antaranya:

Pertama: Merebaknya Isu Rasisme

Periode pertama ini ditandai dengan merebaknya sensitivitas ras di tengah pasukan perang. Antara ras Arab yang terdiri dari kabilah Qays, Yaman, dan wilayah lainnya. Dengan orang-orang Berber penghuni asli Afrika Utara. Isu ini menimbulkan permasalahan serius. Sampai mengakibatnya perang saudara. Dan tidak sedikit nyawa yang melayang. Gara-gara pertikaian ini, wilayah-wilayah utara Andalusia pun terlepas dari kekuasaan kaum muslimin. Pertikaian seperti ini menjadi sebab terbesar yang membuat runtuhnya Islam di Andalusia.

Kedua: Tersebarnya pemikiran Khawarij.

Masuknya pemikiran Khawarij dari Timur Tengah menuju Maroko dan Andalusia. Bani Umayyah terus menekan kelompok Khawarij dari Timur Tengah. Mereka pun melarikan diri menuju Afrika Utara. Kemudian mereka rangkul orang-orang Berber yang merasa tersubordinasi (direndahkan). Dengan tersebarnya paham Khawarij, muncullah pemberontakan. Pembangunan menjadi lambat. Karena ketidak-stabilan negara.

Ketiga: Habis Energi Untuk Perancis

Pada periode ini, umat Islam berulang kali umat Islam berusaha menaklukkan Perancis. Namun gagal. Puncaknya pada tahun 114 H, saat terjadi Perang Balath Syuhada. Sejumlah besar kaum muslimin gugur dalam perang ini. Hingga dinamakan Balath Syuhada (rumah para syahid). Di antara mereka yang gugur adalah seorang tabi’in Abdurrahman al-Ghafiqi.

Periode Kedua, Periode Daulah Umayyah II (138 – 238 H)

Periode ini adalah respon terhadap runtuhnya Daulah Umayyah di Damaskus. Kerajaan besar itu runtuh dikalahkan orang-orang Abbasiyah. Setelah runtuh di Damaskus, klan Bani Umayyah mengalami pembantaian besar-besaran. Tapi ada tokoh muda mereka yang selamat. Namanya Abdurrahman. Kelak ia dikenal sebagai Abdurrahman ad-Dakhil. Ia melarikan diri ke Andalusia. Kemudian berhasil mengkonsolidasi sisa-sisa kekuatan Umayyah di sana. Akhirnya, di usia yang sangat muda, 25 tahun, ia berhasil mendirikan Daulah Umayyah II di Andalusia.

Berdiri pada tahun 138, selama 100 tahun kedepan kerajaan ini dibangun oleh empat orang raja. Mereka adalah Abdurrahman yang mendapat laqob ad-Dakhil. Kemudian anaknya yang bernama Hisyam. Setelah itu, cucunya yang bernama al-Hakam. Beriktunya, cicitnya yang juga bernama Abdurrahman. Masa ini adalah masa keemasan Daulah Bani Umayyah II di Andalusia. Di masa ini terdapat beberapa peristiwa penting. Di antaranya:

Pertama: Pemberontakan yang terjadi berulang kali.

Pemberontakan di masa ini dipimpin oleh kabilah-kabilah Arab yang menolak tunduk pada Daulah Umayyah II yang berpusa di Cordoba. Pemberontakan-pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Abdurrahman ad-Dakhil.

Kedua: Serangan Dari Abbasiyah.

Setelah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah di Damaskus, Daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad ingin menuntaskan misi mereka. Mereka juga hendak menaklukkan Daulah Umayyah yang baru berdiri di Andalus. Namun semua usaha yang mereka lakukan berakhir gagal.

Ketiga: Serangan Kerajaan Eropa

Melihat kuatnya negara Islam di Andalusia, kerajaan-kerajaan Eropa tak tinggal diam. Mereka mengadakan perlawanan. Di antaranya kerajaan Aragon dan Lyon. Mereka berupaya mengembalikan kekuasaan leluhur mereka, namun mereka bukanlah tandingan Daulah Umayyah kala itu.

Keempat: Masa Kejayaan

Abdurrahman ad-Dakhil berhasil membangun kerajaan yang kuat. Pemerintahan yang stabil dan kokoh. Militer yang disegani. Dan markas-markas angkatan bersenjata yang strategis. Kemudian kekuatan itu ia wariskan kepada anak-anaknya

Kelima: Pembangunan Yang Pesat

Di masa ini, khususnya di masa Abdurrahman II, terjadi pembangunan yang pesat. Kemakmuran tersebar. Bahkan sebagian hidup dengan mewah. Masa kejayaan ini lama-kelamaan membuat lalai. Muncullah tempat-tempat musik dan aktivitas yang sia-sia.

Keenam: Muncul seruan pemberontakan terhadap Daulah Umayyah II.

Periode Ketiga, Kemunduran Tahap Pertama (238-300 H)

Setelah muncul pemimpin-pemimpin kuat dan negara yang maju, sunnatullah berjalan. Tidak selamanya kejayaan itu hadir. Demikian juga dengan Daulah Umayyah II di Andalusia. Pada tahun 238 H, periode kemunduran dimulai. Inilah tahap pertama dari kemunduran umat Islam di Andalusia.

Di masa ini Daulah Umayyah II dipimpin oleh tiga orang raja. Tiga orang raja ini menghadapi pembeontakan di wilayah perbatasan. Mulailah muncul bayangan gelap di kerajaan Islam itu. Di antara peristiwa penting di masa ini adalah:

Pertama: Terjadi Disintegrasi

Banyak wilayah menyatakan merdeka dari kekuasaan Daulah Umayyah di Cordoba. Terutama wilayah utara dan selatan.

Kedua: Muncul Kembali Isu Ras.

Konflik antara ras Arab dan Berber kembali muncul. Khususnya di wilayah bagian selatan kerajaan.

Ketiga: Muncul Pemberontakan dari Keturunan Arab

Muncul pemberontakan dari orang-orang keturunan Arab. Mereka adalah orang-orang Spanyol yang merupakan keturunan dari pernikahan orang Arab dan Berber. Keturunan Arab dan Berber yang memeluk Islam disebut al-Maulud. Sedangkan keturunan mereka yang tetap memegang agama Nasrani dikenal dengan al-Musta’rob. Kelompok terakhir inilah yang kemudian menjadi duri dalam daging dalam sejarah umat Islam di Andalusia.

Periode Keempat, Kembali Masa Kejayaan (300-368 H)

Periode keempat ini Daulah Umayyah II memperpanjang nafas kejayaan mereka. Namun tak berjalan lama, hanya enam puluh delapan tahun saja. Hanya dua raja yang berkuasa di masa ini, Abdurrahaman an-Nashir dan putranya, al-Hakam al-Mustanshir. Abdurrahman an-Nashir berhasil mengembalikan kejayaan Islam di Andalusia setelah kelesuan yang terjadi sebelumnya. Ia juga menjalin kembali persatuan yang sebelum terkoyak.

Karena kekuatan yang besar dan legalitas yang kuat, Abdurrahman an-Nashir sampai disebut sebagai seorang khalifah. Ia berhasil memperluas wilayah, memajukan kerajaan, dan menyebarkan ilmu.

Periode Kelima, Masa al-Hajib al-Manshur (368-399 H)

Masa ini adalah periode terbaik yang belum pernah dicapai di masa-masa sebelumnya. Pada masa ini, orang yang menjalankan pemerintahan adalah al-Hajib al-Manshur bin Abi Amir. Sementara Khalifah Hisyam hanya sebagai simbol semata. Hal ini disebabkan usianya yang masih begitu muda. Ia masih anak-anak yang berusia 10 tahun saat sang ayah, al-Hakam al-Mustanshir, wafat.

Al-Manshur adalah pemimpin terbesar dan terkuat yang pernah memimpin Andalusia. Kehebatannya melebihi Abdurrahman ad-Dakhil sekalipun. Jihad fi sabilillah begitu kuat di zaman ini. Al-Manshur memimpin hingga 50 pertempuran melawan Nasrani Spanyol. Tak sekalipun ia mengalami kekalahan. Untuk pertama kalinya seluruh wilayah Spanyol dikuasai oleh kaum muslimin. Dengan pencapaian yang demikian hebat, masih saja ada orang yang tak mendukungnya. Bahkan memeranginya.

Pada tahun 392 H, al-Hajib al-Manshur wafat. Kedudukannya digantikan oleh anaknya, Abdul Malik. Sang anak pun sukse meneruskan pemerintahan ayahnya hingga tahun 399 H. Setelah itu Andalus dirasuki oleh kemunafikan dan kegelapan dalam masa yang panjang.

Sumber:
– https://islamstory.com/ar/artical/20603/سقوط-غرناطة-الاندلس-المفقود

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com