Kisah Nabi dan Rasul

Biografi Nabi Ismail: Menjadi Rasul dan Bapak Penutur Nonasli Bahasa Arab (Bagian 5)

Keenam: Apakah Ismail ‘Alaihis Salām Adalah Penutur Bahasa Arab Pertama?

Bangsa Arab terbagi menjadi dua kelompok: kelompok Arab ‘Āribah (penutur asli bahasa Arab), yaitu kabilah Jurhum, ‘Amaliqah, dan penduduk Yaman; dan kelompok Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab), yaitu Nabi Ismail ‘alaihis salām serta anak keturunannya. Ismail ‘alaihis salām mempelajari dasar bahasa Arab dari suku Jurhum. Setelah mempelajarinya, Allah mengilhaminya bahasa Arab yang fasih dan jelas, lalu ia bisa bertutur menggunakan bahasa Arab tersebut.

Ibnu Hajar raḥimahullāh berkata dalam Fatḥul Bārī (6/537), “Dikatakan bahwa Qaḥṭan adalah penutur pertama bahasa Arab, dan ia adalah bapak penutur asli bahasa Arab, sementara Ismail, ia adalah bapak penutur nonasli bahasa Arab.” Selesai kutipan. 

Dalam Lisānul ‘Arab karya Ibnu Manẓur (1/587), disebutkan, “Para ulama berbeda pendapat mengenai bangsa Arab: Mengapa mereka disebut Arab? Sebagian ulama berpendapat bahwa orang pertama yang Allah beri kemampuan berbahasa Arab adalah Ya‘rub bin Qaḥṭan. Ia adalah leluhur seluruh penduduk Yaman, dan mereka adalah penutur asli bahasa Arab (Arab ‘Aribah). Ismail bin Ibrahim ‘alaihimas salām tumbuh bersama mereka dan berbicara dengan bahasa mereka. Oleh karena itu, ia dan keturunannya disebut Arab Musta‘ribah (penutur nonasli bahasa Arab). Ada pula yang berpendapat bahwa keturunan Ismail tumbuh di ‘Arabah, sebuah wilayah di Tihamah, sehingga mereka dinisbatkan kepada negeri tersebut.” Selesai. 

Ibnu Katsir raḥimahullāh berkata dalam Al-Bidāyah wan-Nihāyah (1/283), “Orang-orang Arab yang hidup sebelum Ismail ‘alaihis salām disebut Arab ‘Āribah. Mereka terdiri dari banyak kabilah, di antaranya ‘Ad, Tsamud, Jurhum, Ṭasm, Jadis, Umaym, Madyan, ‘Imlaq, ‘Abil, Jasim, Qaḥṭan, Bani Yaqṭan, dan selain mereka.

Adapun Arab Musta‘ribah adalah keturunan Ismail bin Ibrahim Al-Khalīl. Ismail bin Ibrahim ‘alaihimas salām merupakan orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab dengan fasih dan sangat jelas. Ia sebelumnya mempelajari bahasa Arab dari kabilah Jurhum yang tinggal di sekitar ibundanya, Hajar, di Tanah Haram (Makkah). Namun, Allah menjadikannya mampu berbicara dengan bahasa tersebut dengan kefasihan dan kejelasan yang sangat tinggi. Demikian pula Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan bahasa tersebut.” Selesai.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak (4029), dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata, “(Ibrahim) orang pertama yang berbicara bahasa Arab dan meletakkannya dalam tulisan yang dibuat mengikuti ucapan serta cara lafaznya, kemudian dijadikan satu kesatuan tulisan seperti ‘bismillāhir-raḥmānir-raḥīm’ yang tersambung, hingga kemudian putranya, Ismail bin Ibrahim ṣalawātullāhi ‘alaihima, memisahkan bagian-bagian tulisan tersebut.” Al-Hakim berkata, “Hadis ini sanadnya sahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabi mengkritiknya dalam At-Talkhīṣ dengan mengatakan, “Abdul ‘Aziz bin ‘Imran adalah perawi yang lemah.” Selesai.

Diriwayatkan dari ‘Ali, dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

أَوَّلُ مَنْ فَتَقَ لِسَانَهُ بِالْعَرَبِيَّةِ الْمُبِينَةِ إِسْمَاعِيلُ، وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً

“Orang pertama yang membuka lisannya (untuk berbicara) dengan bahasa Arab yang fasih adalah Ismail, ketika ia berusia empat belas tahun.” As-Suyuthi berkata dalam Al-Jāmi‘ Ash-Shaghīr (hlm. 4346), “Asy-Syirazi dalam Al-Alqāb, dari ‘Ali …” Al-Albani menilainya sahih dalam Shahīh Al-Jāmi‘ (2581).

Ibnu Hajar raḥimahullāh berkata dalam Fatḥul Bārī (6/403), “Ismail tumbuh di antara anak-anak mereka. Perkataan ‘dan ia mempelajari bahasa Arab dari mereka’ mengisyaratkan bahwa bahasa ibu dan ayahnya bukanlah bahasa Arab. Hal ini melemahkan pendapat orang yang meriwayatkan bahwa ia adalah orang pertama yang berbicara bahasa Arab. Riwayat tersebut terdapat dalam hadis Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dengan lafaz: ‘Orang pertama yang berbicara bahasa Arab adalah Ismail.’ Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkannya dalam An-Nasab, dari hadis ‘Ali dengan sanad yang hasan, yang mengatakan: ‘Orang pertama yang Allah bukakan lisannya dengan bahasa Arab yang fasih adalah Ismail.’”

Dengan batasan ini, kedua riwayat tersebut dapat dikompromikan, sehingga ungkapan ‘orang pertama’ dalam hal ini adalah berdasarkan tambahan dalam kefasihan bahasa, bukan sebagai penutur pertama secara mutlak. Setelah mempelajari dasar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, Allah mengilhamkan kepadanya bahasa Arab yang fasih dan jelas, lalu ia berbicara dengannya.

Hal ini diperkuat oleh kutipan Ibnu Hisyam dari Asy-Syarqi bin Qathami: “Bahasa Arab Ismail lebih fasih daripada bahasa Arab Ya‘rub bin Qahthan serta sisa-sisa bangsa Himyar dan Jurhum. Ada kemungkinan bahwa status sebagai orang pertama dalam hadis tersebut adalah Ismail, dari sisi jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain dari keturunan Ibrahim. Jadi, Ismail adalah orang pertama dari keturunan Ibrahim yang berbicara dengan bahasa Arab. Ibnu Duraid berkata dalam kitab Al-Wisyah, ‘Orang pertama yang berbahasa Arab adalah Ya‘rub bin Qahthan, kemudian Ismail.’ Aku katakan, ‘Ini tidak sesuai dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa seluruh bangsa Arab berasal dari keturunan Ismail.’” Selesai.

Al-Munawi raḥimahullāh berkata dalam Faydhul Qadir (2/203), “Maksud orang pertama hanya terbatas pada tambahan kejelasan dan kesempurnaan kefasihan bahasa tersebut, bukan penutur pertama secara mutlak, karena kalau itu adalah Ya‘rub bin Qahthan.” Selesai kutipan. Lihat jawaban pertanyaan nomor (458860).

Ketujuh: Ismail Adalah Rasul bagi Siapa?

Ibnu Katsir raḥimahullāh berkata dalam Qashash Al-Anbiyāʾ (1/295) bahwa Ismail ‘alaihis salām adalah seorang rasul kepada penduduk daerah tersebut dan wilayah sekitarnya, dari kalangan suku Jurhum, ‘Amaliqah, dan penduduk Yaman, semoga selawat dan salam Allah tercurah kepada beliau. Ketika kematiannya telah dekat, ia berwasiat kepada saudaranya, Ishak, dan menikahkan putrinya, Nasmah, dengan keponakannya, Al-‘Aish bin Ishak. Dari pernikahan tersebut lahirlah bangsa Romawi, dan mereka disebut Bani Al-Ashfar karena warna kekuningan yang terdapat pada Al-‘Aish.” Selesai. 

Catatan: Orang-orang yang menyebut Al-Hijr (area berbentuk setengah lingkaran di samping Ka‘bah, pen.) sebagai “Hijr Ismail” tidaklah memiliki dasar, dan Ismail ‘alaihis salām tidak mengetahui tentang tempat ini, karena Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salām telah membangun Ka‘bah secara utuh, yang mencakup arena Al-Hijr ini. Tidak terdapat hadis marfuk yang sahih bahwa Ismail ‘alaihis salām dimakamkan di tempat ini atau Hajar dimakamkan di dalamnya. Namun, terdapat atsar maukuf dengan sanad-sanad yang lemah dan sangat lemah yang menunjukkan bahwa makam Ismail ‘alaihis salām berada di Al-Hijr. Lihat mengenai hal tersebut dalam Taḥdzīr As-Sājid min Ittikhādz Al-Qubūr Masājid karya Syekh Al-Albani raḥimahullāh, hlm. 75–76. Lihat pula jawaban nomor (22004). Wallāhu a‘lam.

Sumber:

https://www.islamqa.info/ar/answers/506331/التعريف-بنبي-الله-اسماعيل-عليه-السلام

PDF Sumber Artikel

Flashdisk Video Belajar Iqro - Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28