Keempat: Sifat-Sifat Ismail ‘Alaihis Salām dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an sering menyebutkan sifat-sifat para nabi agar kita dapat meneladan mereka.
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An‘am: 90)
Allah Ta‘ālā berfirman,
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا
“Dan ceritakanlah (kisah) Ismail di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar dalam menepati janji dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)
At-Tabari raḥimahullāh (15/561) berkata, “Dan ingatlah wahai Muhammad di dalam Kitab tentang Ismail putra Ibrahim. Ceritakanlah kisahnya! Sesungguhnya ia tidak pernah mengingkari janjinya dan tidak pernah menyelisihinya. Akan tetapi, apabila ia berjanji kepada Tuhannya atau kepada salah seorang hamba-Nya, ia memenuhi janjinya.” Selesai kutipan.
Dalam kisah penyembelihan, tampak kepada kita betapa besar bakti Ismail kepada ayahnya ‘alaihimas salām dan betapa agung ketundukan keduanya terhadap perintah Allah Ta‘ālā. Kemudian, beliau memerintahkan keluarganya untuk melaksanakan salat dan zakat, dan beliau adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.
Allah Ta‘ālā berfirman,
وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
“Dan dia (Ismail) senantiasa menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 55)
Syekh Ibnu ‘Utsaimin raḥimahullāh, ketika menjelaskan ayat tersebut, berkata, “Seseorang bertanggung jawab atas keluarganya dan bertanggung jawab atas pendidikan mereka, bahkan meskipun mereka masih kecil, apabila mereka sudah mumayiz. Adapun anak yang belum mumayiz, maka ia diperintahkan sesuai dengan apa yang dapat dipahami oleh akalnya.” Selesai kutipan dari Syarḥ Riyāḍhuṣ Ṣāliḥīn (3/168).
Dari Al-Hasan, ia berkata, “Barang siapa memiliki penasihat dalam dirinya sendiri, maka dia akan memiliki penjaga bagi dirinya dari Allah. Semoga Allah merahmati orang yang menasihati dirinya sendiri dan keluarganya, lalu berkata, ‘Wahai keluargaku, (perhatikan) salat kalian! salat kalian! zakat kalian! zakat kalian! tetangga kalian! tetangga kalian! orang-orang miskin (di sekitar) kalian! orang-orang miskin (di sekitar) kalian! Semoga Allah merahmati kalian pada hari kiamat.’ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memuji seorang hamba yang amalnya seperti ini.
Allah berfirman,
وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
‘Dan dia (Ismail) senantiasa menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.’” (QS. Maryam: 55). Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam An-Nafaqah ‘ala Al-‘Iyāl (333), 1/506.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
Al-Hafiz Ibnu Katsir raḥimahullāh secara ringkas menyebutkan sifat-sifat mulia yang terdapat dalam Al-Qur’an dan pujian Allah kepadanya (Ismail), bahwa Allah Ta‘ālā telah memujinya dan menyifatinya dengan sifat santun, sabar, menepati janji, menjaga salat, serta memerintahkan keluarganya untuk melaksanakannya agar mereka terhindar dari azab. Semua itu disertai dengan dakwah beliau untuk beribadah kepada Tuhan seluruh makhluk.
Allah Ta‘ālā berfirman,
فَبَشَّرۡنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيۡمٍ . فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰىؕ قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ
“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyantun. Ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Dengan izin Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 101–102)
Maka ia memenuhi keinginan ayahnya dalam perkara yang diperintahkan kepada beliau, dan berjanji kepada beliau bahwa ia akan bersabar. Ia pun menepati janjinya dan bersabar.
Allah Ta‘ālā berfirman,
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا . وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
“Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Kitab. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar dalam menepati janji dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia selalu menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah orang yang diridai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 54–55)
Allah Ta‘ālā juga berfirman,
وَاذۡكُرۡ عِبٰدَنَاۤ اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ اُولِى الۡاَيۡدِىۡ وَالۡاَبۡصَارِ . اِنَّاۤ اَخۡلَصۡنٰهُمۡ بِخَالِصَةٍ ذِكۡرَى الدَّارِۚ . وَاِنَّهُمۡ عِنۡدَنَا لَمِنَ الۡمُصۡطَفَيۡنَ الۡاَخۡيَارِؕ . وَاذۡكُرۡ اِسۡمٰعِيۡلَ وَ الۡيَسَعَ وَذَا الۡكِفۡلِؕ وَكُلٌّ مِّنَ الۡاَخۡيَارِؕ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami; Ibrahim, Ishak, dan Ya‘qub yang memiliki tangan (kekuatan) dan penglihatan (kecerdasan). Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan mengingat negeri akhirat, dan sungguh, mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik. Dan ingatlah Ismail, Ilyasa‘, dan Zulkifli! Semuanya termasuk orang-orang yang terbaik.” (QS. Shad: 45–48)
Allah Ta‘ālā juga berfirman,
وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِدۡرِيۡسَ وَذَا الۡكِفۡلِؕ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيۡنَ ۖۚ . وَاَدۡخَلۡنٰهُمۡ فِىۡ رَحۡمَتِنَا ؕ اِنَّهُمۡ مِّنَ الصّٰلِحِيۡنَ
“Dan Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar, dan Kami memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 85–86)
Allah Ta‘ālā berfirman,
اِنَّاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلَيۡكَ كَمَاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى نُوۡحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنۡۢ بَعۡدِهٖ ۚ وَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَالۡاَسۡبَاطِ
“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya …” (QS. An-Nisa: 163)
Allah Ta‘ālā juga berfirman,
قُوۡلُوۡٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنۡزِلَ اِلَيۡنَا وَمَآ اُنۡزِلَ اِلٰٓى اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ
“Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya! …’” (QS. Al-Baqarah: 136)
Ayat yang serupa juga terdapat pada surah lainnya. Allah Ta‘ālā berfirman,
اَمۡ تَقُوۡلُوۡنَ اِنَّ اِبۡرٰهٖمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ وَيَعۡقُوۡبَ وَالۡاَسۡبَاطَ كَانُوۡا هُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰىؕ قُلۡ ءَاَنۡـتُمۡ اَعۡلَمُ اَمِ اللّٰهُ ؕ
“Ataukah kalian mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub, dan anak cucunya adalah orang-orang Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, ‘Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah? …’” (QS. Al-Baqarah: 140)
Allah menyebutkan setiap sifat terpuji tentang beliau, menjadikan beliau sebagai nabi dan rasul-Nya, membebaskan beliau dari segala sesuatu yang dituduhkan kepada beliau oleh orang-orang bodoh, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar beriman kepada apa yang diturunkan kepada beliau.” Selesai kutipan dari Al-Bidāyah wan-Nihāyah (1/443–444).
Bersambung …

